CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 78. ALIF DAN KELY


__ADS_3

Pagi yang cerah nan indah. Bunga bermekaran dan embun yang menambah kesejukan dipagi itu. Ditambah sinar matahati yang memancarkan kehangatan bagi siapa saja. Penduduk bumi mulai bangun dan beraktivitas. Menyelesaikan pekerjaan, menyambut hari dengan senyuman indah.


Netra sang gadis terlihat memancarkan senyuman di wajah tampan sang pujaan hati. Membuka mata langsung mencium keningnya. Pagi yang cerah untuk Verli yang baru bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Diikuti Hafka dibelakangnya.


"Ngapain ngikut?" tanya Verlu polos.


"Mandi bareng ya?" pinta Hafka memelas.


"Huuffh, ayo deh" ucap Verli tak mau menolak.


"Makasih sayang" kata Hafka.


Mandi bersama pun dilakukan sembari bermain-main sebentar. Setelah selesai mereka berganti baju dan menuju ruang makan.


Mereka berada dirumah orang tua Verli. Karna Nadin rindu dengan Verli jadi mereka memutuskan untuk tinggal disana. Ruang makan sudah dipenuhi dengan hidangan yang menggugah selera. Nadin dibantu art nya untuk memasak.


Dengan penuh senyuman sijoli dua itu pun ikut gabung diruang makan bersama. Sudah ada Safren, Nadin dan Frisko. Verli mengambil piring suaminya lalu menaruh nasi di piringnya. Mereka pun makan bersama sembari sesekali bergurau melepas rindu. Sampai sarapan pagi selesai.


Safren dan Frisko sudah siap untuk berangkat kerja. Nadin menemani suaminya sampai depan dengan tas yang ditenteng. Lalu ia serahkan tas itu dan mencium tangan suaminya. Safren membalas dengan kecupan sayang dipuncak kepalanya. Kemudian Frisko ikut mencium tangan Nadin lalu keduanya pergi menaiki mobil yang berbeda. Sementara Verli dan Hafka akan kembali ke pesantren karna pekerjaan Hafka yang tak bisa ditinggal.


Verli sempat membujuk agar tak kembali dulu karna ia masih kangen dengan orang tuanya. Namun Hafka tetap menolak dan akan kembali. Suaminya tak masalah jika dia harus tinggal beberapa hari dirumah Nadin. Akhir pekan nanti Hafka akan jemput untuk pulang. Sebenarnya Verli mau tapi dilubuk hatinya kasihan dengan Hafka kalau sendirian.


Rasa rindu tak bisa dipaksakan ia memilih untuk tinggal beberapa hari disana sampai nanti suaminya menjemput lagi pula sudah dapat izin juga. Sembari Verli menyelesaikan skripsi yang sebentar lagi selesai. Hafka menata barangnya dikamar dibantu oleh Verli. Selesai membereskan semuanya Hafka pamit pada Verli. Tak lupa Hafka juga menitipkan Verli pada Nadin.


"Ma aku berangkat dulu, nitip Verli" ucap Hafka


"Iya kamu hati-hati, salam untuk orang tuamu"


"Hati-hati mas, kalau sudah sampai jangan lupa hubungi aku" kata Verli


"Pasti, kalau gitu aku pergi dulu" Verli pun mencium tangan suaminya dan menerima ciuman sayang dari Hafka juga.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Setelah berpamitan Hafka masuk ke dalam mobil membuka jendela dan melempar senyuman pada Verli. Mobil perlahan keluar dari perkarangan rumah, Verli melihat sampai mobil hilang dari pandangan. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah.


♡♥♡♥♡♥♡


Dua pangan halal yang baru menuntaskan hasrat dan bertempur sengit tadi malam. Kely perlahan membuka mata melihat langit-langit lalu menoleh ke samping melihat Alif yang masih tertidur lelap dengan berbalut selimut tebal bersama tubuhnya yang polos. Kely menyunggingkan senyum membayangkan kejadian semalam. Kehormatan yang selama ini dia jaga sudah diberikan kepada orang yang tepat yaitu suaminya sendiri.


Perlahan Kely turun dari ranjang. Dibagian bawah sana terasa lengket dan perih. Ia beranjak untuk ke kamar mandi tapi belum melangkah ia sudah merasakan sakit dibagian intimnya.


"Aauuwww" keluh Kely tanpa sadar membangunkan Alif.

__ADS_1


Alif pun sempat kaget dengan teriakan Kely. Lalu ia mendekap Kely dari belakang. Seketika dekapan itu mengejutkan Kely. Ia menoleh ke belakang sudah ada Alif yang tersenyum melihatnya.


"Selamat pagi" ucap Alif saat istri cantiknya menoleh.


"Selamat pagi juga, aku mau ke kamar mandi" jawab Kely.


"Biarku bantu"


"Eng...enggak usah aku bisa sendiri" sahut Kely terbata-bata.


"Kenapa? Kita mandi bersama saja hemat air" kata Alif.


"Hemat air atau memang kamu saja yang ingin bermanja" gerutu Kely yang sudah dilepas pelukannya oleh Alif.


Alif hanya nyengir saja seolah Kely tau jalan pikiran suaminya.


"Boleh ya" ucap Alif memohon.


"Enggak ah...nanti jadi lama"


"Lah memangnya mau kemana, lagian juga gak kemana pun"


"Huuffh...terserah deh kalau gitu tapi hanya mandi ya gak aneh-aneh lagi"


Kely menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan. Alif pun tersenyum senang dan langsung menggendong Kely menuju kamar mandi. Backtup sudah terisi air penuh mulailah mereka berendam dan aktivitas semalam terulang lagi pagi ini. Jelas rutinitas mandi bareng itu tak akan sementar.


Beberapa menit setelah mandi yang panjang. Mereka pun berganti baju. Kely memunguti pakaian yang berserakan dimana-mana dan mengganti sprai yang kotor dengan yang baru. Semua pun beres dilakukan. Mereka berdua turun ke bawah melihat Syafira sendiri dimeja makan.


"Pagi ma" ucap Kely seraya menggeser tempat duduk.


"Pagi juga" jawab Syafira.


"Papa mana ma kok gak ikut sarapan" tanya Kely.


"Ohh..papa mu lagi keluar sebentar, tadi udah sarapan duluan sama mama terus pergi" jelas Syafira sambil mengupas buah ditangannya.


"Hmm ya sudah"


"Suami mu mana gak diajak sarapan"


"Bentar lagi juga turun, nah tuh baru diomongin" ujarnya sembari melihat Alif yang perlahan menuruni anak tangga.


Alif menggeser tempat duduk disamping Kely.


"Mau aku ambilin?" tanya Kely.

__ADS_1


"Boleh" jawab Alif.


Kely membalik piring yang ada didepan Alif lalu mengambilkan nasi dan lauk untuknya.


"Makasih" ucap Alif.


Kely pun mengangguk dan melanjutkan sarapan pagi mereka.


Setelah sarapan pagi rampung Alif dan Kely berniat untuk pergi. Rencananya Alif akan membawa Kely tinggal bersama di rumah orang tuanya sementara waktu. Awalnya Kely berat untuk meninggalkan kedua orang tua yang amat disayangi tapi dia melihat lagi bahwa statusnya sekarang sudah bersuami. Kemana pun suaminya pergi ia pasti akan ikut.


Alif pun juga sudah izin dengan kedua orang tua Kely. Mereka juga sama sangat berat melepas anak semata wayang. Tapi dia sudah punya suami yang harus diurus. Alif tak mau lagi merepotkan kedua orang tuanya atau pun orang tua Kely. Dia ingin setelah menikah punya rumah sendiri dan hanya ditinggali olehnya dan juga Kely. Karna Alif ingin mandiri tanpa bergantung pada orang tua.


Kely mulai membereskan pakaian dan barangnya yang lain. Dibantu oleh Alif yang ikut menata setiap barang dengan rapi. Kely memandangi kamarnya yang pasti akan sepi tanpa hadirnya dia. Perlahan dia melepas semua itu menutup gagang pintu dan keluar menuju ruang depan.


Di ruang tamu sudah ada Abisfa dan Syafira yang menunggu mereka. Melepas anak kedayangan apalagi semata wayang pasti sangat berat. Banyak kenangan yang dirindukan nantinya. Kely memeluk erat Syafira.


"Papa mama, aku mau pamit izin bawa Kely bersamaku" ucap Alif.


"Iya, papa nitip Kely jaga dia dan sayangi dengan tulus seperti kami merawat dan menyayanginya, dia tanggung jawabmu sekarang" tutur Abisfa sambil menepuk pundak Alif.


"Iya pa aku akan menjaga Kely dengan baik"


"Aku pamit pa, ma, jaga diri kalian baik-baik kalau hari libur pasti aku datang kesini, jaga kesehatan juga" kata Kely.


"Iya, sekarang anak mama sudah besar ternyata sudah punya suami. Kalau sama suami jangan membangkang, hormati seperti kamu menghormati kami. Surga mu ada pada suamimu" tutur Syafira.


"Pasti ma, kalau gitu kami pergi dulu" ucap Kely mencium punggung tangan orang tuanya bergantian diikuti Alif.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam hati-hati dijalan"


"Iya pa"


Alif membawa masuk koper ke dalam bagasi. Lalu berpindah ke depan. Mengencangkan sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin. Mobil pun keluar dari halaman rumah melesat melewati jalan-jalan yang penuh keramaian orang. Melihat kota yang menjulang tinggi. Kely menatap ke arah jendela luar meresapi bahwa dirinya sekarang sudah berpindah status. Bukan lagi tanggung jawab orang tuanya melainkan berpindah pada suaminya.


♡☆♡☆♡☆♡


Verli sedang belajar membuat kue bersama Nadin didapur. Berbagai macam bahan dan peralatan sudah tersedia. Tangan Verli tak berhenti mencampurkan semua bahan yang dikatakan oleh Nadin. Dengan teliti dan berhati-hati agar tak salah memasukkan bahan. Verli akan membuat cake coklat dan strowbery. Setiap makanan yang berbaur coklat pasti Verli akan suka karna itu favoritnya. Sementara Nadin lebih suka yang rasa buah dan semacamnya.


Semua bahan sudah tercampur rata tinggal mengoven dan membuat topping. Baju yang dipakai Verli sampai berwarna putih karna terkena tepung. Terlebih dahulu Verli melelehkan coklat sementara Nadin membuat selei strowbery.


Ibu dan anak itu sangat kompak. Jarak dan waktu membuat mereka tak bisa sering berjumpa. Hanya hari tertentu mereka bisa bertemu. Seperti sekarang ini mereka memanfaatkan kerinduan dengan melakukan hal yang menurutnya bermanfaat. Beberaoa menit sudah berlalu, cake siap diangkat dari oven. Perlahan Verli mengambilnya dan mendinginkan terlebih dahulu.


Setelah dingin, cake siap untuk ditata dan diberi topping sesuka selera. Mereka lumayan banyak membuatnya. Verli berniat memberikan juga pada ayahnya. Nadin tak keberatan, jadi mereka sisih kan untuk nanti dibawa ke rumah Dokter Brisma. Semua ditata dimeja dengan rapi, sisa bahan dan peralatan yang kotor dibersihkan.

__ADS_1


__ADS_2