
"Nanti biar aku izinlah ya boleh dong" bujuk alif.
"Ya sudah deh dari pada aku sendiri"
"Sipp" ujar alif mengacungkan kedua jempol pada hafka.
Mereka pun pergi pulang ke apartemen hafka, sebelum itu alif menelfon papanya untuk meminta izin setelah di izinkan baru alif pergi bersama hafka.
Diperjalanan alif dan hafka bersenda gurau sesekali alif bersenandung. Hafka berfikir sejenak seperti ingin mengatakan sesuatu pada alif.
"Kenapa? Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya alif seperti tau isi kepala hafka.
"Eh eng-enggak kok" jawab hafka gelagapan.
"Halah ngeles kau nih" ledek alif.
"Hmm ngeledek!!" ucap hafka ketus.
"Hahahah bisa juga kamu berajuk kayak bayi lucu sekali" tawa alif membuat hafka semakin kesal.
"Dah lah terserah kamu saja" hafka memilih diam tak mau berdebat.
Sejenak hafka berpikir lalu menanyakan sesuatu pada alif, "Lif aku mau tanya sesuatu" ucanya.
"Tanyakam saja emangnya mau tanya apa?"
"Cinta itu seperti apa sih" pertanyaan hafka membuat alif tertawa lepas.
"Astaga kamu ini ya buat perutku sakit hahahah"
"Jangan ketawa gak ada yang lucu, gak mau jawab ya sudah gak usah tertawa gitu" ketus hafka.
Alif menghentikan tawanya tak ingin membuat suasana hati hafka menjadi kacau. Dipikiran alif bahwa hafka sedang sedang mencintai seseorang.
"Kenapa tanya gitu, kamu lagi jatuh cinta yaaa hayoo" goda alif.
"Enggak kok aku cuma tanya aja, senyaman apasih cinta itu"
"Ya ampun rasanya seperti kamu mencintai Allah ya begitulah cinta, nyaman saat ada didekatnya terus kita dibuat deg deg an kalau dekat sama dia ya pokoknya gitu deh" jelaa alif.
"Ya kalau cinta sama Allah dan ciptaan-Nya itu beda kali lif gimana sih kamu ini"
"Ya mangkanya cari pasangam biar tau mencintai itu kayak apa"
"Nanti juga ketemu sendiri"
"Kalau gak kamu cari ya gak bakalan ketemu ka, diem doang gak ada hasil" ucap alif.
"Hadeeh terserah deh" hafka memilih diam saja.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen.
*********
Di rumah sakit.
Seorang pria sedang berjalan menuju ruangan verli sendirian, sampai di depan pintu pria tersebut mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Cekleek.
Nadin membuka pintu ia menyipitkan mata menerka siapa pria didepannya tersebut. Setelah mengingatnya nadin menyuruh pria itu masuk ke dalam.
"Hai verli" sapa pria tadi.
"Kak rafran, hai kak apa kabar?" Verli awalnya menerka siapa yang datang dan saat orang itu masuk verli kaget ternyata adalah rafran sahabat radit.
"Baik ver, kamu gimana apa jauh lebih baik?" tanyanya sambil menaruh buah tangan ke meja.
"Alhamdulillah jauh membaik kak"
"Bagus deh kalau gitu"
"Kak rafran kok bisa tau aku ada disini siapa yang memberi tau kakak" tanya verli.
"Ow gitu iya, aku udah satu bulanan lah di sini karna koma juga"
"Aku gak nyangka kamu bisa jadi begini ver, aku juga udah tau semuanya tentang kamu dan radit, sabar ya pasti kamu menemukan jauh lebih baik dari dia"
"Iya aku udah gak medulikan dia lagi terserah mau apa aku hanya ikhlas aja, lagian lebih nyaman begini" ucap verli tersenyum.
"Iya kamu berhak bahagia verli, radit juga udah nikah 2 minggu lalu" jelasnya.
"Haa nikah sama siapa perempuan itu!!"
"Iya sama si fera, aku aja juga baru tau padahal sahabynya sendiri dasar itu radit ngeselin gak menghargaiku" umpat rafran.
"Sabarlah dia memang gitu"
"Ya udah nanti di makan ok aku mau pulang dulu harus ke retoran lagi"
"Oke kak doakan ya biar aku bisa cepet sembuh"
"Iya aamiin semoga cepet sembuh"
"Makasih kak"
Setelah berpamitan dengan verli, lalu rafran berpamitan dengan nadin mencium punggung tangannya lalu pergi dari ruangan verli.
__ADS_1
"Verli itu tadi sahabatnya mantan kamu kan?" tanya nadin memastikan
Karna waktu itu verli pernah di antar pulang sama radit bersama rafran dan kebetulan ada nadin diluar.
"Iya ma tenang aja dia beda terbalik sama radit" jelas verli.
"Mama tau kok dia baik gak seperti mantanmu itu yang kejam" nadin masih marah dan kecewa dengan sikap radit yang seenak jidat menyakiti verli.
"Ya udah verli istirahat ma" ucap verli memejamkan mata.
"Iya tidurlah".
Akhirnya verli tertidur dan nadin duduk di sofa menemani verli, walaupun saat malam ia pulang dan bergantian dengan frisko, nadin akan tetap menemani verli di pagi harinya karna frisko harus kerja. Lelah dan letih tak pernah dirasakan yang hanya nadin pikirkan adalah kesehatan verli bagaimana pun juga berhak bahagia walaupun keadaannya lain sekarang.
❤❤❤❤
Satu minggu kemudian.
Verli sudah kembali ke rumahnya sekarang kesembuhannya dilanjutkan di rumah. Verli hanya bisa duduk di kursi roda bahkan kuliahnya terbengkalai karna keadaan yang sekarang.
Tak ada yang bisa verli lakukan selain berdiam diri di rumah, sesekali verli bosan dan ingin rasanya keluar rumah jalan-jalan seperti dulu lagi.
Karna hari ini frisko gak kerja jadi verli mengajaknya keluar untuk menghiruo udara segar frisko menyetujui ajakan verli karna tak tega membiarkan adiknya bosan terus di rumah.
"Gimana udah siap belum?" tanya frisko.
"Udah dong yuk berangkat" ajak verli antusias.
"Mau kemana dulu nih" tanya frisko.
"Hmm kemana ya" verli berfikir sejenak lalu memutuskan "Aha ke taman aja setelah itu lanjut makan ke restoran" ucap verli.
"Oke apapun untuk adik kakka tersayang" kata frisko.
Frisko mendorong kursi roda verli menuju mobil, lalau menggendong verli masuk ke mobilnya. Nadin yang baru sampai habis arisan menanyakan mau kemana mereka berdua.
"Mau kemana sayang" ucap nadin yang baru keluar dari mobil.
"Mau ajak verli jalan ma kasihan bosan kalau di rumah terus agar bisa hirup udara segar juga" papar frisko.
"Ya sudah hati-hati ya kalain berdua jamgan ngebut kalau nyetir"
"Iya ma frisko akan pelan-pelan kok" ujarnya.
"Verli sayang hati-hati ya selamat bersenang-senang" ucap nadin tersenyum manis.
"Oke ma pasti dong" sumringah di wajah verli membuat hati nadin senang bisa melihat kebahagiaan di wajah putrinya.
Frisko melajukan mobil pelan keluar dari halaman rumahnya menerpa angin yang menyejukkan, membuat siapapun terbawa suasan nyaman dan tenang itulah yang dirasakan verli sekarang.
__ADS_1