
"Saya juga bukan orang kaya dan saya hanya anak yatim piatu. Apa yang menarik hati anda untuk menyukai saya?" Aina kembali melontarkan pertanyaan kepada Frisko dan kembali dijawab seadanya sesuai hati Frisko.
"Materi itu bukan segalanya, kaya mau pun miskin itu sama saja. Kita sama-sama manusia biasa yang tidak ada apa-apanya. Hatiku tertarik bukan karna parasmu melainkan hatimu yang baik. Aku juga bukan orang baik, bahkan rendah dibanding dengan adikku. Ilmu agamaku juga kurang dibanding denganmu yang sudah dari dulu berada dipesantren. Aku menerimamu dari segala sisi atas kekuranganmu, menerima kamu apa adanya. Aku juga berharap nanti kamu mau membimbingku jika salah dan mengingatkanku atas apa yang benar untukku" jelas Frisko panjang lebar.
Aina terhanyut dengan jawaban Frisko. Kini hatinya semakin yakin bahwa pilihannya sudah tepat. Tak ada lagi keraguan yang perlu dipertimbangkan. Setelah puas mendengar jawaban dari Frisko, ia memutuskan kembali ke asrama.
"Saya akan menerima anda dengan kekurangan yang anda miliki, seperti hal nya anda menerima saya apa adanya. Saya permisi assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam" jawab Frisko yang melihat kepergian Aina dan Verli.
...🌷🌷🌷...
Kely sedang menyiram tanaman bunga nya dibelakang rumah. Ia sangat senang mendengar Aina mau menerima Frisko. Tadi dia di beri tau oleh Verli lewat telfon. Karna sekarang Kely berada di rumahnya. Suaminya kerja sehingga tidak bisa ke pesantren.
Yang terpenting adalah doa darinya untuk kebaikan Aina. Verli juga memberi tau tanggal pernikahannya kepada Kely. Betapa senangnya Kely bisa melihat sahabatnya menikah nanti. Dengan takdir jodohnya yang sudah Allah tetapkan untuknya.
Saat asyik menyiram tanaman, pelayan datang dan meminta Kely untuk masuk. Delsa tadi memanggil nya entah untuk apa. Kely pun segera masuk dan menemui ibu mertuanya.
Delsa meminta Kely untuk duduk disampingnya. Ia memegang sebuah kotak persegi dengan corak warna emas. Ia membukanya dan memperlihatkan isi did alam kotak tersebut kepada Kely. Yang ternyata isinya adalah sebuah kalung dan cincin berlian.
"Ini adalah peninggalan dari neneknya Alif. Mama selalu menyimpannya untuk nanti diberikan kepada orang yang tepat. Tentu pendamping hidup Alif. Ini mama serahkan kepada kamu, jaga baik-baik....mama percaya kamu, pakailah pasti cocok denganmu" ucap Delsa sambil memberikan kotak perhiasan tersebut kepada Kely.
"Ma, tapi ini kan punya mama....biarlah mama yang pakai, aku tidak pantas memakainya" Kely menolak dengan halus takut mnyinggung ibu mertuanya.
"Ini sudah diwariskan turun-temurun. Sekarang mama serahkan kepadamu untuk kamu jaga" ujar Delsa tersenyum.
"Baiklah ma....terima kasih sudah percaya denganku"
"Iya......kamu sakit Key?" ucap Delsa tiba-tiba karna melihat wajah Kely pucat.
"Enggak ma.....mungkin kecapean saja" kilah Kely.
"Ya sudah kamu istirahat saja...."
"Iya ma, Kely ke kamar dulu ya"
Delsa mengangguk pelan, Kely pun keluar dari kamar Delsa menuju kamarnya. Kely memang merasa kurang enak badan. Kepalanya juga pusing sejak tadi, tapi dia taj menghiraukan itu. Sekarang Kely berada dikamarnya, menutupi tubuhnya dengan selimut.
Menjelang sore Alif sudah pulang dari perusahaan. Ia mencari Kely, biasanya kalau dia pulang kerja Kely selalu menyambut dengan pelukan hangat. Tapi ini batang hidungnya saja tak kelihatan. Tumben, pikir Alif.
"Alif kamu sudah pulang ternyata" sapa Delsa menuruni tangga.
__ADS_1
"Mama liat Key gak? Tumben Alif gak liat dari tadi" ujarnya.
"Sepertinya dikamar, dari tadi dia gak keluar kamar. Mama liat dia kurang enak badan, coba kamu samperin" jawab Delsa.
"Key sakit ma!! Kenapa gak dipanggilin dokter"
"Nanti mama minta dokter Arle untuk kesini.....papa mu belum pulang Lif?" dokter Arle adalah dokter pribadi dari keluarga tuan Niko.
"Kok dokter Arle jelas Kely gak mau ma......papa masih dikantor." jawab Alif.
"Lah terus siapa....hmm coba mama telfon teman mama kebetulan dia seorang dokter juga"
"Ya sudah aku ke atas dulu" Alif pun bergegas ke atas untuk menemui istrinya.
Ceklek....
Alif membuka pintu kamarnya dan yang pertama dia lihat adalah Kely yang tertidur dengan dibalut selimut. Tidak biasanya Kely bersembunyi dibalik selimut.
Alif duduk disamping Kely sambil memegangi keningnya. Tidak panas pikir Alif. Lalu apa yang membuat Kely terbaring dengan selimut. Ia mencium kening Kely membuat si pemiliknya terbangun karna sentuhan Alif.
"Mas kamu sudah pulang, maaf aku ketiduran sampai gak tau kalau kamu sudah pulang" Kely bangun lalu duduk menyandar disandaran ranjang.
"Kamu sakit sayang? Gak biasanya kamu kayak begini" ujar Alif sambil membelai rambut Kely.
Alif kaget melihat istrinya berlari ke kamar mandi. Ia ikut menyusul dan mengetuk-ngetuk kamar mandi tapi tak terdengar suara Kely. Ia semakin khawatir dan kembali memanggil nama Kely. Disaat ke khawatirannya suara mamanya memanggil sambil mengetuk pintu.
Alif langsung membukakan pintu. Ternyata mamanya sudah memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Kely. Alif mengatakan kalau tadi Kely berlari ke kamar mandi entah kenapa.
"Mas siapa?" tanya Kely yang sudah selesai dari kamar mandi.
"Kamu gak pa-pa sayang?" Alif malah balik bertanya kepada Kely.
Kely menjelaskan kalau tadi dia merasa mual jadi membuatnya berlari ke kamar mandi. Alif pun membawa Kely ke ranjang dan membaringkan nya. Dokter pun mulai memeriksa keadaan Kely.
Ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Kely tentang keluhan yang dirasakan olehnya. Kely menjelaskan kalau badannya lemas, kepala pusing, dan merasa mual. Disini dokter Rani sudah bisa menyimpulkan apa yang dialami Kely. Dokter Rani malah tersenyum dan mengatakan kalau Kely tidak sakit. Alif dan nyonya Delsa jadi hingung.
"Istri anda tidak sakit tuan.....nona Kely sedang hamil. Kalau dilihat dari keluhan yang dialami oleh nona Kely. Perkiraan kehamilannya sudah memasuki dua minggu." jelas dokter Reni.
Alif merasa senang mendengar istrinya hamil. Ia langsung memeluk Kely dengan bahagia. Apalagi nyonya Delsa yang juga merasa bahagia, sebentar lagi dia akan memiliki cucu. Dokter Reni menyarankan agar Alif membawa Kely ke rumah sakit agar hasilnya lebih jelas. Untuk sementara dokter Reni meresepkan vitamin dan obat untuk meredakan rasa mual.
Raut wajah kebahagiaan terpancar dirumah tersebut. Tuan Niko sudah diberi tau soal kabar bahagia tersebut. Ia ikut senang dan mendoakan agar kehamilan menantunya bisa sehat sampai lahiran.
__ADS_1
Kely juga memberitaukan kabar tersebut kepada Verli. Yang jelas Verli pasti ikut bahagia dan tak kalah senangnya. Jarak anak mereka tak terlalu jauh kalau nanti mereka berlawan jenis kan bisa dijodohkan. Eits, tapi madalah jodoh sudah ketentuan Tuhan jadi jangan suka jodoh-jodohin anak ya. Hmm pasti mereka bisa jadi sahabat yang akrab nantinya.
Semua itu sudah terbayangkan dipikiran Kely. Setelah menelfon Verli tadi, Kely kembali beristirahat karna kepalanya pusing. Hati Verli merasa senang dengan kabar tersebut. Hari ini terasa kebahagiaan berlipat-lipat. Dari Aina yang akan menikah dengan kakaknya dan sekarang Kely yang dikabarkan hamil.
**
**
**
"Mas, aku senang banget hari ini. Kakak yang akan menikah dan Kely yang hamil. Pasti lucu nanti anaknya. Perempuan apa laki-laki ya, gak sabar pengen liat" ucap Verli tersenyum senang.
"Alhamdulillah.......semoga anak mereka sehat selalu dalam kandungan ibunya sampai lahiran nanti."
"Aamiin....aku juga mengharapkan seperti itu agar nanti anak kita punya teman" ujar Verli tersenyum senang.
"Iya kalau dia sama-sama lelaki atau perempuan. Kalau mereka berbeda kelamin tidak boleh, walau pun mereka sepupu" tegas Hafka.
"Tau mas tau......kalau hanya untuk menjalin persaudaraan tidak apa kan bukan untuk dekat banget"
"Iya....." jawab Hafka singkat kemudian ia melanjutkan berkutat dengan laptopnya.
Frisko tidak pulang ke rumahnya. Ia memutuskan untuk tinggal di pesantren saja sampai akad tiba. Ia juga ingin membantu mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Jadi untuk sekarang dia tinggal di rumah utama kyai Yusuf. Kebetulan ada satu kamar yang kosong.
Karna bosan Frisko memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Sambil menunggu waktu shalat tiba pikir Frisko. Ia menuju masjid barangkali ada yang bisa dilakukan. Ternyata sampai disana dia melihat Devan sedang khusuk membaca al-qur'an.
Langkah kakinya mendekat kemudian duduk disamping Devan. Suaranya yang merdu mampu membuat hati Frisko bergetar dan bisa merasakan ketenangan dalam jiwa. Ia terbawa suasana sampai Devan selesai dalam membaca al-qur'an. Mengetahui Devan sudah selesai dalam kegiatannya, Frisko mengucap salam.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" jawab Devan sambil berbalik mengarah ke sumber suara.
Melihat ada Frisko disana, Devan lalu tersenyum. "Sejak kapan ada disini? Maaf saya tidak melihat kalau tadi kamu ada disini" ucap Devan.
"Gak pa-pa, suaramu merdu sampai aku terbawa oleh lantunan yang kamu baca" jawab Frisko lalu duduk disamping Devan.
"Selamat ya sebentar lagi kamu akan menikah. Syukur alhamdulillah Aina mau menerima lamaran kamu. Aina itu tipikal perempuan yang sulit untuk ditaklukkan disini" Frisko seolah tak percaya dengan ucapan Devan.
"Alhamdulillah sekarang dia sudah menemukan jodohnya. Jaga dia baik-baik, sulit untuk menemukan wanita seperti Aina" tambah Devan lagi.
Frisko merasa heran dengan penuturan Devan. Seolah dirinya sedang menitipkan separuh hatinya untuk diberikan kepada orang lain. Padahal Devan tidak bermaksud seperti itu. Hatinya saja sudah terisi oleh orang lain, bagaimana bisa dia mengisinya lagi. Yang ada itu bukan cinta tapi nafsu.
__ADS_1
"Kenapa wajah kamu seperti itu? Jangan berpikiran macam-macam......saya hanya mengingatkan saja tidak lebih." iujar Devan sambil tertawa kecil melihat ekspresi Frisko.
Frisko hanya menaikkan alisnya sebelah. Ia tau kalau sikapnya berlebihan. "Kamu pengajar disini?" tanya Frisko. Dari awal ia hanya melihat Devan tapi tidak tau siapa dia sebenarnya.