
Hafka memandang istrinya yang terus mengerang kesakitan. Hafka tidak tega melihatnya, ia ikut merasakan rasa sakit itu walau pun bukan fisiknya tapi batinnya merasa sakit dan mencoba menenangkan Verli. Sementara Arga terus fokus menyetir dan sesekali melihat ke belakang lewat kaca depan.
Sesampainya di rumah sakit Verli langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Disana sudah ada dokter Arina yang sedari tadi menunggu kedatangan Hafka dan Verli. Setelah tadi diberi tau oleh rekan kerja lain yang mengatakan kalau istrinya dokter Hafka akan melahirkan. Disitu ia langsung mempersiapkan semuanya dan tugasnya sementara dialihkan kepada Jihan.
Diruang perawatan Verli terus merasakan sakit diperutnya. Dokter Arina tengah menunggu sampai pembukaan sempurna. Hafka sudah tidak sanggup melihat istrinya terus mengatakan sakit. Ia hanya bisa berdoa dalam hati dan menenangkan Verli. Hafka terus berada disamping istrinya tak sedetik pun dia meninggalkan Verli.
Arga menunggu di depan ruang perawatan sambil menghubungi orang tuanya. Ia masih menunggu kabar selanjutnya dari Hafka. Karna sedari tadi Hafka tak terlihat keluar.
"Mas, sakitt....." keluh Verli yang berada di ruang perawatan sambil terus memegang tangan Hafka dan terus berdzikir.
"Sabar sayang.....sebentar lagi dede akan lahir ke dunia. Aku akan terus berada disamping kamu, sabar ya.......mana yang sakit biar mas usapin" Hafka berusaha sabar dan memberi semangat untuk istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan anaknya ke dunia.
"Sini....." Verli menunjuk punggungnya lalu Hafka mengusap punggung Verli.
"Ya Allah begini rasanya saat melahirkan. Sakit yang bertubi-tubi dan tidak bisa aku gambarkan dengan apapun......Muliakan ibuku yang telah melahirkan ku ya Allah, begitu besar perjuangan seorang ibu" batin Verli dalam hati.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Verli dan air mata tak berhentinya keluar dari mata Verli karna menahan rasa sakit yang tidak bisa digambarkan dengan apapun. Hafka terus memberi semangat dan mengusap keringat istrinya. Dia juga terus berdoa agar persalinan istrinya dilancarkan.
"Sabar ya sayang, terus berdoa. Kamu kuat, kamu ibu yang hebat." ucap Hafka lalu mencium kening istrinya begitu lama.
Verli hanya tersenyum walau pun rasa sakit itu semakin terasa dan makin sakit. Ia sambil meresapi dan membayangkan disaat ibunya melahirkan dia. Jutaan rasa sakit yang sudah dirasakan dan nyawanya ditaruhkan untuk melahirkan dia. Itulah yang sekarang dirasakan oleh Verli.
Dua jam telah berlalu, orang tua Hafka sudah datang ke rumah sakit sejak tadi. Mereka masih menunggu kabar dari dokter maupun Hafka. Sedangkan orang tua Verli masih dalam perjalanan menuju rumah sakit yang sekarang ditempati oleh putrinya.
Dokter Arina melihat sudah pembukaan sepuluh. Ia menjelaskan kepada Verli sebelum persalinan berlangsung. Hafka masih setia disana mendampingi Verli. Ia tak mau melepaskan pegangan tangannya dari tangan Verli. Kata-kata semangat dan doa terus terucap dimulutnya.
"Kalau sudah ada dorongan dari dalam, anda bisa mengejan dan ikuti aba-aba saya. Tarik nafas dulu lalu keluarkan" ucap dokter Arina.
Verli menuruti ucapan dokter Arina. Rasanya sudah tidak bisa dibayangkan sama sekali oleh Verli. Begitu sakit dan hanya rasa sakit yang dirasakannya sekarang. Tulang-tulangnya terasa seperti patah semua.
Ia mulai mengejan sambil terus berdoa. "Aarrggh......" Verli mengarang kesakitan saat rasa sakit semakin terasa.
"Ayo bu sedikit lagi...."
"Huufh......Huufh...." nafas Verli sudah ngos-ngosan.
Hafka bisa merasakan pegangan tangan istrinya yang sangat kuat. Tapi rasa sakit itu tidak dirasakan karna yang ada dalam pikirannya hanya Verli.
"Aaaahhhhh......."
"oek.....oek.....oek" bayi mungil telah lahir kedunia dengan wajah tampannya.
"Alhamdulillah......anak anda laki-laki dokter, selamat" ucap dokter Arina.
__ADS_1
Ia memperlihat bayi mungil itu yang masih merah kepada Verli dan Hafka. Dia sangat tampan. Rasa sakit yang tadi dirasakan oleh Verli seolah sirna begitu saja saat melihat putranya telah lahir kedunia. Rasa syukur terus diucapkan oleh mereka berdua. Rasa sakit yang tadi dirasakan tidak sia-sia dengan hadirnya malaikat kecil yang selama ini dia jaga dengan baik diperutnya sampai lahir.
"Terima kasih sayang.......kamu ibu yang hebat, aku bangga dengan kamu" ucap Hafka sembari mengecup kening Verli.
Verli hanya tersenyum dan mengangguk. Dia masih lemas selesai persalinan. Mempertaruhkan nyawanya, antara hidup dan mati. Perjuangan yang begitu besar dengan bertatuh nyawa. Sungguh besar perjuangan seorang ibu.
...*****...
Ummi Halimah dan abi Yusuf sudah tak sabar untuk melihat cucu mereka. Sedari tadi mereka menunggu kabar namun belum kunjung keluar. Hatinya sudah gelisah dati tadi.
"Sabar ummi, kita berdoa saja semoga semua dilancarkan oleh Allah" ucap Arga menangkan sang ummi yang khawatir dari tadi.
"Iya nak.....ummi pasti akan mendoakan agar persalinannya dilancarkan" jawab ummi Halimah yang duduk diruang tunggu bersama Arga dan abi Yusuf.
Arga juga sudah tak sabar untuk melihat keponakannya. Karna mereka sudah lama menunggu sedari tadi. Tapi belum ada siapapun yang keluar. Ummi Hamilah jelas khawatir karna dia sendiri pernah merasakan bagaimana saat melahirkan. Perjuangan antara hidup dan mati yang ditaruhkan.
Hanya doa yang terua dipanjatkan agar persalinan menantunya bisa lancar dan bayinya sehat tanpa kurang suatu apapun.
Tak lama Frisko dan Aina sudah sampai di rumah sakit. Mereka berdua bertemu dengan ummi Halimah dan abi Yusuf.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka berdua.
"Wa'alaikumussalam"
"Abi bagaimana dengan keadaan adik saya apa persalinannya sudah selesai" tanya Frisko khawatir. Dia tadi langsung berangkat saat mendapat kabar kalau adiknya akan melahirkan. Begiru pun dengan Aina yang juga ikut khawatir.
Akhirnya Frisko pun ikut menunggu bersama abi Yusuf, ummi Halimah, dan Arga. Tak lupa Frisko menghubungi orang tuanya kalau dia sudah sampai dirumah sakit tempat Verli melahirkan.
🌺
🌺
🌺
Selesai dibersihkan oleh perawat, Hafka mengadzanin putranya. Dia melihat putranya sendiri yang tampam, hatinya sangat bahagia sekarang. Setelah mengazanin putranya dia keluar untuk memberi kabar pada keluarganya dan Verli dipindahkan ke ruang rawat.
Setelah memberi kabar mereka pun pergi ke ruang rawat Verli. Disana sudah ada Hafka dan Verli. Arga langsung melihat bayi mungil yang ada di box bayi. Ia kagum dengan ketampanan keponakannya itu, sangat lucu dan imut. Ummi Halimah juga kagum melihat cucu nya yang memang tampan seperti Hafka.
"Masya Allah, putra mu ini sangat tampan sekali boleh gak aku bawa aja pulang" ceplos Arga merasa kagum.
"Enak saja.......buat sendiri sama pasanganmu nanti, itu putraku jangan pegang-pegang" ujar Hafka.
"Ya ampun galak banget sih, bercanda kali" ucap Arga.
__ADS_1
"Selamat ya buat kalian berdua sudah menjadi orang tua. Dan kamu nak, hebat ummi tau bagaimana perjuangan seoarang perempuan untuk melahirkan" ucap ummi Halimah kepada Hafka dan Verli.
"Iya ummi, maafkan Verli kalau selama jadi menantu ummi kurang baik dan ada perkataan Verli yang menyakiti hati ummi" ucap Verli. Walau pun yang ada didepannya itu bukanlah ibu kandungnya tapi dia bisa merasakan perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anak.
"Tidak nak, kamu tidak pernah ada salah sama ummi." jawab ummi Halimah sambil tersenyum.
"Selamat ya dek kamu sekarang menjadi ibu. Kakak bangga padamu" ucal Frisko.
"Makasih kak"
"Apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya abi Yusuf.
"Sudah bi, kami sudah mempersiapkan nama untuknya. Namanya Hamsya Ali Zubair" ucap Hafka sambil tersenyum ke arah Verli.
"Nama yang bagus, semoga kelak dia bisa membanggakan kedua orang tuanya dan keluarganya"
"Aamiin....."
Hafka terus mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih pada istrinya yang sudah berjuang. Verli pun ikut bahagia, lengkap sudah keluarga kecilnya sekarang. Dengan hadirnya Hamsya yang tampan, sudah dijaga selama sembilan bulan dan kini lahir untuk membawa kebahagiaan dalam hidup mereka.
🌴
🌴
🌴
Safren dan Nadin sudah sampai dirumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang rawat Verli. Sudah tak sabar rasanya untuk melihat cucu pertama mereka. Nadin sampai menggandeng tangan suaminya agar berjalan sedikit cepat karna dia sudah tak sabar.
"Sabar ma, jangan cepat-cepat kalau jalan" ucap Safren.
"Aduh pa, mama sudah gak sabar pengen liat cucu mama." jawab Nadin sambil terus berjalan.
Sampai didepan ruangan Verli, Nadin mengetuk pintu dulu dan terdengar sautan dari dalam. Nadin dan Safren pun masuk ke dalam dan melihat putri mereka. Hafka dan Verli menyalami mereka berdua secara bergantian. Disana juga ada Frisko dan Aina, mereka ikut menemani Verli. Sementara ummi Halimah dan abi Yusuf sudah pulang duluan.
Pandangan Nadin beralih ke box bayi yang ada disana. Ia langsunh melihat cucu pertamanya. Saat pertama kali melihat Nadin sungguh takjub dengan ketampanan cucunya. Dia menggendongnya dan memperlihatkan kepada Safren.
"Pah lihat deh cucu kita, tampan sekali sih" ucap Nadin.
"Iya ma tampan seperti papa dulu kan" ujarnya.
"Ya tampan seperti abinya lah, masak sama papa sih." protes Verli.
"Hahaha iya sayang dia memang tampan seperti abinya dan imut seperti kamu dulu" ucap Nadin sambil tertawa.
__ADS_1
Karna Verli ingin menyusui putranya akhirnya mereka pun keluar dari ruangan tersebut. Tinggalah Hafka dan Verli yang berada diruangan tersebut. Verli menggendong Hamsya sambil mengusap-usap pipi mulusnya.
Asinya keluar dengan lancar sehingga Hamsya bisa minum asi ibunya. Verli bersyukur karna kebahagiaannya seolah lengkap setelah dihadirkn suami yang baik dan sekarang seorang anak yang tampan. Tak terbayang dipikiran Verli untuk bisa merubah kepribadiannya sampai menemukan jodohnya yang Allah siapkan untuknya.