
Dirumah safren.
Frisko baru saja sampai rumah habis dari kantor. Ia menunggu verli yang katanya akan main ke rumah. Frisko rindu sekali dengan adiknya, sudah lama tak berjumpa. Sejak verli menikah, frisko jarang bertemu verli. Kadang hanya dua minggu baru bisa bertemu, itu pun tak tentu. Ia bergegas ke kamar untuk membereskan berkas kerja.
Nadin sedang berkutat didapur bersama art nya. Suara bel rumah membuat ia harus berhenti melakukan aktivitasnya dan berlalu untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka terlihat verli dan hafka sudah datang, nadin segera menyuruh mereka masuk.
Frisko datang dari atas menuruni tangga menuju hafka dan verli. Verli menyalami kakaknya diikuti hafka. Mereka berbincang-bincang untuk melepas rindu satu sama lain. Saling bertanya kabar dan keadaan.
"Kabarmu baik sayang?" tanya nadin.
"Alhamdulillah baik ma" jawab verli.
"Kakak kangen sama kamu, udah jarang ketemu pula" curhatnya.
"Cari pasangan sana kak biar gak kesepian, jadi kalau malam ada yang bisa dipeluk" oceh verli sambil tertawa kecil.
"Gampang kamu bilang begitu, ya iya tau yang udah halal aku mah kalah saing duluan" ledek frisko.
"Kayak bocah aja gak bisa ngalah"
"Biarin, eh kalian udah belah nangka belum?" pertanyaan frisko membuat keduanya menyengirkan alis seolah paham tentang itu.
Verli berlagak tak paham dengan ucapan sang kakak. Tapi sebenarnya verli tau maksud dari pertanyaan itu.
"Aku gak ada nangka dirumah kak, kalau mau ya beli kok malah nanya ke aku"
Frisko menepuk jidat tak habis pikir dengan verli. Ternyata adiknya ini sangat lugu atau hanya pura-pura tak mengerti.
"Bukan buah nangka, astaga masak kalian kamu gak paham sih, apa hanya pura-pura gak ngerti ya" kesal frisko.
"Lah kan bener aku ngomong, kami gak punya nangka bagaimana bisa belah nangka pertanyaan macam apa itu" ketus verli.
Hafka juga paham maksud dari perkataan kakak iparnya. Hafka jadi geleng-grleng melihat tingkah verli seolah tak mengerti padahal hafka tau bahwa verli pasti sudah mengerti.
"Ah sudahlah lupakan percuma ngomong sama kamu"
Akhirnya frisko menyerah dan lebih memilih diam. Verli melirik hafka sekilas, perkataan frisko pasti membuatnya canggung. Tapi verli melihat hafka biasa aja dan tenang seolah tak mempermasalahkan. Padahal selama ini dari awal nikah verli menahan hak hafka sebagai suami, sampai sekarang pun hafka sabar menunggu. Berdosanya dia yang telah menahan aoa yang menjadi hak suaminya.
Sudah lama mereka bengobrol sampai tak tau waktu. Hafka dan verli ikut makan bersama sebelum pulang. Nadin memasak banyak karna tau kalau verli akan datang. Nafin juga memasak makanan kesukaan verli. Setelah usai makan bersama verli dan hafka pamit untuk pulang. Mereka akan kembali ke apartemen dulu dan besoknya baru akan kembali ke pesantren.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju apartemen verli memikirkan sesuatu. Hafka seperti tau apa yang ada dalam pikiran verli. Pasti tak jauh dari perkataan kakaknya tadi, apalagi verli merasa berdosa menahan hak suaminya. Tapi verli sudah nyaman disisi hafka bahkan sampai tak mau lepas darinya. Entah itu cinta atau hanya rasa kenyamanan yang didapat.
*******
Mobil sudah terparkir rapi, sijoli itu masuk menuju lift. Sesampainya diapartemen hafka langsung membereskan perlengkapannya dan menuju kamar mandi. Sedangkan verli menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Beberapa saat hafka keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti. Kini giliran verli untuk membersihkam badannya yanh sudah lengket dan berkeringat karna seharian dari rumah ayahnya dan langsung menuju rumah mama nya.
Hafka keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Tak lama hafka pergi verli sudah selesai dan mencari hafka yang tak ada dikamar. Ia mencari hafka keluar tapi tak kunjung menemukan hafka. Sampai matanya tertuju pada dua wanita dan satu lelaki. Verli seperti mengenali lelaki tersebut ia mendekat dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Maaf saya harus kembali permisi" Hafka hendak pergi tapi dicegah oleh dua perempuan.
"Haduh mas tampan disini aja ngapain pergi" kata salah satu wanita.
"Apa tak bisa anda menyingkir tadi saya sudah bilang saya ada keperluan tolong menyingkir" ketus hafka.
"Jutek amat biasanya lelaki kalau liat kami pasti terkesima, lah kamu sok jual mahal" ledeknya.
"Kalian tau berlian dan kerikil? Kerikil itu ibarat kalian sedangkam berlian adalah perempuan yang mau menutup auratnya bukan malah membukanya sehingga menjadi kerikil yang suka di injak-injak tapi berlian hanya orang istimewa yang mampu memilikinya" ucapan hafka membuat dua perempuan itu kesal tak semudah itu menggoda hafka.
Dibalik pembicaraan mereka ada verli yang menguping sejak tadi. Ia merasa marah dan kesal saat hafka digoda oleh dua perempuan apalagi mereka seksi dan cantik. Verli berjalan menuju apartemennya dengan wajah cemberut. Sepertinya verli cemburu, hatinya diselimuti kekesalan dan marah tapi ia mencoba tahan.
Ia memikirkan sesuatu lalu pergi ke ruang ganti mengambik pakaian dalam lemari. Ia menatap pakaian yang dipegangnya yaitu lingerie berwarna merah cerah dengan bahan tranparan sehingga pasti akan memperlihatkan tubuh verli saat dipakainya.
Tak lama kemudian hafka sudah kembali ke apartemennya dan masuk ke dalam kamar. Ia mendapati verli sedang duduk di ranjang sambil membaca buku ditangannya. Hafka menaruh barang bawaannya tadi ke meja dan duduk disampinh verli.
Verli menutuo bukunya dan berbalik melihat hafka yang sudah anteng disampingnya.
("Bismillah ayo verli kamu pasti bisa, jangan tegang" gumam verli dalam hati menyemangati dirinya sendiri.)
"Mas..." verli sengaja menahan ucapannya agar hafka berbalik menatap.
"Ada apa?" tanya hafka.
"Aku sudah siap memberikan hakmu dan menjadi istri seutuhnya buat kamu, aku gak akan menahannya lagi." ucap verli lantang membuat hafka bengong tak percaya.
"Serius? Aku gak mau memaksa kamu hanya karna tekanan, aku mau kamu melakukannya meman benar-benar dari hati bukan karna perkataan kakak mu tadi kan"
"Ini sudah mantap dari hatiku sendiri bukan dari orang lain atau kak frisko, aku memang sudah siap dan lakukan apapun yang mas mau lakukan. Aku akan menurut dan tak akan membantah" kali ini ucapan verli di yakini oleh hafka.
"Baiklah kalau memang kamu sudah siap, apa mau melakukannya malam ini belah nangka?" tanya hafka sedikit menggoda.
__ADS_1
"Belah nangka? Dih kayak kak frisko aja masak disamain sama nangka" sindir verli.
"Jadi gak nih, kok malah ngomel"
Verli mengangguk malu-malu. Hafka membalas dengan senyuman dan tatapan penuh cinta. Mereka sama-sama salah tingkah dan gugup. Verli bangkit dari duduknya seketika itu ia melepas baju syar'i nya dan cadar sehingga tinggal lah lingerie yang tadi dipegang verli. Jantung hafka rasanya tak karuan melihat verli hanya memakai lingerie yang sangat tipis dan transparan. Ini kali pertama verli menampakkan tubuhnya dengan pakaian minim bahan.
Hafka sampai tak berkedip melihat keindahan lekuk tubuh verli yang semakin mendekat ke arahnya. Wajar hafka lelaki normal saat melihat itu pasti otaknya dalam mode on. Verli malu-malu duduk diranjang samping hafka dengan balutan make up. Hafka mengagumi kecantikan verli hari ini yang beda dari biasanya. Hafka mengelus pipi verli lalu mencium puncak kepala verli.
"Kamu cantik sekali hari ini, apa khusus untukku?"
"Heem"
"Baiklah sebelum itu kita berdoa dulu sebelum melakukannya"
Hafka mulai berdoa, satu tangannya menyentuh puncak kepala verli sambil melantunkan doa. Agar setiap apa yang nanti mereka lakukan berladang pahala tentunya. Selesai itu hafka membaringkan tubuh verli. Hafka mulai main ditubuh verli, mentautkan bibir mereka dan saling bertukar (saliva). Verli tak bisa melawan seolah tubuhnya juga menginginkan itu. Hafka mulai turun menyusuri tubuh verli dari leher turun ke bawah. Kain yang tadinya untuk membalut tubuh mereka sudah tak karuan berserakan. Tinggal selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
Malam itu menjadi saksi percintaan hafka dan verli. Seperti yang hafka inginkan melakukan dengan hati bukan paksaan. Ranjang yang tadinya tenang berubah menjadi goyangan dari aksi sijoli dua itu. Verli sedikit takut karna ini kali pertama dia melakukan dengan suaminya. Hafka menangkan istrinya dan melakukan dengan lembut sampai verli menikmati setiap sentuhannya. Malam yang panas buat mereka melakukan malam pertama yang tertinggal.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Lanjutannya lakukan dengan suami kalian sendiri ya. Jangan dibayangkan🤭 authornya masih bocil nih. Kasihani author yang jomblo.
Adzan subuh mulai berkumandang verli perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk karena pergulatan mereka semalam. Verli merasakan bahian intimnya perih dan ada lengket. Ia melirik ke samping dan melihat dibawah selimut tanpa sehelai benang pun. Verli jadi membayangkan kejadian semalam, hafka sampai tak rela lepas dari verli. Tiga jam mereka melakukannya barulah hafka menyudahi pertempuran tersebut. Verli melihat bercak merah disprai yang menandakan ia sudab tak perawan lagi. Verli melepas keperawanan nya untuk suami tercinta.
"Berarti yang semalam itu beneran, ya ampun" verli malu sendiri.
Ia hendak turun dari ranjang untuk ke kamar mandi. Tapi ada tangan yang menahan pergerakannya siapa lagi kalau bukan hafka. Seketika verli tersipu malu lalu menutup wajahnya dengan selimut.
"Kenapa malu-malu...makasih sayang yang semalam, aku mencintaimu" ucap hafka sembari memeluk verli.
Verli hanya mengangguk dengan senyuman yang menjulang dibibirnya. Apalagi mendengar pernyataan cinta dari hafka, hati ini rasanya ingin melompat aja.
"Aku mau ke kamar mandi, sudah adzan kita shalat dulu" ajak verli.
"Ayo, biar aku gendong...."
"Gak usah mas aku bisa sendiri"
Baru juga satu langkah verli merasa perih dan sakit dibagian bawahnya.
"Auww..."
__ADS_1