
Tengah malam hafka sudah terjaga untuk melakukan aktivitas rutinnya. Ia membangunkan verli untuk shalat bareng. Perempuan itu terbangun sembari mengumpulkan nyawanya yang masih diambang.
Verli pun menyusul dan langsung mengambil air wudhu. Mereka pun shalat bersama sampai selesai. Setelah shalat verli mencium tangan hafka lalu seperti biasa setelah shalat verli pasti akan membaca al-quran. Hafka akan menyimak bacaan verli barangkali ada yang salah.
Verli membaca ayat demi ayat dengan hafka yang masih menyimak. Tidak banyak juga yang salah dari bacaan verli. Perempuan itu sangat lantang saat membacanya hanya sedikit saja yang salah.
"Bagus dek, kamu pintar juga, lain kali diteliti lagi masih ada yang salah, hanya sedikit kan" ucap hafka sambil memuji verli.
"Iya mas....maaf ya...." Tiba-tiba verli meminta maaf sambil menundukkan wajahnya.
"Maaf kenapa? Memangnya kamu berbuat salah apa!! Tadi hanya sedikit kok bacaannya yang salah gak banyak, tak perlu minta maaf" jawab hafka.
"Bukan itu mas tapi...."
"Tapi apa jelasin aja"
"Aku minta maaf belum bisa memberikan yang menjadi hak kamu, aku belum siap.....minta maaf" Verli terus menunduk saja tak kuasa melihat wajah suaminya.
Hafka tersenyum lalu tangannya memegang pipi verli agar wajahnya sejajar dengan wajah putih verli. Hafka mengecup kening verli. Sontak verli terkejut dengan sikap tiba-tiba hafka.
"Gak pa-pa, aku tidak akan memaksa kamu untuk memberikan hakku......dan pernikahan ini juga terlalu terburu-buru untukmu....Aku akan menunggu kamu sampai siap"
Verli terharu mendengar ucapan hafka dan penjelasan darinya. Sungguh entah angin dari mana sampai ia meneteskan air mata. Hafka sangat pengertian dan baik padanya.
Hafka mengusap buih air mata yang membasahi pipi verli.
"Mau peluk....!!!" ucap hafka sambil menjuluskan tangannya.
Verli membalasnya dengan langsung memeluk hafka erat. Lama verli memeluk hafka, ia melepaskan pelukan tersebut.
"Terima kasih sudah mau mengerti aku" ucap verli lirih.
"Mau balik tidur lagi atau rebahan aja?" Hafka malah bertanya sama verli.
"Ngantukku udah hilang mas" jawab verli.
Hafka membawa verli untuk rebahan diranjangnya. Rasa kantuk verli sudah hilang terbawa suasana tadi. Ia bersandar disisi ranjang dan hafka malah menaruh kepalanya di pangkuan verli.
Verli hanya tersenyum kikuk, tanpa sadar tangannya membuaih rambut hafka. Lelaki itu tak bergeming dan malah menutup matanya.
__ADS_1
Matahari telah muncul memancarkan sinarnya yang menghangatkan jiwa. Verli sudah siap didapur, tangannya bergerak menelusuri seisi dapur tapi tak mendapati bahan makanan.
Hafka menyusul verli kedapur yang sibuk mondar mandir. Hafka pun duduk dikursi, melirik verli sekilas lalu menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya.
"Maaf dek, aku gak pernah nyetok bahan pokok, biasanya aku beli diluar....nanti aku belikan ya" Ucap hafka yang didengar oleh verli.
"Terus mau makan apa?" Tanya verli.
"Kita beli diluar saja"
"Ya sudah ayo, sekalian belanja buat stok"
"Kamu gak kuliah? Jadwal kamu untuk masukkan!!"
"Mumpung masih pagi, kelasku dimulai agak siang kok, ayo mas gak usah mikir lagi" Ajak verli.
Hafka pun nurut dan mengikuti verli yang berjalan ke kamar untuk mengambil tasnya. Hafka menunggu disofa lalu mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Hafka membukakan pintu untuk verli dan ia memutari mobil.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai didepan minimarket yang lumayan dekat dengan apartemen hafka. Verli segera masuk diikuti hafka yang mengekor dibelakang. Ia hanya bertugas membawa troli belanjaan dan berjalan kemana pun arah verli.
Hafka melihat verli memilih belanjaan dan kebutuhan pokok yang dibutuhkan. Hafka kira istrinya ini gak bisa masak tapi dilihat dari belanjaan yang dibeli sepertinya verli bisa memasak.
"Kamu bisa masak dek? Aku kira gak bisa" Jawab hafka.
"Ehh gini-gini aku juga bisa masak, walaupun kelihatannya aku tuh perempuan yang sukanya...ya pokoknya gitu lah, aku sering diajarin mama itu bisa dibilang hobi ku"
"Gak salah berarti aku memilih istri, suka masak dan sholehah" Pujinya sambil tersenyum dan terus mengikuti arah verli berjalan.
"Kamu suka makanan apa mas?" Tanya verli.
"Apapun aku suka asal kamu yang masakin" Ujarnya.
"Oke deh"
Keranjang troli mereka sudah penuh, hafka membawanya ke kasir untuk dihitung. Dua kantong plastik besar ditenteng hafka, tak terasa belanjaan mereka banyak sekali.
Mereka kembali pulang karna verli kekeh agar dia sendiri yang memasak. Sudah lama tangannya tak bergerak meracik bumbu-bumbu dapur. Masa lalunya memang seperti perempuan yang hanya suka berfoya-foya namun disisi lain ia punya hobi yang bermanfaat juga.
Sampai diapartemen verli langsung menuju dapur sedangkan hafka sibuk membawa belanjaannya.
__ADS_1
"Kamu duduk manis biar aku yang memasak" ucap verli sambik menata belanjaan tadi.
"Siap" jawab hafka semangat.
Tangan verli sangat lihai dengan peralatan dapur. Pastinya ia setiap hari kalau gak membantu mamanya atau hanya sekedar melihat asisten rumah tangganya memasak.
Beberapa saat kemudian verli sudah selesai berkutik didapur dan menyajikan makanannya dimeja. Bau masakan verli sangat sedap di indra menciuman hafka.
Rasanya tak sabar lelaki itu untuk mencicipi masakan pertama sang istri. Verli menuangkan nasi dipiring hafka dan mengambilkan lauk untuknya. Verli menyuruh hafka untuk menyoba dulu enak apa tidak atau ada yang kurang.
"Gimana mas enak gak? Atau ada yang kurang" Tanya verli penasaran.
"Enak dek, kamu jago juga masaknya, sedap pula baunya kalau begini aku betah makan dirumah terus gak bakal mau makan diluar, bikin kangen masakan kamu" Puji hafka sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Syukur alhamdulillah kalau enak mas, aku jadi senang" ucap verli sembari menuangkan lauk dipiringnya.
Mereka pun makan bersama hingga selesai. Verli memberesi sisa makanan dan piring yang kotor. Ia hendak mencucinya namun ditolak sama hafka. Malahan verli disuruh untuk bersiap kuliah dan lelaki itu suka rela membantu verli untuk mencuci piring yang kotor.
Verli tak mau karna merasa itu sudah menjadi tugasnya. Tapi hafka terus memaksa dan menunjukkan jam dipergelangan tangannya ke arah verli.
Verli melihat jam ditangan hafka yang menunjukkan sebentar lagi ia akan kuliah. Hafka pun menyuruh verli bersiap dan nantinya mereka akan selesai bersama. Verli akhirnya nurut dan bergegas menuju kamarnya untuk berganti baju dan membereskan buku kuliahnya.
~♥~♥~♥~♥~♥~♥~
Kely sudah siap untuk berangkat kuliah bersama aina dan tia. Kali ini abisfa yang akan mengantarnya sendiri sekalian ke kantor.
Setelah sarapan kely dan kedua sahabatnya berpamitan dengan shafira. Mereka menyalimi satu persatu. Mobil pun sudah keluar perkarangan rumah menembus jalanan yang gak terlalu ramai.
Tak terasa mobil sudah sampai diparkiran. Kely berpamitan dulu dengan abisa, mencium tangan papanya lalu turun diikuti dengan dua sahabatnya. Mereka pun berjalan masuk namun ada mobil yang mereka kenali sepertinya.
Seorang lelaki dan wanita turun dari mobil. Kely langsung memeluk sahabatnya yang ia rindukan. Verli pun sama merindukan ketiga sahabatnya.
"Aku pergi dulu, nanti kalau sudah pulang telfon aja biar aku jemput.....nitip verli jagain ya" ujar hafka.
Verli manggut saja lantas mencium tangan hafka. Kely, aina, dan tia baru menyadari bahwa verli bisa berjalan tanpa kursi roda. Mereka melihat verli dari atas sampai bawah, sampai kely memutar-mutar bdan verli karna terkejut. Verli mengarahkan mereka ke dalam daja ceritanya. Mereka pun nurut dan mengikuti verli pergi.
Karna penasaran kely sampai tak bersabar dan ingin mendengar langsung dari omongan verli. Jam kelas mereka sudah dekat verli pun ingin menjelaskan tapi nanti saja saat istirahat. Aina dan tia sudah memasuki kelasnya duluan.
Sembilan puluh menit telah berlalu kely dan verli keluar ruang kelas menuju kantin seperti biasa. Kely sampai tak sabar menunggu cerita dari verli, karna terakhir ketemu verli masih menggunakan kursi roda. Bagaimana secepat ini bisa sembuh? Yang ada dalam pikiran kely.
__ADS_1