
Pagi menjelang memberi kehangatan bagi setiap makhluk hidup yang bernyawa. Memberi kesejukan dari tetesan embun pagi, kabut yang menyelimuti memberi tanda bahwa hawa dingin menerka. Dua insan yang sudah segar bugar sedang menikmati sarapan pagi bersama keluarga.
Hafka sudah siap didepan bersama verli yang memegangi tas nya. Verli mencium tangan hafka sebelum suaminya pergi. Lalu hafka mencium kening verli. Tas tadi dipegangnya diberikan pada hafka.
Verli menatap mobil hafka yang sudah keluar halaman. Ia pun masuk kembali untuk membantu ummi halimah. Didapur ummi halimah sedang membereskan perlatan yanh tadi dipakai dan hendak mencuci piring yang kotor namun dicegah oleh verli, agar dirinya daja yang membereskan. Asisten rumah tangga juga sedang pergi ke pasar.
"Biar verli saja yang mencuci dan beresin sisanya, ummi istirahat saja" kata verli.
"Gak pa-pa, ummi sudah biasa mending kamu ke pesantren sana ikut kegiatan" tolak ummi halimah.
"Iya habis beresin ini nanti verli ke pesantren, ummi istirahat saja biar verli yang beresin" paksa nya.
"Ya sudah, ummi ke depan dulu kalau begitu" ucap ummi halimah sembari melangkah untuk mencuci tangan.
"Nggih ummi"
Verli pun mulai membesreskan satu-persatu peralatan yang berserakan dan mulai mencuci piring. Setelah selesai ia letakkan kembali piring, gelas, sendok, garbu dan semacamnya ke tempat semula. Lalu mengelap pinggiran wastafel yang basah. Ia mencucui tangan dulu sebelum pergi.
Setelah semua beres verli kembali ke kamarnya sebentar lalu keluar lagi menuju halaman depan mencari mertuanya. Diruang tamu tidak ada, ia pun mencari ke depan. Ternyata ia sedang berbincang dengan abi yusuf diteras. Verli menghampiri untuk pamit ke pesantren.
"Abi..ummi, verli mau ke pesantren dulu" ucap nya lembut.
"Ow ya pergi lah, tadi fatma juga ke pesantren, entah ngapain kalau ketemu suruh pulang dicariin ummi gitu" kata ummi halimah.
"Nggih, nanti verli bilangin sama mbak fatma. Verli pergi dulu assalamualaikum" salamnya sembari mencium tangan mertuanya bergantian.
"Wa'alaikumussalam"
Verli pergi menuju masjid pesantren terlebih dahulu, barangkali kakak ipar nya ada disana. Sepanjang jalan banyak para santriwati yang menyapa nya. Verli membalas dengan sapaan dan anggukan. Rasa damai yang sekarang ia rasakan bukan lagi kekacauan atau pun kesepian seperti dulu. Dilingkungan pondok membuat nya nyaman dan adem dipandang.
Sesampainya dimasjid verli berjalan masuk ternyata tak menemui kakak iparnya juga. Terus dimana? Verli sempat berpikir lalu hendak pergi tapi ada ustadzah haidah yang tak sengaja lewat dan menyapa verli.
"Assalamualaikum neng verli" sapa ustadzah haidah.
"Wa'alaikumussalam ustadzah" jawab verli berbalik.
__ADS_1
"Panggil haidah saja, tak enak kalau manggilnya begitu. Kamu kan sudah jadi istri ustad hafka"
"Iya ust...maksudnya mbak haidah, gak enak kalau manggil nama saja, saya lebih muda dari mbak haidah" jawab nya.
"Ya sudah, tadi kesini mau apa?"
"Mbak tau kakak ipar saya mbak fatma? kata ummi tadi kesini kalau ketemu disuruh pulang" ucap nya bertanya.
"Sepertinya ada di kantor pengurus, mungkin ada perlu"
"Matur nuhun mbak, saya kesana dulu"
"Bareng saja saya juga mau kesana ada perlu juga mau ambil berkas santri yang baru masuk"
Mereka berjalan beriringan menuju kantor. Sembari berjalan mereka mengobrol dangat dekat. Dari cerita verli atau pun dari ustadzah haidah sendiri. Verli juga sempat bertanya apakah haidah itu sudah menikah atau belum. Tentu jawabannya belum, ia sempat mengagumi sosok hafka tapi sekarang sudah jadi jodoh orang lain. Haidah juga bercerita kalau dulu ia mengajar bareng fatma yang sekarang menjadi kakak ipar verli.
Sejak hafka melanjutkan pendidikan kedokteran, ia tak pernah bertemu dengan hafka. Sebab jarak dan waktu, setelah studi hafka selesai melanjutkan kerja dirumah sakit yang ada dipusat kota. Sekarang kedekatannya hanya sama devan sahabat hafka. Karna yang dikagumi sudah beristri.
Entah kapan jodoh itu akan datang meminang haidah. Sampai sekarang ia tetap sendiri, orang tuanya sudah menjodohkan sana-sini namun ditolak olehnya karna merasa tak cocok. Maklum haidah tak ingin menikah karna terpaksa. Ia juga punya keinginan untuk hanya menikah sekali seumur hidup.
Verli mengerti ibarat dulu kakak iparnya, kenza, fatma, hafka, devan, dan haidah adalah pengajar yang dekat satu sama lain. Namun sekarang sudah pada menikah tinggal devan dan haidah yang belum bertemu dengan jodohnya. Atau mereka yang akan berjodoh.
"Assalamualaikum" ucap verli dan haidah bebarengan.
" Wa'alaikumussalam" jawab orang yang berada dikantor terutama fatma.
"Mbak ternyata disini, mbak fatma disuruh ummi pulang. Mbak istirahat saja jangan capek-capek bentar lagi lahiran" ucap verli perhatian.
"Maaf ya kamu jadi repot nyariin mbak, ya sudah mbak pulang sekarang. Kamu mau kemana?"
"Oh tadi mau ikut kegiatan santri sekalian nyari mbak"
"Lanjutkan kalau gitu, mbak pulang dulu" ujarnya mengemasi kertas-kertas dimeja.
"Nggih mbak"
__ADS_1
"Assalamualaikum" ucap fatma sebelum pergi.
"Wa'alaikumussalam"
♡♥♡♥♡♥♡
Hari ini alif akan ke kantor tapi hanya sebentar untuk menghadiri rapat penting. Setelah urusannya beres ia akan kembali pulang lagi. Tak lupa alif untuk meminta izin pada kedua orang tuanya untuk menikah. Rencananya pagi ini sebelum berangkat kerja ia akan mengobrol sebentar sama niko dan delsa.
Rapat kantor dilaksanakan agak siang jadi alif ada waktu untuk berbincang meminta izin untuk meminang kely. Diruang tamu sudah ada niko dan delsa yang duduk berdua. Alif menghampiri mereka lalu ikut duduj disamping niko. Sedangkan adiknya aisyah ada di kamarnya. Aisyah akan masuk pesantren karna kemauannya sendiri. Niko sudah mengurus surat pindah aisyah ke pesantren milik kakak nya, kyai yusuf.
"Papa...mama, alif mau minta restu dari papa dan mama untuk menikah" ucapnya mengawali pembicaraan.
Niko dan delsa terkejut dengan ucapan alif. Angin dari mana tiba-tiba alif akan menikah? Calon saja tak pernah dikenalkan!! Itu yang berada dalam pikiran delsa. Alif memahami bahwa orang tuanya kaget mendengar perkataannya yang mendadak.
"Dengan siapa kau akan menikah? Calonmu saja gak pernah kamu ajak kemari, tiba-tiba minta restu untuk nikah" ujar niko.
"Namanya kely anak dari pak brisma rekan kerja papa, gak mungkin dong papa gak ngenalin pak brisma!!" papar alif.
"Ow pak brisma ya..ya....papa tau kalau beliau, tapi papa gak pernah tau anaknya."
"Kely itu sahabat verli istrinya hafka, dia baik dan cantik, sholehah lagi. Sekarang dia mumpung ada disini belum balik ke pesantren mangkanya aku minta restu dari papa dan mama, aku sudah janji nanti sepulang dari kantor aku mau kerumah nya untuk minta restu" alif berharap kalau orang tuanya merestui.
"Ohh dia dipesantren juga sama verli!! Kalau anaknya baik mama sih setuju aja, gimana kalau papa" kata delsa.
"Papa tergantung kamu yang menjalani pernikahan ini adalah kamu, papa akan selalu mendukung apapun keputusanmu asal itu baik. Papa merestuimu" jawaban yang memang diharapkan oleh alif.
Wajahnya sumringah mendapat restu dari kedua orang tuanya. Sekarang tinggal lah satu langkah lagi yaitu meminta restu dari orang tua kely. Ia berharap jawabannya akan sama dengan orang tuanya.
"Terima kasih pa..ma..restu dari kalian sangat berarti untuk alif" ucapnya bahagia.
"Sama-sama, asal kamu bahagia kami akan ikut bahagia. Semoga nanti pak brisma dan istrinya akan merestui mu"
"Aamiin, kalau gitu alif pergi ke kantor dulu nanti langsung ke rumah kely"
"Iya hati-hati dijalan jangan ngebut kalau bawa mobil"
__ADS_1
"Siap mama" jawab alif sembari meletakkan tangannya seperti hormat para tentara.
*****