
Matahari sudah muncul sinarnya memancarkan kehangatan. Hafka melanjutkan kerja untuk hari ini saja dan akan mengambil cuti beberapa hari kedepan.
Hafka masih syok mendengar tentang ayah kandung verli. Sudah lama mencari ternyata dia sangat dekat dengan hafka. Kemarin ia menghubungi pak brisma untuk mengatakan kalau ada yang ingin bertemu dengannya.
Hafka yang menata pertemuan mereka, dokter brisma tidak diberi tau siapa yang akan ditemui namun hafka mengatakam bahwa ia akan senang saat bertemu dengan orang tersebut. Lantas hafka memberi alamat rumah dokter brisma kepada safren kemarin sebelum pulang.
Setelah merasa pekerjaan selesai hafka cepat pulang untuk menata persiapan hari pernikahan yang sudah dijadwalkan.
Ia tak menyangka bahwa dokter brisma akan menjadi ayah mertuanya. Ia membayangkan reaksi dokter brisma nanti, awalnya rekan kerja berakhir menjadi mertua dan menantu.
Ummi halimah dibantu oleh mbak mina yang biasa menyiapkan seserahan dan keperluan lain. Mbak mina sudah membantu ummi halimah dirumah sejak dulu.
Sedangkan keluarga verli sudah sampai di depan rumah dua lantai dengan mobil satu digarasi dan satunya diluar. Mereka memasuki halaman lalu berjalan menuju pintu utama. Safren memencet bel rumah dan keluarlah seseorang dari dalam.
"Apakah ini kediaman brisma?" tanya nadin.
"Iya benar, apakah anda ada keperluan dengan tuan brisma, silahkan masuk dulu tuan dan nyonya" ucap art.
Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Nadin dari tadi sudah was-was dan tegang, sejak lama tidak bertemu dan sekarang akan bertemu kembali. Ia kaget melihat rumah mewah itu, awalnya ragu tapi keraguannya hilang saat seseorang tepatnya mantan suaminya muncul dihadapan nadin.
Dokter brisma tak kalah kaget melihat nadin sedang ada dirumahnya. Bertahun-tahun mencari tak kunjung bertemu dan sekarang sudah ada didepan mata.
"Na-nadin kan?" tanya memastikan dengan raut wajah kaget.
"Iya aku nadin" jawab nadin sedikit gemeteran.
"Ya Allah, aku mencari kamu bertahun-tahun loh, kamu kemana aja din? Dan......" dokter brisma memotong ucapannya lantas milirik ke arah verli.
"Iya dia anak kamu mas, verli ini adalah ayah kandungmu mas brisma" Ucap nadin yang seperti tau isi kepala dokter brisma saat melihat verli.
"Ayah.....ini benar ayah kan? Verli kangen sama ayah, maafkan verli" Verli memegang tangan ayahnya berharap bahwa ini bukanlah mimpi.
Dokter brisma tak banyak bicara ia langsung memeluk verli dengan erat dan mengelus-elus kepala verli. Pipinya basah karna tangisan yang terus menderai. Verli pun ikut menangis dipelukan dokter brisma.
Bu rena, ibu kandung dokter brisma ikut terharu melihat pemandangan didepan mata. Perjuangan anaknya tidak sia-sia selama ini, dengan usaha dan doa sekarang Allah pertemukam mereka berdua.
Dokter brisma melepas pelukannya lalu memandangi wajah verli yang tertutup niqab. Ia tersenyum lalu mengecup puncak kepaka verli dengan sayang.
__ADS_1
"Maaf mas aku gak pernah menghubungi kamu lagi sejak perpisahan kita, karna mama tidak mengizinkan dan terpaksa aku pindah sehingga kamu tidka visa bertemu dengan verli, dan maaf juga aku mengubah nama virly menjadi verli karna disuruh oleh papa" jelas nadin.
"Kamu gak salah din, ini semua sudah takdir aku mengerti posisimu, suamimu pasti orang baik sehingga bisa menerima mu apa adanya"
"Kenalin ini mas safren suamiku dan itu frisko kakak verli"
Safren mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya. "Kenalkan saya safren dan ini frisko anak saya" kata safren tersenyum ramah.
"Brisma" jawabnya sambil membalas uluran tangan safren.
Dokter brisma seperti pernah mengenali frisko. Setelah di ingat-ingat ternyata lelaki ini adalah orang yang mengantar salah satu pasiennya.
"Loh kamu bukannya yang dirumah sakit wkatu itu ya nganterin adik kamu?" tanya dokter brisma.
"Om mengenali saya?" Frisko malah bingung karna wajah dokter brisma asing baginya.
"Saya dokter yang waktu itu mengecek keadaan adik kamu, namanya pun sama verli jadi ternyata yang aku periksa waktu itu anakku sendiri, astagfirullah pantas saja rasanya dekat sekali dengannya" Dokter brisma baru menyadari.
"Ow jadi om dokter brisma yang waktu itu dirumah sakit kan?"
"Iya"
"Tidak apa-apa"
"Kamu dokter mas?" Nadin malah heran dengar profesi mantan suaminya yang sekarang karna beda dengan yang dulu.
"Iya din, setelah perceraian kita, aku masuk kuliah kedokteran, sebelumnya aku sudah daftar untuk membuktikan kepada kedua orang tuamu tapi keburu mereka tak suka padaku tapi setelahnya aku tetap melanjutkan cita-citaku sampai berhasil hingga sekarang" paparnya.
"Syukur alhamdulillah mas kamu bisa sukses sekarang dan meraih cita-citamu yang dulu"
Mereka mengobrolan cukup lama, nadin juga menjelaskan kronologi kecelakaan verli dan rencana pernikahan verli yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Safren meminta dokter brisma untuk menjadi wali nikah untuk verli dan di restui oleh dokter brisma.
Dokter brisma pun tidak terima dan akan ikut mencari dalang penyebab kecelakaan verli, karna polisi sampai sekarang belum menemukan sang pelaku. Padahal verli sudah tau namun disembunyikan dari mereka. Dokter brisma kagum dengan anaknya dengan keterbatasan ia tetap semangat dan terus mengejar pendidikan tanpa lelah.
Dokter brisma mengenalkan ibu dan istrinya yang sekarang sedangkan leysa sudah masih ada praktek dirumah sakit.
"Terima kasih sudah menjaga anak saya dan menerima nadin apa adanya, aku juga berterima kasih padamu din sudah merawat virly dengan baik sampai tumbuh menjadi anak yang sholehah"
__ADS_1
"Semua atas hidayah Allah yah......ayah datang kepernikahanku ya dan nenek juga, ibu juga ikut"
Nadin tak keberatan jika verli memanggil ibu tirinya dengan sebutan ibu. Bagaimana pun dia adalah ibu tiri verli yang tetap harus dihormati.
☆♥☆♥☆♥☆♥☆
Tiga hari telah berlalu dan hari pernikahan verli telah tiba. Akad akan dilaksanakan dikediaman nadin. Hafka sudah rapi dan gugup.
Dokter brisma tersenyum manis saat melihat hafka dan tangannya menjabat tangan hafka. Ijab qobul diucapkan dengan lantang dan hanya satu tarikan nafas saja oleh hafka.
"SAH."
"Sah"
"Sah"
Penghulu mengucapkan doa untuk pengantin baru dan diaamiinkan oleh semua orang yang hadir. Kini kehidupan hafka telah berganti tak lagi membujang dan statusnya sudah menjadi seorang suami.
Verli sengaja ditempatkam berbeda dengan mempelai lelaki sebelum ucapan sah. Setelah ijab qabul selesai verli dibantu oleh nadin dan bu reni menuju tempat mempelai lelaki dan disandingkan disampingnya.
Verli mencium tangan hafka dengan gemeteran entah kenapa padahal ini buka kali pertama bagi verli berdekatan dengan lelaki. Hafka membalas dengan mencium kening verli yang sudah sah menjadi istrinya.
Sekarang mereka memasangkan cincin bergantian dan menandatangani buku nikah. Banyak para kerabat memberi ucapan selamat terlebih para sahabat verli terutama kely yang paling heboh sendiri.
"Ya ampun verli gak nyangka loh ternyata jodoh kamu pak hafka, hihihi tak sengaja bertemu menjadi jodoh" celetus kely.
"Selamat ya verli semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah langgeng terus sampai nanti menjadi nenek kakek" ucap aina.
"Aamiin minta doanya saja ya terima kasih kalian sempatkan hadir kemari"
"Sama-sama"
"Wah habis ini aku mau jandi aunty nih, cepet ngisi ya ver" kely tak berhenti mengoceh dan membuat verli jengkel sendiri.
"Apaan sih key malu tau, bari juga nikah" Verli mendengua kesal.
"Ucucucu jangan ditekuk gitu dong wajahnya senyum gitu hari bahagia juga"
__ADS_1
Hafka juga ikut menyalami para tamu yang hadir. Ini adalah akad sekalian resepsi, jadi acaranya bisa sampai malam.