CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 56. PINDAH


__ADS_3

Acara berjalan dengan lancar sampai malam tiba, tubuh verli rasanya pegal sekali karna seharian menyambut para tamu yang hadir. Hafka mengerti jika sang istri kecapean lalu ia membawa verli untuk istirahat. Setelah para undangan tak ramai hafka minta izin untuk membawa verli istirahat.


"Ma aku bawa verli ke kamar dulu ya kasihan sepertinya kecapean" ucap hafka pada nadin.


"Iya biarkan verli istirahat, seharian ini dia tak berhenti menyambut para undangan pasti kecapean"


"Ya sudah hafka ke kamar dulu"


Nadin mengangguk kemudian hafka menghampiri verli dan membawanya ke kamar untuk istirahat.


Sampai dikamar suasana hening tak ada satu pun yang mau bicara. Hafka maupun verli diam saja, mungkin karna sama-sama tegang dan canggung. Apalagi dengan hafka yang baru pertama kali berdekatan dengan perempuan.


Hafka memecahka suasana agar tidak diam begitu saja.


"Istirahatlah dulu kamu pasti capek" kata hafka.


"Iya" jawab verli singkat.


Hafka lantaa pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Verli pun sama ia pergi ke ruang ganti setelah melihat hafka keluar dari ruang ganti.


Hafka hendak membantu verli untuk naik ranjang namun ditolak oleh verli. Hafka heran apa bisa istrinya berjalan menuju ranjang sedangkan kakinya tidak bisa bergerak.


"Aku bisa sendiri....hmm aku harus memanggil siapa?" tanya verli bingung.


"Terserah seenak kamu aja dek"


"Ya udah mas aja biar enak" kata verli


Hafka mengangguk saja dan mau memegang tangam verli saat beranjak dari kursi roda namun verli tetap bersih kukuh menolak.


Hafka heran dengan istrinya. Jelas-jelas kaki dia sakit kenapa sekarang bisa jalan? Jelas verli tau bahwa hafka heran melihat dia bisa jalan walaupun belum sempurna normal.


Verli melepas niqabnya yang sedari tadi ia pakai walaupum sudah berganti baju. Ini adalah kali pertama hafka melihat wajah istrinya dengan jelas dan hanya berjarak beberapa senti saja. Sangat cantik dan menggemaskan untuk hafka, wajah yang bersih dan putih. Sekian detik hafka melupakan verli yang bisa berjalan karna melihat kecantilam verli.


"Mas"


"Ah iyah kenapa?" Sangkin gugupnya sampai hafka gelagapan menjawab verli.


"Maaf mas jika aku terlihat biasa aja, ini bukan kali pertama aku dekat dengan lelaki dan kamu bukan cinta pertamaku"


Hafka terssenyum.


"Kamu memang bukan cinta pertamaku tapi akan menjadi cinta terakhirku dan selamanya, semua orang juga punya masa lalu jangan pernah berkecil hati tentang masa lalumu, aku memilihmu bukan karna semena-mena"


Verli menoleh ke hafka.


"Lalu mengapa mas memilihku jadi istrimu?" tanya verli.


"Karna Allah menunjukkan padaku bahwa kamu adalah jodohku, kalau aku balik pertanyaan itu mengapa kamu menerima ku menjadi suamimu?"

__ADS_1


Verli bingung harus jawab apa.


"A-aku gak tau, aku cuma nuruti apa kata hatiku saja" jawab verli gugup.


"Aku memang belum mencintai kamu tapi aku akan berusaha untuk mencintai kamu dan sebaliknya semoga cinta itu juga tumbuh dihatimu"


"Makasih mas, sudah mau memahamiku dan menerima masa laluku"


"Istirahatlah" Hafka hendak keluar namun dicegah oleh verli.


"Tunggu ada yang ingin aku beri tau" Hafka kembali duduk disamping verli.


"Aku mau jujur sama kamu, kalau aku memang bisa jalan walau pun belum normal total, aku sembunyikan semua ini dari papa, mama bahkan semuanya dan hanya mas seorang yang tau" Jelas verli membuat hafka membulatkan matanya.


"Kenapa disembunyikan?" tanya hafka.


"Gak pa-pa aku ingin mereka melihatku apa adanya dan bair aku juga tau mana yang tulus denganku, mana yang hanya memanfaatkanku, tolong ya mas jangan bilang siapapun lagian aku" Ucap verli memohon.


"Kalau kamu terapi mereka juga akan tau, gak bisa kamu sembunyikan ini lama-lama" kata hafka.


"Tolong untuk saat ini saja ya, aku mohon"


"Huufh, baiklah" Hafka mengalah saja dri pada harus berdebat.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Menjelang subuh hafka sudah siap untuk melaksanakan shalat, ia membangunkan istrinya untuk shalat.


Sarapan sudah tertata rapi dimeja makan. Mereka sarapan tanpa ada suara kata pun, hanya terdengar gesekan sendok yang menyerka sampai sarapan pagi selesai.


Verli ingin ke halaman samping untuk melihat tanamannya tumbuh. Hafka mengantarkan kemauan istrinya itu.


"Indah ya, apa kamu yang merawat semua bunga ini?"


"Iya ini termasuk hobi baruku mas, tapi sejak aku dipesantren yang merawat mama"


Verli menyirami semua bunga-bunga itu, hafka hanya memandangi saja.


"Dek sini deh, mas mau ngomong sesuatu" pintah hafka.


"Ada apa?" tanya verli.


"Setelah ini kita pulang ke apartemenku dulu ya, kamu masih ada kuliah disini kan"


"Terserah kamu saja mas, aku ngikut"


"Kita izin ke papa sama mama dulu ya"


"Iya"

__ADS_1


Hafka membawa verli masuk ke dalam sekalian meminta izin untuk membawa verli pulang ke apartemennya.


Safren dan nadin tidak keberatan karna sekarang tanggung jawab verli ada pada suaminya. Walau pun masih rindu dengan verli, nadin tetap membolehkan hafka membawa verli pergi.


Lagi pula apartemen hafka masih ada disekitar sana tidak jauh-jauh sekali. Siang itu pun mereka pindah ke apartemen. Hafka membawa berang-barang verli ke mobil lalu menyalami kedua mertuanya.


"Kami pergi dulu pa, ma" kata hafka.


"Hati-hati dijalan ya, titip verli jaga baik-baik dan jangan sakiti dia" tutur nadin.


"Pasti aku akan menjaga verli dengan baik" janji hafka.


"Jaga adikku tersayang ini, kalau ada waktu main kesini ya" kata frisko.


"Iya kak tenang aja, kami pergi mama papa jaga diri baik-baik"


Setelah berpamitan hafka menancap gas lalu meninggalkan kediaman safren. Diperjalanan suasana cukup ramai dan dalam mobil hening tak ada suara.


Hafka fokus menyetir sampai tak terasa mereka sudah ada diparkiran apartemen. Hafka menurunkan barangnya dari mobil dan mengambil kursi roda verli.


"Gak usah mas aku jalan saja sambil meregangkan kakiku biar gak kaku"


"Hmm ya sudah hati-hati kalau jalan, ini kunci apartemenku kamu duluan saja biar barangnya mas yang bawa" pinta hafka sambil menurunkan barang dimobil. Tidak banyak yang dibawa hanya sebagian saja karna barang-barang verli ada dipesantren.


"Ya udah aku duluan" Verli berjalan sendiri menuju apartemen.


Semua barang sudah tertata rapi ditempatnya. Kini sijoli pengantin baru sedang duduk untuk beristirahat. Besok pagi verli harus pergi ke kampus karna sudah tertinggal mata kuliah banyak.


"Mau jalan-jalan?" tawar hafka sambil minum teh yang dibuat kan oleh verli.


"Kamu gak capek mas"


"Gak ada yang capek kalau untuk nyenengin hati istri"


"Ternyata kamu gak sejutek yang aku kira ya, kamu bisa juga perhatian" ucap verli.


"Semua ada batasannya pasti kamu paham dong, siapa yang haramku lihat dan yang halal untuk aku lihat, wajar aku seperti itu maaf kalau memang sikapku terlalu cuek ke kamu dek, sekarang aku lagi membiasakan diri dengan keadaan yang sekarang" jelas hafka.


"Makasih" Hanya kata itu yang bisa terucap dibibir verli karna tak tau harus mengucapkan apa.


"Gimana mau jalan-jalan gak mumpung masih pagi" tawar hafka lagi.


"Boleh deh kalau kamu maksa"


"Aku gak maksa kalau gak mau ya udah diem disini aja seharian.....eh" Hafka pun bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat teringat sesuatu.


"Kita ke rumah paman dulu ya mau liat abi sama ummi, katanya mau pulang hari ini diantar sama paman" ujarnya


"Ya udah ayok" Verli berdiri dan melangkah menuju kamar untuk bersiap.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡♡♡


__ADS_2