CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 91. AINA?


__ADS_3

Mobil milik orang tua Verli sudah memasuki halaman pesantren. Frisko yang baru turun sangat terkagum-kagum dengan area pondok yang luas. Banyak para santri berlalu-lalang dihalaman mau pun didepan asrama mereka. Ada ketertarikan di hati Frisko, lebih tepatnya merasa tenang bila ada di sekitar pondok.


Terdengar lantunan ayat suci al-qur'an dibacakan dengan merdu dan menyentuh hati. Sungguh ketenangan yang tak pernah Frisko rasakan bila ada dirumahnya sendiri.


Mereka bertiga disambut hangat oleh ummi Halimah dan abi Yusuf. Frisko malah clingukan mencari adiknya. Dari tadi ia tak melihat Verli keluar dari rumahnya. Ia pun menanyakan keberadaan Verli.


"Kyai apa adik saya ada di dalam?" tanya Frisko sopan.


"Tadi keluar sebentar sama suaminya. Mungkin lagi di pondok sebentar lagi pasti kembali" jawab abi Yusuf.


Frisko tak mau menunggu. Ia ingin berkeliling juga melihat semua sudut di pesantren tersebut. Ia meminta izin pada smeua orang terutama abi Yusuf untuk berkeliling area pondok. Jelas abi Yusuf mengizinkan dengan senang hati.


Area pondok sangat luas. Frisko takut kesasar tapi sepanjang jalannya ia disuguhkan pemandangan yang angat menyentuh hati. Santri yang sedang mengaji dan menghafal setiap ayat dalam al-qur'an. Frisko sambil merenungi dirinya sendiri yang selama ini merasa lalai dalam beribadah. Ia meninggalkan tugas pentingnya kepada Allah. Bahkan hanya kadang-kadang saja.


"Pantas Verli betah, pondoknya saja sangat luas, hatiku terasa tenang bila berada disini." gumam Frisko sepanjang jalannya.


Pandangannya tertuju pada dua santri yang sedang mengaji di bawah pohon rindang. Tempat yang biasa digunakan para santri untuk berkumpul bersama. Frisko menghampiri mereka dan menyapanya.


"Assalamu'alaikum" ucap Frisko.


Kedua santri itu pun menoleh dan menjawab salam dari Frisko. "Wa'alaikumussalam"


"Boleh kakak duduk disini!"


"Boleh kak silahkan" mereka sangat sopan dan bertutur kata lembut.


"Kalian sudah lama mondok disini?" tanya Frisko.


"Lumayan kak, sudah tiga tahun kami mondok disini" jawab salah sati dari mereka.


"Lama juga ya, pasti mereka jarang bertemu orang tua" gumam Frisko dalam hati.


"Kalian sedang apa?"


"Kami lagi hafalan kak sambil mengaji"


"Sudah hafal berapa surah?" tanya Frisko penasaran.


"Saya sudah sampai 8 juz kalau, sahabat saya ini sudah 10 juz." jawab salah satu dari mereka.

__ADS_1


Frisko melongo mendengar jawaban dari mereka. Dia saja yang sudah dewasa belum hafal betul surah-surah pendek. Dia dikalahkan oleh bocah. Hatinya merasa tersentuh dan ada ketertarikan sendiri dihati Frisko. Mendengar hal itu ia jadi merasa malu dengan dirinya sendiri.


Shalat saja jarang atau pun kalau hanya ingat saja. Kesibukanya sampai mengalahkan kewajiban yang seharusnya dia lakukan. Harusnya dia sadar semua yang sudah dimiliki bukan selamanya akan ada dan bukan karna melulu kerja kerasnya. Tapi ada Allah yang memberikan itu semua dan mempermudah segala urusannya. Namun apakah selama ini dirinya rutin untuk bersujud? Berdoa? Dan memenuhi kewajibannya?. Semua itu lalai untuk dilaksanakan Frisko.


Frisko menyadari bahwa selama ini dia jauh dari Tuhannya. Meninggalkan semua kewajibannya dan tergiur akan dunia semata. Padahal harta bukan segalanya yang harus terua dicari. Masih ada yang lebih penting lagi untuk diraih yaitu akhirat. Masih panjang hidup ini setelah nanti kematian itu datang menghampiri.


Frisko mengeluarkan dompetnya. Terdapat uang kertas berwarna merah yang sangat banyak. Ia mengambil sepuluh lembar dan diberikan kepada kedua santri tersebut. Namun kedua santri itu menolaknya karna merasa tidak mengenali Frisko tapi sudah diberi uang banyak. Walau pun ditolak Frisko tetap memaksa agar santri itu mau menerima uang darinya.


"Ini rezeki kalian jangan ditolak ya....." ucap Frisko sambil menyodorkan uang tersebut yang jumlahnya lumayan banyak.


"Tapi kami tidak mengenal kakak" jawabnya.


Frisko tersenyum dan berkata "Apakah memberi harus kenal dulu? Dan menerima pun harus mengenal juga" tanya Frisko. Keduanya kompak menjawab tidak.


"Saya kakak nya Verli, kalian mengenalnya?"


"Ow nggih kami mengenalnya, beliau istri dari ustadz kami."


Frisko kembali memberikan uang tersebut dan diterima oleh mereka berdua. Raut wajah mereka begitu senang dan sangat berterima kasih. Setelah berbincang dan memberikan sedikir rezeki, Frisko kembali menyusuri area pondok tersebut.


🌺


🌺


Verli juga ikut senang bisa bertemu dengan sahabt yang sangat dia rindukan. Verli pun berpamitan kepada Aina dan Tia untuk kembali ke rumah menyambut kedatangan Kely. Dengan senang hati Aina dan Tia juga ingin ikut dengan Verli untuk bertemu dengan Kely. Kerinduan menyelimuti hati mereka berdua.


Akhirnya Aina dan Tia mengikuti Verli pulang. Mereka berjalan beriringan sambil terus mengobrol riang. Sampai percakapan mereka berhenti saat Verli melihat Frisko berjalan mengarah ke arah mereka. Ia pun memanggil kakak nya itu dengan sedikit mengeraskan suaranya agar Frisko mendengar karna jarak mereka agak jauh.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Frisko pun menoleh ke samping dan melihat Verli bersama Aina dan Tia. Mereka pun menghampiri Frisko. Verli tak tau kalau kakaknya sudah datang karna sedari tadi dia ada di pesantren. Mungkin sekarang suaminya juga belum tau kalau keluarganya sudah datang.


Aina langsung menundukkan pandangannya saat tatapan Frisko mengarah padanya. Jantung Frisko tiba-tiba berdetak kencang saat melihat Aina yang dekat dengannya. Namun Aina menunduk sehingga Frisko tidak bisa melihat mata lentik bening milik Aina.


Verli yang melihat gerak-gerik aneh dari kakaknya langsung asal ceplos yang membuat Aina membulatkan matanya dan seketika mengangkat wajahnya menghadap ke arah Verli.


"Hemm.....hemm.....datang-datang langsung melirik yang haram. Halalin dulu dong baru pandang sepuasnya" ucap Verli menyindir Frisko yang tatapannya tidak bisa berpaling dari Aina.


Mendengar ucapan Verli yang tidak bisa di rem. Frisko berlagak normal dan memalingkan wajahnya dari Aina. "Suami kamu mana dek?" Frisko mencoba mengalihkan pembicaraan agar Verli tak membahas hal yang tadi.


"Tadi sih ada dikantor pengurus.....papa sama mama di rumah ya kak....?" tanya Verli.

__ADS_1


"Iya.....tadi kakak ingin melihat-lihat area pondok ini, ternyata sangat besar dan luas. Adem pula disini beda kalau di rumah. Adem hatinya..." jawab Frisko sembari memutarkan pandangannya ke arah pondok yang sangat luas.


"Disini saja kalau gitu.....atau....." Verli mulai melirik ke arah Aina.


Karna tak mau membahas hal lain, Frisko segera mengajak Verli untuk kembali ke rumah utama. Mereka pun akhirnya kembali bersama, Aina dan Tia tetap mengekor dibelakang menjaga jarak.


Di rumah utama ternyata sudah ada Kely juga dan Alif yang baru sampai. Mereka dipersilahkan masuk oleh ummi Halimah. Sementara Alif mengambil koper dan barang lain milik Aisyah. Tak hanya mereka yang datang, Niko dan Delsa juga ikut mengantar Aisyah ke pesantren. Jadilah mereka berkumpul bersama di pesantren.


Hafka sudah kembali dari pesantren dan tak lama Verli juga sudah ada disana. Melihat Kely sudah datang, ia langsung berhambur memeluk Kely. Orang yang sangat dirindukan selama ini. Begitu pun dengan Aina dan Tia yang juga sangat merindukan Kely selama ini. Mereka berempat saling sapa dan tanya kabar.


Niko dan Delsa sudah masuk duluan bersama Aisyah. Sementara keempat sahabat itu berada di dapur sekarang dan Hafka menemani di ruang tamu. Mereka berkumpul menunjukkan tali silaturrahmi yang kuat. Kekuarga yang harmonis dan penuh kegembiraan. Dibaluti dengan adab dan ilmu. Menjadikan kekerabatan mereka terjalin begitu harmonis. Senyuman selalu melebar disetiap bibir mereka. Menunjukkan kegembiraan dihati masing-masing.


**


**


**


Didapur mereka berempat sedang membuatkan minum sekalian berbincang, mengobrol untuk meluapkan kerinduan yang selama ini terpendam. Terlebih Verli yang ingin sekali tau isi hati Aina sekarang.


Verli tau bahwa kakaknya suka menaruh hati pada Aina sejak pertama kali bertwmu. Namun keberaniannya belum juga di tunjukkan untuk mengatakan yang sejujurnya. Mungkin karna merasa dirinya tak pantas untuk bersanding dengan Aina. Ia takut tak bisa menjadi imam yang baik nantinya.


Mangkanya Verli mencoba untuk berbicara dengan Aina tentang hatinya. Apakah sudah ada yang mengisi atau belum. Kalau saja belum ada yang mengisi, maka Verli akan mendekatkan Aina dan Frisko agar mereka bisa bersatu.


"Aina....." panggil Verli yang melihat Aina masih mengaduk teh. Yang dipanggil pun menoleh.


"Iya Ver, ada apa?" tanya Aina.


"Apakah kamu tidak ingin menikah dengan orang yang kamu cintai?" Aina sedikit kaget dengan pertanyaan Verli tiba-tiba menanyakan perihal cinta.


"Belum ada calonnya Verli....lagian siapa juga yang mau sama aku" jawab Aina.


"Perihal jodoh itu masalah Allah yang mengaturnya dan mentakdirkan untuk kita masing-masing. Sejauh apapun kalau dia jodohmu pasti mendekat juga dan sedekat apapun kalau bukan jodohnya yang pasti akan pergi juga. Jangan mengatakan, siapa yang tidak mau sama kamu......karna kita sudah mempungai jodohnya sendiri-sendiri." jelas Kely menyahuti dengan nasihat.


"Tapi aku kan tidak tau jodohku itu dengan dia yang Allah pilihkan untukku atau malah berjodoh dengan kematian. Jadi aku gak mau memikirkan soal itu......kalau sudah dekat pasti dia juga akan datang sendiri untuk melamar" ucap Aina.


"Apa hati kamu sudah ada yang mengisi Na? Jawablah yang jujur" timpal Verli menanyakan dengan serius.


Aina sedang berpikir untuk menjawab. Ia juga tidak tau dengan perasaannya yang sekarang. Antara cinta atau hanya sekedar mengagumi saja. Karna ia tak mau berharap lebih yang nantinya akan terasa sakit jika tidak terbalaskan.

__ADS_1


"Gak tau...!" jawab Aina singkat. Ia pun pergi ke depan untuk menyuguhkan minuman dibantu oleh Tia.


__ADS_2