CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 81. BUAH HATI


__ADS_3

"Iya makasih dek, rasanya gak karuan sakit lama-kelamaan malah tambah sakit" keluh Fatma meringis menahan sakit.


"Ya Allah begini kah rasanya melahirkan nanti, aku jadi takut melihat mbak Fatma kesakitan begini. Semoga nanti kalau aku hamil dan melahirkan bisa kuat, aamiin" batin Verli dalam hatinya sembari memegang tangan Fatma.


Tak lama kemudian Kenza sudah datang. Ia masuk ke dalam ruangan istrinya dengan tergesa-gesa. Melihat Kenza datang Verli minggir untuk memberi ruang buat kakak iparnya. Ummi Halimah dan Verli memutuskan untuk keluar dulu agar Kenza bisa menenangkan Fatma dan menguatkannya.


Diluar Verli masih memikirkan tentang Fatma saat kesakitan tadi. Belum juga lahiran tapi sakitnya sudah seperti itu apalagi kalau nanti persalinan. Itulah yang dipikirkan Verli sejak tadi. Verli meminta izin kepada Ummi Halimah untuk ke toilet sebentar.


Selesai dari toilet Verli berjalan untuk kembali ke ruangan Fatma. Tapi dia berpapasan dengan suaminya yang memang lewat didepannya. Hafka kaget melihat istrinya ada dirumah sakit. Verli lupa untuk memberi tau Hafka kalau Fatma akan melahirkan.


"Dek ngapain disini?" tanya Hafka.


"Aku lupa beritau kamu kalau mbak Fatma akan melahirkan, tadi aku sama Ummi membawanya kesini karna mengeluh sakit diperutnya" jelas Verli.


"Loh mau lahiran dimana? Udah selesai apa belum?" tanyanya lagi.


"Belum, tadi Dokter Jihan bilang kalau masih pembukaan empat, jadi nunggu sampai pembukaan sempurna" papar Verli.


"Ya udah nanti aku sempatkan kesana, aku harus ada tugas sebentar kamu balik saja"


"Iya mas kalau gitu aku kesana dulu"


"Iya"


Verli kembali berjalan ke ruangan Fatma. Ia duduk di kursi penunggu disamping Ummi nya. Verli sebenarnya merasa lelah entah apa sebabnya, tapi ditutupi agar tak membuat sang mertua ikut khawatir.


"Ummi tadi aku ketemu sama mas Hafka, nanti akan menyusul ke sini setelah menyelesaikan pekerjaannya" ucap Verli.


"Iya nak, Ummi sampai lupa untuk mengabari suamimu syukur alhamdulillah kalau tadi ketemu jadi gak perlu menelfonnya"


"Iya Ummi"


"Kamu disini dulu ya, Ummi mau pulang sebentar ambil bajunya Fatma, nantikan suamimu kesini biar gak nyariin kalau ada apa-apa hubungi Ummi. Abi juga belum dikabari sangking paniknya tadi"


"Hati-hati Ummi"


"Iya assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Tinggalah Verli sendiri di depan ruangan tersebut. Sesaat kemudian Jihan masuk ke ruangan Fatma dan berpapasan dengan Verli yang sedang menunggu diluar. Tatapan Jihan sangat tajam saat melihat Verli. Tapi tak di hiraukan oleh Verli.


Didalam Fatma semakin merasa kesakitan tak karuan. Kenza mengusap lembut punggung Fatma berusaha menyemangati istrinya. Jihan memeriksa keadaan Fatma bersama dua suster yang mengikuti.


"Dok istri saya semakin kesakitan apa belum bisa dilakukan persalinanya?" ucap Kenza pada Jihan yang sudah panii dari tadi.

__ADS_1


"Belum pak tunggu sampai pembukaan sempurna baru bisa dilakukan persalinan. Ini sudah pembukaan ke tujuh, ibu sabar dulu ya. Nanti saya kesini lagi untuk mengecek kalau ada apa-apa bisa panggil kami, saya permisi" Jihan pun keluar dari ruangan Fatma.


Didepan sudah ada Hafka bersama Verli. Mereka sedang menunggu Jihan keluar untuk menanyakan keadaan kakak mereka.


"Dokter Jihan bagaimana dengan kakak saya apa baik-baik saja?" tanya Verli.


"Masih pembukaan tujuh, saya permisi dulu" jawab Jihan bersikap profesional walau pun ia tak suka melihat Verli.


"Hmm sikapnya sama saja, semoga segera dapat hidayah"


"Aamiin" dijawab oleh Hafka.


******


"Mas udah belum katanya mau pergi tapi lama banget ngalahin aku kalau dandan" keluh Kely yang sudah menunggu Alif.


"Tunggu sebentar lagi" jawab Alif.


Mereka akan pergi mencari angin segar diluar selama masa cuti Alif. Kely sudah menunggu sedari tadi tapi suaminya tidak keluar juga. Sesaat Alif sudah rapi dan turun bersama Kely. Dengan wajah masamnya karna ulah Alif yang membuatnya menunggu lama.


Diruang tengah ada Delsa sedang menonton televisi. Mereka menghampiri untuk berpamitan. Setelah itu mereka keluar menaiki mobil milik Alif.


Diperjalanan sesekali mereka berbicara dan sembari Alif fokus menyetir. Empat puluh menit sudah ditempuh akhirnya mereka sampai juga ditempat yang ditentukan. Dipantai yang sejuk dengan ombak yang menerjang terumbu karang.


Suasana indah hamparan pantai yang luas. Menyejukkan setiap hati yang bergundah. Meringankan beban pikiran walau sebentar. Ombak yang menghembuskan cipratan air karna terjangan yang menampar disetiap kerumbu karang. Kely berlarian disisi pantai sedangkan Alif mengekor dibelakangnya.


"Iya boleh deh satu, aku tunggu dibawah pohon sana ya" ucap Kely.


Alif mengangguk lalu pergi ke arah yang berbeda untuk membeli kelapa muda dan camilan. Sementara Kely menunggu dibawah pohon yang rindang ditepi pantai. Udara nan sejuk dan hawanya membawa ketenangan. Sesaat Alif sudah menghampiri Kely dengan membawa dua kelapa muda dan juga camilan. Ia menyodorkan kelapa muda tersebut kepada Kely.


"Makasih" ucap Kely tersenyum manis.


"Setelah ini mau kemana? mau pulang apa jalan-jalan lagi?" tanya Alif duduk disamping Kely.


"Baru juga sampai udah tanya mau kemana lagi, kita jalan-jalan lah disini dulu aku masih mau melihat pemandangan pantai yang indah" ujarnya sembari meminum kelapa mudanya.


"Ya sudah habiskan dulu"


Mereka menghabiskan kelapa muda dan camilan tadi. Kemudian pergi untuk berkeliling pantai sambil menikmati hamparan ombak yang sesekali menerjang. Kely terus menarik tangan Alif untuk mengekornya.


Tak jauh dari mereka, Kely melihat seoasang kekasih yang romantis menurutnya. Perempuan itu mengingatkan Kely pada ketiga sahabatnya karna ia memakai cadar. Termenung sesaat bukan melihat keromantisan mereka melainkan sisi lain dari perempuan bercadar tersebut. Dulu dia yang mengajarkan Verli untuk ke jalan yang benar, menutup aurat dengan sempurna.


Sekarang semua itu sudah terwujud bahkan lebih dari apa yang diharapkan oleh Kely. Ia melihat dirinya sendiri yang masih belum tertutup sempurna. Sampai Alif membuyarkan lamunannya. Kely pun tersadar dari lamunan.


"Kenapa melamun?" tanya Alif.

__ADS_1


"Ehh enggak kok, ayo jalan lagi" kilah Kely.


Alif merasa aneh tapi tak mengambil pusing. Akhirnya mereka kembali berjalan berkeliling sampai memutuskan untuk pulang saat sudah lelah dan bosan.


*****


Fatma sudah dibawa ke ruang bersalin. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Ia akan lahiran secara normal. Diluar ruangan sudah ada Ummi Halimah dan juga kedua orang tua Fatma. Ada Veeli dan Hafka yang setia menunggu sedari tadi.


Kembali ke dalam. Fatma berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan buah cintanya. Tangannya terus memegang tangan Kenza. Bahkan Kenza tak mau melepas genggaman tangan istrinya walau pun hanya sedetik. Hatinya bercampur aduk melihat istrinya kesakitan. Proses bersalin pun berlangsung.


"Ini sudah sempurna, Bu Fatma tarik nafas dan keluarkan perlahan. Dengarkan saya kalau ada dorongan dari dalam, ibu mengejan" Ucap Jihan yang membantu persalinan Fatma.


"Huuhh...huuh....aaaahhhh" dengan sekuat tenaga Fatma berusaha dan disemangati oleh Kenza yang ada disampingnya.


Tak berselang lama bayi mungil pun sudah lahir dengan rasa lega bercampur bahagia. Rasa sakit seolah sirna dengan kebahagiaan. Senyuman terpancar diwajah keduanya terutama Fatma.


"Alhamdulillah bayinya sehat sempurna, dia perempuan cantik seperti ibunya" kata Jihan.


Suster membawa bayi mungil itu untuk dibersihkan dulu. Diluar mereka menampakkan wajah bahagia dikala tadi mendengar tangisan bayi.


Tak lama Kenza keluar dari ruangan menemui orang tua dan mertuanya. Dengan wajah berseri-seri.


"Bagaimana keadaan istrimu dan cucu Ummi?" tanya Ummi Halimah.


"Alhamdulillah mereka baik, cucu Ummi cantik, masih dibersihkan oleh suster tadi"


"Selamat ya kak sudah menjadi ayah, semoga kelak dia akan menjadi perempuan sholehah dan bisa membanggakan kedua orang tuanya" ucap Hafka.


"Aamiin"


"Kenza masuk dulu, Fatma bisa diliat nanti setelah dipindah ke ruang rawat"


"Iya temani istrimu, dia sudah berjuang mati-matian sekarang temani dia"


"Iya Ummi" Kenza masuk kembali ke dalam.


"Pasti cantik seperti ibunya, yakan mas!" ucap Verli melihat Hafka.


"Iya" jawab Hafka


"Semoga kamu bisa cepat nyusul nak" kata karin ibunya Fatma.


"Aamiin minta doanya saja tante" ucap Verli ramah.


"Pangggil ibu saja ndak pa-pa, kita ini satu keluarga jadi gak perlu sungkan"

__ADS_1


"Iya bu"


Hafka nampak sedari tadi melihat Verli. Walau pun tertutup cadar namun ia tau persis jika Verli tak baik-baik saja. Verli pun merasa juga badannya kurang sehat. Namun tak dihiraukan oleh Verli dianggap kecapean saja.


__ADS_2