
Nadin yang mendapat telfon dari Kely langsung memberi tau suaminya yang kebetulan sudah dirumah karna hanya meeting sebentar. Setelah memberi tau mereka pergi bersama naik mobil yang dikemudikan oleh supir mereka. Nadin tak lupa menelfon Verli, tapi ternyata Verli sudah tau duluan dari Kely. Nadin tetap meminta Verli agar pulang ke pesantren sebab kasihan dengan Hafka harus meninggalkan pekerjaannya.
Safren dan Nadin kembali fokus ke depan. Mereka penasaran dengan bukti yang didapatkan.
Setengah jam akhirnya mereka sampai. Segera Safren dan Nadin turun dari mobil lalu masuk ke dalam. Didepan pintu sudah ada orang tua Kely yang menyambut. Mereka pun segera masuk ke dalam dan duduk di sofa. Disana ada Kely dan Alif yang baru saja duduk diruang tamu.
Sambil menunggu suruhan Kely datang, Syafira menjamu sahabatnya dengan minuman dan camilan. Mereka pun berbincang-bincang sebentar kemudian Dento dan Jeri datang namun mereka bertiga tidak berdua. Tanpa banyak tanya mereka langsung disuruh duduk karna Safren sudah tak sabar melihat bukti tersebut. Tak perlu basa basi mereka langsung menunjukkan bukti dari kerja mereka berupa foto dan video. Sebelumnya Dento menjelaskan dulu kenapa mereka bida mengajak temennya bukan hanya berdua.
"Ini teman kami yang ikut membantu juga, karna kami butuh orang untuk membuat rekaman video. Kalau hanya rekaman suara pasti kurang jelas buktinya. Jadi kami sengaja membuat rekaman video" jelas Dento.
"Bagus tidak apa, mana berikan rekaman dan videonya" pinta Kely pada mereka.
Mereka berdua pun menunjukkan rekaman suara dan video tersebut. Dengan teliti mereka semua melihat dan juga mendengarkan. Betapa sakit hati Nadin saat melihat semua itu. Terlebih Safren yang sudah geram dan marah. Dan Kely menambahi rekaman video yang ia dapatkan waktu itu. Semua bukti sudah terkumpul dan sudah kuat untuk menjebloskan Radit dan Fera ke penjara.
"Kerja kalian bagus, ini bonus yangku janjikan buat kalian" ucap Alif lalu menyerahkan amplop coklat tebal kepada mereka. Dengan senang hati mereka menerimanya lalu melihat isi uang didalamnya yang begitu banyak.
"Eh ini temenmu kan?" tanya Safren.
"Iya tuan, ini teman kami yang sudah membantu membuat rekaman video tadi, karna kalau salah satu dari kami berdua yang memvideo pasti ada kecurigaan jadi lebih baik ada orang lain yang ikut andil" papar Jeri menjelaskan.
"Bagus-bagus....karna kerja kalian bagus saya akan tambahkan bonus buat kalian bertiga" ucap Safren memuji. Ia meminta nomer rekening dalah satu dari mereka agar ditransfer saja. Kemudian ia segera mentransfer uang tersebut, tak butuh waktu lama notifikasi.
Mereka kegirangan mendapat bonus banyak. Tak sia-sia mereka memilih membantu keluarga Safren karna bayaran dan bonus sangat besar dibanding yang diberikan oleh Fera.
"Terima kasih banyak tuan" ujar Jeri.
"Iya, kalau kami butuh bantuan kalian lagi barangkali dimintai menjadi saksi datanglah"
"Siap kami dengan senang hati akan membantu, kalau begitu kami permisi dulu" kata Dento.
"Iya kalian hati-hati" ucap Abisfa.
Mereka kompak mengangguk lalu pergi meninggalkan kediaman Abisfa. Setelah kepergian mereka bertiga, Safren hendak melaporkan semua ini ke kantor polisi yang akan dibantu oleh Abisfa dan Alif. Sementara Nadin akan singgah dulu di rumah Syafira sampai suaminya kembali untuk menjemput.
Safren baru ingat kalau Frisko belum diberi tau karna tadi ia buru-buru jadi tak sempat kepikiran untuk menghubungi Frisko. Pada akhirnya ia menghubungi putranya untuk menyusul ke kantor polisi jika ada waktu senggang. Dengan senang hati Frisko akan membantu karna diperusahaan juga kebetulan tidak ada meeting.
*****
"Baiklah tuan kami akan memproses ini segera, semua bukti sudah terkumpul dan sangat kuat untuk menjerat mereka ke rana hukum" ucap polisi yang bertugas.
"Kami tunggu kabar selanjutnya, saya mau mereka dihukum yang setimpal dengan atas perbuatannya" tegas Safren.
"Itu pasti tuan, kami akan memberi tau untuk kabar selanjutnya"
"Kalau begitu kami permisi dulu" ucap Safren.
"Silahkan!"
Diluar kantor polisi mereka berbincang-bincang sebentar sebelum memutuskan untuk pulang. Mereka khawatir Fera dan Radit akan melakukan hal lain atau menyuruh orang lain untuk mencelakai Verli dan Hafka. Safren berpikir untuk menyuruh anak buahnya mengawasi gerak-gerik dua pasangan tersebut agar aktivitas mereka berdua bisa diketahui. Abisfa, Alif, maupun Frisko setuju dengan ususlan Safren.
Mereka pun memutuskan untuk pulang. Frisko akan kembali pulang dengan mobilnya, sementara Safren akan kembali ke rumah Abisfa untuk menjemput istrinya.
Dalam rumah mereka bertiga masih menunggu suami-suaminya datang. Tak lama yang ditunggu akhirnya pulang juga. Dengan antusias Nadin langsung menanyakan kepada suaminya untuk tindak selanjutnya.
"Tenanglah semua sudah diusut oleh pihak kepolisian. Mereka pasti akan mendapat balasan yang setimpal, aku akan menyuruh bawahanku untuk membuntuti aktivitas mereka berdua karna kita tidak tau apalagi yang akan mereka perbuat setelah ini" papar Safren sambil menggiring istrinya untuk duduk.
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu, semoga semua masalah ini cepat selesai. Aku takut dengan anak kita karna aku gak mau kejadian yang dulu terulang lagi" jelas Nadin.
"Semua akan baik-baik saja, sekarang kita pulang." ajak Safren yang langsung di iyakan oleh Nadin.
Mereka pamit dengan kedua sahabatnya dan juga Alif sama Kely. Setelah kepergian mereka Alif hendak mengajak Kely pulang namun istrinya ingin singgah dulu dirumah orang tuanya. Alif tak keberatan dan malah menawarkan untuk menginap sejenak kalau Kely mau. Jelas Kely sangat mau kalau diajak tinggal dirumah orang tuanya.
Malamnya Kely mengajak Alif untuk keluar mencari angin. Ia bosan dirumah terus tanpa aktivitas. Alif mengangguk lalu turun kebawah untuk pamit kepada mertuanya.
Alif melajukan mobilnya menerpa hawa malam yang dingin. Kely mengarahkan Alif untuk membeli martabak manis dan corndog. Ia hanya mengiyakan dan menuruti semua kemauan Kely. Sangging antusiasnya Kely mendahului Alif tanpa sadar ia menabrak seorang wanita bercadar bersama temannya.
Kely meminta maaf karna tak sengaja menabrak perempuan tersebut. Alif sudah berada disamping istrinya.
"Maaf ya mbak saya gak sengaja tadi, apa ada yang sakit?" tanya Kely khawatir.
"Saya tidak apa-apa, saya juga minta maaf karna saya juga salah tadi" kata perempuan tersebut.
"Gak, saya kok yang memang salah sekali lagi saya minta maaf ya"
"Iya lupakan saja, saya sudah memaafkan. Kami permisi assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" jawab Kely.
"Ya sudah mas ayo kita beli martabaknya" kata Kely kepada suaminya.
"Perempuan tadi kenapa?" tanya Alif penasaran.
"Tadi aku gak sengaja menabraknya, tapi aku sudah meminta maaf kok, ya sudah ayo"
"Ow oke" jawab Alif singkat.
"Mas...aku jadi khawatir dengan keadaan Fera. Bagaimana nanti dia akan menghadapi ini semua sementara keadaannya sedang mengandung" ucap Verli selepas shalat isya'
"Mas tau kamu khawatir tapi mau bagaimana lagi, keadilan harus ditegakkan sayang. Aku sebagai suami juga gak terima kamu diginikan, setidaknya nanti mereka dipenjara bisa jera dan bertaubat" jawab Hafka mendekati Verli lalu duduk disampingnya.
"Satu yang harus mas ingat....tanpa adanya semua ini aku tidak akan seperti sekarang dan mungkin tidak akan bertemu lalu menikah sama kamu mas. Semua ini sudah dirancang oleh Allah yang memang dengan cara dan jalan takdir seperti ini, aku sudah melupakan semua itu dan aku juga sudah memaafkan mereka" jelas Verli bersandar dibahu Hafka tempatnya bercerita dan berkeluh kesah.
"Mungkin memang jalan takdir kita seperti ini dan dengan takdir yang Allah tentukan akan membawa mereka ke jalan yang benar. Semua sudah ditata dengan rapi dan cara yang terbaik menurut takdir. Skarang kamu tidur sudah malam gak baik untuk kesehatan kamu" tutur Hafka.
Verli hanya menurut saja tanpa mau membantah. Toh percuma berdebat dengan sang suami karna nyatanya memang Fera dan Radit itu salah. Mungkin dengan cara ini mereka akan jera dan tidak akan mengulangi hal yang sama.
Siapa yang bisa melawan takdir?
Tidak ada. Semua sudah dirancang dan ditata dengan sedemikian rupa. Rencana Allah jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan. Jika takdir berkata demikian maka itu yang menjadi pilihan terbaik untuk kita dari Sang Pencipta.
"Semoga dengan cara ini kalian bisa bertaubat dan menyadari semua kesalahan yang telah kalian lakukan. Aku doakan semoga hidayah segera menghampiri kalian berdua....aamiin" batin Verli.
"Anak abi sayang, tumbuh dengan sehat ya nak...semoga kelak dede bisa menjadi anak yang sholeh, pintar, dan rendah hati. Ini sudah malam waktunya tidur, Abi sama Umma tidur dulu besok kita sambut pagi cerah dengan sejuta senyuman" celoteh Hafka sambil mengusap perut Verli.
Verli melihat dengan kagum dan bahagia bisa mendapat suami sholeh, baik, bertanggung jawab seperti Hafka, paket komplit. Ia bersyukur dipertemukan dengan jodoh yang baik seperti suaminya.
Setelah puas mengobrol dengan anaknya yang masih dalam perut sang ibu, Hafka mengalihkan pandangannya kepada Verli. Ia mengecup sayang puncak kepala istrinya lalu memeluk dengan hangat. Verli pun ikut merangkul suaminya sehingga mereka tidur dengan saling berpelukan satu sama lain. Malam yang indah ditemani bulan purnama dan bintang yang berjajar sempurna dilangit.
Dua bulan sudah dilewati.
Verli masih sama seperti biasanya dengan keceriaan menyambut hari yang begitu indah terlebih ada anak yang sedang dikandungnya. Perutnya makin lama makin besar. Hafka bahkan selalu memantau kegiatan sang istri dan menjaga pola makannya. Ia berusaha menjadi suami yang siap siaga, jika Verli butuh apapun pasti Hafka mengedepankan nomer satu.
__ADS_1
Seperti halnya sekarang, Hafka mengantar Verli ke rumah sakit untuk cek up kehamilannya. Hafka memang selalu setiap Verli cek up ia akan menemani tak terlewat sedikit pun. Jelas Verli sangat senang karna suaminya selalu menemani setiap kali periksa.
Verli maupun ketiga sahabatnya sudah lulus kuliah sejak satu bulan yang lalu. Sehingga Verli bisa bernafas lega bisa lulus dan bisa tenang dengan kehamilannya. Sementara Aina dan Tia mulai mengajar dipesantren yang sudah diabdinya sejak dulu. Mereka tentu senang dengan hal itu. Kely sekarang juga fokus untuk mengurus suaminya dirumah. Mendapat mertua yang baik, itulah yang membuat Kely betah dirumah dan kadang ia mengajari aisyah untuk mengerjakan tugas-tugas yang tak dimengerti.
Masalah mereka juga sudah selesai dengan Fera maupun Radit. Mereka sudah dimasukkan ke penejara karna tindakan yang tak seharusnya mereka lakukan. Sejak Mereka sudah ditangkap, keluarga Verli jadi tenang dan berharap tidak ada lagi orang yang akan mengancurkan kebahagiaan anak-anak mereka. Fera bahkan sudah melahirkan, anaknya diasuh oleh ibunya.
Hafka sudah mendaftarkan istrinya sejak awal jadi mereka tak perlu mengantri panjang. Terlebih Dokter Arina sudah kenal dengan sepasang suami istri tersebut.
Mereka masuk berdua secara berirngan. Verli disuruh berbaring diatas ranjang. Mulailah Dokter Arina mengoleskan gel khusus dan menaruh alat USG ke perut Verli. Dengan hati senang Verli melihat ke arah layar monitor. Buah hati yang mereka nanti. Verli penasaran dengan jenis kelamin anak mereka ia pun menanyakan kepada Dokter Arina.
"Dok, apakah jenis kelamin anak kami sudah bisa diketahui?" tanya Verli yang penasaran.
"Untuk sekarang belum, biasanya jenis kelamin itu akan terlihat diusia kandungan 16 minggu, itu pun tergantung posisi bayi. Bulan depan kita akan cek semoga sudah bisa dilihat." jelas Dokter Arina.
"Baik dok.." jawab Verli paham.
Selesai pemeriksaan Hafka langsung mengantar istrinya pulang. Namun dikoridor Hafka tiba-tiba kebelet jadi ia menyuruh Verli untuk menunggu sebentar, sementara dirinya ke toilet. Verli duduk di kursi yang tak jauh dari ruangnya periksa.
Tiba-tiba Jihan duduj disampingnya tanpa diketahui Verli. Saat tau ada orang yang duduk di sampingnya ia menoleh dan kaget kalau itu adalah Jihan.
"Gak lupa kan sama aku" ucap Jihan tiba-tiba.
"Tentu tidak, apakah Dokter Jihan tidak ada praktek?" tanya Verli dengan ramah.
"Kalau tidak ada ngapain juga aku disini, mana suami kamu tumben sendiri" seru Jihan.
"Oh mas Hafka lagi ke toilet sebentar" jawab Verli seadanya.
"Beruntung ya kamu dimiliki sama Dokter Hafka. Orang yang baik, tampan, sholeh, paket komplit."
"Semua sudah ditentukan oleh Allah swt. Saya juga dulu tak menghatapkan bisa berjodoh dengan orang sebaik mas Hafka. Saya bersyukur karna Allah masih berbaik hati padaku dengan semua yang sudah saya lakukan."
"Kamu juga baik dan sholehah memang pantas untuk Dokter Hafka yang sholeh"
"Saya gak sebaik yang anda kira Dok. Saya ini pendosa tak luput dari dosa. Tapi Allah Maha Mulia yang berbaik hati memaafkan kesalahanku dan menutup aib-aibku. Kalau saya dibandingkan Dokter jauh lebih baik anda Dok" jawab Verli.
"Aku minta maaf atas apa yang sudahku lakukan dulu, aku sungguh meminta maaf. Cinta sudah menggilakan diriku melampauih batas." ucap Jihan sambil memegang tangan Verli dan menunduk.
"Saya sudah memaafkan semuanya bahkan jauh sebelum Dokter meminta maaf. Allah saja Maha Pemaaf apalagi saya yang hanya hambanya buat apa memendam rasa benci maupun dendam. Jika kita melepas sesuatu karna Allah, percayalah maka Allah akan mengganti dengan sejuta kebahagiaan yang tak bisa kita pungkiri. Semoga Dokter bisa mendapat jodoh yang baik, sholeh, dan bertanggung jawab seperti yang anda harapkan" tutur Verli ramah dan sopan.
"Terima kasih Verli kamu memang perempuan yang baik, semoga kalian bahagia selalu sampai nenek kakek. Aku hanya minta doa saja dari kamu dan apakah kita bisa berteman!"
Dengan senyum lebar Verli menerima Jihan menjadi kawannya. Ia bersyukur akhirnya Jihan bisa sadar dan mendapat hidayah dari Allah. Hati Jihan jadi tenang setelah meminta maaf kepada Verli. Ia akan berubah lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lama Hafka datang dengan terkejut melihat istrinya dekat dengan Jihan. Takut Jihan mengatakan atau berbuat tak baik dengan Verli. Ia mendekat untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
"Aku gak pa-pa mas, Jihan hanya meminta maaf kok gak berbuat aneh-aneh." ucap Verli.
"Aku minta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku hanya perlu maaf dari kalian saja, setelah ini aku tidak akan menganggu kebahagiaan kalian" ucap Jihan menunduj saat Hafka datang.
"Saya sudah memaafkanmu, semoga jodoh terbaik menurut Allah segera datang menghampiri anda Dok" jawab Hafka tanpa melihat Jihan.
"Aamiin...terima kasih semoga kalian bahagia selalu, aku permisi assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" jawab Verli bebarengan dengan Hafka.
__ADS_1