CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 68. MENCINTAI KAMU


__ADS_3

Hagka membawa verli ke ruangannya untuk melihat kaki verli. Hagka mengajak verli untuk pulang agar bisa beristirahat.


"Masih sakit? Kita pulang ya, kaki kamu terkilir kan besok saja kita jalan-jalannya" kata hafka.


"Gak sudah mendingan mas, makasih tadi sudah bantuin aku. Kalau nanti aku pulang takut ummi sama abi jadi khawatir dengan keadanku. Tenang aja ini sudah mendingan dari yang tadi" ucap verli


"Dari pada kamu buat jalan terus malah tambah sakit nanti, kita pulang ya" pinta hafka.


"Ya sudah kita pulang saja" jawab verli tak mau membantah lagi.


Akhirnya hafka pulang bersama verli karna tak mau membuat kaki verli tambah sakit. Hafka khawatir takut ada apa-apa karna kaki verli baru dinyatakan sembuh.


Sampai dirumah verli mencoba jalan biasa tapi masih sedikit nyeri. Saat melewati ruang tengah ada ummi halimah yang melihat verli seperti orang kesakitan. Tadi hafka pamit untuk pergi jalan-jalan tapi malah pulang cepet.


"Nak kamu gak pa-pa?" tanya ummi halimah pada verli.


"Kaki verli sakit ummi, tadi habis jatuh karna kesandung sepertinya terkilir mangkanya hafka bawa pulang" jelas hafka tak mau berbohong pada umminya.


"Loh kok bisa, tapi gak pa-pa kan besok kamu periksa sana takut kenapa-kenapa. Jangan dianggap remeh loh kaki kamu baru sembuh nak" ummi halimah begitu khawatir dengan keadaan verli. Ia duduk disamping verli sambil melihat kaki verli yang terkilir.


"Ini gak pa-pa ummi udah mendingan, buat istirahat besok juga sudah sembuh" ucap verli menengkan kekhawatiran snag ibu mertua.


"Ya sudah kalau masih berasa sakit besok periksakan jangan ditahan loh"


"Iya ummi, kami ke kamar dulu"


"Kalian istirahatlah bawa istrimu ke kamar"


Hafka membantu verli untuk ke kamar. Verli merebah diranjang sembari hafka membantunya tapi verli menolak karna tak enak hati melihat suaminya ingin melepas kaus kaki verli. Segera verli melepasnya sendiri lalu menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Hafka setia menunggu verli sambil duduk disofa sembari melihat laptop. Setelah berganti pakaian verli kembali untuk beristirahat, melihat itu hafka segera menutup laptop dan menghampiri verli.


"Bagaimana masih sakit kakinya?" tanya hafka.


"Sudah mendingan gak sakit seperti tadi" jawab verli.


"Ya sudah kamu istirahat saja, aku mau menuntaskan pekerjaan dulu" kata hafka hendak berdiri dari duduknya tapi verli mencegahnya. Ia memberanikan diri untuk memegang tangan hafka.


"Ada apa?" tanya hafka.

__ADS_1


"Hmm perempuan tadi siapa? Sepertinya dia menyukai kamu" tanya verli.


Verli memberanika diri untuk bertanya karna merasa ganjal dihati. Lirikan mata perempuan itu sangat beda ke hafka, verli tau kalau perempuan itu suka dengan suaminya. Pasti karna itu tadi jihan marah-marah kepadanya.


"Cuma teman kerja tapi aku gak begitu dekat dengan dia. Sifatnya yang aku gak suka, seperti tadi. Lagian mau dia suka sama aku atau enggak itu bukan urusanku, yang sekarang bersamaku kamu bukan dia" jawab hafka.


"Tapi tadi dia....." hafka langsung memotong ucapan verli.


"Sudah jangan pikirkan dia gak penting, kamu istirahat saja" hafka tau jalan pikiran verli.


Verli pasrah dan merebahkan tubuhnya sambil melihat hafka yang terus bertempur dengan laptop yang dipegangnya. Perlahan matanya tertutup dan sudah berada dialam mimpi.


******


Satu bulan kemudian.


Hafka dan verli berada dirumah dokter brisma. Mereka berkunjung karna tak pernah main kesana. Dokter brisma ayah verli sangat senang dikunjungi anak dan menantunya. Sekalian mereka berdua juga mau ke rumah mama dan papanya.


Kebetulan juga keluarga ayah verli sedang berkumpul ada leysa juga. Ya leysa sudah tau tentang verli tepatnya kakak tirinya. Keysa tak merasa keberatan atau pun iri dengan verli malahan leysa sangat menyayangi verli. Walau pun sempat mengagumi hafka tapi leysa hanya sekedar mengagumi tak sedikit pun ada niatan untuk menyukainya.


Leysa sudah lulus kuliah kedokteran mengambil jurusan sebagai doktee anak, sekarang ia sedang praktek disalah satu rumah sakit sebelum bener-bener kerja. Sedangkan verli masih menjalankan skripsi tahap akhir, walau pun telat verli tak berkecil hati. Memang sudah kesalahannya sendiri dari awal mempermainkan kulaihnya, jarang masuk dan tak pernah mengumpulkan tugasnya.


Hafka dan verli hendak pamit untuk pulang. Mereka juga harus ke rumah nadin dan safren. Tapi langkah mereka terhenti saat seorang perempuan baru datang dan masuk menghampiri dokter brisma dan juga ibu tiri verli. Perempuan itu tak kalah kaget melihat hafka dan verli berada ditempat yang sama.


"Jihan kamu kesini gak ngabarin tante dulu, kapan sampainya?" ucap linda ibu leysa.


"Iya tante maaf jihan gak ngabarin dulu, aku kangen sama leysa mangkanya kesini dirumah gak ada temen" jawab jihan.


"Eh dokter hafka ada disini juga...hmm tante mengenal hafka?" tanya jihan.


"Iya kenal lah jihan istri hafka ini anak om brisma yang pertama kakaknya leysa dan hafka menantu kami.....kok kamu kenal dengan hafka?" jelas linsa.


"Apa!! Hmm...hafka rekan kerja di rumah sakit yang sama denganku tante, mangkanya aku mengenal dia" ucap jihan sambil melirik verli dengan tatapan tak suka.


Leysa merasa aneh dengan sepupunya yang menatap tajam ke arah verli seperti tak suka. Tapi ia akan membahasnya nanti jika kakaknya sudah pergi.


"Ayah kami oulang dulu ya kapan-kapan kesini lagi kalau hafka sudah libur"


"Oh iya sampai lupa, ya sudah hati-hati kalau nyetir jangan ngebut"

__ADS_1


"Iya kalau begitu kami pamit assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam" jawab mereka bebarengan.


Hafka dan verli pergi meninggalkan kediaman dokter brisma. Sebelum ke rumah mama dan papanya hafka mengajak verli untuk jalan-jalan sebentar. Verli hanya mengangguk saja menuruti kemauan sang suami. Wajah verli berubah masam saat melihat jihan tadi apakali tau kalau dia adalah sepupu leysa.


Hafka paham dengan suasana hati verli sekarang. Pasti ia merasa tak suka melihat jihan dengan tatapan tajam saat melihat verli.


******


Mobil terparkir di alun-alun tempat banyaknya orang dan anak-anak bermain. Verli jadi teringat sahabatnya yang sudah jarang dekat karna batas dan waktu. Hafka menggandeng verli untuk turun dan mencari tempat yang enak.


Ada tempat duduk kosong hafka segera mengajak verli untuk duduk disana. Verli melihat banyak anak kecil bermain bersama kedua orang tuanya. Sangat menyejukkan hati verli dan membuatnya memikirkan sesuatu. Ia menoleh ke arah hafka yang tersenyum saat melihat anak-anak kecil berlarian kesana-kemari.


Hatin verli jadi merasa bersalah karna ia menahan hak suaminya. Sudah hampir dua bulan menikah tapi hafka tetap sabar menunggu verli sampai siap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan memenuhi haknya sebagai seorang suami. Hafka bahkan tak pernah marah atau pun meminta haknya, itu malah membuat verli jadi merasa bersalah.


Entah apa yang membuatnya belum siap untuk memenuhi kebutuhan biologis sang suami. Verli juga tak tau apakah hafka sudah mencintainya dengan tulus apa belum, karna hafka tak pernah bilang soal itu. Verli juga tak mau membahasnya, bahkan hatinya entah antara cinta atau hanya sekedar mengagumi.


Tak terasa air mata verli turun begitu saja, tapi ia segera menghapusnya agar hafka tak melihat. Hafka berbalik menoleh ke arah verli. Ia melihat mata verli yang sembab.


"Kamu menangis ya, ada apa?" tanya hafka khawatir.


"Gak tadi cuma kelilipan" jawab verli berbohong, tapi hafka tak akan percaya begitu saja dengan verli.


"Bohong, jawab jujur kenapa? Apa ada yang menyakiti kamu?" tanya hafka lagi.


"Maafkan aku....sungguh aku sangat berdosa kepadamu mas, maaf aku...aku minta maaf belum bisa memenuhi yang menjadi hak kamu, menjalankan kewajibanku sebagai istri" air mata itu lolos begitu saja, verli tak bisa menahannya lagi.


"Jangan menangis nanti cantiknya hilang loh, aku gak akan memaksa kamu buat memenuhi hakku, aku tau kamu belum siap...aku siap menunggu kapan saja saat kamu sudah benar-benar siap dan suka rela melakukannya bersamaku bukan karna keterpaksaaan" kata hafka sembari mengusap air mata verli.


"Kamu suami yang baik tak sepantasnya mendapat istri yang sepertiku, banyak perempuan diluar sana yang lebih baik dariku, kenapa kamu memilih aku menjadi istrimu"


"Kalau Allah yang menjodohkan apa aku harus bisa menentang? Tidakkan! Kalau jodoh ya mau gimana lagi, Aku tak memandang masa lalumu yang aku tau adalah kamu sekarang wanita sholehahku"


"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, mau menunggu sampai aku siap" ucap verli.


Verli ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya bibir itu sulit untuk berucap. Verli tetap meksakan untuk bicara apapun jawaban hafka. Ia ingin tau perasaan hafka kepadanya seperti apa.


"Hmm....apakah kamu mencintaiku?" tanya verli memberanikan diri, malah dibalas senyumam oleh hafka.

__ADS_1


"Saat ijab qobul diucapkan dan terucap kata sah disitulah aku mengatakan pada hatiku untuk mencintai kamu, memberi kasih sayang, bertanggung jawab dan menafkahi. Jadi jangan ditanya apakah aku sudah mencintai kamu, jawabannya sudah. Hatiku sudah tertanam nama kamu disana, kamu cinta pertamaku dan selamanya akan menjadi milikku" kata hafka.


Perkataan hafka sungguh membuat siapapun pasti menjadi terharu apalagi verli. Hatinya merasa sangat senang dengan ucapan hafka yang menyatakan perasaannya. Ia berhambur memeluk hafka dengan erat sembari menangis dipelukan sang suami. Verli mengatakan pada hatinya untuk mencintai hafka dan menjadi istri yang baik.


__ADS_2