
Abi yusuf sedang mengobrol dengan niko. Sudah lama tak bertemu karna jarak dan waktu. Ummi halimah pun sama sedang bersenda gurau bersama delsa.
"Papa jadi nganter abi?" tanya alif.
"Jadilah mumpung senggang, udah lama gak main ke pesantren, kamu mau ikut gak?" tanya niko.
"Enggak deh papa aja sama mama, ajak aisyah tuh biar gak sendirian kalau dama maryam kan ada temennya" jawab alif.
"Ya sudah kalau gitu biar aisyah papa ajak saja"
"Syukur sekarang hafka sudah punya pendamping hidup seperti yang mas mau, beda nih dengan alif sukanya kok menjomblo aja terus" Alif pun mengkerut mendengar ucapan sang papa.
"Jodohin aja kalau begitu biar cepat dapat pasangan"
"Gak, gak mau apa- apaan main jodohin aja bi, hafka saja pilih pasangan sendiri masak alif dijodohin, nanti ketemu sendiri jodohnya" celoteh alif tak terima.
"Muka mu itu biasa saja gak usah dimancungin bibirnya kayak bocah aja kalau gak mau ya udah"
Niko tertawa melihat sikap anaknya yang seperti bocah saat ngambek. Aisyah pun menghampiri alif dan ikut menggodanya.
"Jodohin aja pa biar gak sendiri terus, kerja aja yang diurusin gak pernah ada waktu"
"Halah anak kecil gak usah ikut campur, udah sana sama maryam malah ikut-ikutan" ketus alif.
"He iya iya, galak bener dah bibir dimonyongin kayak ondel-ondel pula" Aisyah pun berlari untuk menghindari alif.
Alif yang sudah kesal dari tadi berlari mengejar adiknya yang menjengkelkan. Langkahnya berhenti saat ada yang memencet bel rumah.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam, loh kalian ayo masuk" Delsa pun memberi jalan untuk pasangan baru itu masuk.
"Kamu kok kesini ka, harusnya dirumah aja nikmati hari libur sama istri" ucap ummi halimah.
"Abi sama ummi mau pulang kan, mangkanya hafka kesini dulu"
"Lah ini udah siap tinggal berangkat aja" kata niko.
"Ow begitu, jadi paman yang nganter, alif bagaimana apa mau ikut?"
"Enggak dia jagain rumah"
"Eh lif mukanya kenapa ditekuk gitu kayak kertas lipetan aja"
"Hissh diem lah ka, ini gara-gara papa sama bocah satu ini" Alif menunjuk ke adiknya sendiri.
"Udah lah berantem mulu gak malu diliatin tuh, udah dewasa sifat masih kayak anak kecil"
Alif cemberut dan memutuskan untuk diam saja dari pada kena sasaran lagi.
"Kamu sendiri tadi habis dari mana nak apa emang sengaja kesini?" tanya abi yusuf.
"Tadi mau cari angin sekalian kesini bi" kata hafka.
"Ya udah ini kami mau berangkat, kamu jaga diri baik-baik disini, jaga istrimu ya"
__ADS_1
"Iya ummi, abi sama ummi jaga kesehatan ya, kalau usuran disini selesai pasti hafka sama verli balik ke pesantren" kata hafka.
Mereka bersiap akan berangkat, niko membawa barang tak tak banyak itu ke bagadi belakang. Setelah semua selesai tinggal hafka dan verli menyalami kedua orang tua dan mertuanya bergantian.
"Papa mungkin akan tinggal dipesantren dan besok akan pulang kamu jaga rumah baik-baik" ucap niko.
"Loh loh pa katanya tadi nganter aja, hmm tapi ya udah lah itung-itung liburan"
"Kamu aja tinggal dipesantren sampai ninggalin kerja papa gak masalah sekarang gantian, lagian juga cuma sehari"
"Iya deh iya, udah papa sana berangkat hati-hati dijalan ya"
"Hati-hati yah kalau udah sampai hubungi hafka"
"Siap" Saut maryam.
"Jaga abi sama ummi baik-baik ya, kalau kakak pulang tak bawakan buku yang banyak dan jajan kesukaanmu" ucap hafka mengelua kepala adiknya.
"Siap kak"
"Abi sama ummi jaga kesehatan ya hati-hati dijalan, maaf gak bisa nganterin abi sama ummi" keluh verli.
"Gak pa-pa nak, kamu juga jaga kesehatan ya, jadi istri yang baik dan nurur apa kata suami semoga cepet ngisi" Verli tersenyum kikuk mendengar uvapan mertuanya.
"Iya ummi"
Mobil pun keluar perkarangan rumah. Hanya tinggal alif, hafka dan verli yang melihat mobil orang tuanya sampai keluar gerbang. Hafka pun pamit untuk pergi dan alif akan sendirian dirumah.
"Ya udah lah dari pada aku jadi obat nyamuk, lagian aku gak mau ganggu pengantin baru"
"Gak deh mendingan sendiri lagian mana ada temen aku selain kamu ka"
"Terserah kamu lah assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Tinggal lah alif sendiri dirumah, dibilang bosen pasti bosen walaupun hanya sehari saja tetap rasanya sepi tak ada yang diajak ngobrol.
Sedangkan hafka melajukan mobilnya ditengah hiru pikuk kendaraan yang lalu lalang. Entah mau kemana arah kendaraan itu membawa hafka juga bingung hendak kemana.
"Mau kemana dek?" Tanya hafka yang bingung.
"Entah lah mas terserah kamu saja" Kata verli yang juga bingung.
"Ke mall bagaimana mungkin ada yang pengen kamu beli?" tawarnya.
"Gak deh mas, ke taman kota aja cari suasana" kata verli.
"Siap"
******
Hafka melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat yang di katakan sang istri. Sampai disana hafka memparkirkan mobilnya lalu membukakan pintu untuk verli.
Hafka mencari tempat duduk yang kosong untuk bersandar. Verli nganut saja kemana pun hafka membawanya. Ia ikut bersandar disamping hafka sambil meregangkan otot kakinya.
__ADS_1
Verli ingin sekali permen kapas karna teringat masa kecilnya. Sudah lama tidak makan permen kapas, hafka pun pergi untuk membelikan keinginan verli dan minuman.
Verli pun sendirian sambil melihat orang-orang yang sedang main dan jalan santai.
Tak sengaja ada anak kecil yang terjatuh didepannya verli pun langsung menolong anak tersebut.
"Hati-hati dek jalan lari-larian, ada yang sakit gak biar kakak obatin" Verli mengibas-ngibaskan pakaian anak tersebut yang kotor.
"Gak pa-pa kak makasih ya udah nolongin"
Ibu sang anak pun datang menghampiri mereka karma melihat anaknya terjatuh.
"Makasih mbak udah nolongin anak saya" ucap ibi tersebut.
"Iya bu sama-sama" Verli tersenyum ramah ke ibu dan anak tersebut.
"Permisi mbak mari"
Jawab verli mengangguk pelan. Ibu tersebut membawa anaknya pergi dan verli kembali duduk ditempatnya semula.
Dibalik pohon ternyata ada yang melihat kejadian itu dan mendengar suara verli yang tak asing baginya. Lantas dia menghampiri verli bersama temannya.
"Eh verli kan?" Tanya perempuan yang menghampiri verli.
"Ya ampun kenapa ketemu dia lagi disini" Batin verli.
"Kalau orang tanya tuh dijawab bukan bengong" ketusnya.
"Iya fera, ada apa emangnya?" tanya verli males.
Fera melihat verli dan sekelilingnya, ternyata verli sendirian dan tanpa kursi roda. Apa dia udah bisa jalan lagi itulah pertanyaan yang ada dalam benak fera.
"Udah sembuh ternyata, eh beb kamu ingat perempuan ini yang ku bilang padamu kalau dia itu mantannya radit yang dibuang" Fera menekan kata-kata buang seolah merendahkan verli.
"Oh ternyata ini mantannya radit yang katamu sok alim.....hmm cocok sih" Sahabat fera pun ikut merendahkan verli.
"Hahaha udah gak cac*t lagi, udah sembuh ternyata cepat sekali ya kenapa gak lumpuh selamanya"
"Mau kamu apa sih fera gangguin aku mulu, kurang ya jadi selingkuhan radit eh iya lupa sekarang kan jadi istri yang diratukan" Tekan verli.
"Hei jaga ya katamu itu, aku yang dipilih radit bukan kau, itu artinya radit gak suka sama kamu dan hanya manfaatin loh aja......Bodoh mau aja dimanfaatin, oh ya mungkin karna buta cinta jadinya bodoh" Hina fera.
"Mendingan kamu pergi aja deh kalau disini hanya ingin menghinaku, lagian aku malea berdebat sama orang yang gak punya etika seperti kamu" Ucap verli ketus.
"Halah seharusnya jaga itu cara bicaramu gak sesuai sama pakianmu, mending lepas aja sekalian gak cocok norak, sesuai kan itu mulutmu"
"Aku udah sabar dari tadi kalau kamu baik sama aku, aku juga akan baik sama kamu tapi apa yang kamu lakukam malah sebaliknya, kalau kamu tidak bisa menghargai orang lain setidaknya jaga tata krama dan etikamu"
"Sok sekali menasehati emang ilmu mu seberapa sih masih belum seberapa aja sok belagu"
Verli mencoba untuk diam dan tidak tersulut emosi. Karna ia males meladeni fera dan sahabatnya.
"Kenapa diem emang bener kan kamu sok alim, sok pakai pakaian apaan ini biar dipuji orang, caper ya!! Heh buka aja sekalian gak usah ditutupin kayak gini, MUNAFIK" Ketus sahabat fera sambil mencengkram niqab verli.
Verli melepaskan tangan sahabat fera dan menghempaskan. Fera mendorong tubuh verli sampai hampir terjatuh. Verli pun berdiri dari duduknya dan melirik fera tajam, ia sudah menahan emosi dari tadi agar tak terpancing.
__ADS_1