CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 41. MEMINTA IZIN


__ADS_3

Nadin melihat gelagat aneh pada verli, namun tidak ia hiraukan. Hati verli merasa dag dig dug setiap bertemu dengan pria yang ada didepannya.


Terpaksa hafka menggantikan dokter brisma karna ia sedang ada pasien darurat. Hafka pun merasa salah tingkah sendiri saat tak sengaja sekilas melihat verli.


"Dokternya beda ya sus?" tanya verli pada perawat yang ada diruang tersebut.


"Ow iya karna dokter brisma sedang ada pasien sekarang jadi dokter hafka akan menggantikan" jawab perawat tersebut.


Saat nama dokter brisma disebut nadin merasa tidak asing dengan nama tersebut, khawatir kalau itu adalah orang yang dia kenal. "Emangnya beda sayangs sebelumnya?" tanya nadin.


"Hmm iya" jawab verli singkat.


"Bagaimana keadaan anda sekarang apa ada keluhan atau yang lainnya?" tanya hafka.


Ia harus tetap profesional dalam bekerja, walau pun hatinya tak bisa di bohongi.


"Sejauh ini tidak ada, saya hanya ingin bisa berjalan normal itu saja" jawab verli.


"Berdoa saja semoga ada keajaiban untuk kesembuhan anda, dokter brisma sudah menjadwalkan terapi rutin, jadi anda sudah bisa menjalaninya mulai sekarang" papar hafka.


"Sebaiknya itu tidak perlu dok, walau pun tanpa harus terapi di sini saya bisa belajar sendiri di rumah terlebih minggu depan saya sudah tidak tinggal disini" kata verli.


"Apakah seterusnya anda tidak akan chek up?"


"Sepertinya tidak" jawab verli singkat.


"Maaf dok soalnya anak saya akan ke pesantren dan jauh dari sini" nadin menyauti ucapan verli.


"Haa ke pesantren!! Jadi dia mau ke pesantren, memangnya jauh dimana? Dengan keadaan seperti ini? Tapi.......ah kok malah aku yang mikirin ya terserah dia lah" hafka berucap dalam hati


"Baiklah kalau gitu, tapi sebaiknya anda sering chek up kesehatan minimal dua minggu sekali"


"Baik dok saya mengerti"


Setelah berbincang lama hafka memberi penjelasan dan mengontrol keadaan verli sekarang cukup baik.


***


Verli akan kembali pulang, namun nadin mengajak verli untuk jalan-jalan sebentar biar tidak suntuk di rumah. Ia mengajak verli ke restoran kebetulan itu milik papa rafran dan jelas betul tempat itu adalah terakhir kali verli datangi bersama radit.


Nadin memilih tempat duduk dekat jendela, ia mulai memesan apa saja yang diinginkan. Verli hanya memesan minum dan disert saja. Nadin penasaran siapa dokter yang tadi menangani verli, karna ia melihat sisi lain dari verli saat melihat hafka.


"Sayang mama boleh tanya?"


"Iya ma mau tanya apa?" jawab verli lalu meneguk minumannya.


"Kamu kenal dengan dokter tadi? Kok mama rasa kamu sudah dekat dengan dokter hafka.....iya kan namanya hafka!!" pertanyaan nadin membuat verli kaget.

__ADS_1


"Lumayan kenal sih ma, tapi gak dekat banget hanya beberapa kali ketemu itu pun gak sengaja" jawab verli berusaha santai.


"Masak sih, mama tau tatapan kamu beda loh sama dokter tadi"


"Dia tadi yang verli ceritain sama mama dan papa waktu itu"


"Yang kata kamu dateng pas waktu koma?" nadin memastikan.


"Iya ma, lelaki tadi itu verli aja baru tau kalau dia dokter" jawab verli sambil makan pesanannya.


"Namanya pun, verli baru tau dan dia asalnya bukan dari sini, dia disini hanya kerja" ucap verli lagi menjelaskan.


"Ya ampun dia masih muda tapi sudah jadi dokter hebat, kagum mama loh dia tampan lagi" puji nadin sambil membayangkan.


"Menurut verli biasa aja, semua dokter juga hebat ma jangan terlalu memuji"


"Hmm kamu tuh nanti awas kalau nelan ludah sendiri, nanti malah jatuh cinta loh" ledek nadin.


"Apaan sih mama nih bikin gak selera aja, verli males ah kalau bahas percintaan gini" kesal veeli cemberut.


"Eh kok marah, maaf sayang mama gak bermaksud gitu kok maaf ya, udah lannutin makannya" sesal nadin yang salah bicara.


Verli pun melanjutkan makannya dan juga nadin. Rafran baru saja sampai restoran, ia mengunjungi untuk melihat perkembangannya. Dan tak sengaja melihat verli juga nadin ada disana lantas ia menghampiri mereka berdua.


Ternyata dugaannya benar bahwa itu verli dan juga mama nya, rafran pun menyapa mereka berdua.


"Assalamualaikum tante, verli" ucap rafran.


"Kak rafran disini toh, sejak kapan? Duduk kak.." tanya verli


Rafran pun duduk di bangku yang kosong di sebelah nadin.


"Baru aja nyampek, tadi papa suruh ngecek aja kesini sekalian kan di rumah juga gak ngapa-ngapain" jawabnya.


"Mama masih ingat kan sama kak rafran?" tanya verli berbalik pada nadin.


"Ow iya kenal" jawab nadin singkat.


"Mama tenang aja kak rafran beda kok sama radit walaupun mereka bersahabat tapi kak rafran beda jauh sama radit" tutur verlu seolah tau isi hati nadin.


"Persahabatanku sama radit juga renggang ver, aku males kalau radit berubah begitu hanya gara-gara perempuan itu"


"Eh kakak jangan gitu, seharusnya kakak menasehati bukan malah menghindari, sahabat sejati bukan seperti itu.......dia ada di saat terpuruk maupun bahagia bukan malah menghindar hanya karna sahabat kakak berubah, jadilah sahabat sejati nasehati sampai dia benar-benar kembali lagi barulah kakak menjadi sahabat yang sempurna, jangan hanya mau berteman saat dia baik atau bahagia saja dan jangan lupa doakan dia agar bisa kembali" nasihat verli sangat menyentuh hati rafran.


"Makasih ya verli udah ngasih tau, aku akan ingat nasihatmu" jawab rafran tersenyum manis. Namun verli hanya membalas dengan anggukan tanpa mau berlama-lama menatap rafran.


"Ya seharusnya begitu, benar kata verli jadilah pagar pembatas buat radit agar tidak terlempar lebih jauh lagi" kini giliran nadin yang berucap.

__ADS_1


"Siap tante" ujar rafran sambil meletakkan hormat tangannya seperti tentara.


"Makanan dan minuman ini gak usah bayar gratis buat tante sama verli"


"Loh kok gitu ya gak boleh, kamu di sini kan kerja ya jangan gitu" tolak nadin halus merasa gak enak hati.


"Gak apa tante anggap aja ini sebagai rasa terima kasih saya pada verli dan tante, udah gak pa-pa" paksa rafran agar mereka mau menerima.


"Masya Allah makasih banyak ya kak semoga Allah membalas semua kebaikan kak rafran"


"Aamiin"


Rafran menemani nadin dan verli sampai selesai, mereka mengobrol kecil. Selesai nadin dan verli pun pulang.


****


Di rumah sakit.


Hafka sudah selesai dengan pekerjaannya, untuk selanjutnya tidak ada jadwal lagi. Mungkin hanya mengecek saja, ow ya hafka akan meminta izin kepada direktur soal pindah nya.


Walau pun ragu dengan keputusan nanti, tapi sebelum dicoba kan gak tau hasilnya. Hafka akan mencoba berbicara dan menjelaskan semuanya.


Depan ruang direktur hafka berusaha santai, pikirannya terbagi sejak saat verli datang tadi.


Tok.


Tok.


Beberapa kali hafka mengetuk pintu, setah mendapat izin hafka pun masuk.


"Permisi dok!!"


"Silahkan duduk dokter hafka"


"Ada apa dok? Apa ada masalah lagi?" tanya direktur beberapa kali.


"Begini saya ingin meminta izin untuk pindah dekat dengan rumah saya, karna orang tua meminta saya juga menyuruh untuk membagi waktu di pesantren untuk mengajar, jarak dari sini ke rumah sangat jauh jadi kalau diperbolehkan saya meminta izin untuk pindah tugas yang dekat dengan rumah" rasanya plong beban yang tadi diangkut serasa hilang setelah hafka mengatakannya.


"Kok terburu-buru dok? Padahal di sini anda sangat dipercaya dengan keteguhan dan kecerdasan anda, sebaikny anda pikirkn dulu" kata direkturnya.


-


-


-


Bertemu lagi dengan author kece😃

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like, Beri ratingnya dan tinggalkan Komennya 😁


See you👋👋


__ADS_2