CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 94. SUDAH SAH


__ADS_3

"Kamu pengajar disini?" tanya Frisko. Dari awal ia hanya melihat Devan tapi tidak tau siapa dia sebenarnya. Jadi karna penasaran Frisko bertanya kepada Devan.


"Iya, saya pembimbing disini......." jawab Devan.


"Kelihatannya kamu dekat sekali dengan keluarga Hafka, bahkan kyai Yusuf juga menghormatimu" ujar Frisko penasaran.


"Memang saya tidak hanya pembimbing disini. Saya sudah dekat dengan keluarga Hafka dari dulu bahkan sedari kecil. Karna saya juga sahabat Hafka sewaktu kecil sampai sekarang. Keluarga kami juga dekat, kami lulus bersama tapi Hafka mempunyai mimpi yang harus dia raih. Oleh sebab itu Hafka memutuskan untuk kuliah kedokteran. Jadi beberapa tahun kami berpisah dan saya membimbing disini." papar Devan.


"Apakah kamu tidak berkuliah?" tanya Frisko lagi.


"Tentu saya kuliah, kalau tidak? Mana mungkin saya membimbing disini. Saya juga alumni sini. Saya dan Hafka berkuliah bersama di Kairo lalu dia melanjutkan study nya itu" jelas Devan dengan sabar.


"Ow begitu.....siapa nama mu?"


"Devan!"


"Salam kenal....." Frisko mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati Devan menerima uluran tangan Frisko. "Salam ukhuwah juga" jawab Devan sambil tersenyum.


🌷🌷🌷


Dua hari ini mereka semua tengah bersiap untuk melangsungkan acara pernikahan Aina dan Frisko yang akan dilaksanakan di Pesantren. Tidak begitu mewah karna Aina minta yang sederhana. Tapi nanti Frisko juga minta resepsi diadakan saat dirumahnya nanti dengan mengundang beberapa partner bisnia dan sahabat atau pun teman.


Aina tak mempermasalahkan itu yang terpenting sekarang sah dulu. Verli hanya membantu bila diperlukan saja karna semakin lama kandungannya semakin membuncit. Jadi dia gak boleh kecapean, apalagi Hafka yang posesifnya minta ampun dah pada Verli. Untuk sekarang Aina berada di kamarnya bersama Verli.


Mereka berbicara berdua memberi Aina ruang untuk bercerita. Pasti ada banyak curahan hati yang belum tersampaikan. Biasanya orang yang akan menikah akan deg -degan dan menanyakan banyak hal. Disitulah Verli ada untuk menemani Aina. Sementara Tia masih ada kelas mengajar. Tatapan teduh Verli membuat Aina bisa menceritakan segalanya yang terpendam dalam hatinya.


Dengan lembut dan sabar Verli memberi saran, motivasi, dan kekuatan untuk Aina dalam menjalani pernikahannya nanti. Apalagi Verli tau sifat kakaknya seperti apa. Frisko tidak akan pernah menyakiti perempuan dengan kekerasan. Dia begitu menghormati perempuan karna dia lahir dari perempuan juga.


Aina menatap Verli dengan senyum dibalik cadarnya. "Aku sudah yakin keputusanku sudah benar dan pilihan Allah itu tidak akan salah. Kalau begitu kita akan menjadi saudara setelah ini" ucap Aina.


"Iya dong. Takdir sudah menggariskan seperti itu dan dia lah jodohmu. Semoga kamu bisa bahagia dalam pernikahan yang akan kamu jalani. Kalau nanti dia nyakitin kamu bilang saja sama aku biar nanti aku gentong jadi bubur kak Frisko"


"Hahahah ya ampun Verli kasihan dong jadi rempeyek, astagfirullah" ucap Aina tertawa lepas mendengar ocehan Verli.

__ADS_1


Verli pun juga ikut tertawa jadi mereka tertawa bersama. Sekecap rasa yang mengganggu dihati Aina bisa terlepas. Dia sudah siap dengan pernikahannya dan sudah yakin seratus persen. Semoga langgeng ya neng Aina, author bantuin doa. Nanti author bantuin masak, tenang saja dijamin enak deh.


**


**


**


Hari yang dinanti pun tiba. Semua sudah dipersiapkan dan semua santri juga ikut menjadi saksi atas pernikahan Aina. Kely dan Alif juga ikut serta menyaksikan akad nikah Aina. Kely tak mau momen indah itu terlewat begitu saja karn momen itu harus diabadikan. Semua sudah siap ditempat masing-masing.


Penghulu juga sudah datang, sementara Aina ditempat yang berbeda dengan mempelai pria. Mereka dipisahkan sebelum nanti dipertemukan setelah Frisko mengucapkan ijab qobul didepan penghulu dan para hadirin yang datang. Hati keduanya sama-sama tegang dan nerfes. Yang utama adalah Frisko jangan sampai salah dalam pengucapan. Kalau salah malu dong yakali mempelai wanita namanya diganti.


Heheh gak ya kakak Frisko pasti lancar kok. Karna yang dinikahi adalah orang yang dia cintai. Duh Aina terus memegang tangannya sambil diremas-remas sangking tegangnya. Verli, Kely, dan Tia terus menenangkan Aina agar tidak tegang. Ijab qobul dilaksanakan dimasjid Pesantren. Karna semua sudah datang akad pun dimulai.


Dimulai dari penghulu yang mengucapkan kalimat ijab qobul sambil Frisko menjabat tangannya. Dengan lantang Frisko menyahuti ucapan sang penghulu dengan lancar. Sampai kata sah terucap dari semua orang.


Mereka sama-sama menengadahkan tangan untuk berdoa agar pernikahan mereka berdua diberi kebahagiaan, sakinah mawadah warahmah. "Aamiin..." ucap mereka serentak.


Diikuti yang ada didalam terutama Aina yang meneteskan air mata. Sekarang statusnya sudah berganti menjadi seorang istri. Ia begitu terharu dan merasa bahagia. Sahabatnya sampai memeluk erat memberi selamat bersama-sama. Tak lama Aina diajak keluar, ia memakai gaun berwarna putih yang sudah disiapkan Verli dan Kely. Begitu anggun dan cantik jika dipandang.


Berulang kali Aina mencoba menenangkan diri dan menyambut uluran tangan Frisko namun berulang kali pula Aina memundurkan tangannya. Ingin namun sangkin gemetaran jadi sulit untuknya. "Ayo Aina, kalian sudah sah tidak apa" ucap Verli.


Aina pun berhasil mencium punggung tangan Frisko walau pun masih gemetaran. Ditambah Frisko yang mengecup kening Aina. Mereka sama-sama menandatangani buku nikah dan melakukan foto bersama.


"Selamat ya aku senang melihat sahabat dan kakakku bisa menemukan jodohnya. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah, langgeng terus sampai tak ada yang memisahkan kecuali maut yang menjemput" ucap Verli tersenyum bahagia.


"Aamiin...." jawab Frisko dan Aina bebarengan. "Terima kasih Verli" ucap Aina menimpali.


"Sama-sama" jawab Verli.


Mereka yang datang memberi selamat satu per satu kepada Aina dan Frisko. Ada yang memberi kado pernikahan juga seperti ketiga sahabat Aina dan yang lainnya. Rencananya nanti Frisko akan membawa Aina pulang ke rumahnya. Setelah acara akad selesai. Karna ia juga akan menggelar acara resepsi dirumahnya. Namun kyai Yusuf meminta agar sebaiknya mereka tinggak semalam dulu dan besok baru pulang. Frisko tak mempermasalahkan karna ia juga pasti capek.


Sehingga hari ini hanya orang tua Frisko yang akan pulang. Mereka akan tinggak dulu semalam. Kely dan Alif akan pulang hari ini juga karna besoknya Alif ada rapat.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Malam hari mereka sudah berada di kamarnya. Tentu kamar yang selama ini ditempati oleh Frisko dirumah utama. Tapi kamar itu sudah disulap menjadi indah untuk pengantin baru ini dengan banyak mawar merah berbentuk love.


Mereka berdua sama-sama canggung saat berada dikamar. Aina pun belum melepas cadarnya karna belum diminta oleh Frisko. Dia akan membukanya kalau Frisko yang meminta. Hatinya masih berdegup kencang saat duduknya berdekatan dengan Frisko. Ini kali pertama Aina berdekatan dengan lelaki.


Frisko melihat Aina sejenak, ia tertegun melihat mata bening dan bulu mata yang lentik milik Aina. Itu saja sudah memperlihatkan kalau Aina itu cantik. Ia bingung harus memanggil Aina dengan sebutan apa. Sehingga mereka hanya berdiam saja.


Karna sudah geram sama-sama diam Frisko membuka suara untuk memecahkan keheningan. "Na...hmm kamu tak ingin melepas cadarmu? Kita sudah sah" ucao Frisko.


Aina masih gugup. "I-iya...." jawabnya salah tingkah sambil melepas cadar yang masih setia terpasang diwajah Aina.


"Tunggu...." cegah Frisko agar Aina tidak membuka cadarnya, ia refrek memegang tangan Aina. Ia langsung melepaskan genggamannya dan mereka sama-sama dalah tingkah.


"Kalau kamu belum siap tidak usah memaksakan diri......aku akan menunggu sampai kamu siap" ujar Frisko.


Ow tentu jangan Aina ya. Masak suami mau lihat wajahnya saja gak boleh. Aina sudah menata hatinya untuk malam ini, jadi tidak mungkin dia akan melewatkan malam pengantin barunya dong.


"Buat apa juga aku membuat suamiku menunggu!" ucap Aina. Frisko pun langsung menoleh ke arah Aina, ia tertegun mendengar Aina mengucapkan kata suamiku. Perlahan Aina membuka tali cadarnya.


Dengan perlahan ia membuka v cadarnya namun terlihat susah karna talinya tersangkut. Kemudian dibantu oleh Frisko untuk membuka nya. Gimana hati Aina sekarang? Duah gak usah ditanya lagi deh yang jelas penuh dengan dentuman hebat.


Frisko membuka dan melihat wajah cantik Aina yang tersenyum ke arahnya. Ia tertegun sampai diam tak berkedip. Wajah mulus putih mata yang bening dengan bulu mata yang lentik dan hidung mancung. Apalagi senyumannya yang manis sungguh melelehkan hati siapapun yang melihatnya. Seperti Frisko sekarang yang terkesima dengan kecantukan istrinya sendiri. Sama seklai tak sama dengan apa yang diucapkan Aina waktu itu dan sama seperti kata hatinya.


"Masya Allah..." ucap Frisko merasa kagum. "Kamu cantik sekali" tambah Frisko memuji kecantikan Aina.


"Terima kasih......bagaimana sekarang sudah tau wajahku kan?" tanya Aina sambil terus tersenyum.


"Jangan lebar-lebar kalau senyum nanti aku terkena diabetes karna senyummu terlalu manis" gombal Frisko.


"Bisa saja hmm aku harus memanggil apa" tanya Aina bingung.


"Terserah sesuka hati kamu saja....mas atau kak atau apapun boleh....ow atau sayang saja aku malah tambah senang" jawab Frisko.


"Hmm mas aja deh nanti sayang nya ditambahi" ucap Aina kemudian.


"Ternyata kamu periang juga ya tidak seperti bayanganku"

__ADS_1


"Aku memang begini, sebenarnya canggung sih kalau pertama kali begini tapi kita sudah sah lalu buat apa canggung lagi. Apalagi sekarang kamu sudah menjadi suamiku" ujar Aina.


__ADS_2