
"Mangkanya jangan belagu jadi orang, lebih baik kamu cac*t selamanya" Marah fera karna dihatinya masih ada rasa benci dan dendam sama verli.
Sebab keguguran kandungannya waktu itu, padahal saat itu verli hanya ingin membela diri dan tak sengaja membuat fera terjatuh.
Fera meraih niqab verli dengan kuat dan menariknya sehingga wajah verli terlihat. Verli pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan sembari menunduk dan menangis berharap suaminya cepat kembali.
Hafka tiba-tiba datang lalu menarik tubuh verli untuk memeluknya agar wajah verli tidak dilihat orang ramai. Verli mendongak sedikit, melihat bahwa itu suaminya verli sangat bersyukur dan menangis dipelukan hafka.
Hafka mengambil paksa niqab verli dari tangan fera dan memasangkan ke wajah verli dengan posisi verli masih memeluknya.
Fera memicingkan matanya melihat siapa yang datang dan melindungi verli. Jelas betul fera mengenal hafka karna sudah dua kali bertemu tapi ia tak tau namanya. Hanya tau orangnya saja.
"Sikap anda dijaga jangan keterlaluan begini punya etika enggak!! Apa masalah anda sampai melakukan hal seperti ini" Hardik hafka yang marah.
"Kamu gak pa-pa kan" Verli hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu kenal sama dia? Kenapa sampai mempermalukan kamu di depan umum" Lagi-lagi verli bungkam tanpa bicara karna syok.
"Eh ngapain kau peluk-peluk perempuan cac*t seperti dia, bentar kau kan yang....." Fera mengingat sesuatu.
"Jika anda yang saya permalukan didepan umum seperti ini apa mau hah!! Jangan mencari masalah jika tak mau kena masalah" ucap hafka dengan nada yang ketus.
"Apa hubungan kamu sama dia?" Tanya fera.
"Seharusnya saya yang tanya sama anda, apa hubungannya dengan istri saya? Udah lah kita pergi aja ya gak usah diladenin" Hafka mengajak verli untuk pergi.
"What!! Istri.....di-dia istri istrimu" Tanya fera kaget. "Sejak kapan dia menikah denganmu"
Verli tak menyangka bahwa hafka akan mengatakan didepan fera bahwa ia istrinya. Verli takut nanti seisi kampus tau mengenai pernikahannya.
"Halah pasti kau bohong, lagian siapa mau sama perempuan begini, Najis!!"
"Istriku jauh lebih baik darimu, bahwa jauh lebih sempurna......jika dimata anda itu buruk beda dengan saya, karna anda memandang dari luarnya saja bukan dari dalam hatinya, laki-laki yang mau sama anda hanya lah lelaki yang memandang fisik da kecantikan bukan dari hatinya, sebaik-sebaik wanita adalah yang sholehah dan bukan pengumbar aurat dan kecantikan" Hafka tak terima dengan ucapan fera tentang verli.
"Kita pergi dari sini gak usah ngeladenin perempuan gak jelas, ayo"
Hafka pun pergi dengan menggandeng tangan verli. Ia masuk mobil diikuti verli dibelakangnya. Hafka masih tak terima dengan perlakuan fera yang sangat keterlaluan dan punya etika.
Hafka melihat verli yang sudah berhenti menangis namun masih ada buih air mata disisi kelopak matanya. Hafka menenangkan verli agar tidak menangis lagi dan menanyakan perihal perempuan tersebut.
Sedangkan fera masih tak menyangka dengan ucapan hafka bahwa verli adalah istrinya. Hafka memang bukan tipenya tapi ia tak mau kalau verli hidup bahagia.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi nanti cantiknya ilang loh" goda hafka.
Verli hanya diam saja tak mau bicara.
"Perempuan tadi siapa? Kenapa melakukan semua ini padamu, apa kamu mengenalnya?" Tanya hafka.
"Dia istrinya mantanku mas, namanya fera dari awal juga sudah gak suka sama aku" Jelas verli.
"Terus kenapa sampai sebegitunya sama kamu dek?" Tanya hafka lagi.
"Huufh" Verli menarik nafas panjang lalu menceritakan semuanya dari awal permasalahan sampai fera dan radit benci dengannya, tak ada yang ia tutup-tutupi dari hafka. Verli tak mau ada rahasia diantara dia dan suaminya.
Hafka pun paham akar permasalahan itu. Ia memahaminya dan mencoba mengerti.
"Itu sudah takdir, seharusnya mereka menerimanya bukan menyalahkan kamu, perbuatan zina itu dilarang dan dosa besar mungkin Allah ingin menegur mereka bahwa perbuatannya salah tapi hati mereka masih belum terbuka, sabar ya"
"Tapi bagaimana nanti jika fera ngadu sama semua mahasiswa yang lain kalau aku udah nikah, mulutnya itu ember gak bisa dijaga"
"Maaf mana mas tau kalau itu masih teman sekampus kamu"
"Ya mungkin emang takdirnya begitu, lambat laun mereka semua juga pasti akan tau dan tadi dia ngeliat kamu gak pakai kursi roda"
"Udah ya kamu jelasin aja gak usah main rahasia segala gak baik apalagi sama orang tua dosa loh" tutur hafka.
"Huufh, ya udah nanti kita ngomong sama papa dan mama" ucap verli pasrah dari pada orang tuanya tau duluan dari orang lain bukan darinya.
"Nah gitu kan bagus dan masalah pernikahan kita kapan mau kamu publik?"
"Entahlah untuk saat ini jangan dulu ya" pintanya.
"Terserah kamu lah dek"
Hafka melajukan mobilnya meninggalkan taman. Mereka akan pergi ke rumah orang tua verli. Hafka berusaha untuk memahami istrinya.
*******
Kely sedang bersama aina dan tia dikampus. Setelah mata kuliah pertama selesai mereka bertiga janjian bertemu dikantin. Kely hanya ada satu mata kuliah saja hari ini sedangkan aina dan tia masih ada jam berikutnya.
Dikantin kely sudah menunggu mereka berdua. Aina memesan mie ayam, tia pun sama. Tak lama kemudian pesanan mereka sudah diantar. Sambil makan dan sesekali mengobrol.
__ADS_1
Kely merasa kesepian karna verli tidak masuk. Jadi ainda dan tia menemani kely hari ini. Setelah dari kampus entah mau kemana kely karna tidak ada tujuan mungkin akan kembali pulang tapi bosan juga dirumah sendiri.
"Huufh, verli udah nikah lah aku sekarang jadi gak bisa leluasa bersana verli, kesepian dong" gumam kely dengan wajah cemberut.
"Masih ada kami key jangan bersedih atau kalau bisa kamu cari pasangan juga seperti verli biar ada yang nemenin biar gak sendiri" Kata tia sumringah.
"Males ah, cinta itu nyakitin ujung-ujungnya disakitin kalau gak sesuai" gerutunya.
"Cinta itu anugerah key, jika diletakkan ditempat yang benar gak akan nyakitin tapi kalau kamu letakkan ditempat yang salah pasti cinta itu menyakiti kamu" Tutur aina.
"Artinya bukan lewat jalur haram tapi halal seperti verli, mau melakukan apapun pasti berpahala bukan berdosa" saut tia menimpali.
"Hmm ngomongin halal, pasangan aja gak punya, gimana mau meraih pahala"
"Ya barangkali jodoh kamu akan datang sebentar lagi, aku doakan deh biar cepat nyusulin verli biar gak kesepian lagi, jadi kalau malam ada yang dipeluk bukan guling lagi" goda tia tertawa kecil.
"Lah......" kely melongo saja.
"Aamiinin key bukan malah bengong" kata aina tersenyum.
"Aamiin, makasih udah mau nemenin aku, nanti kalian mau gak tidur dirumahku? Bosan nih gak ada teman buat ngobrol, dulu aku sering sama verli tidur bareng kalau gak aku ke rumah verli ya dia ke rumahku" jelasnya sambil mengingat masa dulu bersama verli penuh cerita.
"Sedekat itu ya kamu verli, wah pasti menyenangkan punya sahabat sefrekuensi" kata tia.
"Iya udah dari SD kalau gak SMP kelas satu kami bersahabat jadi ya udah kayak adik kakak, apalagi mama kami juga sahabatan" papar kely.
"Kalau gitu mah gak diragukan lagi kedekatan kalian ditambah orang tua kamu sama verli bersahabat"
"Iya....jadi bagaimana kalian mau gak tidur dirumahku sehari saja pliiiss.....mau ya" Ujarnya sembari memohon.
Aina melirik ke tia berharap jawaban darinya. Tia ngikut saja keputusan aina, karna mereka berdua juga tak mau terpisah. Aina pun setuju saja karna merasa kasihan dengan kely.
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡
Yei author sudah double up nih hmm boleh gak author minta bantu dukung karya ini😁
Dengan cara LIKE, VOTE, HADIAH, AND BERI KOMEN kalian ya author tunggu😊🤗❤
See you all by by👋👋👋
__ADS_1