
Kely bosan jika harus dirumah terus tapi untung ibu mertuanya baik dan penyayang sehingga ada saja kegiatan yang bisa dilakukan bahkan adik iparnya. Seperti sekarang ia sedang bersama aisyah untuk bermain sambil belajar. Selama suaminya kerja Kely hanya dirumah dan sesekali berkunjung ke orang tuanya.
Aisyah memang bukan anak kecil lagi, tapi jika sama Alif dan Kely sikapnya manja seperti anak kecil. Ia senang mendapat kakak ipar yang baik dan penyayang. Terlebih Kely tak pernah menggerutu jika Aisyah meminta untuk diajari tugas sekolahnya.
Tapi besok Aisyah akan pindah ke pesantren sebab ia sendiri ingin belajar disana bersama sepupunya Maryam. Jelas orang tuanya sangat senang jika Aisyah mau menuntut ilmu dipondok. Namun pasti rumah itu akan sepi dan Kely akan sendiri jika tidak ada Aisyah.
"Rumah ini jadi sepi kalau tidak ada kamu dek, terus gak ada lagi yang minta diajari belajar sama kakak" gerutu Kely sembari ngemil bersama Aisyah di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Tenang aja kak kalau aku ada waktu libur pasti pulang, lagi pula ada Kak Alif......kalau ada kesempatan mainlah ke pondok" sahut Aisyah.
"Iya, semoga kamu betah disana, jaga diri baik-baik jangan nakal" tutur Kely membelai kepala Aisyah yang tertutup hijab.
"Siap kak"
🌹🌹
"Ummi kata Kely, Aisyah akan mondok disini benar kah?" tanya Verli yang sedang berada didapur bersama ummi Halimah.
"Iya nak, Aisyah pengen satu sekolah dengan Maryam jadi dia ingin mondok disini. Katanya nambah wawasan ilmu agama. Ummi senang kalau Aisyah mau menuntut ilmu di sini" jawab ummi Halimah.
"Alhamdulillah ummi, keputusan yang tepat. Kita memang perlu belajar ilmu agama tidak hanya ilmu dunia. Keduanya harus sama-sama seimbang, tidak berat sebelah saja terlebih berat itu mengacuh pada ilmu sains tapi agamanya nol" ucap Verli.
"Benar nak, semua memang harus seimbang." timpal ummi Halimah tersenyum manis.
Verli mendengar suara suaminya. Ia izin undur dari hadapan ummi Halimah. Ia segera menghampiri Hafka.
Suaminya ternyata sudah pulang. Cepat sekali? Dalam benak pikiran Verli. Biasanya juga sore. Tangannya menjulur untuk mencium tangan suaminya dan mengambil tas dari genggaman Hafka.
Mereka masuk kamar bersamaan. Sementara Hafka langsung masuk ke kamar mandi dan Verli menyiapkan baju bersih untuk suaminya.
Drrt.
Suara getaran ponsel Verli ternyata ada yang menelfon. Ia menggeser tombol hijau dan segera mengangkatnya.
📲 "Assalamu'alaikum Ver" suara orang yang dirindukan Verli yaitu sahabatnya Kely.
"Wa'alaikumussalam, apa kabar Key?" tanya Verli sambil melihat ke balkon kamar.
📲 "Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimanan keponakanku gak rewel kan di dalam sana"
__ADS_1
"Alhamdulillah aku juga baik dan si dede juga gak pernah buat aku kesusahan." jawab Verli sambil terkekeh.
📲 " Ver curhat boleh gak?" mimik bicara Kely menjadi berubah sendu.
"Mau cerita apa katakan saja, aku akan siap menjadi pendengar setiamu kalau mau ganti video call aja" sahut Verli.
📲 "Oke kita video call" kata Kely lalu merubah mode panggilan biasa ke video call"
Verli menerima panggilan video call dari Kely.
📲 "Aku bingung Ver, hmm gimana ya jelasinnya."
"Ceritakan saja apapun, dari mana pun boleh" ucap Verli setia menatap layar ponselnya.
Hafka sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya yang disiapkan oleh istrinya. Tatapannya berganti mencari keberadaan sang istri yang ternyata berada di samping jendela menghadap ke luar. Terlihat sedang bercengkrama ditelefon, Hafka tak mau menganggu dan memilih merebahkan tubuhnya di ranjang.
Sementara Verli terus berbincang dengan Kely ditelefon tanpa tau kalau suaminya sudah selesai mandi.
📲 "Aku pengen hijrah sepertimu Verli, tapi....hatiku belum sepenuhnya yakin" jelas Kely memasang wajah lesu.
"Key semua itu tergantung niat dari hati. Benar-bener niat bukan karna apapun, jadi bila kamu ingin hijrah sepertiku mantapkan dari hati yang paling dalam. Kalau kamu belum sepenuhnya yakin berarti di dalam hatimu masih belum ada niat yang tulus. Apakah ada yang membuatmu seperti ini Key?" papar Verli menasehati sekaligus bertanya.
📲 "Huufh.......Aku malu Ver, dulu saja aku yang selalu menyuruhmu agar berubah lebih baik, selalu mengajarimu menutup aurat, melakukan hal baik bersama. Tapi sekarang kamu sudah berubah bahkan lebih tertutup dibanding diriku, dalam hati rasanya malu melihatmu serta Aina dan Tia" jelas Kely memaparkan semuanya.
Verli terus mendengarkan dan mencerna setiap ucapan Kely yang didengar. Ia pun tersenyum dan menjelaskan kepada Kely atas keraguan hatinya.
"Tidak ada manusia yang sempurna Key, karna kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kalau kamu ingin berubah hanya karna malu dengan kami, aku, Aina, dan Tia. Sampai kapan pun hatimu tidak akan siap Key, tapi kalau kamu ingin berubah karna Allah pasti hatimu akan mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. Landasilah apapun itu karna Allah bukan karna yang lain. Sekarang tata dulu hati kamu, niatkan karna Allah bukan karna kami. Yang penting itu kamu tidak memperlihatkan lekuk tubuhmu" jelas Verli menasehati dengan sabar dan penuh keyakinan sambil tersenyum.
Kely terharu dengan ucapan sahabatnya. Ia meneteskan air mata dan disaksikan oleh Verli. Jika saja sekarang Verli berada langsung didepannya pasti sudah dipeluk erat oleh Kely. Tapi apa daya mereka sudah mempunyai rumah tangga sendiri dan kehidupan masing-masing.
📲 "Makasih Ver, kamu penyemangat dalam hidupku. Aku akan memantapkan hatiku dulu dan makasih atas nasihatnya, sekarang hatiku sedikit lega" ucap Kely sambil menyerka air matanya.
"Iya Key aku akan selalu menemanimu, dah jangan nangis lagi jelek loh nanti" goda Verli.
📲 "Besok aku akan kesana untuk mengantar Aisyah, aku rindu sama kamu Verli serta Aina dan Tia" ujar Kely.
📲 "Sungguh Key, oke aku akan tunggu kedatanganmu" jawab Verli dengan wajah sumringah.
Akhirnya mereka bercengkrama sebentar lalu menyudahi telfonnya. Saat berbalik Verli terkejut dan baru menyadari kalau suaminya sudha selesai. Pastinya sudah dari tadi selesai.
__ADS_1
Verli langsung menghampiri Hafka dan ikut berbaring disamping sang suami. Hafka sedari tadi tidak memejamkan matanya malah mendengarkan istrinya mengobrol dengan sahabatnya.
Saat Verli berbaring menghadap Hafka seketika itu ia mengecup bibir istrinya. Sekejap Verli terhanyut oleh sentuhan bibir Hafka dan ikut terbuai. Sesaat Hafka melepas kecupan tersebut dan pipi Verli jadi merah merona. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Hafka karna malu.
"Issh kamu bikin gemes aja dek, cantik pula" Verli mendongak mendengar ucapan suaminya.
"Gombal mulu" jawab Verli.
"Gak pa-pa dong sama istri sendiri berpahala" ujar Hafka.
Verli hanya tersenyum. "Maaf ya maa tadi aku gak tau kalau kamu sudah selesai mandi gara-gara keasyikan telfonan sama Kely"
"Gak pa-pa memang sengaja aku tak mau mengganggu kamu mengobrol, sepertinya Kely butuh sekali teman curhat" ucap Hafka sambil membelai rambut istrinya.
"Iya memang. Seperti yang mas dengar tadi semoga saja sih ada hidayah dari Allah untuk menggerakkan hatinya lebih baik lagi"
"Aamiin...." ucapannya langsung disahuti Hafka.
"Sekarang temani suami kamu ini tidur, capek nih.." keluh Hafka.
"Mau aku pijitin?" tanya Verli hendak bangun dari tidurnya namun langsung ditahan oleh Hafka.
"Jangan!! begini saja peluk suami kamu" sahut Hafka dengan cepat.
Verli kembali memeluk suaminya dengan erat. Mereka pun tidur bersama dengan posisi saling berpelukan.
🌻🌻🌻
Hafka dan Verli tengah sarapan bersama. Selesai sarapan Verli membantu Ummi Halimah untuk membawa piring yang kotor ke dapur. Ingin ia mencuci piring-piring tersebut tapi dilarang oleh ummi Halimah agar Verli tidak kecapean.
Verli pun berjalan ke teras depan menemui sang suami. Ia duduk disebelah Hafka sambil membicarakan soal Frisko yang akan datang ke pesantren. Semalam kakak itu menelfon dan bilang kalau pagi ini akan ke pesantren bersama orang tuanya. Kebetulan juga Alif dan Kely akan ke sana untuk mengantar Aisyah sekalian bertemu dengan sahabatnya.
"Aku sudha gak sabar pengen ketemu Kely mas, kangen rasanya andai saja dia bisa ada didekatku selalu"
"Sabar sayang, nanti juga mereka akan datang.....hmm sekarang kita ke asrama saja menemani santri-santri, karna akhir-akhir ini aku sibuk di rumah sakit jadi gak ada waktu untuk dipesantren" keluh Hafka.
Verli pun tersenyum lalu menggandeng tangan suaminya untuk segera pergi ke area pondok. Verli juga ingin bertemu dengan Aina dan Tia.
Hafka pergi ke kantor pengurus untuk menemui kakaknya. Sementara Verli menemui Aina dan Tia yang kebetulan ada waktu senggang. Mereka duduk bertiga di bawah teduhan pohon. Ketiganya terlihat sangat dekat sudah seperti saudara sendiri.
__ADS_1
Aina mengelus perut buncit Verli sambil mendoakan agar kelak bisa tumbuh menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Tia pun juga begitu mendoakan hal yang sama.