
Safren dan nadin pun menurut saja, setelah makan malam selesai mereka tengah berkumpul diruang tengah ingin sekali mendengar penjelasan verli. Karna safren dan nadin begitu menyayangi verli, tak mau anaknya tersakiti lagi.
Kini verli sudah siap untuk menceritakan semuanya, mulai dari radit yang datang dan menghinanya.
"Verli katakam tadi mau cerita ayo jangan diem aja" kata safren tak sabar.
"Tapi papa jangan marah ya dan jangan macam-macam sama dia, aku gak mau terlibat masalah dengannya" ucap verli melihat safren dengan tatapan harap.
"Ceritain dulu papa kan belum tau awal nya gimana kamu sudah takut saja"
"Huuuffh" verli hanya bisa menghela.nafas berat , berharap sang papa tidak akan macam-macam dengan radit ataupun fera.
"Gini pa, tadi tuh aku pergi ke kantin sama kely untuk makan bareng terus.......verli menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, tak ada yang ia tutup-tutupi atau pun dilebihkan, ia menceritakan secara detail mulai dari radit datang sampai menghinanya habis-habisan, tapi akhirnya ia sendiri yang menyingkir dan merasa malu," begitulah verli menceritakan semuanya, sontak itu memancing emosi kedua pria tersebut, safren dan frisko.
"HAH!! Dia benar-benar menghinamu didepan mahasiswa yang lain? dimana hati lelaki g*la itu, dia yang salah eh malah kamu yang dihina" ucap frisko penuh emosi.
"Kak sudah lah toh dia tadi juga malu sendiri pada akhirnya, gak usah kotori tangan kakak untuk membalasnya" verli tak mau karna hal ini sang kakak tidal bisa merendam emosi dan akan membalas perbuatan radit.
"Verli perbuatan dia tetaplah salah, papa juga gak terima kalau kamu dihina seperti itu, kami saja amat sangay menyayangimu tapi dia seenak nya menghina dan merendahkanmu" ketus safren.
"Papa sama mama gak perlu khawatir verli bisa kok jaga diri, verli pastikan mereka gak akan ganggu lagi tapi aku mohon jangan cari masalah dengannya!!" verli penuh harap pada sang papa dan kakaknya agar tidak mencari masalah dengan radit.
"Baiklah papa percaya denganmu, kamu anak kuat pasti banyak juga yang menyayangimu" kata safren akhirnya mengalah.
"Makasih papa" verli memeluk safren sangat erat dan bersyukur pada akhirnya mereka bisa mengerti.
"Tapi kamu harus janji ya dek gak boleh ada yang ditutup-tutupi dari kami, bahkan hal kecil sekali pun kamu harus berbagi cerita dengan kami" papar frisko memperingati.
"Iya kak verli janji" ucapnya sembari mengacungkan jari kelingking didepannya.
"Ya udah, papa mama frisko ke kamar dulu ya mau istirahat capek"
"Iya sana kamu istirahat, verli kamu juga harus istirahat mama akan antar kamu ke kamar" ujar nadin bangun dari duduknya dan langsung mendorong kursi roda verli.
"Ma gak usah verli bisa sendiri kok, jangan terlalu berlebihan sama verli, kalau diperlakukan begini terus verli gak akan bisa belajar mandiri" ucap verli mengelak saat nadin ingin mengantarkannya ke kamar.
"Kamu memang anak mandiri sayang, ya sudah istirahatlah besok biar frisko antar kamu ke kampus ya"
"Oke ma, good night papa mama"
"Night too sayang"
*****
"Sial banget sih tuh cewek beraninya dia mempermalukan kita depan umum, udah c*c*t masih aja belagu" kesal fera yang marah dengan semua perkataan verli.
__ADS_1
"Hmm....pintar juga perempuan itu berucap, kayaknya harus dikasih pelajaran lagi" kata radit.
"Kamu sebelumnya emang pernah memberi pelajaran pada dia" tanya fera penasaran.
"Iya pernah, emang kamu kira dia kecelakaan karna apa!!" jawab radit enteng.
"Maksudnya si cewek c*cat itu kecelakaan karna kamu sayang?" fera memastikan.
"Iya karna aku merasa kesal dan marah saat kamu keguguran gara-gara dia, hmmm......padahal aku berharap dia mati saja tapi kayaknya ada nyawa ganda yang masih nyangkut"
"Wah kamu berani sekali, uwuw banget sih kamu yank tambah sayang deh" ucap fera memeluk erat radit yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Hanya kamu yang ada dalan hatiku apapun akan aku lakukan untukmu" jawab radit.
"Kalau gitu besok kita sekalian aja beri cewek sialan itu pelajaran, kita buat malu dia didepan umum, gimana apa mungkin dia ada muka untuk nampak lagi hahahah"
"Pintar kamu sayang"
Perbincangan diakhiri entah apa yang akan mereka lakukan besok pada verli, yang jelas mereka pasti akan merendahkannya lagi dan akan makin membuat verli malu di depan teman-temannya.
06.45
Hafka tengah membantu sang abi melakukan aktivitas rutin yaitu mengajar para santri dibantu oleh ustadz devan, setelah usai hafka pergi ke tempat yang biasa ia kunjungi untuk mencari udara segar tempat yang kemarin di tempati bersama ustadz devan.
Tiba-tiba suara ponsel menyita perhatiannya, dering telfon semakin terdengar hafka mengambil lalu melihat kontak yang tertera langsung saja hafka menggeser tombol hijau.
"Wa'alaikumussalam, iya dok ada apa?" tanya hafka.
"Sebelumnya saya minta maaf kepada anda dokter hafka, namun apa bisa anda sekarang kembali kemari? maaf kalau mendadak dan seharusnya jadwal cuti anda sampai besok tapi ini mendesak sekali, ada pasien yang tengah memerlukan bantuan, besok pagi adalah jadwal pelaksanaan operasi tapi dokter yang menggantikan tidak hadir karna ada keluarga yang meninggal, apakah bisa dokter hafka membantu?" tanya direktur rumah sakit yang menelfon hafka.
"Astagfirullah baik dok saya akan kembali sekarang, dan mungkin jam dua an saya baru sampai di sana, kalau memang mendesak sekali boleh dilakukan hari ini juga" jawab hafka terkejut.
"Baiklah kami akan mengecek keadaan pasien apakah siap untuk melakukan operasi hari ini, dan nanti saya akan mengirim data riwayat penyakit pasien tersebut"
"Baik dok, kalau begitu saya akan bersiap sekarang, assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Mereka menyudahi obrolan lalu hafka bergegas ke rumah untuj merapikan pakaian danbkeperluan yang lain. Ini sangat mendesak bahkan hafka belum menyiapkan apapun karna informasinya pun baru saja ia terima.
Sampai di rumahnya, ummi halimah yang melihat raut wajah hafka yang sedikit muram langsung bertanya pada hafka sampai ia tergesa-gesa. Hafka yang mengetahui ummi halimah menghampiri sekalian ia akan berpamitan.
"Ummi hafka harus kembalu ke kota sekarang juga, maaf kalau tiba-tiba tadi hafka dapat kabar dari direktur rumah sakit ada pasien yang memerlukan bantuan hafka"
"Harus sekarang nak, kenapa tidak besok saja" tawar ummi halimah.
__ADS_1
"Tidak bisa ummi ini mendesak kasihan, ini menyangkut nyawa seseorang, hafka janji akan kembali pulang lagi dan minta izin agar bisa tugas di daerah sini saja" jawab hafka.
"Ya ummi tidak bisa berbuat apapun lagi kalau begitu, ummi bantu beresin ya"
"Tidak perlu ummi, hafka akan bereskan sendiri tidak perlu repot-repot, hagka ke kamar dulu ya ummi nanti sekalian pamit sama abi"
"Ya nak"
Hafka pun bergegas pergi ke kamarnya untuk membereskan perlengkapan yang lain. Setelah cukup lama sekitar setengah jam hafka bergelut di kamar untuk merapikan barang-barangnya, ia pun keluar dan menemukan kedua orang tuanya sedang duduk di riang tamu.
Hafka menghampiri keduanya untuk berpamitan, sebelumnya ummi halimah sudah memberi tau abi yusuf perkara hafka yang akan kembali ke kota secara mendadak. Tak ada yang bisa menahan hafka karna memang itu adalah hal yang mendesak menyangkut nyawa seseorang.
"Abi......hafka izin pamit kembali ke kota nggih, nanti hafka akan kembali kemari" ucap hafka tak enak hati.
"Ndak apa nak pergilah, abi dan ummi akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, jaga dirimu baik-baik ya jangan lupa shalat dan jaga kesehatan" nasihat abi yusuf.
"Nggih abi, hafka pamit dulu ummi abi" uvap hafka seraya mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Hati-hati ya nak"
"Kak hafka mau kemana?" tanya maryam baru pulang.
"Kakak akan balik ke kota dek, jaga ummi sama abi ya nanti kakak akan pulang lagi"
"Lah kok sekarang bukannya besok ya" ujar maryam yang menghampiri hafka.
"Ini mendesak nak nanti kakakmu akan balik lagi kalau ada masa libur" tutur ummi halimah memberi tau.
"Huuffh......maryam pengen ikut, pengen liburan disana" ucap maryam cemberut.
"Lain waktu saja nak, kakakmu sedang buru-bur sekarang biarkan dia pergi nanti juga pulang"
"Tapi lama abi, kalau gak ditelfon gak bakalan pulang" jawab maryam merajuk.
"Kakak janji akan pulang dan nanti akan ajak kamu ke kota, tapi untuk sekarang kakak harus pergi ya kaga ummi sama abi" hafka memberi pengertian agar sang adik tak merajuk lagi.
"Baiklah tapi janji ya akan pulang lagi" ujar maryam menunjukkan jari kelingking dihadapan hafka.
"Iya janji, ya sudah kakak pergi dulu" hafka menerima uluran tangan maryam dan ikut menempelkan jari kelingkingnya pada jari maryam.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam hati-hati nak"
Hafka mengangguk lalu mengambil kopee yang ada di sampingnya dan pergi ke mobil meletakkan barangnya di bagasi belakang. Maryam sangat berat hati ditinggal sama kakak tersayang bahkan ummi halimah dan abi yusud juga sangat berat untuk ditinggal hafka pergi tapi mau tak mau mereka harus melepaskan hafka untuk melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Hafka sudah menyalakan mobil dan perlahan meninggalkan halaman pesantren, para santri yang juga mengetahui hafka membawa koper dan pergi pun sangat sedih, untuk bertemu saja jarang sekali di beri pengarahan dan pengajaran mereka sudah nyaman tapi sekarang harus ditinggal pergi lagi.
Maryam melambaikan tangan dan menyuruh hafka untuk berhati-hati, dan meminta untuk mengabari saat sudah sampai di kota. Hafka sudah meninggalkan halaman pesantren melepas rindu dengan kedua orang tua dan sang adik.