
Malam harinya.
Niko, alif, dan hafka baru selesai pulang dari masjid. Mereka sekarang lagi asyik berkumpul berbincang bersama. Hafka memberi tau kepada niko dan delsa soal kabar kehamilan kakak iparnya.
Niko dan delsa tersenyum bahagia mendengar kabar tersebut.
"alhamdulillah semoga sehat terus sampai persalinan ya." Ucap delsa.
"aamiin."
"kamu kapan nyusul hafka umurmu sudah cukup untuk menikah." Niko bertanya pada hafka.
"hafka masih belum kepikiran untuk ke situ paman, lagi pula hafka belum menemukan orang yang cocok hafka tidak mau terburu-buru paman."Ucap hafka
"apa perlu paman yang mencarikan pasangan untukmu?"Niko mencoba untuk menggoda keponakannya itu
"aahh paman tidak perlu biar Allah sendiri yang menunjukkan kepada hafka siapa jodoh yang cocok untuk menjadi pendamping hafka." Hafka tidak suka yang namanya perjodohan karna buat dia kalau sudah waktunya pasti nanti Allah pertemukan dia dengan jodohnya.
"ya sudah shalatlah dan minta sama Allah agar kamu segera dipertemukan dengannya." Lirih niko mengucapkan dan tersenyum.
"baik paman, hafka pamit ke kamar dulu ya, alif aisyah duluan ya assalamualaikum."
"wa'alaikumussalam."
***********
Verli baru saja pulang, dia membuka mobilnya berjalan masuk ke rumah dengan wajah merenung. Nadin berjalan turun dari tangga menghampiri anak kesayangannya.
Nadin melihat verli merenung dan matanya yang sembab lalu bertanya apa yang terjadi.
"kamu kenapa nak matamu sembab begini kamu habis menangis sayang?" Tanya nadin yang khawatir.
Verli tak tahan menahan air matanya dan akhirnya air mat pun lolos mengalir membasahi pipi verli.
"radit ma dia sudah jahat sama verli, dia selingkuh di belakang verli apalagi perempuan itu sedang hamil anaknya, dia jahat ma!! JAHAT." Verli berteriak hatinya sakit sekali.
"haa apa dia tega denganmu sayang bukannya kalian udah lama pacaran kok dia tega sama kamu." Nadin yang juga terkejut dengan cerita anaknya tak percaya dia hanya bisa memeluk anaknya yang menangis.
"sudah biarkan saja itu artinya dia gak baik untukmu, masih banyak laki-laki diluar sana yang menantimu, kamu cantik sayang sudah ya jangan sedih lagi lupakan dia." Lanjut nadin menenangkan verli.
"gak bisa semudah itu ma dia harus merasakan apa yang aku rasakan, kalau aku tidak bisa mendapatkan radit perempuan itu juga gak boleh bersama radit."Jawab verli tegas lalu berjalan pergi ke kamarnya.
~
~
~
03.00
Hafka bangun dari tidurnya duduk sebentar untuk mengumpulkan sisa nyawanya. Lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Hafka menggelar sajadah dan melaksanakan shalat tahajud setelah selesai dia berdoa dan zdikir. Kemudian dilanjut membaca al-quran, begitulah tiap malam dia bangun untuk shalat. Hafka memang selalu taat atas kewajibannya, dia tak pernah sekalipun meninggalkan shalat wajib maupun shalat sunnah sungguh lelaki idaman.
Biasanya setelah shalat tahajud dia tidak akan tidur lagi, sama seperti sekarang dia tidak tidur selesai membaca al-quran. Hafka mengambil berkas di atas meja melihat isi berkas tersebut. Itu adalah data riwayat penyakit pasiennya, dia mempelajari tentang penyakit pasiennya.
__ADS_1
Keesokan paginya.
Hafka berjalan keluar menuju meja makan.
"bibi dimana alif kok dari tadi hafka tidak melihatnya."Tanya hafka sambil menata duduknya.
"ow alif pagi-pagi udah keluar katanya sih ada kerjaan yang penting." Ujar delsa
"paman juga ikut bersama alif?" Tanyanya lagi
"iya mereka berangkat berdua tadi, mungkin ada rapat mendadak."
Hafkah mengangguk menandakan bahwa dia mengerti dan melanjutkan makannya. Setelah itu dia pamit pergi ke rumah sakit.
Diperjalanan hafka berhenti sejenak di sebuah restoran seperti ingin membeli sesuatu. Dia berjalan lalu duduk disalah satu tempat duduk yang kosong.
Beberapa menit kemudian.
Hafka keluar dari restoran itu menuju mobil, dari kejauhan hafka melihat seseorang sedang bertengkar seorang laki-laki dan perempuan, lelaki itu mencoba menyakiti perempuan yang ada dihadapannya.
"kenapa malah nyalahin aku, seharusnya aku yang marah ke kamu kenapa malah ini kamu jadi emosi ke aku haa!!." Cetus vilda pada radit.
"kamu masih tanya kenapa!... Udah jelas karna ulahmu aku dan fera kehilangan bayi kami masih tanya kenapa haa!!" Ucap radit dengan nada tinggi.
"dasar kau ya." Tangan radit melayang di udara hendak memukul verli namun tangannya tertahan seperti ada yang memeganginya.
Radit menoleh ke belakang, melihat seorang lelaki menahan tangannya yang hendak memukul verli.
"siapa kau beraninya menggangguku pergi jangan ikut campur urusanku."
"ciih siapa kau berani mengaturku, kau gak usah ikut campur urusanku kau bukan siapa-siapa di sini...hmmm apa kau kekasih baru verli hez baru ditinggal sebentar udah punya yang baru ternyata." Ujar radit ketus melihat hafka membela verli dia jadi berfikir bahwa lelaki dihadapannya ini adalah kekasih baru verli.
"ini memang bukan urusan saya tapi kalau kamu berani menyakiti perempuan itu jadi urusan saya, dan saya bukan kekasihnya. Buat apa menjalin hubungan yang tidak ada ikatan didalamnya. Sudah jelas kan bahwa itu dilarang buat apa masih dijalani kalau bisa menghalalkan kenapa malah milih jalur yang salah? Akhirnya jadi begini kan tanpa ada status yang jelas hanya diambang pikiran aja." Hafka mencoba melerai keadaan melihat kemarahan ditatapan radit hafka mencoba meredamnya.
"Gak usah sok menasehatiku lebih baik ngaca dulu sebelum bicara ciih sok bangey nasehatin emang loh jauh lebih baik dari gua hahahah."
"saya memang bukan orang yang lebih baik dari kamu, setidaknya saya masih menjaga batasan, tidak sesuka rela memukul seorang wanita dimana hati nuranimu sebagai seorang lelaki? Apa kamu sebelum memukulnya tidak memikirkan ibumu dia juga perempuan dan kamu lahir dari rahim ibumu yang juga perempuan apa kau tidak memikirkan itu?" Hafka menasehati dari hati ke hati.
Radit diam sejenak mencerna setiap kata yang hafka ucapkan lalu pergi begitu saja meninggalakn hafka dan verli.
"apa anda baik-baik saja?" Tanya hafka tanpa melihat verli.
"ya aku baik-baik saja terima kasih sudah menolongku. Namaku verli, hmm siapa namamu dari awal ketemu aku belum tau namamu?" Verli menyodorkan tangannya berharap hafka balik menyapa.
"Maaf kita bukan mahrom dan belum waktunya anda tau nama saya. Jika memang anda ingin tau siapa nama saya kuncinya adalah shalat diwaktu malam disaat semua orang terlelap maka disitulah anda bisa bercerita dalam sujud sepuasnya......saya permisi assalamualaikum." Hafka menyatukan tangannya didepan dada
sambil menunduk agar tidak melihat wajah verli dan beranjak pergi entah mengapa hafka bisa mengatakan hal itu hatinya tergerak untuk berbicara begitu.
Verli kembali menurunkan tangannya menatap wajah hafka dengan rasa yang tidak bisa diartikan. Ucapan yang dikataka hafka seolah membuka hati verli ada rasa nyaman, kedamain dan kehangatan. Verli mematung sambil menatap hafka yang pergi semakin menjauh darinya. Memikirkan kata-kata yang diucapkan hafka.
*********
Flashback On.
__ADS_1
Verli masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil menangis. Sungguh menyedihkan kisah cintanya dengan radit yang harus kandas hanya gara-gara wanita ketiga dihubungan mereka.
Verli tidak bisa tidur, rasa sakit dihatinya tidak bisa hilang begitu saja.
Ting.
Ada notifikasi masuk di ponsel verli. Tertara nama radit dilayar ponselnya. Verli membuka isi pesan dari radit.
besok temui aku di restoran yang biasa kita tempati, aku tunggu.
Verli bangun dari tidurnya lalu duduk membaca pesan dari radit.
untuk apalagi kamu mau menemuiku gak ada yang bisa kamu jelasin lagi semuanya udah jelas.
Isi pesan balasan dari verli.
Aku gak mau tau intinya kamu harus datang aku mau bilang sesuatu aku tunggu titik.
Verli menghembuskan nafasnya kasar. Dia berfikir mau jelasin apa lagi dia.
*****
Keesokan paginya selesai sarapan verli berpamitan ke mamanya ingin pergi ke kampus. Kenyataannya verli ingin bertemu dengan radit itu hanya alasan saja.
"Entah apalagi yang mau dia jelasin hufftt!!" verli terpaksa menemui radit karna dia orangnya kalau sudah bilang itu dan ini harus diturutin.
Setelah menempuh perjalanan dengan mengendarai mobil akhirnya verli sampai direstoran tempat biasa mereka kunjungi.
Belum sempat verli masuk dari arah belakang seorang lelaki menghampiri verli.
"Akhirnya sampai juga kamu" radit menghampiri verli dengan nada ketus yang diucapkan.
"mau apalagi kamu menemuiku udah jelas semuanya apalagi yang mau kamu jelasin!" hati verli masih sakit dengan apa yang diperbuat radit.
"oke to the point aja, gara-gara kamu fera jadi kehilangan bayinya. Kamu harus tanggung jawab verli!" ketus radit
"itu bukan salahku dia sendiri yang awalnya cari masalah denganku dia jatuh ya kan karna ulahnya sendiri" verli tidak terima radit malah menyalahkannya lalu verli berjalan keluar menuju mobilnya.
Radit mengikuti verli memegang tangannya dan menariknya dengan kasar.
"hei aku belum selesai denganmu mau kemana kau? Mau lari heh gak akan aku biarin" ketus radit semakin kesal.
"Jelas itu salahmu, kamu bikin dia jatuh dengan mendorongnya apa itu bukan kesalahan haa masih ngelak". tambah radit yang sudah naik darah dengan omongan verli.
"kenapa malah nyalahin aku, seharusnya aku yang marah ke kamu kenapa malah ini kamu jadi emosi ke aku haa udah jelas kamu yang selingkuh!!." Cetus vilda pada radit.
"kamu masih tanya kenapa!... Udah jelas karna ulahmu aku dan fera kehilangan bayi kami masih tanya kenapa!!" Ucap radit dengan nada tinggi.
"dasar kau ya." Tangan radit melayang di udara hendak memukul verli namun tangannya tertahan seperti ada yang memeganginya.
Radit menoleh ke belakang, melihat seorang lelaki menahan tangannya yang hendak memukul verli. Ternyata hafka menahan tangan radit agar tidak mendarat di pipi verli.
Flasback Off.
__ADS_1
Hai para readers setia ini adalah karya pertama author 🤗 dukung terus karya author ya biar tambah semangat.
Bantu Vote, Like, dan jangan lupa tinggalkan Komentarnya🤗.