
Verli membuka layar HP nya dan melihat entah nomer siapa yang masuk. Segera verli membuka pesan dari nomer tersebut. Ada tiga kiriman foto dan ada pesan yang membuat hatinya mendung. Jemarinya mulai mengunduh satu per satu foto tersebut. Saat terbuka wajahnya berubah sendu dan muram.
Hatinya sakit saat melihat orang yang dicintai bermesraan dengan wanita lain. Tapi ia menepis perasaan itu agar tak menimbulkan fitnah. Verli berniat menyusul hafka ke rumah sakit untuk membuktikan apakah yang ada dalam foto itu benar adanya. Kebetulan ada berkas hafka di atas meja sepertinya ketinggalan. Itu bisa dijadikan alasan untuk verli menyusul hafka sekalian nganter berkas tersebut
Verli bergegas mengambil tas dan HP nya lalu keluar dari kamarnya. Didepan ada ummi halimah bersama fatma. Mereka sedang mengobrol. Verli menghampiri untuk meminta izin menyusul hafka.
"Ummi...." ucap verli.
"Ada apa nak.....eh mau kemana bawa tas segala?" tanya ummi halimah yang menjawab panggilan verli dan menoleh ke arahnya.
"Mau nyusul mas hafka ke rumah sakit ummi" katanya.
"Tumben kamu mau nyusul kesana biasanya juga nunggu, apa ada barang yang ketinggalan?" tanya fatma.
"Iya mbak, ini sepertinya berkas milik mas hafka ketinggalan aku mau nganter kesana" ucap verli.
"Ow ya sudah kamu hati-hati, naik apa kesananya?"
"Verli pesan grab saja" katanya.
"Ya sudah"
"Verli pamit ummi, mbak, assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam" jawab mereka serentak.
Didepan gerbang pesantren verli menunggu grab pesanannya datang. Tak lama yang ditunggu datang juga. Segera ia naik dan melesat menuju tujuan.
Beberapa menit.
Verli sudah sampai didepan rumah sakit tempat hafka bekerja. Langkahnya tergopoh menuju ruangan suaminya, tapi langkahnya terhenti saat orang yang tadi mengirim foto ada didepannya. Verli begitu marah tapi berusaha untuk sabar menghadapi wanita penggoda seperti jihan. Ia akan menunjukkan bahwa hafka adalah miliknya seorang.
Jihan tersenyum kecut ke arah verli seolah meledeknya. Verli benar-benar diuji kesabarannya menghadapi jihan. Mulut nenek lampir itu mulai berbicara pedas ke verli, tak menghiraukan suasana dan keadaan. Yang jelas keinginannya harus terwujud.
"Wah nekat juga kamu kesini, gimana menurutmu hafka cocok kan denganku!! Dia aja perhatian dan romantis, kau tak cocok dengan hafka" mulut pedas jihan mulai beraksi.
"Apa maksudmu mengirim foto tadi? Seharusnya kau tak menggoda suamiku, dimana harga dirimu kau seorang dokter" ucap verli yang kesal.
__ADS_1
Jihan menarik lengan verli menuju tempat yang sekiranya tak ramai orang. Disana jihan pasti bisa leluasa memanas-manasi verli. Harapannya verli akan bertengkar dengan hafka dan minta cerai. Dia memojokkan verli dilorong rumah sakit yang sepi. Mulut cabe itu mulai beraksi lagi lebih ganas
Verli tak gentar walaupun disembur lava yang panas. Hatinya percaya dengan hafka kalau suaminya tidak akan seperti itu. Ia harus membuktikan kalau dia istri sah nya bukan jihan yang gatel minta digaruk pakai pisau sekalian.
Verli yang sudah tak tahan dengan ocehan jihan memutuskan untuk pergi tak menghiraukan ucapan nenek lampur itu. Tapi jihan berusaha mencegah agar verli tetap berada disana dan membuat hatinya makin panas. Verli tetap melangkah sampai jihan menariknya dengan keras tapi tangannya menepis pegangan tangan jihan. Tak jauh dari sana hafka berjalan menuju ke arah mereka. Jihan pura-pura terjatuh didorong oleh verli.
Sontak hafka kaget melihat verli ada dirumah sakit dan jihan yang terduduk dilantai. Hafka tak tau apa permasalahan diantara mereka. Tatapan verli datar lalu mendekati hafka dan langsung memeluknya dengan erat seolah tak mau melepaskan sang pangeran.
"Kamu kenapa? Kok ada disini dan jihan kok kamu duduk dilantai" kata hafka yang masih belum mengerti.
"Istrimu yang sudah mendorongku sampai terjatuh, kaki ku sakit sepertinya terkilir. Kamu lihat kan tadi kalau dia mendorongku" ucap jihan dengan wajah yang dibuat sedih dan menjadi orang yang tertindas.
Hafka menoleh ke arah verli yang masih memeluknya. Ia jadi bingung dengan permasalahan ini.
"Aku gak ngapa-ngapain jihan kok, dia sendiri yang memancingku dari tadi. Niatku kesini mau nemuin kamu sekalian antar ini berkas yang tertinggak dimeja" sahut verli.
"Bohong, jelas-jelas kamu tadi mendorongku sampai terjatuh masih aja gak ngaku, istrimu itu memang jago akting ya. Kenapa kau milik dia sebagai istrimu" ketus jihan.
"Kalau jodohku mas hafka kamu mau apa? Tak bisa kan kamu melawan takdir yang sudah ditentukan. Dan satu lagi ini...." Verli menunjukkan foto yang tadi dikirim oleh jihan kepadanya. Hafka terbelalak melihat foto yanh ditunjukkan oleh verli. Terlihat jelas dalam foto hafka seolah bermesraan sama jihan padahal kenyataannya tidak.
"Dari mana kamu mendapat foto ini? Aku tak merasa melakukannya kamu jangan salah paham dulu" kilah hafka yang takut verli akan marah padanya.
"Emang benar kok foto itu, Hafka lebih memilihku dibanding kau. Kalau tidak ngapain juga hafka mau bermesraan denganku" ujar jihan memancing emosi verli.
"Jangan percaya itu semua fitnah, aku gak pernah melakukan itu dek" sahut hafka yang mulai khawatir.
"Emang ya kalau dasarnya penggoda dan sudah terobsesi sama suami orang ya jadi begini segala cara dilakukan. Dengar ya hafka adalah suamiku, akulah istri sah nya bukan kau yang hanya sebatas teman kerja. Lagian kalau dipikir pakai logika gak mungkin foto itu bisa ada sedangkan kau bersama suamiku lalu yang ngambil foto siapa? Oh iya kamu nyuruh orang kan agar aku terpancing? Seolah kamu bermesraan dengan suamiku padahal kenyataannya TIDAK" tegas Verli sembari menyindir.
Jihan naik darah mendengar perkataan verli. Ternyata ekspektasinya tak sesuai realita. Veeli bahkan tak goyah mendapat foto tersebut walau pun awalnya tak terima dan sakit dihati.
Untung tempat yang sekarang mereka berdebat tak banyak orang palingan juga OB yang lewat dan beberapa orang saja.
"Kau tak pantas untuk hafka, seharusnya aku yang bersama dia bukan kau. Aku akan membuat hidupmu hancur verli" teriak jihan yang sudah naik darah.
"Loh kok marah sih, harusnya aku yang marah bukan kamu. Ups....telinganya panas ya, naik darah tuh udah berasap ngebuk dikepala mendingan dinginin dulu dari pada pingsan disini gak ada yang nolongin" Kata Verli menghadapi jihan dengan santai walau pun awalnya mau terbawa omongan jihan.
"Udah ayo kita pergi dari sini gak usah di ladenin. Jihan ku tegaskan sama kamu jangan pernah deketin aku atau ganggu istriku kalau kamu tidak mau pekerjaanmu lebur" ancam hafka menegaskan.
__ADS_1
"Hafka kau mengancamku!! Jelas-jelas aku yang tulus denganmu bukan dia, kenapa kamu malah memilih dia dibanding aku yang cantik tak kalah dengannya"
"Harusnya kamu menjaga martabatmu sebagai wanita, jangan merendahkan harga dirimm sendiri untuk mengejar lelaki yang sudah bukan menjadi milikmu. Banyak lelaki dililuar sana yang masih lajang bukan beristri, jangan sampai orang tuamu malu menanggung semua sikapmu harusnya kamu buat mereka bangga bukan malah mempermalukan" sahut verli.
Setelah berucap demikian verli segera menarik hafka untuk menjauhi jihan. Mereka berjalan menuju ruang pribadi hafka.
Disana verli langsung duduk meketakkan tas disampingnya. Hafka menutup pintu lalu duduk disebelah verli sembari melihat ke arah verli.
"Maafkan aku yang salah, foto itu semuanya tidak benar. Aku tak sengaja menabrak jihan yang hampir terjatuh terus aku tolongin setelah itu aku pergi tapi dia mengejar dan menarik tanganku. Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu bersedih" keluh hafka yang merasa bersalah tak berani menatap verli lagi.
Verli menghadap ke arah hafka yang menunduk. Lalu memegang tangan hafka, menggemgang dengan erat.
"Bukan salah kamu mas, itu semua salah jihan yang mencoba merusak rumah tangga kita. Aku gak mempermasalah kan kok, ya mungkin tadi hatiku perih melihatmu dengan jihan sedekat itu tapi sekarang enggak kok. Jangan merasa bersalah seperti itu aku gak pa-pa" ucap verli dengan lembut dan nada yang halus.
"Tetap saja aku salah gak bisa menjaga perasaan kamu" ujarnya dengan wajah yang sendu.
"Udah gak usah dipikirin mas....kamu gak ingat pas dimobil waktu itu saat leysa menelfon kita, dia sudah memperingatkan pada kita untuk hati-hati sama jihan...gak lupa kan?" tanya Verli pada hafka.
"Kamu benar dek. Jihan mempunyai rencana untuk memisahkan kita.....aku akan berhati-hati lagi" kata hafka.
"Nah jadi aku gak mempermasalahkan itu, lagian itu rencana licik jihan dan fera. Yang penting hati kamu buat aku bukan dia" ujarnya tersenyum manis memeluk hafka.
"Makasih ya kamu sangat pengertian. Aku suka kalau kamu manja begini seharian juga boleh" ucap hafka yang tersenyum membalas perlakukan verli.
Hafka jadi melupakan tugasnya yang sedang berada dirumah sakit. Karna terbuai suasana jadi dua sijoli itu lupa kalau mereka berada dirumah sakit bukan dirumah yang bida bebas merangkul, mencium dan lebih dalam lagi.
"Eh aku kerja dulu ya, makasih udah nganterin berkasku ke sini. Kamu pulang saja nanti setelah selesai aku langsung pulang kamu mau nitip apa sekalian aku beliin"
"Hmm martabak manis sama martabak telur belikan buat aku sama ummi, ada kak fatma juga sekalian ya" pintanya.
"Siap!" ucap hafka mengacungkan kedua jempolnya ke depan verli.
♥☆♥☆♥☆♥
(Flasback On Leysa)
Leysa sudah kembali dari toilet. Ia menuju mobil untuk langsung pulang. Saat tangannya meraba isi dala tas untuk mengambil kunci dan mau membuka pintu mobil, matanya melihat sepupunya bersama perempuan sednag mengobrol serius. Tak sengaja Leysa mendengar perempuan itu menyebut-nyebut nama kakaknya verli.
__ADS_1
Leysa penasaran dengan obrolan mereka. Telinganya menguping pembicaraan mereka dari balik mobil yang dibelakangi jihan dan fera. Leysa agak menjauh sedikit agar tidak ketahuan kalau menguping. Mereka berbicara menyusun rencana, Leysa ditambah penasaran dan serius mendengarkan sembari merekam di HP nya.