CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 32. MEMINTA IZIN


__ADS_3

"Ya semoga aja suatu saat nanti kamu bisa pindah tugas kesini, gak sendiri tapi......" devan menahan tawa ingin jujur takut hafka tersinggung tapi ya udahlah diomongin aja toh hanya sebagai gurauan.


"Tapi apa....." hafka geram karna devan tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi sama gandengan tangan dong hihihi" jujur devan sembari senyum-senyum tanpa dosa.


"Gandengan apa makaudmu?" tanya hafka yang belum paham dengan ucapan devan.


"Ya ampun masak gak paham sih, itu gandengan tangan sama pasanganlah gitu aja pura-pura gak peka" jawab ketus devan.


"Mulut kamu itu dijaga dikit ngapa sih gak asal nyeplos aja van, aku emang gak peka bukan pira-pura gak peka!" ucap hafka membulatkan matanya seketika tiba-tiba hatinya terusik.


"Santai aja lah gak usah ngegas ka bercanda kok" devan tau sifat hafka yang tidak suka mengungkit hal tentang perempuan didepannya kalau itu bukan pilihan hati hafka sendiri.


"Bercandamu gak lucu" ucapnya hafka membuang muka.


"Hmm ya udahlah aku mau ke pesantren aja ikut gak?"


"Ya udah sekalian aja aku juga mau balik"


"Ya udah ayo"


Mereka berjalan beriringan ke depan lalu mengambil motor masing-masing dan pergi menuju pesantren.


*******


Verli tengah duduk dihalaman samping sedang menyirami tanamannya yang sudah mulai berkembang banyak. Dari arah samping nadin berjalan menuju verli sambil membawa jus. Nadin menaruh jus diatas meja lalu mengamati verli yang sedang asyik menyiram tanaman-tanaman itu.


"Verli ini jusnya diminum dulu nanti dilanjut lagi ya" ujar nadin.


"Eh mama ngagetin aja, iya ma bentar hampir selesai kok" jawab verli sempat kaget.


"Ya sudah mama bantu ya kamu rehat dulu" ucap nadin memaksa.


"Gak usah ma verli bisa sendiri kok, gak usah dibantuin verli udah bisa" jawab verli mantap.


Verli mengayunkan kursi rodanya menuju tempat nadin duduk yang tak jauh darinya. Nadin hanya mengamati saja karna memang verlu tak mau dibantu, hati nadin merasa bangga dengan verli walaupun dengan kekurangannya tidak membuat semangat dalam dirinya menciut malah semakin bertambah.

__ADS_1


"Mana mah" pinta verli membuat nadin buyar melamun.


"Eh ini..." jawab nadin menyodorkan satu gelas beriai jus avukat kesukaan verli.


"Makasih ma" ucapan dari verli.


"Iya habisin oke!!"


"Siap"


Verli meneguk sedikit demi sedikit jus buatan nadin sampai tak bersisa, ia meminum habis lalu menaruh kembali gelas tersebut ke atas meja.


Verli mikir-mikir ingin ngomong sesuatu pada nadin tapi takut jawaban dari nadin tak sesuai, karna belum mencoba dan tak tau hasilnya verli pun memilih bicara terang-terangan mengeluarkan unek-uneknya yang tegah disimpan dalam memori. Verli sudah siap untuk bicara sepertinya hal yang penting.


"Maa...verlu mau ngomong sesuatu boleh tapi mama dengerin dulu ya" ucap verli akhirnya membuka suara tapi sedikit ragu.


"Iya kamu mau ngomong apa sayang, bicara saja mama dengarkan" jawab nadin yang sudah menata duduknya menghadap verli yang siap mendengarkan semua curahan hati verli.


"Ma aku dirumah kan gak ngapa-ngapain kuliah pun verli online, verli pengen bisa belajar menuntut ilmu agama lebih dalam lagi....kalau boleh verli ingin belajar dipesantren tupun kalau diperbolehkan sama mama dan papa" papar verli berharap snag mama menyetujuinya.


"Kamu beneran? itu artinya kamu jauh dari mama, dan kuliahmu bagaimana?" nadin takut dengan keadaan verli yangs sekarang tak mungkin kan bisa ke pesantwren sendirian.


"Kamu mantepin dulu dan tata hatimu kalau memang udah bener-bener yakin nanti kita bicarain sama papa"


"Verli udah mantepin hati ma dari kemarin-kemarin mangkanya verli berani bilang ke mama sekarang kalau enggak ya gak mungkin verli bisa minta izin ke mama" jelas verli.


"Hmm......nanti kita bicarain sama papa dulu ya mama gak bisa mengambil keputusan sepihak nak" jawab nadinyang merasa bingung.


"Oke lah nanti verli akan minta izin juga ke papa dan kak frisko"


"Nah itu lebih bagus"


"Ya udah mama masuk dulu ya, kamu mau tetap disini?" tanya nadin.


"Iya verli masih ingin disini mama kalau mau masuk gak apa" jawab verli.


"Ya sudah mama masuk dulu" Ucap nadin mengelus kepala verli lalau beejalan meninggalkan verli yang masih ingin bersantai dihalaman belakang.

__ADS_1


Verli menjawab hanya dengan anggukan saja, verli sekarang sudah merasa tenang karna udah meminta izin walaupun belum dapat jawaban ia akan izin lagi sama papanya nanti. Sekarang ia menikmati pagi dengan ditemani tanaman indah miliknya yang penuh harum karna bunga itu diterpa angin menyejukkan hati verli.


Sore hari safren sudah pulang dari kantor bebarengan denga frisko yang baru masuk perkarangan rumah disambut manis oleh nadin didepan pintu lalu menjuluska tangan dan menyalami tangan suaminya. Frisko yang baru keluar mobil langsung menghampiri nadin dan safren lalu mencium tangan mereka bergantian.


Nadin bersama suami dan putranya langsung masuk ke dalam mereka duduk bersandar diaofa ruang tamu, disana sudah ada verli yang menunggu sambil memakan camilan.


Tau bahwa papa dan kakaknya datang verli langsung mencium punggung mereka bergantian sambil tersenyum. Pergi ke dapur untuk membuatkan teh suaminya, sedangkan verli masih asyik mengobrol bersenda gurau di ruang tamu. Nadin jadi teringat ucapan verli tadi siang yang meminta izin untuk belajar dipesantren, hari ini nadin berniat untuk mengobrol soal itu kepada suami dan putranya. Karna nadin juga ingin berdiskusi tak mau mengambil keputusan sepihak saja.


Verli masih mengobrol kecil bersama papa dan kakaknya. Verli juga memikirkan ingin meminta izin kepada mereka tapi nunggu sang mama datang biar enak mengobrol.


"Pa gimana tadi dikantor banyak kah pekerjaannya?" tanya verli basa basi untuk mengjilangkan rasa takutnya.


"Gak terlalu banyak juga tapi ya gak sedikit, tengah-tengah lah lumayan" jawab safren.


Tak lama nadin datang membawa dua cangkir teh untuk safren dan frisko lalu ia taruh diatas meja.


"Ngobrol apa sih kayaknya seru banget" tanya nadin lalu ikut duduk.


"Gak ngobrol apa-apa hanya gurauan biasa ma" jawab frisko mengambil teh yang tadi dibuat oleh nadin.


"Ow kitain ngobrolin apa"


Verli bingung harus bilang dari mana sama safren dan frisko. Ia mengkode nadin agar mau membantunya meminta izin, mau tak mau nadin akhirnya membantu verli untuk ngobrol sama safren. Takut nanti papanya gak mengizinkan verli mangkanya ia meminta sang mama yang bicara, namun verlu juga ikut menjelaskan alasannya.


"Pa hmm.....ada yang ingin verli bicarakan sama papa dan frisko" ujar nadin tiba-tiba serius.


"Mau bicara apa nak kayaknya penting banget" jawab safren meletakkan cangkir yang digenggamnya.


"Haduh ma kok malah nyerahin ke aku sih kan tadi verli udah minta mama yang bicara sekarang malah ditimpal ke aku, duh gimana ya, marah gak ya, takut papa sama kak friako gak ngizinin" gumam verli yang cemas, itu tak luput dari tatapan safren.


"Dek kamu mau ngomong apa kok malah diam" tanya frisko membuat verli gelagapan untuk menjawab.


"Haaa....ah itu apa hmmm....." verli bingung dan gelagapan menjawab pertanyaan frisko karna terkejut juga.


"Verli mau minta izin.......apa boleh verli belajar dan menuntut ilmu dipesantren, verli pengen belajar lebih luar lagi tentang ilmu agama, kalau soal kuliah tenang aja verli akan tetap ikut kuliah kok." papar verli yang masih cemaa.


Safren dan frisko diam sejenak mencerna semua ucapan dan penjelasan verli. Safren cukup terkejut dengan penuturan verli tadi karna selama ini kan verli adalah anak yang manja dan suka berfoya-foya tapi sekarang berubah drastis menjadi anak yang sholehah dan lembut. Frisko pun juga kaget tapi masih diam menunggu jawaban dari papanya karna ia juga gak bisa memutuskan sepihak tanpa persetujuan sang papa.

__ADS_1


"Kamu serius nak? nanti kamu disana sama siapa dan keadaanmu masih begini gak mungkin kamu sendirian" jawab safren.


"Pa verli pasti baik-baik aja kok, kan disana juga banyak teman banyak yang bimbing, ayolah pa boleh ya verli mohon" verli benar-benar sangat memohon kepada safren, kalau masalah nadin itu semua juga diserahkan pada suaminya.


__ADS_2