
Lama bercerita mereka menyudahi obrolan dan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur berjama'ah. Setelah dari masjid devan kembali kerumahnya dan nanti akan kembali saat sore untuk mengajar mengaji lagi. Sedangkan hafka berada di kamarnya memandangi layar hanphone yang menyala, sampai ada yang memanggilnya untuk makan siang karna ia belum sempet makan siang tadi.
"Iya umi sebentar nanti hafka kesana" jawab hafka.
Hafka pun berjalan pergi menuju meja makan, mengambil nasi secukupnya lalu melahap habis. Ia makan sendiri karena yang lain sudah makan sejak tadi, karna umi halimah tak kunjung tau hafka makan oleh sebab itu tadi memanggil hafka untuk makan siang.
Sore ini hafka ada acara bersama kenza menggantikan abi yusuf di acara pengajian yang seharusnya di isi oleh abi yusuf sekarang diserahkam kepada hafka yang akan ditemani oleh kakaknya.
Hafka tengah bersiap selesai shalat ashar, ia akan berangkat bersama kenza. Fatma dititipkan pada ummi halimah karna kenza tak tega meninggalkan sendiri dirumah dengan keadaan sedang mengandung. Sore itu pun mereka berdua berangkat bersama menggunakan mobil hafka, tempatnya agak jauh dari pesantren jadi mereka berangkat mengawali.
Sampai ditempat hafka dan kenza disambut penuh hormat oleh orang-orang yang ada disana, salah satunya adalah kawan dekat abi yusuf yang mengundang untuk mengisi acara pengajian di masjid besar yang memang biasanya rutin melakukan pengajian dan pengisinya pun kadang berbeda-beda di ambil dari luar. Ini adalah kali pertama hafka mengisi pengajian biasanya ia akan ceramah hanya di pesantren saja, namun sekarang lain. Abi yusuf menyerahkan pada hafka karna beliau tau bahwa hafka mampu untuk melakukannya.
Sore itu acara pengajian berjalan dengan lancar, hafka dengan hikmat lancar begitu saja saat mengisi tausiyah bahkan tanpa gerogi sama sekali. Karna memang hafka sudah terbiasa melakukan itu walaupun hanya dilingkungan pesantren. Pesan yang disampaikan hafka sangat menohok dihati pendengar, kata-kata yang lembut namun juga sangat menyentuh hati. Itulah kelebihan yang tak pernah orang ketahui dari sisi lain seorang hafka.
Setelah acara selesai hafka dan kenza berpamitan untuk pulang, kawan abi yusuf sangat bangga melihat keteguhan hafka dan kenza. Sangat berwibawa dan sholeh, sama persis dengan sang ayah yang sangat berpegang teguh dengan keyakinannya.
Mobil mereka sudah memasuki area pesantren, abi yusuf juga baru saja selesai mengisi tausiyah dimasjid pesantren. Hafka masuk bersama kenza disambut senyuman manis oleh sang ibu, mereka pun duduk diruang tengah bersama ummi halimah dan abi yusuf.
"Bagaimana nak tadi lancar kan?" tanya abi yusuf membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar abi, tanpa halangan suatu apapun" jawab hafka mantap.
"Alhamdulillah kalau begitu" ujarnya.
"Hafka mah bi sangat bagus tadi tausiyahnya, menyentuh hati banget lain kali hafka aja suruh gantikan abi" ucap kenza sembari menoleh pada hafka.
"Kenapa gak abang aja, malah diserahin ke aku, kan gak tiap hari ada disini sedangkan abang bisa setiap saat kemari" celetus hafka.
"Ya kamu pikir-pikir dulu lah dek buat tugas didaerah sini biar dekat juga dengan kami, gak kasihan sama abi dan ummi"
"Iya hafka usahain, tapi semua kepetusan bukan di tangan hafka ya berdoa saja semoga bisa dapat tugas didekat sini"
__ADS_1
"Ummi berharap kamu bisa dekat selalu dengan kami nak, semoga aja bisa ya,"
"Aamiin" jawab mereka serentak.
"Kalian bersiap dulu untuk shalat magrib setelah itu kita pergi berjamaah" kata abi yusuf.
"Baik abi, hafka ke kamar dulu ya ummi abi"
"Ya nak"
Setelah lepergian hafka disusul sama kenza yang ikut pergi ke kamar untuk bersiap juga, fatma akan ikut berjamaah bersama ummi halimah dimasjid. Setelah siap hafka pergi duluan bersama abi yusuf dan kenza mengikuti dari belakang.
...Ω♡Ω♡Ω♡Ω♡Ω♡Ω♡Ω...
Verli sudah balik dari kampusnya tadi dijemput oleh frisko dan kely dijemput oleh supirnya. Kini gadis itu tengah mandi untuk menghilangkan rasa penat dan capek seharian dikampus apalagi sempat bertemu dengan mantan kekasihnya yang nyebelin. Tapi verli bahkan tidak terpancing emosi, sekarang ia bisa menahan amarahnya dengan baik walaupun tadi ia sempat mau menyeletus namun berhasil ia tahan. Dan malah dua kekasih itu merasa kesal balik dengan omongan verli, tidak hanya mereka berdua sekaligus mahasiswa yang tadinya menyinyir verli seketika diam dan tak berbicara.
Verli sudah wangi dan segar selepas mandi, ia menggelar sajadah bersiap melaksanakan shalat tiga rakaat lalu ia lanjutkan membaca al-qur'an. Peristiwa kecelakaan itu benar-benar mengubah hidup verli, dari yang dulu bandel, nakal, suka berfoya-foya kini berganti dengan sikap yang lembut, ramah, dan suka tersenyum. Verli merasa bersyukur masih diberi kesempatan hidup oleh Allah walaupun begitu banyak kesalahan yang ia lakukan.
Sekarang verli tengah makan malam bersama kedua orang tuanya dan frisko. Nadin memasak menu spesial untuk anak tercinta dibantu oleh ART nya tentu menu kesukaan anak dan suaminya. Verli sudah duduk manis dimeja makan, sambil nadin membantunya mengambil nasi untuknya. Frisko menghampiri mereka yang tengah duduk dimeja makan sambik melihat semua menu yang tertata rapi diatas meja.
"Wah kelihatan enak semua nih" celetus frisko yang baru datang.
"Ya tentu dong kak, masakan mama mah gak usah dihiraukan lagi rasanya pasti dijamin mantul" jawab verli.
"Jangan dilihatin aja dong ko ayo makan kalau diliatin aja mana bisa itu makanan masuk dalam perutmu" ucap safren membuat verli dan nadin tertawa kecil.
"Iya pa, ini mau diambil lagian mana bisa sih aku biarin makanan enak ini tak dilahap" ujarnya seraya mengambil nasi dan lauk yang tertata.
"Dek mau disuapin gak" ucap frisko menoleh ke arah verli.
"Buat apa disuapin emangnya aku anak kecil yang masih disuapin sama ibunya, aku bisa sendiri kak gak perlu disuapin kayak bocah" merengut verli.
__ADS_1
"Hehehe maaf dek, kakak hanya nawarin aja gak usah cemberut" ucap frisko memperlihatkan deretan giginya.
Verli tak menggubris ucapan frisko, ia lebih memilih melahap makanan didepannya tanpa mendengarkab ocehan frisko.
"Verli tadi gimana kuliahnya gak ada yang macem-macem kan sama kamu" ucap safren menyelidik.
"Gak ada, papa tenang aja kalau pun ada mungkin mereka cuma mengoceh sendiri" jawab verli santai tanpa mau membahas msalahnya tadi dengan radit.
"Masak sih dek, tadi teman-teman mu pada ngelihatin kayak gak suka gitu" saut frisko.
"Ya biarin ajalah kak, mungkin mereka baru melihat diri verli yang sekarang wajar lah mereka begitu"
"Tapi kamu beneran gak apa kan sayang, gak ada yang ngasarin kamu kan?" tanya safren memastikan.
"Gak ada pa, mama sama papa tenang saja gak ada kok yang berani kasarin verli, kalau pun ada nanti akan verli adukan ke papa" jawab verli meyakinkan sekaligus menenangkan.
"Kalau mantanmu?" ucap frisko membuat verli menghentikan aktivitas makannya.
"Maksud kakak!!" verli pura-pura tak mengerti padahal ia amat paham dengan ucapan kakaknya.
"Tadi dia datengin kamu kan?"
"Kakak tau dari mana kalau radit tadi datengin aku" verli takut kalau frisko akan memberi perhitungan dengan radit.
"Kely yang memberi tau kakak tadi saat mau menjemputmu dikelas" jawab frisko, sontak kedua pasang mata orang tuanya mengarah ke verli.
"Iya memang tadi radit nyamperin aku sama pacar barunya" verli tak bisa mengelak lagi percuma juga kalau berbohong toh kakaknya sudah tau.
"Verli jelasin sama papa apa maksud perkataan frisko tadi" ucap safren.
"Nanti verli jelasin ya sekarang kita jabiskan dulu makannya, gak baik makan sambil bicara" ujar verli.
__ADS_1
Safren dan nadin pun menurut saja, setelah makan malam selesai mereka tengah berkumpul diruang tengah ingin sekali mendengar penjelasan verli. Karna safren dan nadin begitu menyayangi verli, tak mau anaknya tersakiti lagi.