CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 80. PROSES PERSALINAN


__ADS_3

Didepan gerbang mobil Hafka masuk melewati halaman yang luas. Lalu ia turun memasuki rumahnya setelah mengucap salam dan menyalami kedua orang tuanya. Hafka pun masuk ke kamarnya sembari membawa tas yang dipegang sedari tadi. Tanpa sadar ada seseorang didalam kamarnya.


"Assalamu'alaikum imamku" ucap Verli menghampiri Hafka dengan wajah tersenyum lebar.


Seketika Hafka kaget karna Verli tiba-tiba sudah ada dikamar, padahal tadi dia mengatakan akan menjempur akhir pekan. Hafka melamun tak menjawab salam dari istrinya, sampai Verli sudah ada dihadapannya.


"Kok gak dijawab salamku mas!" ucap Verli yang sudah dihadapan Hafka.


"Wa'alaikumussalam, kamu kok bisa ada dikamar kesini sama siapa tadi katanya mau tinggal dirumah mama" kata Hafka membalas uluran tangan Verli.


"Gak pa-pa, aku minta maaf ya seharusnya aku menemanimu bukan malah mementingkan ego" sesal Verli menunduk.


"Jadi kamu pulang karna itu? aku gak masalah kok, jangan merasa bersalah begitu....aku senang kamu ada disini semangatku nambah lagi deh" ucap Hafka sumringah.


"Maaf ya, udah makan belum? aku masakin makanan kesukaan kamu mau gak?"


"Boleh, tapi aku mau beres-beres dan mandi dulu"


"Ya aku siapkan dulu nanti kamu nyusul"


Hafka pergi berlalu ke kamar mandi dan Verli pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan buat Hafka. Setelah semua selesai Verli menata dengan rapi di meja makan.


Selang beberapa menit Hafka sudah duduk manis dimeja makan bersama Verli. Mereka pun makan bersama dengan diiringi candaan.


Sisa piring kotor dibawa oleh Verli ke wastafel untuk dicuci lalu ia pergi ke kamar. Ia duduk disamping Hafka yang tengah beristirahat.


"Mas capek ya aku pijitin mau?"


"Gak usah kamu juga pasti capek, istirahat saja besok kamu kuliah gak?"


"Harusnya sih tapi...." Verli memotong ucapannya.


"Tapi apa?"


"Jauh lah mas bolak balik, lusa aja gak pa-pa" lanjut Verli.


"Lah kalau udah tau masuk kenapa tadi pulang kesini harusnya disana saja" ucap Hafka. Padahal hatinya juga menginginkan Verli selalu ada didekatnya.


"Gak apa mas, kasihan kalau kamu tidur sendiri gak ada yang dipeluk" ucapnya terkekeh.

__ADS_1


"Udah bisa menggoda ya sekarang"


"Biasa aja tuh, wajarkan aku kan istri kamu kalau gak aku siapa lagi yang akan peluk kamu mas kalau malam" ujarnya.


"Tau aja" sahut Hafka terkekeh.


******


"Gimana lagi kita misahin mereka, cara apapun gak mempan buat misahi. mereka berdua" ujar seseorang.


"Culik aja si Verli terus bunuh sekalian kalau perlu beres kan, gak perlu memisahkan mereka atau dengan kata cerai"


"Gila ya aku gak mungkin bisa senekat itu, aku memang menginginkan Hafka dan memisahkan Verli darinya tapi bukan dengan cara membunuh" ucap Jihan tegas.


"Loh tuh ingin dapetin dia tapi gak mau dengan cara mudah maunya yang lembut. Tinggal suruh orang buat culik Verli terus bunuh dia dan membereskan jejaknya gak bakalan ada yang tau"


"Fera aku bukan perempuan yang bisa nekat sepertimu, bagaimana pun kamu menyembunyikan bangkai dengan cara yang aman sekali pun pasti akan tercium juga dan aku gak mau ambil resiko. Yang ada karirku akan hancur jika ketahuan membunuh orang" Tegas Jihan.


"Ya udah terserah loh, yang jelas aku akan melakukannya, dengan atau tidaknya dirimu."


"Oke, aku gak mau ikut campur lagi dengan rencanamu, aku akan memisahkan mereka dengan caraku sendiri" sahut Jihan yang langsung pergi dari tempatnya.


Di sisi lain.


Jihan menaiki mobilnya berlalu pergi. Dijalan sambil menyetir dia terus bergumam sendiri tentang apa yang dikatakan Fera tadi.


"Itu orang gak ada takutnya, aku memang gak suka Hafka bersama dia tapi bukan dengan cara nekat seperti itu. Ahh sudahlah aku akan membuat rencana sendiri dari pada harus terlibat hukum"


"Sekarang mending pulang saja, besok harus kerja lagi dan pasti ketemu Hafka, aahh gak sabar"


Jihan pun pulang kerumahnya. Mengendarai dengan kecepatan sedang melewati kota-kota yang menjulang.


♡♥♡♥♡♥♡


Pagi yang cerah menemani si cantik Verli sudah berkutat didaput bersama Ummi nya menyiapkan sarapan. Semua sudah rapi dan selesai lalu dibawa ke meja makan.


Verli pergi sebentar ke kamar untuk melihat suaminya sudah siap apa belum. Sampai disana Verli melihat suaminya yang clingukan seperti mencari sesuatu. Ia menghampiri dan menanyakan.


"Cari apa mas?" tanya Verli.

__ADS_1


Hafka menoleh, "cari berkas yang aku taruh di atas meja sini semalam kamu tau gak dek?"


"Ow yang di map biru bukan?"


"Nah iya betul, dimana itu kamu yang nyimpen"


"Iya tadi tuh jatuh dikolong meja saat aku membersihkan kamar, bentar aku ambilkan"


Verli mengambil sesuatu dari dalam laci yang ternyata map lalu diberikan keoada suaminya.


"Terima kasih sayang," ucap Hafka.


"Iya, yuk kita sarapan sudah siap semuanya"


"Ayok"


Mereka pun makan bersama diruang makan. Lalu Hafka pamit untuk berangkat kerja. Setelah kepergian suaminya, Verli kembali masuk ke dalam membantu sang Ummi untuk membersihkan sisa sarapan. Kebetulan Fatma ada dirumah mertuanya juga.


Fatma berbincang dengan Verli sebentar lalu hendak pergi ke pesantren untuk mengecek sesuatu. Tapi tiba-tiba ia meringis kesakitan diperutnya. Verli siap siaga, ia memanggil Ummi Halimah. Sepertinya Fatma akan melahirkan. Segera Verli dan Ummi Halimah membawa Fatma ke rumah sakit. Kenza ada acara diluar untuk mengisi tausiyah.


Sesampainya dirumah sakit Fatma segera ditangani oleh dokter. Sedangkan Verli dan Ummi Halimah menunggu diluar setelah tadi menghubungi Kenza saat diperjalanan. Tak lama dokter keluar.


Verli terkejut saat tau kalau yang menangani kakak iparnya adalah Jihan, orang yang suka dengan suaminya. Jihan pun sama ia juga terkejut tapi berusaha bersikap biasa aja. Awalnya Jihan tak menyadari kalau itu Verli tapi lama dipandangi ia baru sadar kalau itu Verli.


"Dok bagaimana dengan menantu saya?" tanya Ummi Halimah.


"Ibu Fatma akan melahirkan, ini sudah pembukaan empat" ucap sang Jihan.


"Jadi menantu saya akan melahirkan sekarang, baiklah dok suaminya sebentar lagi akan datang"


"Saya tinggal dulu untuk mempersiapkan persalinan hingga menunggu sampai pembukaan lengkap"


"Baik dok" jawab Ummi Halimah. Sementara Verli hanya diam saja mendengarkan penuturan dari Jihan.


Ummi Halimah dan Verli masuk bersamaan untuk menemani Fatma sambil menunggu Kenza datang. Di ranjang Fatma meringia kesakitan. Verli menghampiri kakak iparnya untuk memberi semangat.


"Mbak Fatma pasti kuat, bentar lagi malaikat kecil ini akan lahir ke dunia, Bentar lagi suami mbak akan datang Ummi sudah menelfonnya tadi" tutur Verli.


"Iya makasih dek, rasanya gak karuan sakit lama-kelamaan malah tambah sakit" keluh Fatma meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Ya Allah begini kah rasanya melahirkan nanti, aku jadi takut melihat mbak Fatma kesakitan begini. Semoga nanti kalau aku hamil dan melahirkan bisa kuat, aamiin" batin Verli dalam hatinya sembari memegang tangan Fatma.


__ADS_2