
Verli tersenyum dibalik niqabnya lalu menjawab, "doakan saja agar aku cepat sembuh, butuh waktu untuk penyembuhan" kata verli.
"Berarti ada harapan untuk pulih kan?"
"Insya Allah, aku berharap pun begitu" ucap verli.
"Ya semoga Allah memberikan kesembuhan untuk kamu, doa itu kunci utamanya jadi jangan lepas dari doa" papar tia.
"Iya kalau doa gak akan pernah lepas"
*******
Lima hari berselang hafka belum mendapat jawaban apapun dari shalatnya. Ia berharap malam ini ada jawaban atas segala doanya.
Dengan kusyu' empat rakaat ia lakdanakan terlebih dahulu kemudian dilanjut dua rakaat. Setelah nya ia bermohon dan berdoa berharap mendapat petunjuk atau jawaban. Karna kelelahan ia sampai tertidur diatas sajadah.
Angin menerpa sampai gorden kamar hafka terbuka, itu menyadarkan hafka dari tidurnya. Ia menengok dibalik gorden yang berhamburan terkena angin. Dari luar ada seseorang yang melambai ke arah hafka. Lantas hafka berfikir siapa malam begini ada dihalaman samping?.
Hafka pergi menuju tempat orang tersebut. Sampai disana hafka melihat seorang perempuan yang tengah duduk dibawah pohon rindang. Hafka sedikit ragu untuk memanggil, karna malam-malam begini kok bisa ada santri yang keluar.
Hafka bingung harus memanggilnya apa lantas ia menyapa, "Mbak siapa kok malam-malam ada disini, santri bukan ini sudah malam loh balik ke asrama" kata hafka.
Perempuan itu menoleh namun hafka tidak bisa melihat wajahnya karna ia memakai cadar. Perempuan itu berdiri dan menunduk saat melihat hafka.
"Siapa kamu malam-malam begini ada disini nanti kalau ketahuan diberi sanksi kamu" kata hafka.
"Aku hanya ingin menjawab aoa yang kamu panjatkan selama ini, kamu tidak mengenalku?" tanya perempuan tersebut.
"Bagaimana aku bisa mengenalmu, kamu saja pakai cadar"
"Tutuplah auratmu karna kamu seorang muslimah, jangan mengumbar didepan khalayak karna itu akan membuat dosa sendiri untukmu, jika memang anda ingin tau siapa nama saya kuncinya adalah shalat diwaktu malam disaat semua orang terlelap maka disitulah anda bisa bertanya.......bukankah itu pernah kau kayakan padaku? Saat aku masih hina dengan perilaku ku yang kotor, terima kasih karna kamu sudah menyadarkan aku atas dosa yang selama ini ku perbuat, Allah masih sayang padaku lantas memberi hidayah kepadaku lewat semua kejadian yang aku alami" jelas perempuan tersebut.
__ADS_1
"HAH!! Apa dia verli? Tapi ngapain malam-malam ada disini" batin hafka.
"Verli kan? Ngapain disini kembali ke asrama" ucap hafka.
Hafka melihat dari atas sampai bawah, ia baru sadar bahwa verli tidak memakai kursi roda. Verli bisa berdiri normal layaknya orang yang tidak sakit.
"Kok kamu bisa jalan udah gak sakit atau hanya bohong saja!" celetus hafka.
"Aku pergi dulu jika nanti kita bertemu lagi ditempat yang berbeda atau tetap sama, aku senang bisa mengenalmu" perlahan verli pergi dari hadapan hafka menyisakan kertas surat ditanah lalu diambil oleh hafka.
Ia membaca isi kertas tersebut yang hanya bertuliskan kata " Terima kasih, jazakillahu khair hafka semoga ini adalah jawaban dari doamu" isi kertas tersebut.
Tanpa sadar hafka gelagapan terbangun dari tidurnya. Ia mengumpulkan memori yang baru didapat. Hafka mengingat - ingat apa yang barusan terjadi.
Hafka baru menyadari bahwa itu hanya mimpi saja bukan kenyataan dan gorden kamarnya tetap tertutup. Ia bangun dari duduknya lalu merapikan sajadah dan berjalan menuju jendela. Hafka melihat kebawah tidak ada siapapun hanya ada suara hewan malam yang berbunyi.
Lantas hafka duduk diranjang nya dan mencerna isi dari mimpinya. Kenapa bisa dia yang ada dalam mimpi itu. Apa ini sebuah jawaban, apa hanya kilasan.
*****
Ditempat lain tepatnya diasrama kamar verli. Ia bangun dari tidurnya karna lagi halangan jadi verli tidak melaksanakan shalat. Biasanya jam segini verli akan shalat tahajud namun sekarang ia hanya bangun untuk ke kamar mandi saja. Sedangkan kely baru selesai shalat tadi dan memutuskan tidur lagi.
Verli ke kamar mandi sendiri karna tak tega membangunkan kely yang sudah terlelap. Selesai dari kamar mandi ia hendak kembali ke kamarnya namun belum juga sampai dikamar ada seseorang yang ia kenali sedang berdiri dihadapannya.
Verli menyipitkan matanya sambil mengucek karna kaget. "Lah kok bisa hafka ada disini ngapain malam-malam gini" batin verli.
Hafka mendekat ke arah verli, semakin dekat dan langkah yang terhenti tepat di depannya. Verli hanya diam karna kaget, karna masih tak percaya.
"Berdirilah" kata hafka.
"Hah berdiri!! Kamu tidak liat kalau aku gak bisa jalan, untuk berdiri saja aku sulit kalau tidak berpegangan" ucap verli.
__ADS_1
"Ya sudah tinggal pegangan ke dinding kan, belajar lah untuk jalan kalau kamu buat diam saja mana bisa kamu sembuh"
"Tiap hari juga aku belajar untuk jalan tapi emang dasarnya sulit gimana lagi"
"Kalau belum dicoba mana tau kamu gak bisa, cobalah dulu nih aku kasih tongkat, ayo" hafka menyodorkan tongkat yang dipegangnya.
Verli tidak berpikir panjang dia mengambik tingkat yang dikasih hafka. Bahkan verli seperti tidak menyadari bahwa ini masih malam kenapa hafka ada disini. Ia hanya nganut saja apa yang dikataka hafka.
Verli mencoba berdiri menggunakan tongkat tersebut, berulang kali dicoba tapi rasanya seperti sulit. Dan beberapa kali hampir jatuh sampai ia frustasi.
"Udah lah aku gak bisa" ujar verli putus asa.
"Ke kamar mandi sendiri bisa kenapa hanya berdiri pakai tongkat gak bisa, lucu sekali....ayo coba lagi bismillah dulu" ucap hafka.
Verli memegang tongkat itu lagi dan mencoba berdiri, setelah susah payah akhirnya ia bisa berdiri sendiri. Putus asa yang tadi muncul kini berganti dengan senyuman. Hafka ikut tersenyum, verli baru pertama kali melihat haka tersenyum.
"Sekarang coba lepas salah satu tongkatnya perlahan jangan lupa bismillah dulu"
Verli nurut saja apa yang dikatakan hafka. Ia melepas satu tongkat perlahan lalu mencoba melangkahkan kaki nya. Namun rasanya berat sekali. Hafka tau jika verli kesusahan.
"Jika kamu barengi dengan basmalah, doa, dan tekun untuk berusaha pasti bisa cepat pulih karna tidak ada yang tidak mungkin jika Allah suka mengatakan Kun Fayakun apapun yang mustahil akan jadi nyata"
"Ya aku pasti bisa" verli bangkit perlahan ia melangkahkan kakinya.
Tak terasa ia berjalan perlahan menuju hafka. Verli pun mencoba melepas satu tongkat yang tersisa ditangannya. Namun saat melepasnya verli hampir jatuh karna tak kuat untuk berdiri, dengan sigap hafka terpaksa menahan tubuh verli agar tidak jatuh.
Sekian detik mereka diam sampai akhirnya hafka menyerahkan satu tongkat ditangan verli.
"Makasih tapi tidak usah aku akan berusaha sendiri cukup liat saja" ucap verli.
hafka hanya diam dan mengangguk lalu memundurkan tubuhnya beberapa senti dari verli.
__ADS_1
Verli terus mencoba walau pun beberapa kali hampir jatuh tapi semangatnya tidak ada putusnya. Sampai pada akhir ia bisa berjalan memakai satu tongkat dengan lancar.