
Devaly tidak mau melepaskan pria itu barang semenitpun. Kemana Adit pergi, Devaly terus mengekor seperti bebek. Itu yang membuat Adit gerah atas kelakuan Devaly yang berusaha menggoda dirinya. Dia lebih senang Devaly menjauh daripada glendotan padanya.
Serba salah juga, kalau Aditya terus menolak ajakan Devaly, pria tampan itu terkesan sombong dan tidak mau menghargai tamu. Apalagi Devaly hanya ingin dilindungi saja, karena ada rasa takut yang mengganggu perasaannya.
Pertama kali menginjak pulau Bali, masalah gaib yang telah dia alami, membunuh keberaniannya. Itu yang menyebabkan Devaly dekat terus dengan Aditya. Tidak ada perasaan untuk memikat Aditya, pria itu bukan type Devaly.
Walaupun ganteng, Aditya kurang glamour dan terkesan dari orang tidak berada alias miskin. Pria itu juga hanya seorang sopir travel, dia bisa menjadi bahan tertawaan di Los Angeles kalau sampai pacaran dengan Aditya. Tentu memalukan bagi Devaly yang menyandang Ratu Sejagat.
Sampai di desa Kedisan mereka naik ke mobil Van, akan melanjutkan jalan pulang. Aditya melihat semua tamunya berpasangan. Made sama Basabi, Abisheka sama Kenny dan Rakhes sama Thasy.
"Silahkan naik ke mobil, Aku akan membagi minuman dan makanan box titipan nenek." ucap Made lalu membuka pintu mobil.
"Aku ingin mencicipi buah dari nenek trutama durian."
"Jangan di mobil makan durian aku tidak tahan baunya. Biarin saja di box, sampai di Bungalow kamu baru boleh makan." jawab Kenny.
"Aditya aku duduk di sampingmu ya, soalnya aku rada-rada mual." kata Kenny memohon.
"Silahkan Kenny, kamu sekalian makan saja supaya tidak masuk angin." ucap Aditya ramah.
Aditya tidak mau berdampingan duduk dengan Devaly yang selalu menghina orang, gadis itu bukan type nya. Dia lebih senang melihat tingkah laku Basabi yang lebih sopan dan tidak sombong. Hanya satu yang Aditya tidak senang dari gadis itu, karena Basabi badannya banyak tatto kontemporer.
"Kenny, kau bersama Abisheka saja, aku sudah bersama Aditya."
"Devaly Kenny mual sedangkan kau sehat, ini sudah jauh dari kuburan tidak perlu takut lagi. Kamu tidak lebay begitu. Belajarlah melawan takut, bukankah kau orang kota?" ucap Aditya
"Aku merasa tidak enak badan, aku mual dan merasa merinding." keluh Kenny lagi. Wajahnya terlihat pucat.
"Aku tidak peduli, kau tetap duduk di belakang. Jangan serakah jadi orang kau sudah duduk dengan Abisheka malah minta Aditya lagi."
"Aku tidak main-main Devaly, aku pusing."
Akhirnya Devaly terpaksa mengalah saat Aditya menolak tubuh Devaly dan menyuruh Abisheka mengajak Devaly duduk dibelakang.
"Tamu adalah raja, sikapmu kasar. Aku bisa viralkan supaya kamu di dipecat oleh bos mu." marah Devaly.
"Aku bertanggung jawab dengan tamu yang kuajak, jika dia sakit aku harus melindunginya. Maafkan aku."
__ADS_1
"Nona Devaly sabarlah, biarkan nona Kenny duduk di depan. Aku merasa bicaranya Aditya benar. Mari kita saling tolong menolong dan hargai teman kita yang sakit."
"Jangan banyak alasan Abisheka. Kamu juga sama bodohnya dengan sopir ini!!" pekik Devaly.
Dengan amarah yang meluap Devaly menukar tempat duduk nya dengan Kenny. Seperti yang sudah-sudah mulut Devaly ngomel terus, sampai Aditya kesel mendengar ocehan gadis itu.
"Devaly diam mulutmu, apa kamu tidak kapok dengan kejadian yang menimpa dirimu tempo hari." bentak Aditya emosi.
Dia marah kalau Devaly sampai tega menyinggung daerahnya, penduduk yang berjualan asongan tentang apa yang ada di wilayah ini. Aditya heran apa isi otak Devaly, sehingga terus saja ngomel dan menghina. Katanya kuliah, tapi attitude tidak punya.
"Dasar tidak sekolahan, kamu berani bentak aku. Apa kamu tidak tahu siapa aku!!" teriak Devaly kesal.
"Orang yang bijak akan menerima semua kebenaran walaupun dia salah sekalipun. Tapi untuk orang bodoh, dia akan melanjutkan perdebatan, mencari pembenaran dari segala kesalahannya.” ketus Aditya.
"Kaulah orang bodoh itu." kata Devaly cembrut.
Mobil melaju dengan pelan, Aditya tidak mau peduli dengan ocehan Devaly yang semakin emosi. Tamu yang lain sibuk makan hidangan dari nenek. Hanya Devaly yang tidak mau makan, dia ngambek berat.
"Kenny bagaimana perasaanmu?" tanya Aditya menoleh kesamping. Kenny memejamkan matanya, kepalanya bersandar di jok mobil. Bibirnya bergetar.
"Apa kamu bisa berdoa? mintalah sama Tuhan supaya dijauhkan dari segala mara bahaya." ucap Aditya sambil oper gigi saat tanjakan yang menikung di desa penelokan.
"Yaaaaa......" teriakan serempak terdengar ketika mobil merosot ke danau.
"Tolooonggg....." teriak mereka.
Aditya merasa rem mobil blong dan mobil tidak terkendali merosot ke Danau Batur.
"Ratu penunggu deriki tyang nunas keselametan!!" teriak Aditya dengan bahasa Bali.
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, di pinggir danau. Aditya sangat lega dan bersyukur. Salah sedikit mobil bisa nyemplung ke danau.
"Cepat semua turun!!" perintah Aditya kencang. Mereka balapan keluar dalam ketakutan yang luar biasa.
"Made ambil "Canang" kita pasti ada salah." ucap Aditya melihat pantat mobilnya yang sudah basah kena air danau. Riwayat mereka hampir tamat.
"Siap bos..."
__ADS_1
"Teman-teman semua, apakah salah satu dari kalian ada berbuat tidak baik di Kuburan? kita hampir mati, jika ada yang melanggar aturan tolong minta maaf semua."
Tidak satupun dari mereka ada yang menjawab pertanyaan Aditya. Bisa juga mereka takut nengaku, atau mereka down dengan kejadian ini. Tapi Aditya meyakini tamunya ada yang berbuat salah. Mengaku atau tidak baginya tidak penting, Manusia bisa dibohongi tapi penunggu yang ada disana akan mengungkap siapa yang salah.
Made dan Aditya membakar dupa dan menaruh canang menghadap ke danau. Dia juga menyuruh tamunya ikut berdoa sesuai kepercayaannya masing-masing.
Mereka berkomunikasi sebisanya dan mohon maaf kepada penunggu disana atas kesalahan yang mereka perbuat. Sedang khusyuknya berdoa tiba-tiba mereka dikagetkan oleh seorang kakek yang muncul dari danau serta menghampiri mereka.
"Maaf kakek...." hanya itu yang Made bisa ucapkan, lidah mereka terasa kelu. Tubuh kaku tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kemarin ada mobil jatuh disini dan semua penumpang meninggal. Dia harus mengembalikan apa yang tidak pantas dia ambil." kata kakek dengan sorot mata marah. Wajahnya pucat tanpa ekspresi.
Selesai berkata begitu angin dingin datang dengan kencang, kakek itu membalikkan badannya dan pergi menjauh.
"Hantuuu...." teriak mereka.
"Aditya kita cepat pulang, aku takut air danau meluap."
"Kalian naik ke atas, tunggu di bawah pohon beringin, aku akan membawa mobil naik. Jangan ada yang bicara aneh-aneh." kata Aditya.
"Apa tidak perlu dorong mobil?"
"Tidak, aku akan lewat lajur kanan. Agak jauh tapi aman, kalian tunggu saja disitu."
"Hati-hati Aditya kabut sudah mulai turun." kata Basabi menunjuk ke danau. Jarak pandang semakin pendek.
Ini baru pukul 17.15, disini terlihat temaram. Aditya menyetir mobilnya pelan-pelan. Dia juga membaca di sosmed musibah yang menewaskan lima orang wisatawan asing yang tenggelam bersama mobilnya.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Bungalow dengan pikiran masing- masing. Aditya juga diam saja, dia tumben mengalami kejadian mistis berulang kali. Dia yakin kalau nenek dikasi tahu pasti marah besar.
"Kenny apakah jamu masih tidak enak badan. Apa kamu mau ke klinik atau rumah sakit, mumpung belum gelap sekali. Kalau kemalaman dokter tidak ada."
"Tidak usah Aditya aku masih bisa bertahan, lagipula aku merasa sakit ini karena kesalahanku."
"Tadi kami berciuman disana, mungkin itu penyebabnya." Abisheka ikut nimbrung. Dia tidak ingin kalau Kenny membongkar semuanya.
******
__ADS_1