CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 78


__ADS_3

Aditya juga berteriak ikut kaget, seketika badannya bergetar tremor. Tanpa menunggu perintah dari Aditya, Made mendorong pintu kamar Devaly dengan kuat. Suara berderak terdengar keras.


"Maaf bos, aku mendobrak pintu." kata Made bersamaan dengan suara daun pintu yang jatuh.


Bau anyir menyeruak menusuk hidung, Made spontan menutup hidung. Mereka berdua tidak bisa melihat karena lampu mati. Made perlahan menuju sakral dan menghidupkan lampu. Seketika kamar terang benderang.


Mata Aditya mengarah ke tubuh Devaly yang berada di lantai berjejer dengan tubuh Rhafael. Pikiran negatif menyentuh otaknya.


Dada Aditya berdebar saat membungkukan badan mengangkat badan Devaly ke ranjang.


"Devaly....sayank...sayank..." tangis Aditya pecah ketika baju Devaly berlumuran darah, dia mengira Devaly sudah meninggal.


"Bos...Rhafael...." teriak Made gemetar saat membalikan tubuh Rhafael.


Aditya melihat tubuh Rhafael berlumuran darah dan dadanya terkoyak dengan jantung hilang, ntah apa lagi...


"Om Svargantu, Moksantu, Sunyantu Murcantu, Om Ksama Sampurna Ya Namah Svaha".


Mantra itu spontan meluncur dari bibir Made dan Aditya ketika mengetahui Rhafael telah meninggal. Tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata betapa takutnya perasaan mereka.


Situasi ini sangat mencekam.


Aditya segera meraih ponsel Devaly yang berada di nakas dan menghubungi polisi dan dokter pribadi. Setelah itu dia menghubungi satu persatu teman-temannya yang masih tidur nyenyak.


Situasi yang mereka hadapi berdua membuat air mata tidak bisa dibendung lagi. Seluruh badan bergetar hebat. Peristiwa ini sungguh mengerikan.


"Astaga, Devaly......" Basabi dan Thasy kaget melihat Devaly. Rakhes memeriksa urat nadi Devaly.


"Dia masih hidup, kita akan memindahkan dia dari sini." kata Rakhes sangat tenang. Hanya dia yang tidak menangis


Aditya dan Made membawa Devaly ke kamar sebelah. Dalam hati kecilnya Aditya masih mencemaskan keadaan Devaly.


"Ambil alkohol untuk membantu supaya Devaly cepat sadar." perintah Rakhes.


Made dan Aditya terpaksa keluar saat polisi datang. Dia tidak bisa menemani Devaly lebih lama karena Rhafael harus dibawa ke rumah sakit untuk di Autopsi.


"Aku sama Made akan ke kantor polisi, titip Devaly. Sebentar lagi dokter datang."


"Oke Aditya, kami akan menemaninya. Tolong suruh bagian Cleaning service datang." ucap Thasy mual mencium bau darah. Padahal dia sudah memakai masker.

__ADS_1


Tidak berapa lama dokter datang, ambulans juga datang untuk Devaly. Pelayan mulai muncul satu persatu. Diantara mereka ada Mayang. Tidak ada yang terlihat sedih atau kaget, ketika mereka melihat darah ada dimana-mana.


Setelah melihat-lihat apa yang terjadi, satu persatu pelayan itu menuju kursi beton, yang berada dibawah pohon mangga tidak jauh dari lobby Bungalow. Mereka lalu bergosip sambil menahan dingin, bekas air hujan berjatuhan saat terembus angin malam.


"Dia pasti menjadi tumbal, aku melihat pria itu bertengkar dengan Tuan Aditya."


"Belum tentu, Tuan tidak bisa menjadi Macan bisa saja orang lain yang membunuh."


"Siapa yang bermusuhan dengan pria itu kecuali Tuan Aditya."


"Yang merasa makan jantung orang, tolong ngaku, acungkan telunjuk." seloroh pelayan membuat polisi memandang mereka satu persatu.


Seorang polisi nekat menghampiri mereka. Mungkin ini polisi baru, biasanya polisi-polisi yang bertugas di kampung sudah tahu siapa nenek, dan mereka takut. Kematian di jalan Drakula sudah acap kali terjadi, modusnya dimakan Leak. Polisi sudah hafal dan jarang memperpanjang, apalagi tidak pernah ada yang menuntut.


"Ada yang melihat kejadian ini?" tanya polisi itu memandang Mayang yang duduk santai, padahal bangku beton dalam keadaan basah.


"Tidak ada pak, kalau kami melihat, kejadian ini tidak mungkin terjadi." sahut Mayang berdiri. Tangannya bersidekap di dada.


"Kalian pelayan disini, pasti tahu kalau setiap yang meninggal di jalan Drakula di makan Leak. Makanya kalian tidak kaget kalau ada tragedi itu. Aku yakin diantara kalian bisa ngeleak dan menjadi pelakunya."


"Bruuggh!!"


"Haduhhh....siapa yang mendorong ku!!" teriak polisi itu kaget.


Perlahan dia bangun, dan menepis bekas air hujan yang menempel di bajunya. Matanya tajam menatap Mayang yang berada di sampingnya. Dia marah besar dan berkata sinis.


"Aku akan menembak kalian, kalau ada yang coba-coba mempermainkan polisi!!"


"Jangan berprasangka buruk, habis hujan tanahnya licin pak. Mana berani kami mempermainkan polisi."


"Awas kalian!!" ancam polisi itu.


"Selamat bertugas pak." kata Mayang sambil kakinya menendang udara kosong. Dan pak polisi kembali jatuh ketika naik ke lobby.


"Kurang ajar kalian ingin ditembak!!" teriak polisi itu kesal. Melihat kejadian itu temannya datang menolong dan sekaligus menegur para pelayan.


"Mengapa kalian duduk disini tidak berusaha membantu turis asing yang menjadi korban di makan Leak?" tanya teman polisi itu sinis.


"Kami tidak ingin mengganggu tugas polisi." jawab Mayang sambil mengedikkan bahunya.

__ADS_1


Dia kembali duduk di bangku beton yang masih basah. Bibirnya menyeringai ketika polisi itu kembali ke lobby, mungkin malas tanya jawab dengan Mayang.


"Kadek sama Surti tolong bikin teh hangat, aku mual." perintah Mayang.


"Apakah kamu yang membuat Rhafael meninggal?" tanya Kadek memandang Mayang.


"Aku memang berniat menculik Devaly, tidak tahu ada Rhafael di dalam kamar. Rhafael tidur di sofa dan Devaly tidur di Ranjang. Rupanya mereka dalam keadaan kena sirep makanya tidur pulas. Aku juga tidak tahu siapa yang makan hati dan jantung Rhafael, tapi aku melihat ada seekor Gorila. Ntah siapa yang jadi." jelas Mayang.


"Siapa yang menyebar sirep?"


"Mungkin Gorila atau Aditya. Sebelum Devaly dan Rhafael menginap dia berantem dengan Aditya rebutan Devaly. Saat itu Rhafael yang menang dan Aditya mau mengalah."


"Kenapa kamu ke kamar Devaly?"


"Mumpung Kemoning dan Ghina pulang kampung rencananya aku mau menyeret si buta kejalan raya hehe...."


"Bilang saja kamu ingin membunuhnya." kata Surti yang baru datang membawa teh.


"Tadinya aku ingin membunuh si buta, ternyata dia hamil. Lebih baik menunggu si jabang bayi daripada membunuh ibunya. Aku nanti menumbalkan bayi itu untuk naik tingkat."


"Owh...berarti itu anaknya Tuan Aditya." Komang yang sedari tadi diam ikut nimbrung.


"Yaelah, ternyata nona Devaly hamil, kalau Tuan sampai tahu pasti dia sangat bahagia." Kadek berkomentar senang membuat Mayang kesal.


Mayang terdiam sesaat. Otaknya traveling, dia semakin bernafsu untuk melenyapkan bayinya Devaly, tapi harus menunggu lahiran. Lama sekali, takutnya dia duluan lahiran daripada Devaly. Saat ini dia juga sedang mengandung anaknya Gusde, mandor di kebun nenek. Gusde nama laki- laki hitam manis itu.


Pikiran Mayang menjadi bertambah kacau, masalahnya dia dan Aditya belum pernah berhubungan intim. Setiap malam Aditya hilang dari kamarnya, kalau siang dia tidak bisa memakai ilmu Leaknya secara maksimal untuk menundukkan Aditya.


Itu yang membuat Mayang kesal. Bagaimana caranya menjebak Aditya. Dia butuh satu kali saja, setelah itu Aditya bebas. Jika dia bisa tidur dengan Aditya, hidupnya akan berubah. Semua harta nenek akan menjadi miliknya.


"Aku minta tolong kepada kalian semua, kemana Tuan Aditya tiap malam. Kalau kalian tahu, aku akan memberi hadiah." kata Mayang berharap.


"Maaf Mayang, aku tidak mau menanggung dosa lebih banyak. Silahkan teman yang lain disuruh. Kalau nona Devaly baru aku mau." Kadek langsung menolak mentah-mentah.


"Dasar iblis, semoga kamu dimakan sama Gorila." rutuk Mayang geram.


*****


"Aku juga tidak mau...." mereka menyahut berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2