CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 8


__ADS_3

Waduhhh...kaki nenek maju setapak demi setapak, suara tongkatnya berbunyi teratur mengingatkan pada tokoh penyihir yang ada di film horor Tanpa sadar mereka mundur teratur dengan perasaan tidak menentu.


Ketika mata nenek yang tajam itu menatap mereka satu persatu, hati mereka menciut. Aura mistis keluar dari tubuh nenek. Namun saat itu pikiran negatif sempat singgah di hati mereka.


Kemudian si nenek berhenti tepat di depan Devaly, dan saat itu Devaly melihat sekilas wajah nenek sempat berubah. Dia kaget, namun setelah diperhatikan lebih cermat wajah nenek tetap sama.


Akhirnya nenek duduk dikursi taman yang terbuat dari besi galvanis. Tamu yang lain ikut duduk sambil mata mereka mengawasi gerak gerik nenek. Mereka tidak mengerti kenapa mereka curiga kepada nenek dan menganggap nenek aneh.


"Kalian cantik dan ganteng, darah kalian baunya wangi menusuk hidung dan menggelitik ilusi nenek. Ingin nenek melukis wajah kalian satu persatu." ucap nenek sambil terkekeh. Hidungnya kembang kempis seolah mencium aroma masakan yang lezat.


"Kenalkan nek, namaku Devaly." kata Devaly mengulurkan tangan. Gadis itu heran merasakan tangan nenek kuat dan keras.


"Nama nenek Saodah Purnama Suryaningrat. Panggil nenek Odah."


"Pasti waktu gadis nenek cantik sekali, terlihat dari paras nenek."


"Cantik, seperti mawar berduri yang cocok menjadi hiasan dinding."ucap nenek sambil tersenyum penuh arti.


"Apa artinya nek, kata-kata nenek penuh mistri." tanyanya penasaran. Nenek tidak menjawab dia malah tertawa seram memperlihatkan giginya yang masih 70 persen utuh.


"Nenek berumur berapa?" tanya Basabi penasaran melihat nenek kuat naik tangga untuk memetik mangga.


"Nenek sudah hidup dari zaman Jepang, umur nenek sudah 150 tahun." kata nenek mengunyah sirihnya.


"Waduhh..harus masuk guinness book. Nenek punya akte kelahiran sebagai bukti."


"Orang tua zaman dulu mencatat tanggal kelahiran anaknya di daun pintu. Tidak seperti zaman sekarang ada akta kelahiran."


"Owh...begitu nek, jadi nenek tidak sekolah?"


"Sekolah di zaman Jepang, makanya nenek bisa bahasa jepang, Inggris."


"Hebat sekali nek, masih sehat dan kuat. Apa makanan nenek sehingga bisa sehat begini?"


"Hahaha...rahasia, kalian tidak boleh tahu. Anak zaman sekarang banyak nodanya, gampang dimakan." sahut nenek dengan bahasa daerah yang membuat tamunya tidak mengerti.

__ADS_1


"Made, suruh bibi mengantarkan sarapan pagi untuk tamu. Sekalian bawakan aku bubur dan vitamin." perintah nenek memanggil Made.


"Baik nek, tapi apakah mereka mau sarapan disini, mereka orang top dunia." sergah Made membuat nenek memandang satu persatu tamunya.


"Anak muda yang cantik-cantik dan ganteng, apakah kalian mau sarapan disini, aku akan menjamu kalian. Makanan mewah di tempat mewah sudah pernah kalian rasakan, tapi tempat yang natural begini tidak pernah kalian lihat. Aku mengajak kalian sarapan ditengah taman ini dikelilingi harumnya bunga yang bemekaran dan disinari langsung mentari pagi." nenek promosi.


"Aku tidak menolak, kebetulan sekali aku ingin nenek bercerita banyak, aku sedang membuat konten."


"Boleh sekali, banyak anak-anak muda membuat konten terakhir disini. Bagus itu, sekalian isi pesan- pesan terakhir untuk dunia fana ini." sahut nenek penuh arti.


Tidak berapa lama beberapa wanita muda berpakaian kebaya hitam dan memakai jarik hitam, membawakan sarapan pagi yang mewah. Mereka tidak menyangka akan dijamu oleh nenek sedemikian rupa, layaknya di Hotel bintang lima.


"Silahkan kalian makan." kata nenek tersenyum. Nenek sendiri sarapan bubur Bali yang gurih.


"Trimakasih nenek Odah, ini sarapan terenak yang pernah aku rasakan." Rakhes sangat antusias mencicipi setiap menu.


"Hahaha..aku senang kalian suka. Makan yang banyak. Kalau kalian mau membuat konten, aku akan menunjukan sesuatu yang gaib yang akan membuat orang penasaran."


"Aku mau nenek, asal ditanggung makannya selama kita disini." seru Basabi puas.


"Tak masalah, nenek senang kalian disini. Nanti kalian boleh keliling di kebun untuk memetik nanas, durian, duku, mangga dan yang lainnya."


Luas kebun nenek dua hektare lebih, sekitar 20.000 meter persegi. Luas sekali, sebagian ditumbuhi palawija dan pohon kopi, Vanilli. Biasanya buah dijual melalui sistem ijon, itu semata-mata permintaan pembeli. Padahal nenek melarang membeli dengan sistem ijon, tapi pembeli merasa lebih untung. Ya, sudahlah.


Pukul 09.15 Aditya baru saja bangun dari tidurnya. Dia tidak menemukan tamunya. Cuma ada nenek duduk di bangku taman sambil bersenandung Aditya menghampiri nenek.


"Nenek, orang-orang kemana?"


"Mereka bermain di kebun belakang. Biarin saja supaya mereka puas jangan kamu larang lagi."


"Tapi mereka harus ke Hotel, jangan nenek menahan mereka."


"Tidak ada yang menahan, mereka bebas berfantasi. Tamunya yang tergiur ingin melihat kebun, bermain lebih lama disini. Kelihatan mereka sangat interest dengan kehidupan nenek disini. Pemandangan yang memukau membuat perasaan mereka ingin belama-lama. Apalagi nenek membebaskan mereka untuk memetik buah."


"Jangan sekali-kali nenek ganggu mereka seperti tamu lainnya. Aku tidak ingin ada korban selanjutnya. Wanitanya jauh berbeda dari tamu sebelumnya. Kalau mereka ada yang mengganggu dunia akan memusuhi nenek dan aku." pesan Aditya sambil memasukan sandwich kemulutnya.

__ADS_1


"Pantas aura mereka berkilau dan bau darah mereka seperti bau bunga melati. Harum semerbak membuat perasaanku bergejolak."


"Yaelah nenek, jangan memaksaku untuk melemparkan nenek ke kawah Borgola seperti pendahulu kita dulu. Nenek tidak boleh menantang takdir, apa gunanya nenek awet tua (tua yang awet) lebih baik pasrah saja."


"Kamu tidak akan mengerti asyiknya petualangan malam hari."


"Astaga, nenek mulai mengkhayal. Jauhkan pikiran yang aneh-aneh supaya aku tidak gelap mata. Aku tidak mau masuk penjara gara-gara membunuh nenek."


"Bunuhlah aku cucuku supaya ilmu nenek bisa aku wariskan padamu. Kita adalah pewaris ilmu leak yang paling tinggi tingkatannya. Jika kau terus menolak aku tidak akan mati."


"Tidak bisa melawan takdir nek, kalau sudah waktunya nenek akan kembali ke "tanah wayah" Aku yakin soal itu." ucap Adit mengakhiri obrolannya. Kupingnya mendengar suara tertawa tamunya yang semakin dekat.


Matahari sudah tinggi para tamu baru datang dari memetik buah. Mereka tampak gembira tertawa riang. Tatkala mereka melihat Aditya suara tertawa mereka hilang.


"Selamat siang semuanya, kita akan kembali ke hotel. Apa ada yang keberatan?" tanya Aditya menatap mereka satu-persatu.


"Aku masih betah disini bersama nenek, aku rasa semua teman senang disini." Kenny menjawab mewakili temannya.


"Kalian tidak menyesal di rumah terus, bagaimana kalau kita ke desa Trunyan?"


"Aku setuju." Devaly mengacungkan tangan dan duduk disamping Aditya. Basabi juga ikut duduk disamping kanan Aditya. Pria ganteng ítu tidak bisa mengusir tamunya yang centil.


"Mari kita pergi." ajak Aditya berdiri.


"Seperti yang Sudah-sudah, jika kalian sampai disana jangan pernah mengeluarkan atau berbuat yang tidak-tidak." pesan Aditya.


"Kami mengerti tidak mengulangi lagi, sudah kapok"


"Kalau sudah siap kita akan segera berangkat. Silahkan naik ke mobil tapi sebelumnya pamit dulu dengan nenek." kata Made ikut memberi perintah.


"Hati-hati ke Trunyan tidak boleh mengambil barang-barang yang ada disana. Jaga ucapan, sudah banyak kejadian yang membuat nyawa melayang." nenek ikut memberi wejangan. Dia tahu tamu-tamu suka usil dan meremehkan larangan yang tertulis disana.


"Ya nenek cantik, kami akan ingat pesan nenek. Doain ya nek supaya perjalanan kami lancar." ucap Devaly tersenyum.


Aditya sudah duduk di belakang stir, dia sibuk menjawab ponselnya yang terus berdering. Hari ini cuaca tidak mendung malah cenderung panas. Aditya tidak perlu khawatir untuk mengajak tamunya pergi ke desa Trunyan.

__ADS_1


Desa ini punya kebiasaan unik, tidak mengubur atau kremasi mayatnya seperti umumnya di pulau Dewata Bali. Mereka membiarkan mayat itu tergeletak begitu saja di bawah pohon menyan yang menetralisir bau busuk dari mayat.


*****


__ADS_2