
Kekhawatiran Aditya menjadi kenyataan, berita yang datang bak menampar mukanya. Dia tidak mengerti kenapa ada orang-orang bandel yang tidak mau mengikuti peraturan. Apakah otaknya tidak bisa bekerja, atau dia hanya ingin mencari sensasi murahan dengan alasan membuat konten. Dimana toleransinya terhadap agama lain.
"What is your problem? kamu meremehkan atau kamu ingin semua mata melihat aksi bodohmu?" bentak Aditya geram. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengenal.
"Aku minta maaf, aku betul-betul tidak mengerti, kalau masuk ke pura tidak boleh naik ke Arca. Tidak akan aku ulangi lagi." kata Abisheka menunduk.
"Mengapa kamu tidak bertanya sebelum melakukan sesuatu. Kembali kau berbuat salah dan mengulangi kejadian di Trunyan, apa kamu ingin menyusul Kenny?"
"Astaga, Aditya jangan kamu menakutiku. Semua yang aku lakukan murni untuk konten aku tidak sengaja."
"Semua tahu itu untuk konten, apakah kalau untuk konten masyarakat harus memaklumi semua tindakanmu. Kamu bebas naik tanpa pakaian ketempat suci kami, itu maksudmu?"
"Bukan begitu Aditya." suara Abisheka mulai pelan, dia merasa Abisheka menyerangnya. Tidak ada kata-kata pembelaan dari Aditya yang dia butuhkan saat ini.
"Aku tidak bisa membela orang yang salah, walaupun kamu tamuku. Jika pelecehan itu kamu lakukan pada diriku, no problem, mungkin ada toleransinya. Tapi ini tempat suci kami, you understand?"
"Aku mengerti." jawab Abisheka cepat, dia tidak ingin di cerca terus oleh Aditya. Capek.
Dia juga merasa masyarakat desa adat disini terlalu lebay dan berlebihan. Kronologisnya begini, tadi siang dia bersama Kemoning pergi ke tempat upacara yang berada tidak jauh dari pantai. Upacara tidak begitu ramai karena hujan rintik-rintik, mungkin juga ada hubungannya dengan bencana yang terjadi.
Dari pada bengong dia punya ide untuk bikin konten. Kemudian dia minta tolong kepada Kemoning, tapi gadis itu tidak mau karena di suruh pulang oleh kedua orang tuanya.
Akhirnya dia berjalan mencari tempat yang sesuai dan menjual. Setelah berjalan sekitar setengah kilometer dia menemukan tempat yang bagus, berada di pinggir pantai. Sebuah tempat yang asri berisi patung gadis cantik sedang memanah patung patung Ganesha.
Disini membuat foto atau vidio pasti sangat menarik, karena patung nya terlihat hidup. pikir Abisheka waktu itu. Dia mulai berkreasi dan kebetulan sedang hujan gerimis, bunga tratai sedang bermekaran, ini kesempatan yang bagus.
__ADS_1
Dengan berbagai gaya aselole dia membuat konten vulgar, dari memakai pakaian lengkap sampai telanjang, mungkin karena ke asyikan dia tidak menyadari kalau dirinya telah di kepung oleh warga saat dirinya duduk di atas patung Ganesha.
Sekarang dia berada di Balai desa, karena orang asing, kepala desa mencari travel yang bertanggung jawab mengajak dia ke sini. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat, jika ada yang melecehkan adat atau agama, baik disengaja atau tidak, masyarakat akan menyerahkan masalah ini ke hukum. Tidak boleh main hakim sendiri, karena masyarakat percaya kepada KARMA tabur tuai.
"Saya minta maaf kepada masyarakat disini atas ketidak sanggupan saya menjaga tamu yang telah mengotori pura. Untuk sanksinya kami akan menerima dengan lapang dada." kata Aditya kepada kerumunan masyarakat dan pemuka agama.
"Untuk sementara kami akan memberi sanksi membuat ritual permintaan maaf. Untuk sanksi hukumnya kami belum memutuskan karena pak polisi tidak ada disini. Kita masih menunggu keadaan membaik." kata kepala desa.
Setelah pertemuan itu selesai, barulah Aditya bisa menarik nafas lega. Akhirnya Abisheka di lepaskan dengan banyak syarat. Mereka kembali ke Home Stay dengan banyak pikiran Biasanya hukuman orang yang melakukan kesalahan seperti Abisheka adalah deportasi dan daftar cekal.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara, mereka diam dengan pikiran masing-masing Sampai di Home Stay Aditya baru sadar bahwa dia meninggalkan Devaly yang sedang sakit. Dengan setengah berlari Aditya menuju kamar Devaly. Syukurlah Devaly tertidur pulas . Aditya pun keluar menemui Abisheka.
Melihat Aditya, Abisheka langsung masuk kamar tanpa peduli dengan Basabi yang terus memanggilnya.
"Basabi, aku punya masalah besar yang membuat pikiranku buntu. Hanya kalian berdua yang bisa menolong ku, masalah ini sangat sensitif berkaitan dengan Jro dukun." kata Aditya mulai membuka percakapan.
"Devaly kena serangan bebai dari Jro dukun. Tadi sore Jro dukun kesini berwujud Leak hitam dan membuat Devaly pingsan." jelas Aditya dengan suara pelan.
"Tapi Devaly tidak pernah berbuat salah kepada Jro dukun, tidak mungkin Jro dukun bisa mencelakainya."
"Itu yang aku tidak tahu, kenyataannya bebai sudah berada di tubuh Devaly. Gadis itu seperti orang gila, dia kesurupan, berontak, matanya mendelik. Ketika aku tanya, katanya dia minta tumbal, Jro dukun minta nyawa Devaly."
"Tenang saja itu tidak mungkin, kecuali Devaly jahat kepada dukun itu baru kita takut. Anggap saja itu gertak sambel."
"Yang membuat repot adalah bebai ditubuh Devaly, ini menghambat kepulangan kita."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita mencari Jro dukun, suruh dia mencabut penyakit yang berada di tubuh Devaly?"
"Sanyat riskan, bisa saja Jro dukun berbalik menyerang, dengan penyakit Bebai yang lebih dasyat. Tadi aku sempat memakinya mendorongnya sampai jatuh. Dia pasti dendam dan menaruh racun di tubuhku."
"Bos hebat sekali, aku percaya tidak percaya karena bos melawan orang sakti. Apa bos pernah belajar ilmu sehingga gampang sekali menang?"
"Wajar kamu tidak percaya padaku, tapi hari ini kamu harus percaya karena aku tidak bohong."
"Huuaaa...huuaaa...."
Teriakan datang dari kamar Abisheka. Dia seperti orang menangis ketakutan. Aditya berlari kekamar Abisheka, untung pintu tidak dikunci. Mereka masuk ke kamar dan kaget melihat mata Abisheka melotot memandang ke langit-langit kamar.
"Abisheka sadar-sadsr...."
Aditya mengambil air, merapalkan mantra suci, setelah itu mencipratkan ke tubuh Abisheka. Made ikut membantu dengan mantra penolak bala. Perlahan Abisheka sadar dengan keringat bercucuran dia duduk di kepala tempat tidur dengan mata melotot.
"Abisheka kaukah ini? jika kau, bangunlah!! Aku tidak ingin melihat kamu lemah. Apapun mengganggu mu tidak bisa membunuhmu, atau menyakitimu. Kamu harus kuat." kata Made ikut memegang punggung Abisheka sembari mengujar mantra.
Basabi juga berdoa menurut kepercayaan yang diantara. Abisheka sempat berontak ketika tangan Aditya memegang dadanya.
"Panas-panasss..." pekiknya menepis tangan Aditya.
"Siapa kau, jika kau Leak enyahlah. Tapi bila PENUNGGU di wilayah ini aku mohon kamu pergi, kami sudah berjanji akan membuat ritual keagamaan, sarana itu akan kami pakai untuk meminta maaf." kata Aditya keras.
Setelah tiga puluh menit bergulat dengan roh yang masuk ke tubuh Abisheka, akhirnya Abisheka sadar.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu sampai kamu betul- betul sembuh. Lebih baik kamu keluar, kita duduk-duduk di lobby sambil terus berdoa." kata Abisheka.
****