CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 91


__ADS_3

Untunglah Aditya bisa menguasai dirinya, tidak berubah menjadi Malamute, jika itu terjadi bagaimana dia menjelaskan kepada Devaly. Dia merasa bersalah kepada Devaly. Dengan senyum menggoda Dia memeluk istrinya.


"Maafkan aku tadi siang, aku setengah sadar aku mimpi berantem sama Leak." kilah Aditya mencium leher istrinya.


"Mimpi sama Leak apa sama Mayang."


"Hueekkk....jangan bilang Mayang kalau kita ingin ***-***, baunya saja bikin perut mual. Kalau bisa kamu berhenti temanan sama dia."


"Waktu itu kamu bela si Mayang dan kamu puji setinggi langit. Setelah si Mayang bau kamu melipir. Kamu bukan teman sejati."


"Tidak usah bahas si Mayang, kita selesaikan dulu urusan intern kita." kata Aditya mencium bibir Devaly.


"Kita tidak punya masalah hubungan kita sehat, yang selama ini bikin masalah adalah kamu. Harusnya kamu dibasmi dengan obat nyamuk supaya musnah."


"Uuh..teganya, kamu senang aku hilang?" Aditya pura-pura marah.


"Tidak...tidak...you are my soul, my dear."


Mereka saling berpelukan dan memuaskan. Tidak ada yang lebih enak selain bercinta dengan orang yang kita cintai. Bagi Aditya, Devaly adalah jantung hatinya. Tidak ada wanita lain yang bisa memenuhi kebutuhan rohaninya seperti Devaly.


Percintaan mereka sangat panas dan liar. Aditya menjajal istrinya sampai wanita itu memohon untuk berhenti. Tenaga Aditya jadi berlipat kala Malamute di dalam tubuhnya seolah ikut menumpang mesum.


"Love you sayank...."


"Love you too... " bisik Aditya saat semua nya telah usai. Dia sangat puas begitupun Devaly.


"Kamu semakin hebat aku tergila-gila." bisik Devaly mengusap peluh yang membanjir.


"Karena aku mencintaimu...hanya kamu." sahut Aditya di antara nafasnya yang memburu.


"Sayank nanti malam kamu tidur di kamar Basabi, aku tidak bisa menemanimu. Semua Leak di prediksi akan datang."


"Apa lagi acaranya, bikin takut saja." keluh Devaly.


"Akan ada ritual kepala nenek yang hilang itu mau di panggil dan di masukan ke peti mati. Peti itu khusus dari kayu jati, setengahnya dari baru kayu Gaharu. Peti itu dirantai besi sekelilingnya supaya kepala nenek tidak bisa hilang diambil Leak lain."

__ADS_1


"Kalian aneh, katanya ilmu Leak adalah gaib, biarpun pakai peti besi atau rantai baja, tetap bisa hilang. Bagi ilmunya tinggi disedot sekali kepala nenek bisa hilang."


"Namanya usaha, harus optimis. Pasti bisa, supaya nenek kalau reinkarnasi nanti, ada kepalanya, itu menurut kepercayaan kami."


"Itu cuma badan fisik yang hilang dan busuk, Roh beliau sudah hilang, lenyap. Tidak ada pengaruhnya. Kalau mau reinkarnasinya baik, semasa hidup selalu berbuat baik." ucap Devaly.


"Betul sayank, tapi kita tidak boleh bicara begitu di depan tetua, mereka akan memberi kita wejangan berjilid-jilid. Orang tua zaman dulu tidak boleh di rendahkan, mereka nomer satu, yang lain lewat."


Mereka tertawa berdua. Beda culture pasti beda didikan. Menurut Devaly apapun harus diucapkan dengan gamblang, tidak ada yang muda harus terus menurut, kalau masuk akal di terima, kalau salah disalahkan, itu yang benar.


"Menurut penerawangan, bahwa mustika ada di kening nenek, itupun baru perkiraan. Kita usaha saja, semoga tidak ada halangan dan rintangan."


"Aku juga berdoa berdoa supaya semua lancar jaya." sahut Devaly tersenyum.


"Sayank, menurutmu apakah Malamute Leak atau hewan peliharaan. Masalahnya setiap dia ada disampingku, aku tidak merasa dia itu Serigala, aku merasa dia manusia?" pertanyaan Devaly membuat dada Aditya berdebar kencang. Haruskah dia berterus terang saat ini?


"Menurutku Malamute itu beda, setia, perkasa, sayang dia hanya seekor Serigala."


"Kamu mencintainya atau mengharapkan kehadirannya?"


"Hahaha....berarti aku lebih perkasa dari pada Malamute."


"Kamulah yang paling aku banggakan, calon ayah dari janinku. Jika Malamute seorang Leak, aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan, karena dialah pertama membuka segelku, aku takut anakku menjadi anak Serigala."


"Ohh..apakah itu yang membuat kamu sering sedih. Ini anakku, tidak mungkin berwujud Serigala. Walaupun Malamute Leak, anak ini akan tetap berwujud manusia seperti aku."


"Syukurlah, lega rasanya." gumam Devaly.


Matahari semakin condong ke Barat, para Aparat, Pecalang dan warga yang bertugas saling berkoordinasi untuk mencegah Leak atau orang yang tidak berkepentingan masuk ke rumah. Pendetapun sudah bersiap.


"Sayank, kamu pindah ke kamar Basabi. Kalian berkumpul disana, tidak boleh keluar sama sekali." kata Aditya memeluk Devaly. Ada perasaan tidak enak menyelimuti dirinya.


"Aku menjadi takut, kamu seolah-olah akan pergi ke medan perang." ucap Devaly balik memeluk Aditya.


"Jika sudah takdir kemanapun kita pergi akan ketemu juga. Biar sembunyi dalam gedong batu sekalipun. Aku pasrah saja, semoga angin sorga selalu menghampiriku.

__ADS_1


Setelah menitipkan Devaly dengan Basabi, serta berbasa basi sedikit barulah Aditya pergi meninggalkan istrinya. Dia menuju Bale gede bergabung dengan pendeta.


"Tuan makanlah dulu, Devaly dan temannya sudah dibawakan makanannya."


"Ya bibi, aku akan langsung ke dapur, tolong siapkan dimeja makan untuk aparat pecalang untuk warga di pendopo. Jangan sampai kurang."


"Baik Tuan."


"Sayank, kamu candu bagiku. Satu menit tidak bertemu denganmu, terasa seperti setahun. Namun ketika bersamamu, semua terasa begitu cepat. Jarum detik, menit, jam seakan berputar dengan kebahagiaan yang menyelimutiku." bisik Mayang di telinga Aditya. Pria itu berbalik, dia menatap Mayang tajam, tapi wanita itu mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan tidak sopan." kata Aditya kesal.


"Love you my dear." ucap Mayang lagi.


Aditya akhirnya mengacuhkan Mayang dan pergi ke dapur menemukan Kemoning dan Ghina.


"Halo Tuan, silahkan duduk kita mengisi perut dulu sebelum bertempur." kata Ginha mengambilkan nasi untuk Tuannya.


"Kita mencoba menjaga nenek dari segala sudut, semoga aman." kata Aditya duduk semeja dengan Ginha dan Kemoning.


"Harapan kita semua begitu, tapi ritual ini baru pertama kali terjadi. Menurut Tuan apa akan berhasil mengingat kepala nenek sudah lama hilang, saya pastikan sudah busuk." kata Kemoning apatis.


"Optimis saja dan berharap supaya pendeta bisa melakukan. Seperti kata tetua kalau tidak ada kepalanya, nanti reinkarnasinya akan tidak ada kepalanya." ucap Ghina meniru ucapan tetua.


"Sebenarnya badan fisik tidak ada hubungan nya, yang bereinkarnasi adalah Rohnya bukan badan fisiknya. Badan fisik akan hancur setelah di kremasi. Supaya Reinkarnasi lebih sempurna harus berbuat baik semasa hidup dengan menjalankan kaidah agama." jelas Aditya.


"Benar Tuan, semasa hidup harus berbuat baik. Aku berusaha mengibaskan hal negatif dan merubah pola pikirku menjadi positif."


"Bagus Ghina, sebagai keturunan Brahmana kamu harus lebih khusuk mengolah energi positif ke dalam tubuhmu." kata Aditya.


"Setelah nenek kremasi aku akan kembali ke Puri untuk melanjutkan warisan leluhur." kata Ginha, matanya menerawang jauh kedepan.


Dari balik pintu ruang makan Mayang dengan marah mengintip Aditya yang sedang berbicara serius dengan Ginha. Darahnya mendidih melihat pemandangan itu.


*****

__ADS_1


.


__ADS_2