CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 7


__ADS_3

Padahal Made sudah tahu kalau travel sudah satu paket dengan hotel. Devaly tidak mungkin tahu kalau yang memberi hadiah adalah Huading Awards yang berada di Los Angeles. Penjelasan Made tidak di gubris oleh Devaly, dia lebih baik menurunkan kursi dan tidur miring.


Tamu yang lain sudah pada tidur, Kenny dan Rakhes tidur berpelukan, Abisheka dan Thasy sama saja. Basabi tidur sendiri. Aditya sudah memberi warning para tamu, boleh peluk cium di mobilnya, tapi kalau lanjut wik. wik..wik...di mobil tidak boleh sama sekali. Ada peraturan dan undang-undang yang melarang, disamping itu untuk menghindari roh jahat masuk kebadan mereka.


Aditya sendiri tidak peduli dengan omelan Devaly yang ngalor ngidul. Dia cuma berdoa supaya ada Villa atau penginapan terdekat di sekitar sini. Ternyata gadis cantik itu selalu bikin kesal, dia geram mendengar hinaan dari mulut Devaly. 9


"Bos, rumah nenek dan bibi dekat sini, kenapa kita tidak ajak mereka kesana. Di sekitar sana ada CK Korner yang menjual kebab, burger dan yang lainnya."


"Takutnya CK sudah tutup."


"Kesana saja Bos, saya melihat Bos menguap terus, daripada mobilnya masuk jurang, lebih baik mampir ke rumah nenek, kita sudah lama tidak menengok nenek."0


"Oke lah kalau begitu."


Mobil akhirnya mengambil lajur kiri dan menuju ke jalan Drakula. Disini jalannya sangat licin dan sedikit terjal. Di kanan kiri jalan terdapat pohon-pohon besar yang rimbun, kelihatan persis seperti hantu malam yang siap menerkam.


Mobil akhirnya berhenti di depan rumah neneknya. Adit menghubungi bibi Ayu untuk membuka pintu.


"Made tolong bangunkan mereka, aku akan memasukkan mobil ini ke halaman."


"Siap Bos, aku akan ajak mereka langsung ke Bungalow." sahut Made.


Mereka semua bangun dan terkejut ketika sudah berada didepan sebuah rumah besar. Mereka berpikir sudah sampai di Hotel D'Queen.


"Dimana ini?"


"Kita menginap disini dulu, supaya bisa istirahat dan makan. Ini rumah neneknya Tuan Aditya." jawab Made sopan.


"Aku tidak mau makan, aku ingin langsung tidur." hampir serempak mereka menjawab.


"Nanti aku akan mengantar kalian ke Bungalow untuk beristirahat."


Bibi Ayu datang tergopoh-gopoh, dia tidak kaget melihat rombongan tamu. Aditya memang sering datang membawa tamunya kesini di saat musim buah.


Made dan bibi mengajak tamunya ke Bungalow dan mereka menunjukan masing-masing kamar. Devaly yang lagi mengantuk tidak peduli mau tidur dimana yang penting dia bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


Bungalow ini kepunyaan nenek, ada saja yang menginap, satu atau dua hari. Kamarnya mewah dan bersih. Nenek punya pelayan sekitar dua puluh orang, wanita bertugas masak dan bersih-bersih, pekerjaan rumah tangga. Kalau prianya ada sepuluh orang. Sopir dua orang dan tukang kebun delapan orang. Kebun nenek luas sekali dan banyak butuh tenaga Ada kebun cengkeh, Vanilli, kopi dan bermacam-macam pohon buah dan bunga yang perlu tenaga.


"Bibi nenek dimana?" tanya Aditya menghampiri bibi Ayu. Dia kangen kepada neneknya yang sudah tua tapi masih kencang dan cantik.


"Masih tidur, nenek baru sembuh dari penyakit batuk rejan."


"Syukurlah kalau sudah sembuh, aku besok saja melihat nenek."


"Tidak apa-apa Tuan, biarkan nenek tidur dia butuh istirahat." jawab bibi sopan. Bibi Ayu adalah tangan kanan nenek yang mengurus semua keperluan nenek.


"Aditya kamu tidur dengan siapa?" Basabi datang mendekati Aditya yang sedang berbincang-bincang dengan bibi Ayu.


"Aku tidur dengan nenekku." sahut Aditya berbohong. Dia malas kalau salah satu dari wanita itu minta ditemenin tidur.


"Ups....apa itu benar? apa kau mau mengelak dariku." gadis itu menatap Aditya dengan ekspresi yang tidak bisa dilukiskan.


"Istirahatlah Basabi besok kita pergi ke desa Trunyan."


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau tidur denganku gak apa-apa. Aku mau ke kamar dulu." kata Basabi.


Percaya atau tidak, itu bukan urusan Aditya, yang penting bisa terhindar dari pelecehan tamunya, itu sudah dari cukup. Bukan munafik, dia menjaga image keluarganya yang terkenal berkasta dan terhormat.


Siapakah Aditya?


Pemuda tampan dari keluarga kaya dan berkasta. Dia anak bungsu dari lima bersaudara. Empat kakaknya wanita. Dia Satu-satunya anak lelaki yang menjadi harapan keluarga untuk meneruskan keturunan Klan Suryaningrat.


Semua kakaknya sudah menikah dan tidak satupun dari kakaknya yang mempunyai anak. Setiap lahir anaknya meninggal. Atau tidak sampai berumur setahun anak dari kakaknya meninggal.


Banyak yang menuduh bahwa nenek Aditya bisa menjadi leak. Gosip itu beredar dari kampung sampai ke kota. Mereka curiga karena nenek awet muda dan tidak mati-mati, padahal teman nenek sudah habis meninggal semua.


Mata nenek bersinar mengerikan, itu kata orang-orang. Setiap anak kecil atau orang dewasa sakit mendadak, jika meninggal, yang dituduh pasti neneknya Aditya. Selalu begitu walaupun sudah jelas kena Covod. Payah dengan orang kampung, main tuduh. Tapi sulit juga membuktikan sakit kena tenung atau leak.


Keesokan harinya matahari bersinar dengan terang benderang. Aditya masih tidur disebelah kamar nenek, sedangkan tamunya sudah pada bangun. Made juga sudah bangun tapi dia sengaja membiarkan Aditya tidur karena akan menyetir, kalau mengantuk berbahaya.


"Made, disini suasananya sangat enak, banyak pohon buahnya." Kenny ke halaman sambil melihat ke atas. Pohon mangga, rambutan, sawo dan yang lain pada berbuah.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya silahkan ke ruang makan untuk sarapan. Sudah saya siapkan salad buah dan mix jus sebagai dessertnya. Tapi sebelum sarapan kita "kulonuwun" dulu sama nenek. Mari kita menemui nenek terlebih dahulu." ucap bibi memakai bahasa Indonesia. Made langsung translate ke bahasa Inggris.


"Trimakasih bibi, kita akan menemui nenek." sahut Made sopan.


Tamunya hanya senyum-senyum saja. Mereka ketempat nenek yang berada di kebun belakang. Biasanya nenek berjemur sambil memetik bunga untuk sembahyang.


"Nyonya besar, tamunya datang mau berkenalan." bibi Ayu memanggil nenek.


"Siapa?"


Suara parau terdengar dari atas pohon mangga. Mereka semua kaget bukan main dan mendongak ke atas. Ternyata nenek duduk di batang pohon yang besar. Tidak begitu tinggi tapi nenek sudah tua.


"Astaga nenek, turun pelan-pelan." teriak Made kaget sekali. Dia berlari memegang tangga yang tadi di pakai naik oleh nenek. Bibi tidak kaget karena nenek biasa begitu.


"Aku akan turun, batang pohonnya basah banyak semut rang-rang."


"Nyonya jangan suka naik pohon, nanti Tuan Aditya marah saya kena omelannya." kata bibi ikut menunggu nenek turun ke bawah.


"Kasihan mangganya banyak sekali dimakan kelelawar."


"Nyonya besar, harga mangga tidak seberapa. Bagaimana kalau nyonya jatuh, bisa berabe nyonya."


Setelah nenek sampai dibawah, barulah mereka kaget melihat wajah nenek yang seram dan matanya menatap satu persatu tamu yang ada didepannya.


"Siapa kalian, apakah kalian tamu cucuku?" tanya nenek dengan bahasa Inggris yang fasih. Nenek mengambil tongkatnya mendekati tamunya.


"Rupanya nenek pintar bahasa Inggris aku sangat kagum." Thasy langsung mengulurkan tangannya.


"Namaku Thasy Kaela nek, senang bertemu dengan nenek. Waktu muda nenek pasti sangat cantik, terlihat dari auranya."


"Bukannya terlihat seram, banyak yang bilang begitu. Tapi tidak apa-apa yang terpenting sehat jasmani rohani." kata nenek tertawa.


Mereka juga melihat nenek seram tapi tidak berani terus terang, takut nenek marah.


*****

__ADS_1


__ADS_2