CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 81


__ADS_3

Saat Rhafael meninggalpun orang tuanya masih mengharapkan supaya anaknya itu bisa menghasilkan banyak uang, untuk melunasi utang-utangnya di bank. Sungguh memprihatinkan. Putu menuntut kompensasi yang besar kepada Aditya. Katanya semua uang untuk orang tuanya, karena terlanjur kredil rumah yang biasanya ditanggung oleh Rhafael.


Setelah perdebatan alot dan memakan waktu tiga hari barulah pihak Rhafael mau berdamai Mungkin dia berpikir dari pada tidak dapat uang sepersenpun, lebih baik menerima lima ratus juta. Masalah ini juga blunder, tidak ada penyelesaian dan tidak ada tersangka. Saksi juga hanya Devaly yang buta.


Mengalami tekanan berat yang bertubi-tubi, gara-gara Leak, dengan pembunuhan sadis yang dilakukan Leak, membuat Aditya pergi ke kamar nenek. Dia duduk dikursi disamping tempat tidur nenek.


"Aku tahu nenek mendengar apa yang aku ucapkan. Tolong nenek jangan kaget, hari ini aku telah menggelontorkan lima ratus juta untuk keluarga Rhafael. Paman dan Putu tadi datang, menuntut akan memenjarakan salah satu pelayan nenek yang memakan jantung dan hati Rhafael. Seperti biasa aku menutupi nama baik keluarga dengan uang. Selalu begitu. Setiap hari bekerja mengumpulkan uang, tapi selalu ludes untuk menutup mulut orang, supaya aib kita tidak terbongkar luas." Aditya mengeluarkan unek-unek nya sambil matanya menatap nenek dengan kesal. Mata nenek bergerak seperti biasa, ntah nenek mendengar atau tidak.


"Aku capek nek. Kenapa nenek mewariskan ilmu Leak padaku, wajib memakan sesama, apa maksud nenek. Aku bukan kanibal, Aku tidak sanggup membunuh orang, apalagi memakannya. Nenek mengharuskan setiap malam kelayapan demi mencari tumbal roh anak bayi, dan juga setiap hari mencari info, tentang bayi atau anak-anak yang meninggal supaya jazad nya bisa dicuri. Aku lebih baik mati kalau tersiksa begini nek. Tiap malam tidur ku tidak nyenyak, gara-gara menahan Malamute yang ingin menukar tubuhku untuk mencari mangsa atau berbuat mesum." lanjut Aditya lagi. Setelah menarik nafas Aditya kembali ngoceh.


"Nenek, aku tidak cocok menjadi Leak, mungkin aku akan pergi keluar negeri atau bunuh diri. Aku akan mengorbankan diriku supaya keturunanku tidak bisa ngeleak. Aku tidak ingin kekayaan nenek, aku hanya ingin bebas dan hidup dijalan Tuhan." suara Aditya tersendat, air matanya jatuh satu persatu.


"Cabut saja nyawa ku nek, aku sudah bosan hidup." Aditya sesenggukan. Dia menunduk meletakkan kepalanya dipinggir tempat tidur. Dadanya terasa sesak menahan kesedihan yang mendalam.


Sampai akhirnya dia merasakan tubuh nenek bergerak-gerak bangun. Aditya mendongak, dia berteriak tapi tidak bisa, bibirnya terasa terkunci rapat. Air mata nenek merembes di pipinya, orang tua itu menangis sedih.


Secara perlahan tubuh nenek terguncang hebat, setelah itu kepala sampai leher nenek seolah tercabut dari pangkal leher bersama jeroan perut nenek terangkat ke atas. Benda itu melayang berputar mengelilingi kamar sambil nenek menangis sedih. Setelah itu benda melesat lewat jendela. Terdengar teriakan kesakitan yang panjang menjauh.


Astaga, Aditya terbangun, dia mengusap wajahnya, rupanya hanya mimpi buruk. Tidak mungkin lah nenek terbangun dan ngelekas atau berubah wujud siang hari, itu sama artinya bunuh diri. bathin Aditya.


Aditya melirik kepala nenek, dia kaget dan cepat berdiri. Rupanya kepala nenek beneran hilang. Seketika Aditya gemetaran dan jatuh pingsan.


Ntah berapa lama ia dalam keadaan pingsan, setelah sadar dia mendapatkan dirinya tidur di Ranjang di kamar Devaly. Ternyata Devaly sendiri yang menunggu nya, tangan Devaly tidak bosan memegang tangan Aditya yang kekar. Devaly begitu sedih, dia meraba-raba tubuh Aditya dan berusaha mendekatkan diri ke wajah Aditya.


Aditya sangat senang mengetahui bahwa Devaly memperhatikannya. Dia tetap diam ingin tahu apa yang dilakukan Devaly. Tiba-tiba Devaly mendaratkan bibirnya, dia mencium lembut Aditya.


"Dasar pecundang beraninya kau mencium calon suamiku." Mayang menarik rambut Devaly dan menghempaskannya ke lantai.

__ADS_1


"Bruugghh...." tubuh Devaly jatuh kepalanya terbentur tembok.


"Kurang ajar!! Beraninya kamu membanting istriku!!" teriak Aditya marah. Tapi Mayang cepat lari ketika mengetahui Devaly pingsan.


"Tolong!!" teriak Aditya.


Rakhes yang berada di garasi lari ke kamar Aditya. Dia kaget melihat Devaly tergeletak di lantai.


"Rakhes, tolong suruh Made memanggil dokter." kata Aditya.


"Tapi Made sedang sibuk, aku tidak bisa masuk, penuh." jawab Rakhes membantu Aditya mengangkat Devaly ke ranjang.


"Maksudmu?"


"Nenek meninggal, semua pada sibuk." kata Rakhes menatap Aditya penuh arti.


"Benar, aku yang mengangkat nenek ke Bale Gede. Banyak tetangga dan para pencari berita datang. Aku juga melihat polisi dan aparat desa."


"Seramai itu?" gumam Aditya. Rhakes hanya mengangguk. Dia mulai mengingat kejadian yang terjadi pada dirinya, pada nenek.


"Ahhhh....aku haus.." suara Devaly membuat Aditya tersadar.


"Sayank, kau sudah sadar, bangunlah." Aditya membantu Devaly bangun dan duduk di pinggir ranjang.


"Nona apa ada yang sakit, aku melihat darah di rambutmu." Rakhes kaget dan menunjuk rambut Devaly.


"Sakit sedikit." kata Devaly tersenyum.

__ADS_1


"Apa perlu dipanggilkan dokter?"


"Tidak usah, obati pakai antiseptik saja." sahut Devaly memegang kepalanya, dia meraba-raba benjolan di kepalanya. Aditya dan Rhakes sibuk memeriksa kepala Devaly.


"Perih sekali." Devaly meringis saat Aditya mengobati lukanya.


"Minum nona Devaly." Rakhes menyodorkan air mineral. Hampir saja Devaly mengambil air itu, untung dia ingat bahwa dirinya harus pura-pura buta.


Ketika dia sadar dari pingsannya, Devaly sontak kaget, tiba-tiba dia bisa melihat lagi. Mungkin karena kepalanya terbentur tembok, dia surprise dan sangat senang. Tadinya dia mau katakan kepada Aditya, mendadak dia urungkan. Dia ingin menguji kesetiaan pria itu.


"Sayank, aku adalah cucu nenek, seharusnya aku berada di belakang mengurus kematian nenek, tapi jika kamu keberatan aku akan menunggumu sampai sehat."


"Pergilah aku baik-baik saja." kata Devaly berusaha bijak.


"Kamu tidak apa-apa kan, diam disini. Aku akan menyuruh pelayan menemanimu."


"Tidak usah disini sudah ada Rakhes. Kamu tadi lama pingsan, lebih baik kamu makan terlebih dahulu."


"Nanti aku makan di belakang." kata Aditya mengecup bibir Devaly.


Dia cepat-cepat keluar dari kamar. Terlihat banyak sekali orang yang datang kerumah untuk melayani. Aditya menyeruak kerumunan warga. Semua mata memandang dirinya.


Ternyata sudah ada polisi yang memagari tempat nenek disemayamkan. Bibi Ayu dan Kemoning menyongsong Aditya dan mengajak melihat nenek.


"Syukurlah Tuan cepat sadar. Kita tidak bisa ngobrol banyak, saya hanya memberitahu bahwa nenek sudah meninggal dengan cara yang kurang lazim. Sepertinya nenek bunuh diri, karena Leak tidak mungkin Ngelekas siang hari dengan wujud KUYANG. Itu hanya kesimpulan saya."


Bibi menjabarkan kondisi nenek, sehingga dia berani memutuskan untuk memindahkan nenek keluar dari kamar dan tidak mungkin nenek kembali mencari badannya, karena bibi yakin nenek sudah mati kena sinar Matahari.

__ADS_1


****


__ADS_2