CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab.22


__ADS_3

Menghina orang adalah sebuah perbuatan tercela, dan Tuhan tidak menyukai hal tersebut. Karena biasanya, orang yang julid dan mencaci maki orang lain adalah mereka yang bersikap sombong, egois dan angkuh.


Sedangkan Tuhan sangat membenci orang yang tidak hormat kepada orang tuanya.


Apapun yang nenek ucapkan Aditya selalu membantah, dia berasumsi bahwa Mayang dan keluarganya sedang menghasut nenek. Nenek hampir tidak pernah keluar semenjak dituduh bisa ngeleak dan menyakiti serta membunuh penduduk kampung. Mustahil nenek ketemu orang tua Mayang, mungkin karena nenek kaya raya orang tua Mayang meminta kepada nenek untuk menyetujui pernikahan ini.


Aditya sangat marah dan pergi begitu saja dari dapur. Semua pelayan kecewa jika Aditya tidak tertarik kepada mereka. Mayang duduk terhenyak mendengar perkataan Aditya yang sangat merendahkan dirinya. Dia seolah tidak ada harganya sama sekali dimata Aditya. Pasti ini gara-gara Devaly. pikir Mayang kesal kepada wanita liar itu. Ingin rasanya dia mencekik wanita bule itu.


"Cucu nenek tidak senang padaku, jadi aku bebas memilih lelaki diluar. Aku bukan wanita rendahan yang seenaknya dihina di depan banyak orang, aku punya harga diri, kualitas." Mayang meradang.


"Sabar Mayang, Aditya belum mengerti arti kehidupan, mungkin saat ini dia terpesona dengan wanita itu, kalau sudah ada benturan baru dia mengerti, betapa tidak bernilainya jalan yang dia pilih."


"Eleehh... nenek terus bicara begitu, aku bosan mendengarnya. Devaly itu bebas nek dan dia berani masuk ke kamar Tuan, Gimana kalau cewek itu hamil. Apa nenek mau memakan bayi itu, supaya tingkatan pengeleakan nenek bertambah naik?"


"Mengapa kamu tidak meniru Devaly yang berani masuk ke kamar Aditya?" bibi Ayu memberi saran. Dia juga gerah melihat kemunculan Devaly dengan Aditya di ruang makan.


"Tuan Muda tidak tertarik padaku, Devaly saja dulu sering dicuekin Aditya. Sekarang baru nemplok seperti prangko."


"Nenek apa aku boleh mengganggu Tuan Muda ke kamarnya?"


"Jangan Mayang, jika itu terjadi derajat nenek turun di mata masyarakat kampung. Nenek yakin kamu pasti akan hamil."


"Nenek, sekarang ini sudah zaman now, tidak perlu memikirkan derajat, kasta, martabat dan wibawa. Nenek sudah di cap orang yang bisa NGELEAK, nenek sudah di blacklist dari dulu, derajat nenek sudah meluncur drastis dan remuk diinjak-injak oleh orang kampung, Tidak ada yang bangga sama nenek, jika nenek mau bukti, besok nenek kondangan ke tetangga, aku yakin seribu persen, seluruh orang akan lari menghindari nenek." jelas bibi hati-hati. Dia ingin supaya nenek mengerti dan memberi kebebasan kepada pelayannya.


Nenek terdiam, apakah dirinya sudah tidak berwibawa seperti zaman dulu. Dimana dulu dia dipuja karena kekayaannya dan pesona yang memancar dari dalam tubuhnya. Inner beauty nya. Dia baru sadar, efek mempunyai ilmu Leak hanya membuat keluarganya hancur dan menjadi musuh masyarakat desa.


Nenek bangun dari duduknya, matanya yang bersinar seperti mata iblis berkilat tajam memandang pelayannya satu persatu. Dia berjalan keluar dari dapur dengan badan bergetar marah. Terbayang Aditya yang melawannya, Devaly yang pongah, Mayang yang mengancam mau pergi mencari lelaki lain. Duhh....manusia laknat.


Kini bibi malah menghasut Mayang supaya tidur dengan Aditya. Keterlaluan, murahan sekali. Tidak sepatutnya bibi bicara begitu di depannya atau Mayang yang pura- pura bodoh tidak punya harga diri. Padahal dia tahu resikonya kalau tidur dengan Aditya. Pasti hamil diluar nikah.


Melewati kamar Aditya nenek berhenti, dia panas hati mendengar suara cekikikan gadis liar itu. Dengan tenaga tuanya dia mendorong pintu yang tidak terkunci itu.

__ADS_1


"Apa pantas kamu berbuat begini Adit, kamu sudah tidak punya rasa malu?" ketus suara nenek. Dia melihat Aditya memeluk Devaly sambil berciuman.


"Ada apa nek, kami hanya bercanda." kata Aditya gugup. Devaly hanya termangu melihat nenek, karena dia tidak mengerti bahasa nenek.


"Devally, get you out of here!!" pekik nenek seperti kerasukan setan. Telunjuknya menuding wajah Devaly.


Ntah kenapa Devaly yang dulu sombong, julid, tiba-tiba meneteskan air mata dan melepaskan diri dari pelukan Aditya.


"Sorry nenek, aku bersalah." Devaly langsung keluar dengan rasa kecewa.


"Aku tidak mengerti dengan pikiran nenek. Aku masih muda nek. Tapi tidak apa-apa kalau nenek menyiksaku. Aku akan pergi ke luar negeri jika nenek memaksa diriku." kemarahan Aditya tidak bisa diganggu gugat. Dia benci dengan neneknya.


"Cucu durhaka, teganya kamu berkata begitu." kata nenek lirih. Dia beranjak dari kamar Aditya menuju ke kamarnya.


Setelah nenek pergi Aditya keluar dari kamar mau ke kamar Devaly, tapi dia dihadang oleh Mayang.


"Tuan mau kemana?"


"Bukan urusanmu setan!!" bentak Aditya menepis tangan Mayang yang mencoba memegang lengannya.


"Aku tidak peduli dengan hartanya, silahkan diambil semua....." kata Aditya menuju kamar Devaly.


"Jangan menyesal kalau saya nanti membuat Tuan tergila-gila dengan saya."


"Aku tidak peduli dengan setan seperti kau." Aditya terus berjalan.


Mayang menatap Aditya dengan mata iblis nya dan menginjakan kaki kanan ke tanah tiga kali sambil merapal mantra penglipuran.


"Addgvhffcbnjh jjhhgfdgcbv ihbffbhgh. gnbfrghh...ygbghbghghb...ahhhh...Ups."


Sebelum Aditya membuka pintu kamar Devaly, dia merasa ada angin panas menusuk punggungnya. Kaki Aditya terhenti seketika. Aditya membalikan badan. Matanya menatap Mayang dengan tatapan kosong. Bibir Aditya tersenyum hambar dan kakinya melangkah menuju Mayang.

__ADS_1


"Kemarilah Aditya, ikutlah denganku." kata Mayang melambaikan tangannya. Senyum iblis, menghiasi bibirnya.


Aditya seperti robot sudah kena ilmu pelet. Kakinya terus melangkah mengikuti Mayang ke Gazebo yang berada jauh di pinggir kebun kopi. Walaupun siang Gazebo ini tidak bisa dilihat, banyak pohon yang menghalangi penglihatan.


"Duduklah sayank, naikan kakimu. Disini kamu akan tenang dan tidur bersamaku. Hanya aku pacarmu." ujar Mayang membantu Aditya naik ke Gazebo.


Mayang tidak banyak bicara, dia langsung tidur disamping Aditya. Hanya dengan berdekatan dengan calon suaminya, Mayang sudah senang. Sebagai wanita dewasa tentu Mayang sangat bergairah melihat Aditya yang tampan, dadanya bidang, serta otot lengannya yang menonjol.


"Sayank, aku sangat mencintaimu sebelum nenek menjodohkan kita." kata Mayang mengecup bibir Aditya.


"Aku ingin kamu menciumku sekarang."


Aditya lalu mencium Mayang tanpa ekspresi. Tentu saja Mayang kecewa. Dia tidak ingin bermesraan dengan robot. Akhirnya Mayang duduk menatap Aditya yang masih tidur telentang. Mayang berpikir kalau dirinya harus mencari Devaly.


Mayang meninggalkan Aditya sendiri di Gazebo dan langsung menuju kamar Devaly.


"Tookk...tookk...tookk..."


Devaly kaget saat melihat Mayang ada di hadapannya. Mayang masuk kamar tanpa permisi, bau parfum memenuhi kamar Devaly. Orang kota beda, wangi sekali. pikir Mayang.


"Ada apa Mayang?" tanya Devaly heran.


"Aku mau membuat foto prewedding dengan Aditya, tapi berpakaian natural. Mau kamu menolong ku mengambil gambar kami?"


Degg!! jantung Devaly seolah terhenti, dia menatap Mayang dengan perasaan tidak menentu.


"Suruh orang lain saja aku mau istirahat." tolak Devaly kesal. Tapi Mayang menarik tangan Devaly dan mengajaknya ke Gazebo.


"Apa kamu cemburu Devaly, supaya kamu tahu Aditya itu adalah calon suamiku. Kami telah dijodohkan oleh nenek."


"Aku tidak peduli kamu dijodohkan atau tidak bagiku tidak penting. yang aku rasakan saat ini adalah pemaksaanmu yang tidak pada tempatnya."

__ADS_1


"Hahaha.....cepatlah kau kembali ke negaramu!!" kata Mayang penuh rasa benci.


*****


__ADS_2