
Kembali Abisheka menuangkan minuman yang kedua ke gelas bertangkai. Kini dia duduk menanti keajaiban, siapa tahu bidadari malam datang menggoda seperti kemarin. Dia mengambil ponselnya dan membuka playlist spotify.
Golden Hour dari JVKE menghibur hatinya yang merindu. Menunggu itu memang sakit, jenuh dan membosankan, tapi kenapa ketika dia ingin berhenti menunggu, hatinya tetap memaksanya untuk berada ditempat yang sama. Dia tahu cinta itu harus diperjuangkan.
Menunggu tidak bisa diukur dengan kata-ata atau dalam nya lautan dan panasnya mentari, karena dia tahu kau akan tetap memeluknya, memberi harapan baru. Namun apakah dia sadar, bahwa ada orang yang menunggunya dengan sabar?
Sekuat kemampuannya untuk menunggumu, itu pula harapannya padamu. Senyum di bibirnya tidak akan pernah hilang, sampai kamu berada di sisinya. Andai kamu abaikan atau tidak peduli, diapun akan tetap menunggu.
"Aagghhhh....." Abisheka menarik nafas panjang. Dia sedikit merinding ketika ada lolongan anjing. Dulu dia tidak pernah peduli, sekarang dia sangat peduli.
"Apakah kamu menungguku sayank?" suara itu mengagetkan Abisheka. Dia mengambil ponselnya untuk menyalakan senter, namun tangannya cepat ditepis oleh gadis itu. Sang gadis dengan kasar menarik Abisheka sampai laki-laki itu jatuh kepelukan gadis itu.
"Sayank...aku menunggumu lama, sampai aku mau menangis atas kedatanganmu ini." ucap Abisheka terharu.
"Apakah kamu sudah mencintaiku, sampai kamu sangat merana jika aku tidak datang?"
"Aku ingin menikah denganmu, aku akan mengajakmu ke India dan kita tinggal di Mumbai."
"Abisheka jangan banyaķ berharap padaku, kita jalani saja dulu sampai batas waktumu tinggal di Bali." kata gadis itu merebahkan tubuhnya disamping Abisheka.
Mereka dengan tergesa-gesa membuka pakaiannya dan tanpa pemanasan jlimet, Abisheka langsung tancap gas. Dia tidak mengerti kenapa perasaannya seolah ada yang mengejar, merasa ada yang memburu sehingga dia ketakutan. Tapi dia abaikan perasaannya. Permainan gadis itu telah membuat gelora asmaranya memuncak.
"I love you so much honey." bisik Abisheka di antara ******* gadis itu.
"Me too, if time could go back I would marry you." jawab gadis itu. So sweet.
Malam semakin larut ******* maksiat gadis itu terdengar sampai jauh. ******* itu terdengar semakin lama semakin meringkik, seperti kuda binal yang menghempaskan penunggangnya.
"Sayank aku sudah tidak kuat menandingimu, tapi kamu terus ssja memaksaku." Abisheka memohon untuk jeda sejenak. Dia sudah tidak kuat, tapi gadis itu memaksanya. Ada apa ini, dia manusia biasa yang punya kekuatan terbatas. Tapi gadis itu tidak peduli. Dua jam berlalu dan akhirnya Abisheka tidak sadarkan diri.
"Akhirnya aku dapat mengisap cairan kehidupanmu, aku akan awet muda xixixi...."
__ADS_1
Gadis itu lalu ngeregeh dengan kaki menjinjit dan tangan yang bergerak turun dari Gazebo. Gadis itu menempelkan mulutnya ke mulut Abisheka dan menyedot sesuatu, kemudian dia berdiri tegak. Setelah semua keinginan nya berjalan sesuai ritual, gadis itu pergi meninggalkan Abisheka begitu saja.
Gadis itu lenyap dengan suara tertawa yang mengerikan. Suara burung hantu terdengar saling bersahutan. Angin puyuh tiba-tiba menggoyang pohon tabebuya, sehingga daun dan bunganya yang kuning hampir menutupi tubuh Abisheka.
Pepatah bilang, kesempatan tidak datang dua kali. Jadi kalau ada kesempatan jangan disia-siakan. Raih dan lakukan yang terbaik. Devaly tidak mau membuang kesempatan begitu saja. Dia cepat bangun dan mandi. Sebelum teman yang lain bangun, Devaly mengendap-ngendap ke kamar Aditya yang terletak di samping kamar nenek Saodah.
Kesempatan selalu ada, namun banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Tapi Devaly tidak pesimis, dia membuka pintu perlahan dan cepat masuk ke kamar Aditya.
Dia tidak ingin kehilangan kesempatan yang berharga lagi. Dia naik ketempat tidur dan berbaring disamping Aditya. Debaran jantung Devaly terdengar jelas. Perlahan tangannya memeluk Aditya dan bibir Devaly menyentuh bibir Aditya.
Anehnya Aditya tidak sadar bahwa Devaly berusaha menyentuh bagian sensitifnya. Dia mungkin sedang bermimpi sehingga Aditya membiarkan Devaly dengan aksinya. Tentu saja Aditya keenakan, mulutnya sampai kepedesan.
Tiba-tiba Aditya membuka matanya, dia kaget melihat Devaly sudah memeluknya.
"Devaly apa-apaan kamu!!" bentak Aditya dengan wajah memerah. Suaranya keras tapi dia membiarkan aksi liar Devaly..
Masalahnya Aditya terlanjur keenakan. Serba salah memang, kalau menolak kasihan, kalau tidak menolak Aditya merasa ingkar janji kepada nenek. Dia sudah mengatakan akan menjaga asetnya supaya tidak ada wanita seperti Devaly yang menyentuhnya.
"Kamu diam saja Sayank, aku akan membuat kamu ketagihan." bisik Devaly mesra. Dia mulai meloloskan apa yang dia pakai.
"Aku tidak ingin ini terjadi, hanya istriku yang boleh menyentuhku." kata Aditya agak keras, dia ingin nenek mendengarnya dan tidak menyalahkan dirinya di kemudian hari. Aditya yakin neneknya sudah bangun.
"Tenang Aditya aku akan menjadi teman tidurmu, setiap kau ingin aku siap."
"Kalau begitu ....hmmm." Aditya tidak sempat berkata-kata karena mulutnya disumbal oleh bibir Devaly. Gairah Aditya menjadi melonjak. Ibaratnya kucing dikasi ikan, Aditya tidak kuasa menolak. Urusan dengan nenek bisa dipertimbangkan belakangan.
"Aku menyerahkan diriku padamu, sungguh mati aku menginginkan." ucap Devaly dengan gairah meluap. Dia merasa tersiksa jika tiap malam mendengar suara desah Basabi dan Thasy di kiri kanan kabarnya.
"Devaly aku tidak menginginkan, tapi kamu yang memaksa. Jangan salahkan kalau nanti kamu hamil, aku tidak tanggung jawab." ucap Aditya pura-pura menolak, padahal dia dari tadi menahan salivanya.
"Aku ready...." Devaly telentang dengan gaya menantang. Aditya berdecak kagum melihat body gadis itu yang sangat menggiurkan. Rasanya baru kali ini dia melihat seorang wanita yang sangat sempurna. Wajah cantik, senyum manis, body sexy, dan gampang dijamah.
__ADS_1
Dia mulai dengan gaya sombong. Devaly terlalu sering menghinanya. Jadi Dia biarkan Devaly merengek-rengek seperti monyet birahi, telentang dan menantang. Aditya pura-pura jual mahal. Siapa suruh sombong?
"Aditya jangan menyiksaku." kata Devaly gelisah. Dia seperti belut kena garam, blingsatan.
"Makanya jangan sombong, suka menghina. Hanya aku yang bisa memuaskan mu yang lain mana mau denganmu.
"Maaf sayank, tidak usah diungkit yang sudah-sudah. Perasaanku padamu sudah berbeda. Dulu benci sekarang cinta."
Tanpa basa basi Aditya menerkam tubuh Devaly, dia seperti singa kelaparan. Sebagai pemuda zaman now, tentu sudah banyak pengalaman yang dia pernah lakukan dengan berbagai type cewek. Aditya tancap gas, tapi Aditya tidak menyangka kalau Devaly masih Virgin. Sungguh surprise.
"Kamu masih Virgin?" tanya Aditya menatap mata gadis itu dengan heran.
"Aku menjaganya, itu syarat utama supaya bisa menjadi miss Internasional. Apakah kamu suka?"
"Aku tidak menyangka. Petualanganku panjang, dan belum pernah mendapat gadis liar tapi masih Virgin. Terus kamu belajar darimana tutorial kamasutra?"
"Film biru...." kata Devaly singkat. Abisheka tidak melanjutkan aksinya. Dia turun dan berbaring disamping Devaly.
"Kenapa berhenti, kamu marah padaku?" tanya Devaly merasa diabaikan. Abisheka tersenyum dan memeluk gadis cantik itu.
Abisheka ingin membuat aksinya menjadi sesuatu yang tidak bisa dilupakan Devaly. Kesan pertama tidak boleh mengecewakan. Dia ingin membuat Devaly jatuh hati padanya.
"Tookk...tookk...tookk.."
"Tuan Muda sarapan, tamunya menunggu anda dan Devaly, sudah jam sembilan." suara Mayang keras mengandung cemburu.
"Aku mandi dulu, suruh mereka duluan makan." jawab Abisheka kesal.
"Devaly habis sarapan kita lanjutin di tempat lain disini ada saja yang mengganggu." bisik Abisheka. Mereka kembali berpelukan, tanpa ingin berpisah.
*****
__ADS_1