CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 95


__ADS_3

Kemoning dan Ghina pulang naik ojek, sulit mencari ojek di kampung. Menunggu pagi dulu, baru datang pak ojol. Mata sudah sepet rasanya menahan kantuk, sampai beberapa kali helm terantuk punggung pak ojol. Demi mengabdi kepada nenek apapun rintangan akan mereka lakukan.


Sampai juga dijalan Drakula, Kemoning dan Ghina berlenggang masuk Gapura, mereka tertegun ketika melihat kerumunan warga dan yang lebih miris Bale Gede yang berisil jazad nenek ludes terbakar. Dada Kemoning berdebar tidak enak, kenapa ada kebakaran?


Warga dan kerabat tetap menjalankan ritual yang seharusnya dipimpin oleh beberapa pendeta. Kini ada satu pendetaTulang belulang dibungkus kain kapan dan semua bekas sisa pembakaran dibersihkan memakai Excavator. Kemoning bengong melihat antusias warga dan kerabat bekerja. Rasanya sulit membalas kebaikan mereka yang tulus.


Begitulah orang kampung, walaupun dimasa hidupnya nenek sangat dibenci oleh warga, setelah meninggal dan ada bencana begini mereka kompak turun tangan saling bantu. Jempol dua untuk warga Drakula!!.


Sungguh ajaib, hanya Bale Gede saja yang terbakar beserta isinya, padahal ada Bale Dangin, Bale Daje yang tidak begitu jauh dari jangkauan api. Ini mungkin petunjuk Tuhan, bahwa kelakuan nenek beserta Leak lain sangat meresahkan dan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia lain.


"Bibi apa yang terjadi?" tanya Kemoning menemui bibi di dapur. Bibi kaget dan semua pelayan memandang mereka penuh tanda tanya. Kemoning dan Ghina mengambil masker. Bau tidak enak memenuhi rumah.


"Kalian berdua dari mana, kami dari jam tiga kerja rodi, karena Bale Gede terbakar. Semua mayat yang tergeletak di halaman terlempar ke api. Aku mengira kalian berdua ikut juga terbakar."


"Kami mengantar Tuan Aditya ke Rumah sakit, kakinya kena tembak polisi tadi malam." jawab Kemoning.


"Kalian bisa tidur di kamar sedangkan kami menemani Tuan dan pendeta bertarung melawan puluhan Leak yang ingin merebut kepala nenek, kami terpaksa pergi karena Tuan tertembak, itupun kami paksa Tuan untuk ke rumah sakit berobat."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya bibi.


Akhirnya Ghina dan Kemoning bercerita, para pelayan semua duduk mendengar cerita mereka berdua. Tapi mereka berdua sepakat tidak menceritakan bahwa Tuan Aditya bisa berubah wujud menjadi Serigala.


"Kasihan Made, dia pemuda setia dan sangat bertanggung jawab." kata bibi sedih, semua ikut sedih mendengar Made meninggal. Bibi juga akhirnya bercetita.


"Aku keluar dari kamar karena mendengar suara sirine polisi, aku sangat psnik. Banyak polisi dan warga. Anehnya mereka seolah menunggu Bale Gede habis terbakar, padahal ada mobil pemadam. Setelah semua menjadi abu baru disiram, dan ada ritualnya."


"Syukurlah hanya Bale Gede yang terbakar, mungkin sudah ditakdirkan tempat itu harus musnah."


"Berarti Tuan masih hidup?" tanya bibi.

__ADS_1


"Masih, tapi kami kecolongan. Saat kami menunggu Tuan di UGD, polisi menangkap Tuan, ntah dibawa kemana kami tidak tahu, makanya kami pulang untuk memberitahu kalian." jelas Kemoning.


"Ya Tuhan. Padahal polisi yang menembak, kenapa Tuan harus ditangkap."


"Bisa jadi polisi beranggapan bahwa Tuan menjadi Macan dan membunuh Basabi. Karena polisi sempat menembak kaki Macan itu. Masslah itu Rakhes dan Thasy yang tahu karena mereka melihat kejadiannya."


"Jadi nona Basabi meninggal?" Kemoning dan Ghina sangat kaget.


"Made sebenarnya tidak tahu kalau Basabi meninggal, apakah Basabi yang mengajak Made supaya ikut meninggal, sungguh diluar nalar. Apakah ini namanya jodoh?" Kemoning seolah berkata kepada dirinya sendiri.


"Takdir tidak bisa dielakan, kalau Tuhan sudah berkehendak, manusia bisa apa." kata Ginha.


Mereka diam sejenak, merenung apa yang telah terjadi. Perasaan mereka menjadi hampa. Setengah mati mencari uang, setelah banyak akhirnya ditinggal mati. Hidup begitu tragis. Bibi Ayu menarik nafas panjang dan melepasnya kasar.


Rasanya beban terlalu berat. Sebagai tangan kanan nenek, yang memegang uang nenek, bibi sudah mengucurkan dana hampir dua miliar untuk semua ini. Fantastis!


"Aku yakin yang makan Basabi adalah Mayang, hanya dia yang bisa menjadi Macan."


"Jika Tuan tidak bersalah tidak mungkin akan ditahan. Kita berdoa saja supaya Tuan cepat dibebaskan."


"Bibi aku mau mencari Rakhes dan nona Devaly, aku mau mengabarkan bahwa Tuan masih hidup."


"Kita bareng kesana, kita jelaskan semuanya. Tolong yang lain melayani apa yang warga minta. Kalau ada yang menanyakan makanan katakan bagian konsumsi akan langsung dari catering membawa makanan ke tempat ritual terakhir." kata bibi berdiri.


Mereka lalu menuju ke Bungalow mencari Rakhes dan kebetulan Rakhes, Thasy dan nona Basabi ada di tuang tamu.


"Selamat pagi semuanya, maaf aku dan Ghina agak bau, belum sempat mandi." kata Kemoning seraya duduk di sofa.


"Pagi,

__ADS_1


"Selamat pagi nona Devaly apakah nona sudah bisa melihat?" Ghina menatap Devaly.


"Maih samar, aku lagi bersedih karena kehilangan Basabi dan aku juga ingin tahu kemana Made dan Aditya." sahut Devaly dengan sedih. Mata nya terlihat sembab.


"Nona Devaly aku turut berduka cita, aku dan Ghina atau pelayan lain yang ada di belakang sebenarnya tidak tahu kalau nona Basabi sudah meninggal dunia. Kami terlalu fokus melanjutkan ritual sampai tidak tahu apa yang terjadi. Kami akan bercerita kejadian yang lain supaya kalian tahu." kata Kemoning sopan.


Kemoning dengan tenang bercerita tentang Aditya dan nenek yang mencurigakan. Ghina dan bibi Ayu juga menambahkan apa yang terjadi dan bagaimana kelanjutan prosesi nenek, walaupun tidak ada Aditya.


"Berarti suamiku masih hidup?" tanya Devaly menangis.


"Ya nona, jika sempat Tuan Rakhes mencari tahu dimana Tuan Aditya ditahan, bibi Ayu pasti tahu kalau nenek punya pengacara, lebih baik pengacara dihubungi."


"Aku tahu pengacara keluarga, nanti aku hubungi. Kita juga harus menengok dan membawa pakaian ganti untuk Tuan."


"Tapi sebelumnya aku harus menghubungi keluarga Made, tentang musibah ini."


"Kita bagi tugas, jika bibi tidak keberatan hubungi saudara kandung Tuan, kakak nya tiga berada diluar daerah." kata Ghina selanjutnya.


"Bagaimana kalau mereka tidak mau datang, mereka trauma bukan karena nenek saja, tapi karena pelayan nenek semua bisa ngeleak."


"Yang penting kita kasitahu, datang dan tidaknya terserah mereka." kata Kemoning.


Mereka pun akhirnya bubar, Kemoning dan Ghina masuk je kamar untuk mandi. Bibi yakin sehabis mandi mereka tidak akan muncul lagi, saking capeknya.


Devaly duduk termenung, air matanya sudah terasa kering karena terus menangis. Kenapa nasibnya jelek begini, tidak seharusnya dia menyerah begitu saja dan menunggu Aditya. Harusnya dari dulu dia sudah pergi dari sini dan hidup tenang di Los Angeles.


Akankah dia menunggu kematian Rakhes atau Thasy, seperti kutukan, satu persatu temannya meninggal. Devaly menghapus air matanya, dia menatap foto Aditya di galeri ponselnya, kadang dia ingin menyalahkan Aditya, karena dia lah yang membuat hidup Devaly susah.


****

__ADS_1


__ADS_2