
Aditya diam-diam mengajak Devaly pergi ke kota untuk menikah di catatan sipil. Tekatnya sudah bulat, yang penting Devaly menjadi istrinya, urusan dengan nenek belakangan. Mumpung Devaly bersedia. pikir Aditya.
Aditya memutuskan pergi dengan Devaly di dampingi Made dan Basabi. Perjalanan ini dilakukannya berempat, Bukan pilih kasih, dia malas mengajak Abisheka yang suka usil dan sering membuat masalah. Kalau Made dan Basabi sudah maklum siapa Aditya sekarang ini, dia adalah pewaris Leak dan pewaris harta dari neneknya yang terkenal kaya raya.
Made dan Basabi yang mengerti siapa Aditya dalam tanda kutip bahwa Aditya adalah Leak, merasa khawatir akan pernikahan yang akan dilakukan oleh Aditya dan Basabi. Walaupun Aditya berjanji akan meredam kejahatan ilmu ini dengan bathinnya dan mengamalkannya untuk kebaikan, tapi itu baru wacana. Made dan Basabi tentu tidak begitu yakin, pertama karena Aditya masih muda, pergolakan jiwa mudanya sangat aktif, kedua karena sangat sulit menuju baik kecuali Aditya melepaskan pikiran duniawi dan pergi ke gunung untuk menjalani tapa, beratha, yoga semadi.
Siapa berani melarang orang yang sedang dimabuk cinta, Aditya bisa marah yang akan memperkeruh suasana. Mereka menuduh Made dan Basabi iri hati.
"Bos, sudah pamit sama nenek?" tanya Made ketika mereka sampai di jalan bayad di desa peguyangan.
"Sudah menjadi tradisi kalau nenek akan mengomel panjang lebar seperti biasa." kata Aditya datar.
"Mungkin bos di omelin karena mengajak Devaly, coba semua tamu diajak, kecuali nona Devaly pasti nenek diam."
"Ya juga, biarin saja lah. Aku melihat ada perubahan yang semakin mencolok ketika kita datang dari pulau Nusa Penida. Dulu nenek tidak pernah aneh-aneh padahal sering mengajak tamu wanita, tapi semenjak rombongan Devaly datang nenek langsung pasang jarak. Apa nenek feeling kalau Devaly akan menjadi istriku?"
"Bisa saja bos, secara nenek orang pintar." sahut Made tertawa.
"Kenapa kalian berdua berbahasa daerah kita tidak mengerti. Apa kalian membohongi kami Supaya rahasia kalian aman."
"Tidak ada rahasia, Made bertanya kepadaku apakah Basabi mau dinikahi." kata Aditya lalu memeluk Devaly.
Saat ini Made menyetir, dan Aditya duduk dibelakang bersama Devaly. Mereka seperti pengantin baru, mesra sekali.
"Saat ini aku tidak mau menikah atau punya anak, ribet, lebih baik sendiri dulu. Aku belum puas menikmati masa remaja." kilah Basabi melirik Nade yang lagi menyetir.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah bosan menjomblo, cari aku, kita menikah di Bali dan berbulan madu di tanah Lot."
"So sweet, aku senang melihat kalian berdua, adem ayem. Mungkin kalian berjodoh."
"Semoga kami berjodoh bos." ucap Made.
"Aku berdoa untukmu, tapi aku pesimis untuk masa depanku. Walaupun aku bisa menikah dengan Devaly, tapi masih banyak rintangan."
"Hanya karena sekarang sedang badai, bukan berarti bos tidak menuju sinar matahari. Ketika bos memiliki mimpi yang tidak dapat di lepaskan, percayalah pada instingmu dan kejarlah. Namun, ingat, mimpi yang nyata butuh kerja keras, butuh kesabaran, dan terkadang mimpi itu mengharuskanmu untuk menggali lebih dalam dan memperjuangkan."
"Yang membuat aku menderita adalah warisan ilmu nenek." keluh Aditya muram.
Bersedih adalah perbuatan kerdil, kita tidak tahu hari esok apa yang terjadi. Berserah diri kepada Tuhan dan terus berusaha mencari solusi, niscaya akan berhasil.
Begitu banyak yang mereka bahas dalam perjalanan ini. Hati mereka sangat plong, walaupun misteri hidup Aditya sebagian di sembunyi kan. Aditya juga tidak mau pamer kekayaan, dia hanya mengatakan bahwa dirinya tidak miskin sekali.
"Nenek, aku yakin malam ini nenek akan dapat juara. Ini perlombaan menjadi bola api dan melawan bola api desa sebelah. Aku sudah komfirmasi dengan Dadong Dauh, dia bilang pertandingan ini hadiahnya naik satu tingkat." bujuk Mayang dengan rayuan maut.
"Kamu mau berubah menjadi apa?" tanya nenek kewalahan menolak rayuan Mayang. Padahal hari ini dia capek sekali, mungkin karena belum mendapatkan "air kehidupan" jadi nenek cepat pusing, lelah, bawaannya mengantuk terus.
"Aku jadi monyet, supaya bisa berkumpul dengan yang lain. Pasti akan banyak Leak dari desa-desa lain yang ikut menonton, makanya aku tidak berani memperlihatkan wujud yang tingkatan lebih tinggi." kilah Mayang.
"Kalau kamu jadi monyet nenek tidak tahu yang mana kamu.
Nenek terpaksa menyetujui, padahal dia ingin memperlihatkan kalau calon menantu di jalan Drakula sudah berilmu tinggi. Para Leak akan takut dan hormat kepada nenek.
__ADS_1
Seperti sudah di sepakati, nenek duduk bersila di atas tempat tidur sambil mengujar mantra sirep, supaya semua penghuni rumah tertidur pulas dalam waktu satu jam. Setelah itu nenek "ngelekas" menjadi bola api emas.
Mayang yang sudah menunggu dari tadi terpesona melihat tampilan nenek. Ilmu warisan turun temurun memang berbeda.
"Ayo kita pergi." kata Mayang terburu-buru.
Mereka akhirnya menerobos kebun belakang karena lebih cepet sampai. Semakin kedalam semakin gelap dan dingin. Desa yang di pakai markas Leak, ada sekitar setengah mil dari kebun nenek.
Nenek berteriak kegirangan ketika melihat pertandingan sudah di mulai. Bola api saling bertebaran, sangat seru kelihatan dari jauh.
"Sebentar lagi kita akan sampai, nenek sangat senang. Mungkin nenek akan lama disini, kamu jangan pergi sebelum selesai."
"Siip nek, aku akan menunggumu." kata Mayang mendarat di bawah pohon beringin. Sedangkan nenek menemui panitia.
Aduhh..ramai sekali malam ini. Ternyata yang berilmu tinggi hingga rendah bergabung jadi satu. Tidak ada batasan. Tawa kegembiraan memenuhi arena tanding. Terlihat ada Leak kalah dan jatuh ke tanah.
Saat nenek melayang tinggi, bertanding dengan bola api merah, Mayang diam-diam menyelinap pergi. Mumpung tidak ada nenek dirumah, dia akan memadu kasih dengan tamunya.
Tadi sore dia tanpa sengaja masuk ke kamar Abisheka untuk menanyakan kapan pria itu di deportasi. Dia mau mengetuk pintu tapi tidak jadi. Terus saja dia nyelonong masuk kamar, kebetulan pintu tidak dikunci.
Dia merinding disko ketika melihat laki-laki itu hanya memakai boxer tertidur pulas. Mata Mayang tidak berkedip melihat aset Abisheka yang menonjol. Ingin dia membukanya dan menindih tubuh laki-laki itu.
"Mayang..." Tiba-tiba Abisheka membuka matanya. Mayang kaget, wajahnya memerah tertangkap basah.
"Ya..ya...maaf..,." suara Mayang terbata-bata.
__ADS_1
Abisheka tersenyum tipis menghampiri Mayang yang berdiri kaku. Tangannya meraih tubuh wanita itu dan memeluknya mesra. Jantung Mayang berdegup kencang, antara mau dan takut ketahuan nenek. Mayang cepat menepis tangan Abisheka dan lari keluar, dia takut karena pintu tidak terkunci.
****