CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 61


__ADS_3

Aditya memandang nenek tua itu lekat-lekat, dia tidak percaya kalau Jro dukun sudah meninggal. Sebenarnya apa yang terjadi, dia belum bertanya kepada Devaly. Bagaimana mau bertanya, Devaly sudah merasa dizalimi. Tangisnya tidak pernah berhenti ketika dia bisa menemukan Devaly sedang berlari sendiri di hutan.


"Tua bangka jangan sentuh diriku!!" teriak Thasy mengagetkan semua yang hadir.


"Kau milik suamiku, anakmu itu calon pewaris ilmu ku." si nenek ngotot memegang perut Thasy.


"Nenek, jangan membantah, biarkan Thasy mengajak anaknya. Itu bukan anak suamimu. Kenapa kamu ngotot."


"Gendeng!! Thasy itu hamil sehari, mana ada anak manusia dikandungan ibunya sehari, kecuali anak siluman. Kau tahu itu anak Leak dan anak itu akan memangsamu kelak, ingat itu. Aku akan menamakannya Bharat Sony."


"Pergiii...aku benci padamu, mulutmu seenaknya ngomong. Aku tidak percaya dengan Leak sepertimu." teriak Thasy.


Si nenek melangkah mundur, tangannya naik ke atas dan terdengar suara mengaduh. Kejadian itu cepat sekali, dan tiba-tiba Thasy melahirkan dan anak itu hilang bersama lenyap nya tiga orang itu. Sungguh di luar akal sehat.


"Anakku....Anakku...." teriak Thasy lemah.


Mereka saling pandang. Aditya yang melihat sekilas nenek menggendong bayi langsung menjawab.


"Thasy, seperti kata nenek tadi, bagimu itu adalah bayi Leak. JIka dia hilang itu wajar, karena dia turunan Leak dan bisa ngeleak."


"Tapi aku tidak tega menyerahkan begitu saja bayiku. Si nenek kurang ajar." kata Thasy menangis.


"Kau jangan menangis, biarin saja nenek mengambil anak itu, aku yakin anak itu mirip Leak ngakak seperti di vidio." Basabi kesal juga melihat Thasy lebay.


"Enak saja kamu bicara...hiks...hiks..."


"Thasy kalau kamu ingin bayimu, akan sangat merepotkan. Besok siang kita akan kembali ke Bungalow nenek. Nanti kalau Abisheka di deportasi kalian pasti juga pulang ke Los Angeles. Bagiku lebih baik nenek mengajak bayi itu, anggap bayi itu tidak pernah ada." ucap Aditya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kenapa nasibku jelek begini. Rakhes tidak mau peduli lagi padaku." lirih suara Thasy.


"Kita semua punya masalah, namanya hidup, yang penting bagaimana cara menyikapi. Kadang cinta itu salah berlabuh, tidak usah disesali, jalani saja seperti air yang mengalir."


"Aku terlalu mengharap, tidak menyangka dia akan berlari secepat ini. Yach, apa boleh buat, mungkin dengan kejadian ini aku lebih bisa mawas diri, belajar dari kegagalan dan tidak cepat tergoda dengan mulut manis seorang lelaki." kata Thasy menyesali diri.


"Maaf Aditya, kamu boleh kembali ke kamar. Aku akan membersihkan Thasy karena dia habis melahirkan." kata Basabi menyela. Dia tidak ingin Thasy kelewat sedih.


"Oh ya, aku mau istirahat sebentar, aku belum dapat tidur sama sekali." kata Aditya keluar dari kamar.


Keluar dari kamar Thasy, Aditya iseng ke serambi depan. Dia tersenyum melihat Devaly yang mungkin unjuk rasa dengan cara tidur di sofa panjang. Sudah mau pagi, bahkan suara kokok ayam hutan terdengar jelas.


Aditya menggendong Devaly ke kamar, saat dia merebahkan Devaly, matanya melihat banyak goresan duri di kaki gadis itu. Pasti Ini karena Devaly lari lewat semak-semak.


"Aku akan mengobatinya dengan air liurku." bisik Leak Malamute yang berada dalam tubuhnya.


"Ini darurat kau matiin lampu, ini aku bacakan kegunaan air liur anjing untuk luka." kata Leak Malamute tidak tahan melihat paha Devaly yang tersingkap mulus. Jiwa Leaknya meronta ingin dipuaskan.


"Protein tertentu dalam air liur anjing, disebut histatin, dapat bertahan melawan infeksi. Luka yang dijilat anjing sembuh dua kali lebih cepat daripada luka yang tidak dijilat. Apa kau mengerti?"


"Diam kau, Devaly sudah benci padamu. Aku ingin kau hilang dari hidupku, bebaxkan aku dari Leakmu."


"Jangan banyak bacot, aku akan menunggu kau merubah wujud."


"Tidak bisa, jika itu sampai aku lakukan kita akan musnah dari dunia ini tanpa bekas."


Akhirnya sisi Leak yang mengganggu hidup Aditya mau diam. Pria itu keluar dari kamar Devaly menuju kamarnya. Dia sangat lelah dan mengantuk.

__ADS_1


Matahari telah condong ke arah Barat, jangan katakan hari telah berakhir, tapi katakanlah bahwasanya malam akan datang. Begitu juga cinta, jika tidak ada kepercayaan lagi, jangan kamu hina orang yang pernah ada dihatimu. Karena diapun pernah berbuat baik padamu, walaupun kamu tidak pernah mengakuinya.


You know it's not the same as it was (Kamu tahu itu tidak sama seperti dulu).


Lirik lagu penggalan As It Was dari Harry Styles membuat mata Devaly berkabut. Lagu itu sangat menyentuh perasaannya. Devaly memalingkan wajahnya ke luar jendela. Ntah apa yang dipikirkan, atau dia sengaja melihat pohon-pohon yang berjejer rapi di jalan raya.


Dia berusaha menahan air matanya jatuh ketika Aditya tidak menghiraukan dirinya. Pria itu dari naik ke mobil sampai sekarang berangkat, sibuk dengan Thasy yang masih lemah karena habis melahirkan. Devaly tidak masalah tapi perasaan jealous kerap datang melanda hatinya.


"Rakhes kamu sama sekali tidak punya empaty. Temani Thasy di kamar." kata Basabi kesal.


"Aku cowok Basabi, tidak biasa meladeni orang melahirkan." kilah Rakhes masa bodo. Dia malah terus bersenandung di setiap lagu yang terdengar dari Playlist mobil.


"Aku tidak mengerti denganmu, aku berdoa semoga Thasy mendapat laki-laki yang lebih baik darimu, lebih segalanya."


"Hahaha...bagaimana kalau pria lain itu tahu kalau Thasy perutnya pernah berisi makhluk Leak dan anak itu akan mengejarnya seumur hidupnya."


"Rakhes juga mulutmu!!" bentak Made geram. Dia heran ada lelaki seperti Rakhes.


Rakhes terdiam, dia salut kepada Made dan Aditya yang punya perasaan sabar seluas Samudra. Hanya Aditya yang sibuk dari tadi membantu Thasy naik ke mobil sampai kini mobil sudah melaju meninggalkan pelabuhan Padangbai. Mereka merasa beruntung bisa menyeberang hari ini, antrean sangat panjang, berkat Rhafael kini mereka bisa menyeberang.


"Aku ingin cepat berada di Bungalow dan bercerita banyak tentang pengalamanku di pulau Nusa. Aku yakin nenek akan setuju kalau perbuatan kita lah yang mengundang celaka." ucap Kemoning memandang jauh ke depan.


Devaly yang duduk disamping sopir hanya diam, sesekali terdengar tarikan nafasnya yang dalam. Aditya hanya melirik saja, diapun sedih jika nanti ditinggal oleh Devaly ke negaranya.


"Devaly apakah setelah di Bungalow kamu akan bersiap pulang ke luar negerti." Aditya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Tergantung situasi, nanti aku ikut mengurus masalah yang dihadapi Abisheka, jika dia harus di deportasi, kami semua akan pergi mengikuti dia pulang ke Los Angeles." sahut Devaly dengan perasaan berat.

__ADS_1


****


__ADS_2