
Aditya duduk terpaku di kursi, tangannya memegang jemari nenek yang keriput. Mata nenek tetap terbuka dan bergerak-gerak, tanpa henti. Aneh! Orang tua itu masih saja seperti dulu, walaupun ilmunya masih separo tidak mempengaruhi tubuh dan wajah nenek. Dia terlihat segar, dalam keadaan stroke.
Selama ini nenek makan lewat hidung atau sonde. Memakai selang khusus dimasukkan melalui hidung melewati tenggorokan lalu kerongkongan dan menuju ke perut (lambung).
Hidup nenek berlimpah harta benda, tidak pernah kekurangan uang. Menjadi orang yang paling ditakuti di kampung Drakula, tidak menjamin dihari tuanya akan hidup sehat dan bahagia. Nenek sekarat tapi tidak bisa meninggal karena ilmu Leak masih ada di tubuhnya.
"Sayank, kenapa melamun? menurutku nenek sudah ingin mati, coba dia bisa ngomong pasti dia menyuruh aku mengambil ilmunya supaya dia cepat mati." Mayang mencoba mempengaruhi Aditya. Pria itu hanya diam terpaku, mana mungkin dia tega membunuh neneknya.
"Aku tidak mungkin melakukan itu, nenek masih ingin hidup."
"Elehhh...itu pikiran mu, jelas-jelas nenek ingin mati. Kamu pikir saja, buat apa hidup kalau tidak bisa bergerak."
"Biarin saja aku lelah mikirin semuanya." kata Aditya menggoyang kan kepalanya.
Aditya mengalami krisis kepercayaan dan berasumsi buruk terhadap nenek dan semua pelayan yang berada disini. Ada perasaan tidak dibutuhkan semenjak dirinya dipepet oleh Mayang.
Banyak terjadi semenjak keberadaannya disini. Salah satu adalah dirinya yang bisa berubah wujud menjadi Serigala atau bisa Ngeleak. Masalah itu sering membuat dirinya terpuruk, belum lagi keadaan Devaly yang buta gara-gara kesalahannya.
Kadang dia ingin berteriak sepuasnya supaya hatinya lega. Seperti hari ini Mayang terus menempel dan menghasut Aditya supaya nenek mentransfer ilmu Leak nya kepada Mayang. Bukannya prihatin melihat keadaan nenek, Mayang malah merajalela tanpa mau membantu bibi Ayu yang sibuk mengurus Mandor dan hasil kebun serta yang lain-lain.
"Mayang, bantu bibi Ayu dan Kemoning mengurus Mandor." kata Aditya ketika melihat Mandor mulai berdatangan.
"Suruh Devaly dia istrimu. Jika aku mendekat kesana banyak Mandor akan naksir aku."
"Alasan saja, aku merasa berdosa kepada Devaly, selama ini telah lalai menjaganya. Disamping itu aku terlihat bodoh di depan orang banyak akibat ilmu penangkeb mu. Tolong kamu cabut ilmu penangkeb itu." kata Aditya menatap Mayang.
"Aku mau mencabut asal kamu mau tidur sekali saja denganku."
"Itu syarat yang sulit. Semenjak aku kena penangkeb, aku tidak ingin bermesraan. Aku tidak tahu kenapa nafsuku hilang. Makanya tiap malam aku keluar membunuh kesepian." kata Aditya bohong.
"Jangan bohong Aditya, jika kamu tidak tidur dengan Devaly kenapa perut istrimu bisa melendung. Apa kamu meniupnya?"
"Astaga, Devaly hamil? jika itu benar aku sangat bersyukur, akan ada pewaris di rumah ini. Trimakasih Tuhan." Aditya kaget sekali. Wajahnya bersinar senang.
__ADS_1
"Nah, sekarang kamu baru sadar bahwa Devaly berselingkuh, dia pasti mengandung benihnya Rhafael."
"Jangan Julid jadi orang. Devaly tidak mungkin seperti itu. Aku kasihan padanya. Dia bukan wanita sembarangan, selama ini belum pernah dia neko-neko."
"Karena kamu mencintainya, semua terlihat baik pada dirinya. Aku hanya ingin membuka pikiranmu bahwa wanita yang kamu cintai itu adalah monster, sewaktu-waktu bisa mencelakaimu."
"Bukan nya kamu yang monster." kata Aditya datar.
"Sebenarnya orang baik bisa jadi monster, jika kamu perlakukan tidak manusiawi. Misalnya kamu harus menikahiku, tapi kamu mengelak dan malah menikah dengan Devaly itu yang membuat aku menjadi monster."
"Tookk...tookk....tookk."
"Masuk, pintu tidak dikunci." teriak Mayang kurang sopan. Made nongol dipintu dengan nafas terengah-engah. Keringat membasahi wajahnya.
"Bos, kita harus bicara." kata Made menatap Aditya.
"Bicara saja disini, aku calon istrinya."
"Mayang jangan berulah kita sudah capek dengan ulahmu." kata Made kesal.
"Karena ilmu penangkeb mu sudah luntur."
"Hahaha...jangan mengkhayal Made, ilmuku lebih sakti dari ilmunya nenek."
"Kamu banyak mulut, no action talk only." sahut Aditya ngeloyor pergi bersama Made.
"Aku ikut!!" teriak Mayang.
"Kami mau ke kantor polisi jika kamu ikut, aku akan mundur. Polisi akan mengintrogasi salah satu dari kita. Aku rasa kamu paling cocok." kata Aditya menakuti Mayang.
"Kalau begitu tidak jadi." sahut Mayang kesal.
Made mengajak Aditya ke kamar yang baru ditempati oleh Devaly. Disana sudah ada Thasy, Rakhes, Devaly, Basabi, Kemoning dan Ghina. Mereka terlihat bicara serius.
__ADS_1
"Duduklah, kita akan membahas BAP yang berisi keterangan saksi kunci yaitu Devaly. Ini sudah ditandatangani oleh saksi." Rakhes membuka pembicaraan.
"Teruskan..." kata Aditya duduk disebelah Devaly. Mereka sengaja mengosongkan tempat duduk supaya Aditya bisa duduk berdampingan dengan Devaly.
"Menurut keterangan saksi yaitu Devaly, malam itu kamu berantem dengan Rhafael dan Devaly. Setelah Devaly sampai di kamar dia dan Rhafael sangat mengantuk. Devaly tidur di Ranjang dan Rhafael tidur di sofa. Antara sadar dan tidak, Devaly dikagetkan oleh suara seorang wanita yang mengancam akan membunuhnya jika masih melakukan hubungan denganmu." kata Rakhes berjeda. Dia menunggu respons dari Aditya.
"Kamu sudah tidur tetapi bisa mendengar suara orang. Itu artinya kamu ketindihan atau sleep paralysis. Tidak bisa dipakai bukti untuk memberatkan pelaku." sanggah Aditya. Dia tidak ingin kejadian ini di blow up, karena menyangkut nama baik keluarga.
"Aku tidak memberatkan siapapun, aku hanya mengatakan apa yang kudengar, karena aku tidak bisa melihat."
"Siapa yang minta keterangan darimu?" tanya Aditya kurang senang.
"Polisi dan aku menemaninya." kata Rakhes.
Aditya tidak mau mengalahkan Rhakes atau Devaly, kedua orang itu tidak mengerti Leak. Baginya mereka wajar bertindak begitu. Dia juga berpikir ini pasti polisi baru yang belum pernah bertugas disini, makanya berani melanjutkan tragedi ini ke ramah hukum.
"Made tolong panggil bibi Ayu." perintah Aditya berusaha tenang.
"Siap bos." jawab Made keluar dari kamar.
Tidak berapa lama bibi datang, wanita itu kelihatan lebih tua dari umurnya, mungkin dia tertekan berada disini. Banyak pekerjaan dan seluruh urusan perkebunan dan Bungalow bibi yang mengatur. Apalagi sekarang nenek sakit, tambah berat bebannya.
"Duduklah bi."
"Ada apa Tuan?"
"Sepertinya ada polisi baru yang pertama kali bertugas disini ingin melanjutkan masalah pembunuhan Rhafael." kata Aditya memakai bahasa khatulistiwa.
"Itu juga yang saya dengar. Masalah itu bukan terletak kepada polisi itu Tuan, tapi orang tua Rhafael tidak terima anaknya meninggal seperti ini."
"Rupanya bibi lebih tahu."
"Disini ada Kemoning dan Ghina, ceritain apa yang terjadi di kampung setelah keluarga korban mendengar berita itu. Mungkin orang tua Rhafael akan datang, mereka masih kerabat dekat nenek." kata bibi menatap Kemoning.
__ADS_1
*****