CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 46


__ADS_3

Mayang mengambil ponselnya di atas meja, dia mendekati nenek dan berusaha duduk disampingnya. Hatinya panas melihat tingkah nenek yang arogan dan main lempar bangku. Untung bangkunya kecil, kalau gede niscaya kepalanya sudah bocor.


"Hallo sayank, bagaimana kabarmu." Mayang berusaha menghubungi Aditya berkali-kali, tapi akhirnya diangkat.


"Maaf salah sambung...tut...tut.."


Brengsek kamu Aditya, awas saja kalau sudah menjadi suamiku, aku kruwel-kruwel kamu. Atau aku telan kamu hidup- hidup.


"Berarti tidak masalah ya sayank, cepatlah pulang aku sudah kangen banget padamu." Mayang melanjutkan bicaranya seolah telepon masih tersambung.


"Apa? trimakasih sayank telah membelikan baju dan kalung emas. Hati-hati dijalan."


"Muachh..daaa..."


Semua pelayan bengong mendengar drama Mayang yang mesra dengan Tuan Aditya. Biasanya Tuan tidak pernah begitu. pikir mereka.


"Aku rasa Tuan salah makan obat." kata bibi heran dan tidak percaya. Karena Mayang suka mendramatisir.


"Nenek, kata Tuan Aditya, nenek tidak usah khawatir. Mereka sudah mau pulang."


"Mayang, aku suruh kamu telpon temannya bukan Aditya. Tadi nenek sudah telpon Aditya dia terpisah dengan teman yang lain."


"Kirain nenek belum telpon." kata Mayang berdiri. Pelayan semua keluar dari dapur ketika mendengar perdebatan Mayang, nenek dan bibi Ayu.


"Aku bingung denganmu, gimana Tuan bisa pulang sedangkan air laut meluap dan ada kapal boat yang terbalik, dan penumpangnya semua hilang. Kapal boleh menyebrang saat keadaan sudah kondusif dan itupun bisa seminggu atau sebulan." kata bibi sewot.


"Bibi ikut saja nimbrung, Tadi Tuan yang bilang begitu mana aku tahu yang terjadi disana." kilah Mayang.


"Dasar banyak akting. Bicara sama orang tua harus benar dan jujur. Mencla- mencle tidak karuan."


"Nenek setiap hari bibi memarahi aku, dia cemburu kalau Tuan mencintai aku. Tolong nenek bereaksi, aku jadi stres kalau diginiin terus." Mayang mulai memasang wajah sendu.


"Bibi Ayu, kamu jangan memarahi dia setiap hari, Mayang sudah mengerti kerjaan dan setia kepada pacarnya. Harusnya kalian mulai merubah sikap kepadanya. Mungkin tidak lama lagi nenek mau menikahkan Mayang dengan Tuan kalian."


"Kalian sudah dengar jangan pura-pura tuli. Tuanpun sudah mencintaiku, apalagi yang kurang."

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu semoga Tuan betah menjadi suamimu. Masalahnya Tuan sering di kamar nona Devaly, takutnya duluan nona Devaly hamil."


"Aku tidak masalah dengan Devaly, mereka tidak akan lama berada disini, dia manusia liar, paling sudah biasa aborsi." pungkas Mayang. Nada suaranya meninggi, ada rasa cemburu menyelinap dalam hatinya.


"Mayang kamu baik-baik membawa diri, dan harus lebih rajin bekerja. Lihatlah kebun nenek berhektar- hektar luasnya, buruhnya banyak dengan problem masing-masing. Mulai sekarang kamu harus sering bekerja kebelakang memeriksa kebun, melakukan apa yang berhubungan dengan pertanian."


"Bibi jangan khawatir, sudah ada mandor dan pelayan kenapa harus repot, yang penting punya uang apa bisa dicapai."


"Bibi Ayu benar, selama ini bibi Ayu dan Komang yang melakukan, mulai sekarang kamu bisa belajar." Nenek ikut menimpali.


"Ya nek mulai besok." sahut Mayang kesal. Dia benci dengan bibi.


"Siapkan makan siang yang agak banyak, semua mandor minta berkumpul. Mereka akan menyetor uang dan memperkenalkan mandor yang baru."


"Sudah siap semua nek, setelah mereka datang, nenek, saya, komang, akan duduk di sebelah kiri. Seperti biasanya catatan akan di ketik oleh Ketut. Pembagian upah di bayar hari ini juga dan pemberian sembako dibagi oleh yang lain." jelas bibi Ayu.


"Kita antisipasi saja mereka pasti masih kesal, sedih dan berduka, tujuh temannya meninggal secara sadis." sahut nenek.


"Terus aku sebagai apa, kalian memandang sebelah mata padaku. Aku ini sarjana pariwisata jangan anggap remeh." Mayang meradang.


Mereka berhenti berbincang-bincang karena para mandor yang terdiri dari sepuluh orang laki-laki dewasa dan beberapa buruh inti yang sudah berpengalaman. Semua hormat dan takut kepada nenek. Bukan karena nenek kaya dari kasta ningrat, tapi karena nenek Ratu Leak.


"Selamat siang nenek Saodah, senang bertemu dengan nenek." Pak Sudirga mencakupkan kedua tangannya sambil membungkuk.


"Silahkan kalian duduk, sebelum kita memilih mandor baru, laporkan semua hasil sebulan panen sebulan ini dari kebun kopi, Vanilli, cengkeh, kebun buah, kebun bunga, kebun sayur dan palawija. Aku tidak mau ada penyelewengan disini. Kalian berani berbuat jahat padaku, nyawa taruhannya."


"Kami tidak berani berulah nek, malah kami sangat bersyukur karena nenek memberi upah tinggi dan kesejahteraan yang bagus."


Bibi Ayu dan Komang mulai bekerja dengan para mandor, sedangkan yang lain ikut membantu. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan.


Mandor baru ada lima orang, pengganti mandor yang dulu terbunuh. Mereka duduk berjejer di depan nenek berbatas meja.


"Mandor baru sini dekat nenek, kalian akan di tes satu persatu oleh Mayang, yang penting kalian jujur dan bertanggung jawab."


"Siap nek, saya bisa dipercaya. Kami lahir di perkebunan jadi sudah mengerti kerjaan dan tanggung jawab."

__ADS_1


"Owh...namamu siapa?" tanya Mayang genit, dia melihat pemuda ini cukup ganteng, dan senyumannya manis.


"Perkenalkan nama saya Gusde."


"Nenek mau ke dapur dulu, kalian berlima sama Mayang saja. Nanti tolong antar dia melihat kebun." kata nenek berdiri.


"Siap nek."


Mayang merasa bangga dipercaya oleh nenek untuk menginterview kelima mandor itu. Dia bisa pamer kepada pelayan lain terutama bibi Ayu yang sok paling pintar.


"Gusde mari kita melihat kebun." kata Mayang berdiri.


"Tapi kita belum makan siang."


"Kita bawa nasi kotak dan air, kamu tidak usah khawatir aku kepercayaan nenek."


"Kita naik apa, motor apa buggy?" tanya Gusde kurang bersemangat. Dia lapar sekali, apalagi dia melihat di meja makan banyak sekali makanan tersedia.


"Nona ini masih siang apa tidak sebaiknya kita agak sore ke kebun?"


"Ini perintah, atau kamu ingin dipecat." kata Mayang tegas.


"Siap nona saya antar sekarang." sahut Gusde berdiri. Belum sempat kerja sudah mau dipecat.


Mayang membawa dua kotak nasi lengkap dengan air, kopi panas, kue pasar dan potongan buah. Teman-temannya Gusde yang lain heran melihat kepergian mereka.


"Nona kita naik motor saja masalahnya jauh jaraknya antara kebun yang satu dengan yang lain."


"Terserah kamu, aku ngikut saja, ini pertama kalinya aku ke kebun nenek. Asal jangan kamu ngebut."


Ini pengalaman pertama bagi Mayang diajak muter-muter oleh seorang laki-laki ganteng. Berdua naik motor sambil tangan Mayang memeluk pinggang Gusde, membuat sensasi tersendiri bagi pemuda itu. Apalagi gunung kembar Mayang tanpa berhenti menyentuh punggung Gusde, pemuda itu langsung koneksi.


"Nona saya lapar sekali." kata Gusde berhenti di sebuah Dangau yang berada tidak jauh dari kebun kopi.


Mereka akhirnya turun. Mayang merasa lapar dan capek juga, sepanjang perjalanan dia bergairah saat memeluk pinggang Gusde. Untung Gusde mengajaknya turun, Mayang punya kesempatan melampiaskan gairahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2