
SUNSET. Bentangan memerah di ufuk Barat, terlihat sangat indah! itu kata-kata yang patut disematkan kepada warna langit saat mau tenggelam. Senja mengajarkan bahwa keindahan dan kebaikan tidak perlu di expose biarkan orang menilai. Begitu juga hidup, kadang membutuhkan perhatian agar dilihat baik. Namun senja mengajarkan bahwa kebaikan dan keindahan tidak perlu diumbar. Cukup kita tahu sendiri.
Kesedihan terasa sangat panjang, air mata Devaly mengaburkan penglihatannya. Dia duduk menyendiri menjauh dari Aditya dan teman yang lain. Ketika malam menjelang, kehindahan alam terlihat semakin nyata. Gemerlapnya lampu-lampu pantai, dan suara musik romantis membuat hati Devaly tambah ngilu. Kepedihan hatinya menyebar sampai ke pembuluh darahnya.
"Devaly apa rencanamu setelah kembali ke negaramu?" suara berat Aditya mengoyak jantungnya, dia menoleh kesamping. Aditya berdiri Memandang ke arahnya.
"Hemm...aku akan melanjutkan impianku. Berbisnis atau menjadi artis."
"Aku berharap apapun yang kamu tekuni semoga lancar, sukses selalu."
"Kalau kamu apa yang akan dilakukan?"
"Tetap menjadi sopir, hidup sederhana dan menjadi suami yang baik."
Tess!! air mata Devaly terasa cepat sekali menetes, hanya mendengar sebaris ucapan Aditya, dia sudah menangis. Dia kesal atas apa yang terjadi. Tidak mengerti kenapa dadanya terasa sesak. Devaly menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Ingin dia menjerit, tapi buat apa. Ooh.
"Devaly minumlah, bagus untuk menghangat kan badanmu, cuaca agak dingin." kata Aditya menyodorkan Black kabel kecil.
"Trimakasih."
"Aku sering kesini, tapi hari ini dan besok istimewa sekali. Karena akan ada ritual suci yang mengagumkan. Biasanya ribuan turis akan datang perhari kesini. Kemoning pasti akan mengajak kita kerumahnya, mereka biasanya masak besar."
"Berarti kamu sudah lama kenal Kemoning, sangat dekat sekali."
"Sangat dekat sekali, orang-orang sini kalau aku datang mereka senang sekali, trutama ibu, bapaknya. Tujuan mereka aku sebagai jembatan untuk mencarikan pekerjaan di kota."
"Enak dong dititipin gadis-gadis, bisa diajak nginap di hotel." kata Devaly sinis.
"Pikiranmu aneh, mereka menjaga kegadisan nya untuk suaminya. Tidak mungkin anak orang kita ajak tidur sembarangan. Sama seperti kaulah."
__ADS_1
Devaly ingin bicara banyak, namun dia urungkan. Buat apa, Aditya sudah berbeda. Dia tidak menanyakan sesuatu yang menjurus ke percintaan. Atau tentang Basabi dan Made, yach!!.
"Devaly aku mau mandi air panas, jika mau ikut, boleh. Tempatnya romantis. Ada di atas, biasanya kalau malam sepi."
"Benarkah, aku ikut, tapi siapa lagi yang kamu ajak?" Devaly senang saat Aditya menawarkan ke permandian.
"Aku mau mengajak Basabi saja." kata Aditya lirih. Seketika niatnya dia urungkan.
Mungkin Devaly hancur hatinya mendengar perkataan Aditya. Itu lebih baik daripada dia mempertahankan ke egoisannya. Cinta tidak harus memiliki. Aditya berharap gadis itu mau membencinya, lalu pulang ke negaranya dengan gembira. Tidak ternoda dan luput dari target nenek yang memusuhi Devaly.
Aditya sendiri ingin menangis jika menyebut nama Basabi. Secara bathin gadis itu sudah hancur hidupnya. Betapa kejamnya tiga pemerkosa itu, untung saja nyawa mereka sudah melayang, jadi agak lega sedikit. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ilmu Leak yang berada ditubuh Basabi.
"Aku tidak bisa ikut, aku mau bikin konten tentang malam yang indah." kata Devaly sekenanya. Untung gelap jadi Aditya tidak melihat bagaimana muramnya wajah Devaly.
"Aku buru-buru mau mencari Basabi supaya tidak terlanjur gelap." kata Aditya beranjak dari hadapan Devaly.
Betapa dia ingin sekali memeluk gadis itu, menghiburnya dan berkata "jangan khawatir sayank aku tetap mencintaimu" rasa cinta itu tidak mungkin bisa hilang sekejap, perlu waktu, setahun, dua tahun atau selamanya.
Diam-diam Aditya mendekatinya dan duduk disamping Basabi. Gadis itu tidak menoleh padahal dia tahu Aditya yang datang. Bibirnya terasa terkunci tidak ingin berkata-kata.
"Basabi kita ke dukun yang berada di atas. Kata orang dukun ini bisa menghilangkan, Leak ditubuh kita." kata Aditya pelan, dia tidak menyebut nama nenek, takut Basabi tidak sudi ke dukun.
Wajah Basabi berubah terang, akhirnya dia punya harapan untuk kembali normal. Jantungnya berdebar senang saat berita itu melintas di telinganya, dia menatap Aditya penuh harap.
"Khabar inilah yang aku tunggu, semoga saja dukun itu bisa membuat aku normal." Basabi berdiri dan menarik Aditya kepelukannya.
"Aku juga berharap begitu, berapapun biaya yang dia minta aku akan berikan."
"Aku juga akan menguras tabunganku jika bisa sembuh."
__ADS_1
Dua pasang mata memandang tingkah polah Basabi dan Aditya dengan perasaan yang berbeda. Mata Made berkabut saat melihat Basabi memeluk Aditya. Dia yakin Aditya menemukan jalan keluar untuk Basabi.
Sedangkan Devaly pasrah ketika melihat Aditya dan Basabi berpelukan. Hatinya perih seperti luka yang kena air garam. Dia duduk merenungi nasibnya, tanpa ingin beranjak sedikitpun.
Aditya berjalan bergandengan tangan. Dia dan Basabi melewati jalan setapak yang penuh semak berduri. Jalanan menanjak naik dan gelap gulita. Mereka memakai senter dari ponsel masing-masing untuk menerangi jalan. Kata nenek ini jalan satu-satunya dan rumah dukunnya ada ditebing dekat pohon beringin.
Suasana mistis sudah terasa, suara kodok bongkrek, serta nyanyian burung hantu membuat bulu kuduk merinding. Angin dingin menusuk sampai ketulang sumsum.
"Puukk ...eweerr...eweerr.. eweerr.....sube tangkil...sube tangkil......"
Aditya tahu itu burung hantu Leak, karena bisa bicara, dikampungnya sering terdengar suara burung hantu di atas pohon Jambu air. Sangat menakutkan dan mata sulit terpejam.
"Puukk..sube lebeng laklake...sube lebeng.." Begitulah suaranya, habis bersuara begitu burung hantu Leak akan menggoyang pohon jambunya sambil tertawa ngakak.
Di antara Leak, menjadi burung hantu paling lucu. Burung hantu akan keliling mencari orang yang sedang hamil dan bersuara merdu. "Bin pidan lekad" (kapan melahirkan) itu berulang-ulang ditanyakan. Biasanya ibu hamil akan memakai bawang merah, pandan berduri, air laut untuk menangkalnya.
"Waooww..." Aditya kaget tiba-tiba ada bola api menggelinding.
"Tenang Basabi rumahnya sudah dekat, kamu jangan takut." bisik Aditya memegang erat tangan Basabi.
Nyalinya menciut kala melihat leak berwujud monyet, bangkal, anjing dan orang-orangan sawah.
"Aku tidak takut, malah gregetan melihat Leak itu." kata Basabi dengan suara tinggi.
"Tidak boleh berkata sembarangan kalau ingin selamat." bisik Aditya ketakutan.
"Mari kita masuk." kata Aditya nyelonong masuk. Disini penerangan memakai lampu sentir, semua terlihat remang-remang. Aditya menyesal tidak membawa senter dan dupa.
"Ada apa datang malam-malam, kalian mau membeli ilmu Leak?"
__ADS_1
"Maaf Jero dukun, saya kesini dengan tujuan untuk melenyapkan ilmu di tubuh teman saya. Dia dapat begitu saja, dari Ratu Leak."
****