CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 6


__ADS_3

Apa yang dia katakan sungguh di luar dugaan, benar-benar membuat merinding. Suasana mencekam dan Devaly tetap mengamuk dan ngoceh dengan bahasa yang tidak temannya mengerti.


"Kita tetap berdoa jangan panik, kita menunggu hujan reda. Setelah reda aku akan lanjut jalan menuju daerah terdekat untuk mencari dukun."


"Adit kau harus mengerti bahwa dia publik figure, Ratu Sejagat aku harap kau dan Made menangani Devaly dengan serius."


"Kami juga tidak menginginkan musibah ini menimpa salah satu dari kalian. Biasanya setiap daerah mempunyai dukun, kita akan bawa dia kesana. Aku minta kepada kalian supaya sama-sama berdoa untuk kesembuhannya kembali."


"Siapa di antara kalian bisa bantu, supaya dia cepat sadar. Sulit juga jika dia mengamuk di mobil."


"Aku akan berusaha membuat dia sadar, semoga saja berhasil." kata Aditya mengajak Devaly ke mobil.


Devaly dipaksa duduk di sofa, kaki dan tangannya diikat dengan dua selendang supaya tidak mengamuk. Aditya duduk di depan Devaly dia mulai melantunkan mantra-mantra sederhana yang bisa dia ucapkan.


"sjqwedgv nbkhhjnlopm hfgtddbvc hfdyfhm jgguhxgb hfgujgd." habis merafal mantera Aditya memercikan air putih ke tubuh Devaly.


"Sadar..sadar...sadar..."


Apa karena kelelahan atau mantra Aditya yang meresap, kepala Devaly seketika lunglai.


"Tidurkan dia di bed. Basabi tolong temani dia dan pijat kakinya dengan minyak kayu putih." perintah made mengeluarkan sebotol minyak kayu putih.


"Apa ini, aku tidak bisa memakai ini, dia pasti menolak luluran disini."


"Ini minyak urut, supaya badannya hangat dan pikirannya normal."


"Aku tetap tidak mau, jangan paksa. Lebih baik pakai hand body."


"Kita akan menerobos hujan, sudah jam delapan malam takutnya mbah dukun sudah tidur. Yang lain tolong berdoa dengan keyakinan kalian masing-masing." kata Aditya mulai keluar dari halaman rumah kosong.


Perlahan hujan mereda, Aditya fokus melihat kedepan. Untung disini lampu jalanan tidak padam, masih terlihat jalan yang naik turun. Raut wajah para tamu memucat, mereka jadi terdiam dan malas berbicara. Semua komat kamit berdoa, mohon petunjuk supaya masalah yang menimpa Devaly cepat selesai dan Devaly kembali normal. Mereka semua ketakutan saat Devaly marah dan mengamuk.


"Kita memasuki daerah Sukagenting semoga dukunnya ada di rumah. Nanti tolong ikat kembali tangan dan kakinya. Setelah itu bawa dia turun ke rumah dukunnya." perintah Aditya dengan wajah serius.


"Oke Aditya, Devaly urusan kami. Kamu fokus mencari dukun itu semoga dukunnya ada dirumah."

__ADS_1


Aditya berbelok mengarahkan mobil ke Bale Banjar dan berhenti di depan bangunan besar itu. Disini cukup terang benderang, warganya tidak pelit menyalakan lampu. Tidak ada pecalang atau petugas jaga malam disini, mungkin karena tadi hujan deras.


"Kita sudah sampai, aku akan ke rumah dukun. Kalau dukunnya ada aku telpon Made untuk mengajak Devaly kesana."


"Oke silahkan, semoga dukunnya ada." sahut Basabi dengan wajah cemas. Dia merasa berada di pulau horor yang banyak hantunya. Penuh mistri, tidak bisa diterima nalar.


Aditya turun dari mobil, bergegas menuju rumah Jero Balian. Jalannya sedikit becek tapi hujan sudah reda. Udaranya sangat dingin. Aditya masuk ke rumah Jero Balian yang membuat bulu kuduk berdiri. Seram!


"Permisi Jero, saya dari jauh ingin berobat." Aditya bersuara sedikit kencang supaya didengar oleh penghuni rumah. Tidak begitu lama pintu kayu yang besar itu terbuka.


"Silahkan masuk." seorang ibu tua menyuruh Aditya masuk. Dia lalu melangkah masuk. Bau kemenyan menusuk hidungnya. Aditya duduk dikursi kayu milik sang dukun.


"Maaf Bu jero, Jero Baliannya ada, teman saya kesurupan."


"Ada didalam, mana temannya bawa masuk." perintah bu jero dingin. Matanya tajam menatap Aditya.


"Sekarang saya panggilkan." sahut Aditya membuka ponselnya dan memanggil Made supaya membawa Devaly.


Aditya masuk menemui Jero Balian dan menceritakan siapa tamunya, serta penyakit yang di derita. Jero Balian sudah sering menangani kasus serupa, tergantung roh jahat yang masuk ke tubuh Devaly.


Saat Devaly diajak masuk ke kamar dukun dia mengamuk tidak karuan. Dia menggigit tangan Made dengan bringas. Jero Balian berdiri sambil membacakan mantra-mantra gaib.


"Aku penunggu wilayah ini, wanita ini telah semena-mena berkata, dan bertingkah laku kurang sopan serta mengganggu wilayahku." kata roh jahat yang berada ditubuh Devaly.


Semua jadi merinding mendengar suara Devaly yang berat dan seperti suara kakek-kakek. Kadang Devaly tertawa terbahak-bahak seperti gembira. Walaupun mereka tidak mengerti artinya, tapi semua teman Devaly ketakutan.


"Saya minta maaf atas kelakuan gadis ini, dia adalah seorang tamu tidak mengerti apa-apa. Tolong jangan diganggu. Keluar kamu dari tubuhnya." pinta Jero Balian sambil memercikan air ketubuh Devaly.


Devaly berontak berteriak-teriak dan sekarang menyerang temannya satu persatu. Terpaksa Aditya dan Made memegang Devaly karena temannya malah kocar kacir kalau diserang.


"Diam kau!!" bentak Aditya memeluk Devaly. Dan anehnya Devaly Diam dipeluk Aditya. Apa setannya tahu orang ganteng, perlu dipertanyakan.


"Jero Balian tolong cepat keluarkan yang ada di tubuhnya. Pakai saja sarana bawang merah."


"Kamu hebat anak muda bisa cepat menaklukkannya dengan mudah. Biasanya roh jahat begini akan diam ditubuh gadis ini, kecuali mau ikut permintaan roh itu." kata Jero Balian kagum sambil mengoleskan bawang merah ke telapak tangan dan kaki Devaly.

__ADS_1


"Saya hanya mencengkramnya." kata Aditya seraya menepuk punggung Devaly tiga kali.


"Keluarlah kau!!" teriak Aditya kencang. Tiba-tiba Devaly jatuh di pelukan Aditya tidak sadarkan diri.


"Made bantu aku menidurkannya, dia pingsan." kata Aditya. Made dan Aditya menidurkan Devaly di lantai beralasan tikar pandan.


"Apa yang kalian lakukan jangan sampai dia mati aku akan menuntut praktek vodoo kalian." teriak Basabi dari jauh. Dia emosi melihat Aditya membawa Devaly ke dukun tua itu. Harusnya Devaly ke dokter syaraf.


"Kita tidak terima cara pengobatan kalian yang tidak masuk akal dan berbau klinik." imbuh Rakhes emosi.


Satu persatu tamunya komplain setelah melihat Devaly tergeletak tak sadarkan diri.


"Mari kita berdoa supaya Devaly cepat sadar kembali." kata Made menenangkan tamunya.


Mereka akhirnya mau mengerti setelah Aditya memberi penjelasan bahwa Devaly yang membuat ulah sehingga para penunggu marah. Untung cepat ditangani.


"Makanya jangan bertingkah laku aneh dan selalu menghina orang lain kenapa harus meremehkan sesuatu yang kita belum pahami. Lebih baik diam jika tidak berkenan dihati. Bersikap bijak, Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung." kata Aditya.


Setelah Devaly mulai sadar mereka kembali ke mobil. Aditya sendiri cuek terhadap Devaly yang ingin di gendong, alasannya karena jalanan becek. Tadi Rakhes dan Abisheka serta yang lain pada takut ketularan Devaly, makanya mereka jauh-jauh. Hanya Basabi saja yang mau berada disisi Devaly.


Aditya merasa lega karena Devaly sudah sadar. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Malam semakin larut, mereka mulai lapar dan mengantuk. Stok burger dan snack ringan sudah habis, tinggal sekarang masih tersedia air putih.


"Aku lapar berat, harusnya kau mengajak kami ke restoran cepat saji. Aku dari sore belum makan." kata Devaly yang duduk di depan di samping Aditya.


"Kita masih jauh di desa, setelah ada restoran kita akan mampir." Made yang duduk di belakangnya cepat menyahut, dia sudah tahu bosnya tidak senang dengan Devaly.


"Aku tidak bertanya denganmu, aku bertanya dengan sopirmu." protes Devaly kesal. Setiap dia bicara yang menyahut Made melulu.


"Sopir dilarang bicara nanti mobilnya nyemplung ke rawa-rawa."


"Tadi dia duduk di depan dengan Rakhes kenapa bisa ngobrol, dasar sontoloyo."


"Nona Devaly kamu jangan marah dulu, waktu Rakhes duduk di depan dia dalam keadaan sadar dan normal. Dia tidak pernah kesurupan, jadi ngobrol berdua tidak masalah. Tapi keadaan nona berbeda, saat ini nona dalam keadaan kurang sehat, jadi jangan banyak bicara karena sopir sedang konsentrasi." kilah Made asal.


"Eleehh...kalian berdua sama saja, aku benci dengan travel yang tidak bermutu. Lebih baik cari travel lain."

__ADS_1


"Kalau travel lain nona harus bayar, sedangkan kami melayani kalian dengan gratis. Inilah kelebihan Hotel D'Queen." sahut Made lagi.


*****


__ADS_2