
Telinga Aditya menjadi panas saat ibunya Melati mempertontonkan nasi yang berisi belatung kepada tamu undangan. Semua berteriak kaget melihat belatung itu. Satu kotak nasi penuh belatung.
"Begini caranya nenek Saodah bertetangga, tumben saya minta sumbangan nasi kotak ternyata berisi belatung. Memang dia selalu iri kepada saya." kata Nyonya nyoman dengan suara tinggi. Wajah Abisheka terasa ditampar dia mau maju tapi Kiky melarangnya.
"Jangan Tuan kita mengajak tamu, jika terjadi sesuatu resikonya besar." gadis belia itu begitu arif, sedangkan Mayang tidak ada menampakkan diri.
"Usir nenek sihir itu dari kampung ini. Dia sudah banyak memakan korban." teriak para undangan emosi sambil melempar nasi kotak mereka hadapan rombongan Aditya.
Keadaan sangat kacau, Aditya berdiri dengan tamunya, dia berusaha sesabar mungkin.
"Maaf ibu Nyoman, nasi kotak ini dibuat oleh pelayan kami. Jika kalian menuduh nenek Saodah menaruh cetik saya tidak terima. Kita lapor polisi untuk mencari kebenaran, kalau terbukti nenek saya bersalah saya akan menyerahkan nenek kepada kalian." Aditya angkat bicara. Perlakuan orang kampung membuatnya kesal. Ini sudah sering terjadi.
"Hahaha...tidak usah bawa polisi segala, bukti "cetik" sudah terpampang di depan mata. Jangan berkelit." pungkas Melati marah. Dengan kasar dia menyenggol Devaly hampir jatuh. Matanya melotot melihat gadis bule itu.
"Pergi kau dari rumah kami, siapa sudi punya menantu seperti kamu, cucu Leak Ngakak. Siluman Anjing. Setelah nenek mati kaulah yang bisa ngeleak. Iihh...ngeri."
Pertengkaran itu tidak bisa dihindari lagi, Aditya memilih keluar dari rumah itu dengan para tamunya, karena dia mendengar ada seseorang memberi usul supaya Aditya dan rumahnya dibakar. Nenek juga dibakar.
"Pergii Leak dari rumah kami uss uss.."
Tiba-tiba Melati histeris. Dia berlari keluar hampir menjambak rambut Devaly, saking cemburunya melihat Devaly bergandengan tangan dengan pria tampan itu. Ekspektasi nya tidak tercapai. Dia menjadi kesal dan patah hati.
"Haaiikkk...haaiikkkk.. .." Melati berteriak mengamuk tidak karuan. Dia melempar semua barang yang ada didepannya. Ibunya ikut berteriak-teriak tidak karuan.
"Cepat gendong Melati kedalam, tidurkan dia di lantai. Melati seperti kena "Bebahi" ini pasti ulah nenek Saodah."
Bebai merupakan roh yang berada disekitar kehidupan manusia yang menempati alam maya, yang dimanfaatkan oleh balian atau orang yang membuatnya, dapat diperintah untuk menyakiti orang yang imamnya lemah. Roh bebai akan menuju sasaran yang di kehendaki oleh dukunnya. Dan orang yang kena menjadi histeris, seperti orang kena penyakit guna-guna dan desti.
"Tolong yang lain mencari dukun..."
"Pakai bawang supaya bebahinya berhenti mengamuk."
__ADS_1
Banyak saran yang keluar dari mulut tamu undangan. Semua sibuk memegang Melati seperti macan ngamuk.
Mereka percaya begitu saja kepada ibunya Melati. Sebenarnya semua direncanakan oleh ibu melati. Tadinya Melati mau dijodohkan dengan Aditya, dia tidak menyangka Aditya menolak. Itulah yang menyebabkan nyonya Nyoman menaruh "cetik" di salah satu nasi kotak.
Tidak begitu lama datanglah seorang dukun sakti. Dia disambut dengan hormat oleh semua orang.
"Jro dukun saya minta tolong anak saya kena bebahi sehabis upacara potong gigi." kata ibunya Melati dengan wajah muram.
"Saya sudah merasa dari seratus meter, ada orang yang punya niat jahat kepada putri ibu."
"Tolong cepat sadarkan dia, dari tadi kerjanya mengamuk. Tetangga saya disebelah bisa ngeleak bisa saja dia yang membuat putri saya kesurupan.
"Owh..pantas aura negatif menyelimuti rumah nyonya. Ternyata tetangga nyonya bisa ngeleak. Rumah ini harus di sengker dengan upakara besar, kalau tidak begitu akan ada kematian disini."
"Astaga, tolong saya Jro dukun saya akan
mengumpulkan uang dulu."
"Jro dukun saya yakin ini perbuatan nenek di sebelah, Jro dukun harus membakas, serang nenek dari sini. Bila perlu kirim bebahi yang lebih sakti."
"Belum tentu juga nenek Saodah bu. Jangan suudzon, kita tidak boleh sembarangan bicara atau bertindak, semua ada hukumnya. Biarkan Jro dukun yang memeriksa Melati, kita tunggu saja hasil nya."
"Tenang-tenang dulu bu, yang menyerang anak ibu bukan orang jauh, ini orang dekat. Orangnya tidak kurus, tidak gemuk, tidak pendek tidak tinggi. Kesaktian orang ini tidak bisa diimbangi, kecuali anak ibu tinggal di pondok saya baru bisa disembuhkan. Setiap menit Leak yang mengincar anak ibu akan mengirim ular merah kesini."
"Kira-kira anak saya berapa hari menetap disana?" tanya ibu Melati dengan perasaan ragu dan khawatir. Masalahnya dia tidak mampu mengurus Melati, dia tidak punya bapak dan saudara laki-laki. Siapa yang menjaga Melati?
"Paling tiga hari sudah sembuh, jika dibiarkan anak ibu bisa gila permanen. Ini bebahi sakti yang namanya Bebahi Congcong Polo yang sulit sekali di sembuhkan dengan cepat."
Suara seruan ngeri terdengar dari para tamu. Mereka menyarankan supaya ibu Nyoman menurut dan membiarkan anaknya ke dukun.
daripada anaknya menjadi gila.
__ADS_1
"Bu Nyoman ikutin Jro dukun, siapa disuruh menjaga Melati siang malam. Saya yakin nenek akan menyerang Melati sampai mati."
"Jro dukun saya serahkan Melati, semoga disitu bisa disembuhkan. Saya tidak bisa menemaninya, apakah anak atau istri Jro dukun bisa membantu menjaganya?"
"Jangan khawatir disana banyak murid saya, kita akan menjaganya ramai-ramai. Tapi sebelumnya saya minta ongkos bensin dulu." kata Jro dukun memakai kaca mata hitam.
"Melati bangun nak, kamu akan berobat ke Jro dukun. Jangan membantah kalau disuruh apapun harus menurut supaya cepat sembuh ibu dan adikmu tidak bisa menemanimu."
Melati membuka matanya dan bangun, dia memandang dengan mata kosong. Air matanya perlahan turun menyentuh pipinya.
Saat itu semua prihatin dan ikhlas saling membantu dan mengeluarkan uang. Setiap orang ikut menyumbang asal Melati bisa sembuh. Terkumpul satu juta lima ratus, itu sebenarnya terlalu banyak, tapi ibu nyoman malu mengambil setengahnya. Takut dibilang serakah. Jero dukun senang menerima uang banyak, dia memanggil mobil ojek online untuk diajak ke pondoknya.
Kejadian ini sangat mengejutkan, begitu cepat dan mendadak. Sangat mengerikan bagi para tamu, sanak saudara. Padahal semua saran Pendeta sudah diikuti oleh ibu Nyoman, misalnya harus pagi-pagi sekali potong gigi, supaya tidak ada Leak yang berani datang.
Tadi pagi tikar pandan sudah dijaga ketat oleh beberapa orang, supaya tidak diinjak oleh Leak. Karena tikar itu sudah dilukis seni aksara. Konon kalau di injak oleh Leak, anak yang lagi potong gigi akan kena bebai seperti Melati.
Dengan dibantu para tamu Melati dimasukan ke mobil, Jero dukun memeluk Melati dengan erat takut berteriak di mobil. Ibu Nyoman menangis sesenggukan, dia menyesal telah memfitnah nenek Saodah.
"Jro dukun saya antar kemana?" tanya sopir dengan ramah.
"Ke pondok Mandraguna, di jalan Sakuntala nomor satu. Nanti bantu saya mengangkat ke dalam rumah, pasien saya kena bebahi."
"Saya nanti bantu Jro, semoga dia cepat sembuh. Kasihan, orangnya cantik dan mulus apa masih gadis Jro?"
"Belum dicoba, hehehe...tapi belum punya suami. Masih mengalami."
Sekitar dua puluh menit mereka sudah sampai. Melati membuka matanya yang lelah akibat banyak menangis, dia dipapah oleh Jro dukun masuk kedalam kamar. Pondok Jro dukun kelihatan serem. Dia meletakkan barang-barang antik di setiap sudut. Masuk kesini membuat tubuh merinding diskon.
"Trimakasih Jro dukun." kata sopir ojek ramah setelah mengambil ongkos.
*****
__ADS_1