CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab.13


__ADS_3

Seperti yang lain Made melihat kaki kakek apa napak ditanah atau tidak. Kata orang kalau tidak napak berarti hantu. Sepanjang penglihatannya kakek ini normal saja, tidak ada yang kurang. Cuma matanya mencorong ke dalam.


"Om Swasty Astu, apakah kakek mau menyebrangi kami. Sedangkan kabut sangat tebal, air danau pun meluap." salam Aditya sopan.


Dia takut salah bicara, perbedaan kasta masih menjadi patokan utama dalam memanggil nama atau bicara dengan orang. Dia lebih senang memakai bahasa Indonesia karena tidak ada tingkatan."


"Naik ke perahu atau mati!!" ancam kakek memakai bahasa Bali. Aditya merasa kakek ini bukan manusia, ntahlah.


"Trimakasih kakek, kami akan ikut dengan kakek, apapun yang kakek suruh.Tolonglah, kami orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa." sahut Aditya setuju mengikuti kakek, dia tidak mau mempertimbangkan dua kali saran kakek.


"Teman-teman kita naik ke perahu kita akan menyebrang, tidak ada pilihan lain. Kakek mau mengantar kita ke kuburan." kata Aditya percaya terhadap kakek.


"Maaf Adit, kenapa kamu percaya kepada kakek renta ini, lihat danau, kabutnya tidak bisa menembus pandangan dan cuacanya dingin sekali. Kita juga belum melihat perahunya, apa layak ditumpangi." kata Basabi protes.


"Benar Adit, kita harus memakai logika. Jangan-jangan kakek ini yang terbang didepan mobil kita. Bisa saja setan ini berteman dengan setan yang menculik Kenny. Kamu lebih mengerti masalah ini."


"Rakhes, Basabi, dan yang lainnya, jangan takut. Masalah gaib tidak bisa dipakai nalar. Kita hanya bisa memakai intuisi, dan berserah diri kepada Tuhan." ucap Aditya mulai menyalakan senter. Dia meyakinkan teman yang lain.


"Aku akan ikut dengan kakek itu." kata Abisheka menahan sedih, hidup atau mati sudah tidak penting lagi baginya. Lebih baik mati dengan kematian yang berarti daripada menjalani hidup yang tidak berarti.


"Mari kita berangkat." ajak Aditya tetap mengikuti kakek, yang lain terpaksa ikut dengan keraguan yang menggelayuti hati. Serba salah, mau protes takut ditinggal. Kalau setuju seolah mengantar nyawa, ntah setan apa lagi menanti.


Mereka melangkah dengan ragu, tapi tetap berjalan menuju perahu kakek. Perahu kakek cukup untuk sepuluh orang, itupun berdesakan. Biasanya perahu orang lain besar dan memakai mesin boat, tapi ini hanya memakai dayung. Berarti bukan perahu tapi sampan.


Mereka merasa terjebak dengan kondisi ini dan membiarkan kakek mengatur. Bagaimana lagi, karena tidak ada pilihan yang menjamin keselamatan. Siapa tahu setelah kedatangan mereka Kenny bisa di ketemukan dalam keadaan selamat.


"Menari bersama ombak, bergerak bersama laut, biarkan irama air membebaskan jiwamu." suara kakek membelah danau. Gerakan sampan semakin ganas. Kakek berkata indah untuk membunuh kabut yang tebal.


Mereka tidak ada yang berkata-kata karena ngeri berada di atas sampan kecil yang di dayung kakek renta.


"Kakek saya akan mendayung..." kata Aditya kasian melihat kakek.


"Ayo nendayung dengan jiwamu yang kerdil, lepaskan rasa sedihmu, mari berjalan di atas air. Bulan setia menerangimu, sedangkan ombak mendengar rintihan hatimu yang luka. Katakanlah kepadanya bahwa kamu mencintai dirinya, sekarang atau sampai mati." kakek kembali melanjutkan kata-kata mutiaranya.

__ADS_1


"Kakek seperti pujangga." Made memuji orang tua itu dengan tulus.


"Aku tidak mengerti bahasanya, kacau dan tidak masuk akal." Devaly ikut berkomentar pedas.


"Kakek kapan sampainya, perahunya seolah-olah tidak bergerak. Aditya terlalu percaya padanya. Mana kesaktiannya??"


"Pada malam yang pekat, ketika langit penuh bintang dan danau berkabut tebal, kamu mendapatkan sensasi luar biasa, bahwa jiwamu mengambang di angkasa mencari raga yang hilang. Duhai sang pujaan kemanakah kau melayang....."


"Astaga kakek, terus saja berhalu. Aku tidak mengerti bahasa yang kamu ucapkan. Cepat sedikit kek aku sangat takut dan kedinginan. Sampanmu tidak terasa bergerak." protes Devaly kesal.


Tiba-tiba sampan terasa oleng dan berputar kencang, setelah itu tubuh mereka terlempar dan terhempas di pinggir danau.


"Tolooonggg....." tanpa sadar mereka menjerit histeris, dan duduk di prigi.


"Aditya kamu dimana? dimana ini?" tanya Devaly ketakutan. Gelap gulita Devaly tidak melihat temannya. Senter mati.


"Aku disini, kalian bangun semua. Hidupkan senter ponsel kalian. Aku belum tahu kita berada dimana dan dimana kakek sakti itu."


"Kita akan masuk ke kuburan tapi terlebih dahulu kita bertrimakasih kepada kakek. Dia telah menolong kita." kata Aditya.


"Trimakasih kakek sakti, atas segala bantuan kakek. Kami akan masuk ke area kuburan, tolonglah kami kakek, supaya kami jauh dari mara bahaya." ucap mereka. Tidak ada Jawaban.


"Mungkin dia sudah meninggoy...." kata Thasy pelan takut di dengar setan yang lewat.


"Aauunggg....."


"Brengsekkk...." mereka serentak mengumpat ketika mendengar suara lolongan anjing.


"Aku kaget...." Thasy langsung memeluk Rakhes.


"Kita akan masuk ke kuburan, tolong taat aturan jangan bicara yang tidak-tidak." pesan Aditya. Devaly dengan cepat menggandeng tangan Aditya, alasannya takut.


"Mari kita jalan...." Aditya mengajak tamunya pergi.

__ADS_1


Made dan Aditya menerangi jalan karena dia membawa senter, yang mereka takuti adalah biawak dan ular yang konon banyak terdapat disana.


Suara burung hantu dan binatang malam membuat badan mereka semakin merinding.


"I'm so scared baby...." keluh Thasy semakin erat memeluk Rakhes. Dia hampir menangis.


Devaly juga berusaha melawan rasa takutnya dengan cara bersenandung tapi daya magis yang memenuhi atmosfer di area kuburan ini mampu membuat jantung melemah.


"God help us..." Basabi memohon kepada Tuhan atas kelalaian mereka dan ketidak berdayaan mereka saat ini. Air matanya menetes.


"Aku menyesal menerima perjalanan ini, jika Kenny sudah ditemukan aku akan pulang ke Los Angeles." ujar Thasy.


"Kita memasuki kuburan harap menahan diri." Made memegang tangan Abisheka.


"Abi bawa benda itu, letakan dimana kamu dapat. Kita bersama-sama akan mengantarkannya." sambung Made.


"Ini dia.." Abisheka memegang tas ranselnya dan berjalan menuju Taru Menyan. Semua senter diarahkan ke balik pohon.


"Aagghhhh.....Kenny...." semua teriak melihat tubuh Kenny tergeletak dan di dadanya terdapat tengkorak dan ranting, kedua benda yang dicuri oleh Abisheka dan Kenny.


"Kenny bangunlah kami datang menjemputmu." Thasy menangis histeris. Kenny sudah meninggal dengan mata mendelik ketakutan. Tubuhnya sudah kaku.


Semua menangis sedih, Aditya menelpon polisi minta pertolongan supaya mayat bisa di evaluasi.


"Abisheka tolong keluarkan benda itu. Aku heran kenapa di dada Kenny ada benda itu."


"Ternyata bendanya sudah hilang." kata Abisheka gemetar. Ranselnya di letakan dibawah pohon. Sungguh ajaib. Menyesal tidak ada gunanya, nasi sudah menjadi bubur.


"Terima kasih telah mencintaiku, aku banyak belajar darimu, bahwa tidak semua bisa berjalan sesuai harapan kita. Terima kasih atas sedu sedan dan canda tawamu, Terima kasih, kamu pernah memeriahkan hidupku, membuat percikan bahagia meski hanya sesaat. Pergilah kamu sayang dengan damai. Semoga kamu di terima disisiNYA. Sungguh kusesali, apa yang aku perbuat. Aku sangat mencintaimu, walaupun kita tidak bersatu, cintaku padamu tidak pernah padam." Kata-kata Abisheka sangat menyentuh perasaan, mereka menangis sesenggukan.


"Kenny maafkan aku, aku tahu kamu masih disini dan melihat kami. Aku teman yang buruk, tidak mengerti jika saat itu kamu dalam kesulitan, kamu lagi bermasalah. Aku malah berdebat denganmu dan mencacimu maafkan aku....." Devaly berkata penuh sesal.


*****

__ADS_1


__ADS_2