CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 83


__ADS_3

Thasy berusaha mengibaskan tangannya supaya orang itu tidak menyentuh punggung dan lehernya, tapi tangannya terasa kaku, tidak bisa digerakkan sama sekali. Dengan sekuat tenaga dia berteriak, tapi yang keluar hanya suara hu..hu..hu saja.


Thasy tambah gemetaran ketika jalannya semakin sepi dan tambah gelap. Saat itu ada hembusan nafas terasa di lehernya, bau tidak sedap tercium menusuk hidung. Ia berusaha membuang takutnya dengan berpikir realitis.


"Kau berani datang kesini berarti berani mati, walaupun darahmu tidak begitu manis tapi aku suka." suara itu membuat keberaniannya timbul. Dia memejamkan matanya, berdoa dalam hati.


"Aagghhhh....." teriak Thasy saat sesuatu menyentuh lehernya.


"Tolooong...." Thasy berbalik, dia melihat sosok hitam di depannya. Karena gelap dia tidak jelas melihat wujud itu.


"Tuhan lindungilah diriku..." ucap Thasy keras dan berulang-ulang. Dia melangkah mundur ketika sosok itu mau mencekik nya.


"Leak kurang ajaaarrr...." teriaknya marah. Dia mendengar suara orang berlari mendekat. Keberaniannya bertambah.


"Lagi sekali kau maju aku akan menembak mu, mumpung aku membawa pistol." bentak Thasy berbohong. Dia menghentakan kakinya berulangkali. Mendengar ada orang datang Leak itu menghilang. Seketika badan Thasy merinding ketakutan.


"Ada apa nona?" pecalang dan aparat datang mendekati Thasy. Mereka melihat Thasy di tempat gelap berteriak-teriak dengan mata melotot. Pecalang mengarahkan senternya kesegala arah, tidak terlihat Leak.


"Nona jangan takut ini kami." polisi menggoyang-goyangkan lengan Thasy.


"Cepat ambil garam dan bawang." perintah polisi berusaha menyadarkan Thasy. Seorang pecalang lari ke dapur mengambil bawang.


"Pak Tut ada apa?" pelayan heran melihat pecalang mengambil bawang banyak.


"Nona Thasy kesurupan." kata pecalang itu dengan nafas terengah-engah.


Pelayan ikut berlari ke belakang membawa garam dan air. Sepanjang jalan pecalang dan polisi melempar-lemparkan bawang sambil berteriak marah.


"Ehh..pelayan ikut lempar dan usir leaknya dari sini. Apa kalian belum makan sampai loyo begitu." tegur pecalang agak kesel.


"Capeklah pak, setiap hari kami sibuk didapur tidak sempat istirahat. Tuan menggelar acara Ngaben yang sangat mewah, besar-besaran, itu yang membuat kami sangat lelah, karena tamu dan pelayat tiap hari memenuhi rumah." kilah pelayan menutupi aib yang sebenarnya. Hampir semua pelayan disini bisa ngeleak, jadi mereka kasihan kalau ada yang kena lemparan.


"Panggil Tuan Aditya atau telepon saja supaya cepat." perintah polisi lagi, dia ingin sekali

__ADS_1


"Tolong lempar garam ketubuhnya."


Mereka melempar garam dan bawang, tapi tubuh Thasy tetap kaku. Tidak begitu lama datang Aditya, Made dan Kemoning.


"Nona Thasy tidak mungkin sadar karena Leaknya masih ngumpet disini." kata Kemoning menunjuk kebawah pohon.


"Adahh...mana dia, mana....." sebagian menuju ke bawah pohon mangga, yang lain mengurus Thasy. Leak itu lenyap tanpa jejak, hanya suara nafasnya terdengar menjauh.


Mereka tidak melanjutkan pencariannya, takut beresiko dan fatal akibatnya. Thasy perlahan sadar walaupun dia masih dalam ketakutan yang amat sangat.


"Kita ke Bungalow, kamu tidak boleh takut, aku akan menjagamu." kata Made mengajak Thasy ke Bungalow.


"Trimakasih pak polisi, penjagaan malam ini lebih di fokuskan ke Bale Gede, malam ini adalah malamnya Leak, dimana Leak akan bergentayangan mencari mangsa dan ingin merebut mustika nenek yang konon ada di tubuh nenek. Gosip itu sudah menyebar dari mulut kemulut. Tadinya saya berpikir itu hanya guyonan orang-orang, setelah Thasy melihat Leak Asing, baru aku percaya bahwa akan banyak Leak yang datang."


"Siap Tuan, apa itu Leak Asing?"


"Kami sudah tahu wujud Leak yang sering gentayangan disini, kalau ada yang berbeda itu kami namakan Leak Asing." jawab Kemoning.


Polisi dan Pecalang manggut-manggut tanda mengerti. Mereka sedikit banyak sudah faham bahwa di rumah ini banyak Leak berkumpul. Makanya yang bertugas disini rata-rata punya ilmu bathin' atau membawa benda untuk penolak bala.


"Ada apa Made kenapa kalian lama?" tanya Basabi cemas. Rakhes langsung memeluk Thasy yang masih terlihat ketakutan.


"Thasy diganggu Leak, untung polisi cepat datang, jika terlambat dikit Leak pasti sudah membunuhnya."


"Memang malam ini terasa lain, daritadi bulu kuduk ku berdiri, menakutkan. Apalagi suara lolongan anjing terus menerus terdengar."; kata Rakhes.


"Tuan saya mau membantu di dapur, tolong Tashy di kasih minum dan makan." Kemoning lalu mohon diri.


"Trimakasih Kemoning, jaga diri dan tolong jadi tahu kepada yang lain supaya membawa bawang dan garam. Jangan tidur sampai jam tiga pagi, usahakan duduk disatu ruangan bergerombol, jangan sendiri." kata Aditya.


"Siap Tuan." Kemoning beranjak dari Bungalow menuju dapur, dia harus cepat memberitahu bahaya yang akan mengancam mereka.


"Aku mau nemenin Devaly, kalian juga harus mawas diri. Lebih baik berada di kamar daripada di lobby, banyak Leak lewat."

__ADS_1


"Mari kita masuk kamar."


Aditya diam-diam nyelonong masuk, dia ingin mengagetkan Devaly, malah dia yang kaget melihat Devaly mainan ponselnya.


"Yank kamu bisa melihat."


"Tidak, aku berharap bisa memakai ponsel seperti sedia kala." ucap Devaly kaget. Tapi dia cepat tersenyum.


"Aku kira kamu sudah bisa melihat seoerti dulu. Maafkan aku sayank, semoga kamu bisa sembuh." kata Aditya tersenyum.


Aditya merebahkan tubuhnya disamping Devaly perlahan bibir mereka bertemu. tangannya mulai berselancar ke setiap inci tubuh Devaly.


"Aku mencintaimu sayank." bisik Aditya ketika dia menuntaskan ciuman pertama.


"Aku juga sangat mencintaimu, kamu jangan dengan Mayang lagi aku sedih."


"Tidak bakalan." jawab Aditya membuka kancing kemejanya.


Hasratnya menggebu-gebu ketika Devaly ikut meloloskan penutup tubuhnya. Aditya merasakan cinta yang sebenarnya, rasa yang tidak sama jika wujudnya berubah menjadi Malamute. Apalagi melihat tubuh Devaly yang sexy, waduhh...Aditya semakin liar saja.


Mereka terlalu asyik bercinta sehingga lupa malam ini adalah malamnya Leak. Dari tadi Mayang menunggu di luar jendela. Darahnya mendidih ketika mengintip Aditya dengan perkasa menjajal tubuh Devaly.


"Kurang ajar!! beraninya kamu bercumbu di saat para Leak berlomba ingin mencari mustika nenek." bisik Mayang dalam hati.


Mayang terus mengintip kelakuan Aditya, laki-laki kekar itu sangat perkasa membuat Mayang menjadi bernafsu. Nafasnya terasa memburu ketika Devaly mengambil alih kendali dan membuat Aditya melontarkan kata-kata cinta berkali-kali.


Mayang membalikan badannya ketika ada yang mencolek punggungnya.


"Ngapain kamu kesini nanti dilihat orang." Mayang kaget melihat Gusde sudah berdiri di depanya.


"Tidak ada orang sama sekali, mereka pasti kena sirep. Sampai polisi dan Pecalang ikut ketiduran."


"Benarkah, kalau begitu aku ke Bale Gede untuk mencuri mustika nenek." kata Mayang beranjak pergi.

__ADS_1


*****


__ADS_2