
Sinar mentari pagi menyelinap masuk lewat jendela yang terbuka lebar. Gordennya yang berwarna abu-abu berkibar setengah terbuka Devaly menggeliat dari tidurnya. Ia menguap menuntaskan sisa-sisa kantuknya. Kicau burung terdengar melintas melewati taman bunga di depan jendela.
Devaly turun dari ranjang mendekati jendela, dia tidak tahu siapa yang membuka jendela padahal tadi malam jendela terkunci. Disini terasa semua gaib, barang berpindah sendiri atau gelas melayang tak bertuan. Ketika dia mau menutup jendela, ada tangan kekar memegang tangannya dari luar.
"Kamu?!" Devaly kaget ketika jendela dibuka kembali. Matanya bersitatap dengan Aditya.
"Kamu kaget? aku sengaja menunggumu bangun dari tadi. Pagi ini wajahmu sangat cantik dan terlihat bahagia. Aku ingin tahu siapa pria yang beruntung bisa menyentuh tubuhmu tadi malam. Aku melihat seprei nya ada bercak darah." ucap Aditya mendorong Devaly masuk ke kamar mandi.
Devaly tergugu ketika Aditya memandang seluruh tubuhnya yang polos. Seperti maling tertangkap basah, dia merasa bersalah dan takut yang luar biasa. Harga dirinya merosot ketika Aditya tersenyum sinis melihatnya.
"Ma-af-kan aku..." dia berkata terbata-bata, dan malu mengakui kalau seekor Serigala sudah membobol gawangnya. Tragis sekali dan tidak masuk akal. Pasti begitu pikiran orang kalau dia bercerita.
"Tidak apa-apa sayank, aku mencintaimu bukan karena kamu masih gadis atau tidak, walaupun kamu janda aku tetap mencintaimu aku hanya sangat cemburu, ternyata ada laki-laki lain yang kamu cintai selain aku."
"Aditya apakah kamu marah?"
"Apa yang harus aku katakan padamu, aku sangat marah dan cemburu. Sebagian dari diriku terasa hilang sebelum kita bertemu, lalu kamu datang dan membuatku lengkap. Aku memilihmu begitu aku melihatmu." untaian kata-kata mesra mengalir dari bibir Aditya membuat Devaly tergoda. Dia merasa tambah bersalah.
Tangan Aditya yang kekar meraih tangan Devaly mengajaknya ke bawah shower. Air shower yang hangat mengalir keseluruh tubuh Devaly dan membuat nya segar, tapi air matanya tidak berhenti mengalir. Menyesal telah mengikuti permainan Malamute. bathin Devaly, sedih, nasi sudah menjadi bubur.
"Apakah kamu tidak mencintaiku sehingga kamu terlena dengan laki-laki lain?" tanya Aditya pura-pura marah. Devaly langsung memeluknya sambil menangis.
"Hari ini aku memilihmu. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa. Kamu adalah keputusan terbaikku, kebahagiaan hidupku. Bersamamu aku merasa hidupku berwarna, aku mencintaimu. Seluruh tubuhku aku serahkan padamu, hanya untukmu." kata Devaly tersendat.
Aditya tersenyum penuh kemenangan, semua akal bulus nya berjalan dengan lancar, seperti jalan tol bebas hambatan. Dia tidak bermaksud jahat, hanya saja dirinya tidak mampu memilih solusi lain demi cintanya dan harapan masa depannya.
"Aku tidak ragu memilihmu karena aku tahu kamu adalah cinta dalam hidupku, aku jauh lebih bahagia saat bersamamu." rayu Aditya lagi. Devaly merasa sangat bersalah dan bodoh. Dibawah guyuran air shower mereka saling berpelukan, merajut kasih melanjutkan hasrat yang tertunda. Aditya mendarat kan ciuman lembut yang memabukkan
Selama ini Aditya menjaga kehormatan Devaly serta mengabaikan hasratnya, tidak mau merusaknya, namun Devaly sendiri yang lepas kontrol.
__ADS_1
Untuk menebus rasa bersalahnya, Devaly kini pasrah, dia membiarkan Aditya menyentuh tubuhnya, menciumnya dan membawanya ke ranjang. Adityapun tidak keburu nafsu, dia akan mengulang permainan nya tadi malam, lebih romantis, mendalam dan bergejolak. Dia ingin supaya Devaly terkesan dengannya.
"Aku menginginkan dirimu." bisik Aditya membuka seluruh pakaiannya.
"Seluruh tubuhku milikmu." sahut Devaly membantu Aditya membuka bajunya.
Wajah Devaly memerah saat memandang tubuh Aditya yang berotot. Pria itu sungguh mempesona, membuat Devaly menelan salivanya ketika melihat sekilas keperkasaan Aditya. Dia membayangkan kenikmatan langka yang akan membuatnya menjerit.
Aditya sangat bergairah ketika melihat tubuh sexy Devaly, biasanya dia bercinta dalam kegelapan malam. Kini dia berkesempatan melihat tubuh calon istrinya, sungguh cantik dan sexy. Dia akan memberi kenikmatan yang dasyat kepada Devaly, sehingga wanita itu terpuaskan.
Tidak ada perbedaan yang signifikan, ketika Aditya menggoyang Devaly dalam keadaan normal sebagai manusia atau dalam wujud Malamute. Sama-sama enak membuat dia ingin mengulangi lagi dan lagi.
Mungkin karena dia sangat mencintai Devaly membuat dirinya buta terhadap kekurangan yang dimiliki Devaly. Di matanya Devaly seperti seorang Dewi Yunani yang anggun, cantik, sexy dan legit.
"Aku mencintaimu sayank." bisik Devaly berulang kali. Aditya betul-betul perkasa sampai dia melupakan sakit yang tercipta, karena nikmat yang disuguhi oleh Aditya.
"Kamu tidak marah setelah ada orang lain yang duluan membuka segelku."
"Tidak sayank, aku tulus mencintaimu. Jika kamu mau, besok kita menikah di catatan sipil di kota."
"Bukankah kamu akan menikah dengan Mayang, kamu mau poligami?"
"Makanya kita duluan menikah, jadi aku bisa menjelaskan ke nenek kalau kita sudah menikah dan ada akte nikah sebagai bukti."
Perbedaan Malamute dan Aditya sangat mencolok. Devaly sangat puas dengan Aditya dibandingkan dengan Malamute. Itu yang membuat Devaly menurut kemauan Aditya.
"Aku percaya padamu, apapun yang kamu inginkan aku manut, hanya satu yang aku pinta asal kamu tidak selingkuh. Aku benci kalau diselingkuhi, lebih baik tidak kaya tapi suami setia." bisik Devaly mengecup bibir Aditya.
"Jika nenek memaksa ku untuk menikahi Mayang, aku akan menurut, tapi dengan syarat aku tidak mau tidur dengannya."
__ADS_1
"Itu omong kosong, kamu pasti akan tidur bersamanya. Mayang wanita yang agresif, tidak mungkin kamu menolak, apalagi dia menjadi istrimu. Dalam sebulan kamu bisa, tapi dalam setahun apa bisa." kata Devaly risau.
Dia sendiri bingung, karena harus pulang ke negaranya dan banyak kontrak kerja yang harus dia selesaikan supaya tidak dapat wanprestasi.
"Tookk...tookk...tookk.."
Suara ketukan pintu membuat Devaly dan Aditya kalang kabut. Dia cepat meloncat dari ranjang dan memakai bajunya. Dia menyuruh Aditya pergi lewat jendela. Dia mengatur nafas, setelah agak tenang dia baru membuka pintu
"Bibi Ayu ada apa?"
"Sarapan nona, apa ada Tuan disini?"
"Aku makan di lobby saja, tidak enak makan di kamar." Devaly tidak menjawab dia mengalihkan pembicaraannya.
"Nona jangan takut saya mengadu kepada nenek atau Mayang, saya seratus persen mendukung Tuan dan nona."
"Trimakasih bi, semoga kami bisa melewati semua halangan dan rintangan ini. Aku berusaha menahan diri menghadapi masalah yang bisa membunuhku."
"Saya hanya berpesan, Mayang akan terus membuat ulah supaya nona kesal atau marah setelah nona bersalah dia bebas menyakiti nona memakai black majic."
"Maksud nya Mayang bisa ngeleak?"
"Begitulah, lebih baik menghindar daripada berseteru. Jika Abisheka pulang, nona ikut saja pulang ke LosAngeles, buat apa tinggal disini tanpa tujuan. Hindari masalah semasih bisa, nona harus kembali beraktivitas seperti biasa."
"Aku memang akan pulang, banyak pekerjaan menungguku, mungkin besok kami semua pulang, semoga Abisheka tidak membuat ulah lagi." ucap Devaly datar.
"Silahkan sarapan nona."
****
__ADS_1