CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 82


__ADS_3

Tidak bisa dicegah karma buruk menimpa nenek. Semua adalah hasil dari perbuatan nenek selama ini. Hukum tabur tuai sedang berlaku. Kematian nenek yang mengenaskan membuat heboh masyarakat. Kisah nenek menjadi trending topik. Nama keluarga hancur berkeping-keping, dan Leak menjadi momok yang sangat menakutkan. Padahal ada orang yang mempunyai ilmu Leak tapi tidak mengganggu.


Seperti biasa untuk kremasi mencari hari baik, sungguh apes nasib Aditya hari baiknya tidak sudi datang, masih sebulan lagi. Biaya yang diperkirakan satu miliar membengkak menjadi tiga miliar. Seperti biaya Raja-Raja kalau meninggal.


Ini malam kelima, pengunjung sudah agak sepi biasanya seperti lautan manusia, ntah darimana datangnya mereka. Pohon hias dan taman bunga yang ada di belakang hancur lebur diinjak massa. Tiap hari ada sepuluh polisi, dan pecalang di kerahkan, tapi tetap tidak kuasa menghadapi massa yang datang.


Terkadang mereka bringas melampiaskan sakit hatinya kepada nenek. Aditya dan para pelayan tidak bisa berbuat banyak untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih banyak, akhirnya Aditya menutup pintu gerbang di depan dan menugaskan aparat berjaga dua puluh empat jam disana.


Mereka datang tidak sopan, memaki dan menghina nenek. Beritanya simpang siur dan sangat memojokan keluarga nenek, trutama Aditya. Disaat begini tidak satupun saudara datang melayat. Aditya merasa sendiri.


"Tuan jangan terlalu dipikirkan, bibi sudah lama menjadi pelayan disini, jadi sudah tahu sepak terjang nenek. Jika warga kampung disini Euforia sekali dengan kematian nenek itu wajar. Mereka bertahun-tahun dilanda rasa ketakutan yang amat sangat. Bibi bukan membela warga, kita memaklumi keadaan mereka, itu saja." kata bibi ketika mereka lagi berkumpul di ruang kerja membicarakan apa yang terjadi.


"Aku tidak menyalahkan mereka, bagiku ini karma buruk nenek dan keluarga kami. Satu yang berbuat jahat, semua kena imbasnya. Orang tuaku, kakak-kakakku mendapat caci maki dan hinaan juga. Bagiku ini cermin kehidupan, dimana kita tidak boleh berbuat seperti nenek apapun alasannya, karena keturunan kita juga menerima imbasnya." sahut Aditya sambil mengelus dada.


"Aku pribadi tidak peduli akan karma buruk, kalau sudah mati tidak ingat lagi. Hidup cuma sekali...." kata Mayang santai.


"Ini hanya saran, efek dari perbuatan buruk. Jika kamu tidak peduli, tidak apa-apa. Saat kamu meninggal warga akan mabuk dan mencabik cabik mayat mu dan melarikan nya kesana kemari."


"Nenek juga akan diperlakukan begitu, dia sudah mati dan tidak peduli, mau badannya dirusak atau dibakar orang itu badan kasar. Benda mati, tidak berpengaruh."


"Tapi keluarga yang malu dan sedih." sahut Made kesal. Dia paling benci kepada Mayang.


"Kenapa kamu ikut disini rapat, ikut di dapur dengan pelayan lain." sambung Made lagi.


Mayang tidak menyahut, dia seolah tidak terganggu dengan apa yang terjadi, malah menikmati moment ini dan ikut ambil bagian saat wawancara berbayar.

__ADS_1


"Nenek berbuat jahat, nenek sudah mati yang menerima karma buruk kamu Aditya, padahal kamu merasa tidak jahat. Kamu merasa baik, tapi aku merasa kamu jahat. Kalau kamu baik tidak mungkin menerima azab." sinis Mayang dia benci kepada nenek yang bunuh diri. Mayang merasa rugi karena nenek tidak mau mewariskan ilmu Leaknya.


"Terserah kamu menilai aku, semua orang bebas memilih dan aku tidak peduli. Aku lebih memikirkan nenek menjadi beban pikiranku dimana kepala nenek, kita harus cari. Tidak mungkin jauh dari sini."


"Aku juga berpikir begitu, ini sudah lima hari, pasti sudah membusuk dan dimakan binatang." timpal bibi Ayu.


"Menurut mata batinku dia bergentayangan disekitar sini. Nenek belum mati dan masih mencari badan baru." jawab kemoning serius.


Semua tertawa atas statement Kemoning kecuali Made dan Aditya. Karena mereka sering mendengar nafas yang memburu dan berat berdesir lewat. Mata mereka tidak melihat tapi Made yakin itu Leak. Apalagi setiap malam anjing melolong, ngeri.


"Kemoning benarkah itu?" tanya Devaly takut.


Dia terus menguap, semenjak mengandung, Devaly merasa tidak enak badan, inginnya tidur melulu tapi takut kandungannya disedot oleh Leak.


"Benar nona, lebih baik nona membawa bawang merah, garam dan gunting di dalam kamar supaya Leak tidak berani datang."


Kemoning mengerjitkan alisnya, dia tidak menyangka Mayang protes dengan sikapnya.


"Tidak apa-apa Kemoning, kamu wajar berkata begitu aku bertrimakasih atas perhatianmu kepada Devaly." kata Aditya tersenyum. Dia memeluk istrinya dan mengecup pipinya.


"Hee...si buta, aku sumpahi supaya nenek memakan janin yang kau kandung!!" ketus Mayang, matanya melotot melihat Devaly.


"Apapun yang kamu bicarakan aku masa bodo, kamu iri melihat ku mengandung." Mayang tidak menyangka Devaly menyahut, dia jadi semakin panas.


"Hahaha...kamu bangga hamil? aku juga hamil sepertimu dan ini ulah Aditya."

__ADS_1


"Mayang!! tutup mulutmu, jangan membuat pitnah. Aku tidak pernah berhubungan intim denganmu. Dibiarkan kamu makin gila." Aditya berdiri.


"Jadi kamu tidak mengaku kita pernah tidur bareng?" kata Mayang pura-pura marah.


Wajah Aditya merah membara ketika mendapat tuduhan itu. Tangannya hampir melayang mendengar ocehan Mayang yang selalu bertolak belakang.


Mayang berkacak pinggang dia siap mengadu mulut dengan semua orang yang berada disini. Seperti melempar parang ke halaman, kalau mengena Mayang beruntung, kalau tidak, dia tidak rugi juga. Ghina yang dari tadi diam ikut berdiri.


"Lawanmu bukan mereka, tapi aku." kata Ginha dingin. Pandangan mata mereka bertemu , perlahan Mayang menunduk, dia lalu menghentakan kaki kanannya tiga kali dan menuding Ghina.


"Kurang ajar, sekali lagi kau menantangku, mati kau!!" kata Mayang menuding Ginha.


Mengetahui Mayang mengujar mantra Leak, serempak mereka tolak bala, hanya Devaly, Rakhes dan Basabi yang diam, tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, karena Mayang dan Ginha berbahasa khatulistiwa.


"Kalian ini kenapa, aku bingung melihat tingkah kalian yang seperti bangsa primitif. Kerja kalian ngoceh tidak karuan, saling serang dan marah-marah, Hari sudah malam apa kita tidak perlu makan?" protes Thasy.


Tidak ada yang menyahut, Mayang tetap dalam posisi menyerang dengan Ghina, tapi tidak berubah wujud. Rhakes, Basabi, Thasy dan Devaly saling memberi kode untuk keluar dari ruangan itu.


Thasy membuka pintu coklat besar itu, angin dingin menyapu wajah bulenya, Matahari dari tadi sudah terbenam kepangkuan ibu pertiwi. Hatinya tiba-tiba nelangsa, dia melemparkan pandangan jauh kedepan, polisi berjaga-jaga di depan Bale Agung, dimana jazad nenek disemayamkan.


Thasy berjalan keluar, tidak peduli panggilan temannya. Mereka membiarkan Thasy pergi sendiri, sedangkan ketiga temannya menuju Bungalow.


Semakin dekat Bale Agung bau formalin keras menusuk hidung. Dokter keluarga tiap hari datang sengaja menyuntikkan formalin ke jazad nenek supaya kumannya mati dan jazad nenek tidak bau.


Thasy merasa aneh karena suasana sepi, kata Kemoning hari ini ada bantuan tenaga dari Banjar untuk menjaga nenek. Mungkin mereka belum datang. pikir Thasy. Dia tetap melangkah kan kakinya ke depan, tiba-tiba dia merasa ada orang mendorongnya menuju kebun belakang. Aneh!.

__ADS_1


*****


__ADS_2