
"Kenapa harus ribut-ribut menyalahkan orang, itu tidak akan menyelesaikan semua masalah. Dalam hal ini kalian harus mengerti, bahwa kita dalam masalah besar dan tidak ada jalan keluar, aku sendiri merasa putus asa menjalani ini." kata Aditya menggeser duduknya.
"Lebih baik tenangkan pikiran kalian, kita dalam posisi di ujung tanduk, salah sedikit kita bisa hancur." sahut Basabi berusaha menenangkan teman-teman nya.
Mereka diam dengan pikiran masing-masing rasanya ingin membakar Jro dukun sampai hangus. Manusia biadab, yang tidak punya adab. Jro dukun itu ternyata pintar membuka pikiran mereka, dia menyatakan bukti tidak ada. Itu benar dan mereka baru sadar. Pantas dari dulu dia merajalela tidak pernah di tangkap.
"Hallo aku datang, kalian beli apa saja. Aku beli beragam masakan laut khas daerah ini." tiba-tiba mereka di kagetkan oleh teriakan Kemoning dari bawah.
"Naik dulu baru bicara, kita ada masalah bisa kamu bantu kami?"
"Aku duduk dulu setelah itu ceritain, siapa tahu aku punya jalan keluarnya."
Kemoning terlebih dulu menaruh makanan di atas meja, kemudian dia duduk mendengar cerita Aditya tentang Thasy, tentang dirinya dan Basabi tidak dia ceritain. Pada dasarnya Aditya ingin sekali melenyapkan Jro dukun, karena mengganggu jiwa masyarakat disini. Jro dukun bisa menjual Ilmu Leak, bisa mengobati orang kena sakit Leak dan bisa membuat orang sakit. Jadi kegiatan Jro dukun meresahkan masyarakat umum.
"Kisah ini sudah sering terjadi, tidak pernah ada orang yang bisa memenjarakannya. Dia itu seolah kebal hukum." sahut Kemoning ketika membahas Jro dukun.
"Tidak ada kebal hukum, mungkin saja orang takut membuat masalah dengannya, karena takut di santet atau takut dibunuh."
"Masuk akal, dulu semasih muda Jro dukun adalah seorang Hakim dan nenek seorang Pengacara, mereka berdua sudah pintar soal hukum." kata Kemoning membuat mereka melongo. Pantas Jro dukun santai, dia sudah hafal pasal-passlnya.
"Biarpun di penjara dia bisa menghilang. Ada yang mengusulkan kalau dia diberi tanda dulu, saat berubah tanda itu tetap menempel di tubuhnya, misalnya jari tangannya kita potong. Jika dia lagi melakukan itu kita sudah punya tandanya."
"Ribet, siapa yang berani memotong jari tangannya. Sebelum di potong kita di makan duluan. Setelah ada ancaman dari kita belum tentu Jro dukun memperkosa kembali, kata jro dukun bayi yang ada di perut akan dipakai oleh nya untuk meningkatkan kualitas ilmunya." kata Aditya geram.
"Ngeri sekali mendengar rencana dukun ini, tidak ada rasa kasihan sama sekali, padahal itu calon anaknya." kata Rakhes geram.
"Aku yang akan membunuhnya!!" ancam Thasy penuh percaya diri, sinar matanya mengandung dendam.
Perdebatan siang ini hanya nengeluarkan unek-unek saja, sedangkan solusi tidak ada. Semua bisa marah dan berkata kasar, mamaki, menghemat, tapi masalah ini tetap menjadi beban.
"Aku mau istirahat, jangan diganggu besok aku baru bangun." kata Devaly beranjak dari tempat duduknya. Dia lelah lahir bathin.
Sampai di kamar dia langsung menuju kamar mandi. Hari ini dia akan menghabiskan waktu untuk tidur. Selesai mandi Devaly naik ke ranjang dan langsung tidur.
Senja telah menjelang, burung Seriti yang terbang bergerombol di depan Home Stay kini telah menjauh. Malamute mengibaskan ekornya dan naik ketempat tidur Devaly. Dia rindu sekali kepada gadisnya.
Malamute menyusup di dada Devaly dan ikut mendengkur. Hanya dengan cara ini Aditya bisa menumpahkan rindunya kepada Devaly.
"Aku bukan manusia sayank tapi aku bisa memuaskanmu." bisik Malamute sambil memeluk Devaly.
__ADS_1
Devaly yang tidur pulas mendadak terbangun saat merasakan bulu lembut menyentuh tubuhnya. Bau khas Malamute menyergap hidungnya membuat Devaly membuka setengah matanya.
"Sayank, aku ngantuk, kenapa kamu baru datang, aku rindu padamu." kata Devaly mencium Malamute.
"Kau tambah ganteng, tapi tidak seganteng pacarku. Dia adalah cintaku, hidupku dan separuh jiwaku."
Malamute mengekspresikan rindunya dengan cara bermanja-manja dengan Devaly. Gadis itu membalas memeluk dan mencium Malamute dengan suka cita.
"Seandainya kau adalah Aditya aku pasti sangat bahagia." tangannya mengelus tubuh Malamute.
"Malamute aku akan pergi dari sisimu selama ini hidup disamping Aditya lebih banyak sedih daripada bahagia. tidak mungkin aku bisa terus-terusan berada disini karena aku punya pekerjaan dan hidup kita berbeda."
"Geerrrr..." hanya itu yang keluar dari bibir Malamute selebihnya.
"Dunia kita berbeda, aku hidup di dunia barat dan kamu di dunia Timur." bisik Devaly sedih.
"Geerrrr....."
"Malamute aku nyalain lampu ya supaya bisa memandangmu dengan puas.Kalau tidak boleh aku akan foto selfie denganmu." kata Devaly meraih ponselnya.
"Sini sayang kita ciuman." kata Devaly memeluk Malamute kemudian "creekk"
"Sayank kenapa wajahmu tidak ada, hanya wajahku yang ada, kita coba lagi."
"Apa kau Leak atau setan sehingga wajahmu tidak dapat di rekam?" tanya Devaly reflek mendorong tubuh Malamute kesamping, hampir menggelinding jatuh.
Hampir saja Malamute menjawab, untung dia cepat sadar jika dirinya bukan manusia. Dia berusaha tenang dan diam menunggu reaksi Devaly. Tidak lama Devaly kembali meraih tubuh Malamute ketika dia ingat Leak masih bisa terlihat di rekaman vidio seperti Jro dukun bersama Thasy.
"Maaf sayank, aku hanya penasaran kenapa kau tidak bisa terlihat. Apakah kau setan, leak atau jin. Aku Jadi merinding jika kau siluman."
"Tookk...tookk...tookk."
Suara ketukan pintu membuat Devaly turun dari ranjang, dia cepat menyuruh Malamute bersembunyi di kamar mandi.
"Siapa?" tanya Devaly membuka pintu. Kemoning sudah ada di depan pintu.
"Aku Kemoning, nona kenapa gelap sekali, tolong nyalain lampu."
"Yaelah....kirain siapa, ada apa Kemoning?"
__ADS_1
"Boleh aku masuk?"
"Kamu sudah masuk, ada apa sih?" Devaly menyalakan lampu, dia merasa terganggu terhadap kehadiran Kemoning.
"Rhafael minta ketemuan besok siang di wantilan, apa nona ada waktu?"
"Aku akan datang, mau pergi kemana?"
"Rhafael akan mengajak nona menonton tarian Kecak di Wantilan, supaya tidak terlalu banyak rugi datang ke daerah ini. Sekarang keadaan sudah mulai aman, para sponsor mengadakan pertunjukan gratis untuk para wisatawan mancanegara khususnya."
"Bagus itu, tapi dimana Wantilan?"
"Nanti saya antar nona."
"Kapan kapal boleh menyebrang? aku bosan disini, aku takut nasibku seperti Thasy."
"Sebelum nona Thasy melahirkan akan terus terjadi musibah, itu sudah sering terjadi."
"Astaga! berarti aku disini sembilan bulan sepuluh hari?"
"Tidak nona, kehamilan anak setan paling lambat dua belas hari. Anak itu akan dimakan atau di tumbalkan dihari pertama atau ketiga oleh ayahnya."
"Mengerikan, aku tidak berani komen karena sudah menyangkut pembunuhan dan sudah melanggar hukum."
"Nona, kata orang-orang yang pernah diperkosa oleh bangsa siluman, akan terus di datangi oleh silumsn itu dampai anaknya lahir."
"Berarti Thasy di datangi?" tanya Devaly dengan badan merinding.
"Aku belum tahu, bisa ya dan bisa tidak, kalau nona ingin tahu kita mengintip di depan kamarnya atau kita pasang cctv di kamarnya. Yang penting hati-hati kalau sudah malam, jangan sampai nona ditangkap Leak."
"Aku jadi tambah takut."
"Apa saya menemani nona disini, aku belum ngantuk."
"Tidak usah, aku malah risih kalau tidur berdua. Abisheka pasti lebih membutuhkan dirimu."
"Kalau begitu aku mau ke kamar, hati-hati di kamar sendirian nona, jangan membuka pintu kalau belum tahu siapa yang mengetuk pintu. Saranku supaya nona mengajak teman tidur misalnya Rhafael."
"Kapan-kapan aku akan mengajaknya kesini." kata Devaly mengantar Kemoning keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelah Devaly mengunci pintu dia bergegas ke kamar mandi. Malamute ternyata tidak ada disini, sedangkan pintu kamar mandi tetap tertutup.
****