
Serigala itu melompat ketempat tidur saat Devaly menyuruhnya naik, Devaly memeluk dan menciumnya bertubi-tubi. Semoga Lampu cepat menyala, dan bisa melihat dengan jelas Serigala ini. bathin Devaly. Dia ingin melihat kelakuan Serigala ini.
Ponselnya lowbat dan tidak bisa dipakai lagi untuk senter. Devaly hanya bisa mengelus bulu anjing itu tanpa bisa melihat reaksi dari Serigala yang mengagumkan ini. Dia berdoa supaya yang punya Serigala tidak datang menjemputnya untuk sementara waktu.
"Siapa namamu sayank, malam ini kau bertugas menemaniku tidur. Jika rumah ini mau rubuh gendong aku keluar." kata Devaly bercanda. Mata flip flop atau night and day Serigala itu bersinar seolah mengerti.
"Jika teman-temanku datang kau cepat bersembunyi dikolong dan jangan pernah menampakkan diri atau berisik. Aku tidak ingin kau diambil Basabi atau Thasy."
"Geerrrr..." Devaly tertawa saat Serigala itu menyahut.
"Kau adalah Serigala yang paling pintar." kata Devaly menyuruh Serigala itu tidur. Mereka saling berpelukan.
Angin kencang dan hujan lebat masih eksis mengguncang Pulau Nusa ini. Devaly mulai menguap setelah capek bicara sendiri. Dia menarik selimut, matanya mengantuk sekali. Perlahan matanya terpejam, sedangkan tangannya tetap memeluk Serigala.
Kala dirinya setengah sadar dia merasa ada Aditya disampingnya. Dia mau marah tapi tidak bisa bergerak, sedangkan Aditya sangat agresif mencium bibirnya, sambil berbisik mengumandangkan kata-kata cinta. Devaly semakin gemetar tatkala mulut Aditya terbuka, terlihat taringnya yang panjang, lalu dia berteriak keras.
"Arghh..." Devaly membuka matanya, peluh membasahi seluruh tubuhnya. Dirinya sangat takuttt.
"Aku mimpi buruk." gumamnya dan merasa tenang ketika tangannya memeluk Serigala yang berada disamping nya.
"Malamute, jangan pergi peluklah aku supaya aku tidak mimpi buruk."
Seperti mengerti, Serigala itu menjangkau tubuh Devaly. Tidak berapa lama Devaly kembali tertidur. Dia kembali bermimpi, saat ini mimpinya seolah nyata, ada Aditya tidur disampingnya.
Aditya memeluknya dengan mesra, Devaly hanya diam membisu dan membiarkannya tanpa ingin berontak. Pertahanannya selama ini gagal total. Dia luluh seperti lilin mencair.
Dadanya bergemuruh dengan nafas setengah memburu.
"Aku mencintaimu sayank..." bisik Aditya mesra.
Devaly tidak menolak saat Aditya mengecup bibirnya, dia sangat merindukan pelukan pria itu dan tidak ingin kehilangan dirinya lagi. Jika lampunya menyala pasti Aditya akan melihat wajah Devaly yang memerah, terasa sangat panas. Jantungnya deg-degan tidak karuan saat Aditya mengendus belakang telinganya.
Aditya kemudian meraba wajah gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Devaly menutup matanya saat bibir hangat Aditya mencium lembut bibirnya yang terasa beku. Gadis itu tersenyum malu-malu tidak kuat melawan tatapan mata Aditya yang membara.
__ADS_1
Dengan perasaan campur aduk antara malu dan mau, Devaly mengalungkan tangannya menarik leher Aditya dan bibirnya menyentuh bibir Aditya. Lidah nakal Aditya terasa hangat kala merespon kenakalannya.
Devaly tersadar, ini bukan mimpi, ini adalah pelampiasan rindu tidak terbayangkan, benar-benar nyata. Today, my dream come true. Oohh!!.
TING!! Suara jam dinding berbunyi, Aditya meloncat turun dari ranjang, ternyata sudah jam tiga pagi. Dia pergi begitu saja tanpa basa basi atau kecupan perpisahan.
Cukup untuk pertama kali, dia harus belajar menguasai dirinya saat berubah. Ilmu ini dia terima dengan ikhlas dan sabar. Tidak ada sedikitpun pikiran untuk memperkosa Devaly, apalagi dia tahu Devaly masih Virgin. Tapi di saat wujudnya berubah kenapa sifat jahat itu datang, ternyata sangat sulit dia menguasai dirinya. Untung lah di saat Devaly pasrah, suara jam dinding menyadarkannya.
Aditya masuk ke kamarnya dan menyelimuti tubuhnya yang kekar dan berdada bidang. Dia merasa tersiksa dengan keadaan ini. Airmata lelakinya menghambur keluar dia menyadari tindakannya yang jahat. Hampir saja dia merenggut kegadisan Devaly. Sangat konyol.
Mungkin gara-gara ilmu Leak dia merasa mulai malas sembahyang. Biasanya dia tiga kali sehari sembahyang, tapi sekarang dia lewati ketiga waktu itu. Lidahnya kaku kalau mengucapkan mantra-mantra suci, tapi saat mengucapkan ajian sirep dia sangat lancar tanpa terkontrol. Aditya benci hal itu dan sangat kecewa kepada nenek.
Pukul. 07.00 wita, cuaca masih kurang bersahabat, suara sirine ambulans terdengar nyata, seolah berada dekat dibawahnya.
"Kriingg...kriinggg...kriinggg..."
Suara ponsel Aditya berdering tanpa henti, dengan malas Aditya bangun dan meraih ponselnya di nakas.
"Hallo nek ada apa?" tanya Aditya lirih.
"Aku tidak tahu dimana tamuku sekarang, aku sendiri tidak peduli mau ada badai atau apa. Toh hidup dan mati sama saja. Apalagi sekarang nenek sudah sukses mewariskan ilmu nenek ke diriku, aku tambah tidak ingin hidup."
"Aditya jangan berpikiran macam-macam, selamatkan dirimu tujuan nenek baik, semua demi kebaikan dirimu."
"Terserah nenek, aku harap nenek tidak usah menghubungi lagi, anggap aku sudah mati." kata Aditya memutuskan hubungan telepon sepihak.
Nenek duduk terhenyak, cucunya tidak ingin di hubungi lagi. Ternyata Aditya sama seperti kakaknya yang lain, padahal orang sampai membeli pengeleakan, ini gratis malah tidak mau nenek menjadi tidak mengerti.
"Mayang coba kamu telepon teman-teman Aditya, kenapa mereka tidak mengangkat telepon." perintah nenek ketika dia melihat Mayang sedang menata makanan.
"Pasti telepon mereka mati nek, karena ada pemadaman listrik dari pusat. Kalau mau melihat berita lihat di Instagram, jadi nenek tidak usah sedih atau repot."
"Wehh, kamu pikir nenek se dodol itu, dari tadi juga melihat berita, tapi Aditya dan tamu nya tidak ada nongol di berita, apa nenek tunggu mereka nyebur ke laut supaya masuk beritanya? itu maksudmu."
__ADS_1
"Makanya jangan Kemoning disuruh ikut, Mayang lebih pengalaman, kalau sudah ada benturan baru minta tolong kepada ku nenek tidak seportif. Kalau Kemoning punya otak dia yang menghubungi nenek."
"Karena Kemoning rumahnya disana dan Kemoning tidak senang baperan dan kepo sepertimu, maka Kemoning nenek suruh."
"Tidak usah banyak alasan nek, sekarang telepon pelayan kesayangan nenek, tanyain khabar tentang tamu yang diajak."
"Kalau aku bisa tersambung dengan mereka aku tidak butuh kau bliss." ketus suara nenek.
Mayang langsung pergi ke dapur sambil menggerutu, dia malas meladeni nenek.
"Kapan sih kau TAMAT nenek peot."
"Huss..bicara yang benar Mayang, kamu pikir setelah nenek meninggoy kamu bisa kerja disini lagi. Pasti Tuan Aditya akan menjual tempat ini kepada Bule. Jadi berpikiran yang cerdas." semprot bibi Ayu kesal.
"Kenapa sih bibi ikut campur melulu, disini kedudukan kita sama menjadi pelayan, kalau aku ngomel itu karena ada sebab. Jangan suka usil, urus saja diri sendiri."
"Mayang, kedudukan kita memang sama tapi pikiran kita berbeda. Aku disini bekerja tulus ikhlas untuk mendapat gaji, sedangkan kamu berpikir untuk menjadi menantu."
"Level kita tidak sama bibi, aku ogah kalau terus menjadi pembantu. Mumpung ditawari menjadi menantu, siapa takut."
"Hemm..kalau aku menjadi nenek tidak sudi aku menjadikanmu menantu, lebih baik Tuan dengan nona Devaly, cantik dan berkualitas. Aku yakin Devaly bukan orang sembarangan dan juga bukan orang miskin seperti kamu."
"Bibi Ayu aku ingat omongan bibi, jika aku nenjadi istri Aditya, yang pertama aku lempar ke jalanan adalah bibi."
"Hahaha... Mayang tidak ada gunanya kamu sombong karena semua yang kamu miliki sekarang ini hanyalah titipan Tuhan. Saat kamu tidak berhak memilikinya lagi, maka semua itu akan menghilang darimu tanpa bekas. Kamu bisa berubah dari orang terkaya menjadi orang termiskin"
"Atau aku menjadi orang terkaya setelah menikah dengan Aditya....."
"Bruuggh!!" punggung Mayang dilempari kursi plastik oleh nenek, mulutnya langsung diam.
"Mana telepon dari tamunya, ngoceh saja kau disuruh tidak dikerjain!!"
"Ya nek, SABAR!!" sahut Mayang kesal.
__ADS_1
****