
Berjalan ke rumah Jro dukun kalau siang hari tidak menakutkan. Beda sekali kalau malam hari, badan terasa merinding. Kami berjalan mengikuti petunjuk Made. Katanya Jro dukun adalah orang dihormati sekaligus ditakuti di pulau ini. Banyak orang sakit ditolong dan ada yang di tumbalkan juga.
Walaupun cuaca panas, mereka terus berjalan sambil melihat pemandangan alam yang masih natural. Bau Musk dari batang pohon Cendana bercampur dengan aroma bunga Cempaka menimbulkan bau sensual dan manis.
Aditya berjalan penuh semangat, dia ingin semua masalah bisa selesai dengan cepat. Apalagi keadaan semakin parah, Jro dukun pasti akan terus mengganggu kehidupan mereka. Thasy terlihat mulai lelah, badannya sakit semua, tapi dia tetap berusaha maju melangkah.
Kini dia baru menyadari hanya Aditya yang mau menemaninya, memegang tangannya, teman yang lain merasa takut dan jijik. Itu resiko menjadi pecundang, bathin Thasy.
Ketika mendekati rumah Jro dukun, mereka melihat tiga buah sapu lidi dengan posisi terbalik berdiri tegak tanpa jatuh. Abisheka iseng menendangnya tapi tidak tegak. Semua ikut menendang sapu itu, tapi tetap tidak mau jatuh.
"Aneh, tidak goyah sama sekali. Ini sapu sudah di sihir. Siram dengan garam." kata Aditya.
"Aku yang melempar garam, kalian jangan ikut supaya garam tidak cepat habis." sahut Abisheka mengambil garam sejumput dan melemparkannya ke sapu. Tidak berapa lama sapu terjungkal dengan gampang.
Mereka bersorak, Thasy menginjak sapu itu sampai patah-patah, dia melampiaskan marah nya kepada benda itu.
"Aku benci padamu setan!!" teriaknya kesal.
"Ini ada satu lagi sapu berdiri, tolong lempar garam secara pelan-pelan, aku yang akan membuat vidio." kata Made mengeluar kan ponselnya. Sapu ini sangat aneh dan berdiri tegak secara normal. Memakai baju, mirip orang-orangngan sawah.
Sapu ini juga tumbang saat dilempari garam, saking kesalnya Abisheka membakarnya. Mereka saling pandang ketika bau gosong makhluk hidup dari sapu ini menusuk hidung.
"Ini sapu jadi-jadian, aku bersyukur telah membakarnya." kata Abisheka menendang abu dari sapu itu. Terlihat sangat extrime.
"Mari kita lanjutkan berjalan." ajak Aditya.
"Hallo selamat siang, boleh kami masuk?" tanya Aditya dengan suara keras.
Tidak ada jawaban. Mereka akhirnya masuk gapura tanpa menunggu jawaban. suasana mistis sangat kental terasa. Aditya melewati gapura menuju ruang pendopo. Disini ada beberapa orang tertidur pulas, sambil ngorok.
__ADS_1
Aditya memberi isyarat kepada Made untuk kembali mengujar mantra. Setelah terasa aman mereka masuk semua.
"Untuk apa kalian datang kesini dengan cara tidak sopan. Kalian telah menghabiskan waktu hanya ingin membalas dendam."
"Nenek tua, kami datang kesini karena ulah biadab suamimu yang telah memaksa temanku. Suamimu sangat kurang ajar."
"HAHAHA... kau aneh sekali, mengapa kau menuduh suamiku. Jro dukun sudah lama tidak bergerak dari tempat duduknya. Tidak mungkin dia melakukan apa yang kamu tuduhan. bagaimana dia berjalan santai jika rambutnya panjangnya dua meter?!"
"Roh nya yang berjalan, kamu pikir aku tidak mengerti tentang Leak, jika kalian tidak bisa dikasitahu aku sendiri yang akan melaporkan kalian ke polisi." teriak Aditya marah.
"Bruuggh!!" tiba-tiba bola api jatuh di depan mereka. Semua berteriak kaget.
"Rakhes peluk Thasy, dia pacarmu. Kamu mau enaknya saja, setelah dapat pelecehan kamu menghindar darinya."
"Dia lebih nyaman dengan Aditya." jawab Rakhes tanpa peduli.
"STOP bicara, cepat baca mantra sebelum bola api ini menghancurkan kita." kata Aditya mengambil garam sambil merafalkan mantra penolak Leak.
"Mati kau ndih, mati kau!!" teriak Aditya melempar garam yang sudah di campur air.
Bola api itu meloncat kesana kemari, tidak bisa melawan, karena sudah dikurung oleh Aditya dan teman-temannya. Air garam terus menerus disemburkan oleh Aditya, sehingga bola api itu mengempis dan mati. Made lari mengambil kayu panjang dan mendorong bola api itu sampai jatuh ke kolam.
"Nyeeezzzz....." Suara bola api kena air.
"Geerrrr....."
Tiba-tiba seekor macan kumbang terbang di atas kepada mereka. Aditya kaget dan cepat berkelit. Dia tidak mau terpancing oleh akal busuk Jro dukun untuk ikut merubah wujud. Jika sampai dia berubah wujud di siang hari dia akan musnah.
Itu pantangan Leak berubah wujud di siang hari. Kecuali orang itu berada di goa gelap baru boleh berubah walaupun siang hari. Inti nya sinar matahari tidak boleh masuk dan keadaan betul-betul gelap.
__ADS_1
"Ong, tulak embankment sakawetan, tulak embankment saka kidul, tulak embankment saka lor, tan wani ya ring crew sariranku, tka tulak, tka rep sirep!!" teriak Aditya melempar garam yang sudah di campur dengan bawang merah ke macam kumbang yang gencar menyerangnya.
"Kalian semua berdoa mohon perlindungan kepada Tuhan. Made lempar satu botol air yang sudah dicampur bawang merah dan garam, usahakan kena mata macan ini."
"Siap bos."
"Jro dukun kau licik, semua anak buahmu kau keluarkan, mereka kau tumbalkan satu persatu. Kau sendiri takut mengorbankan diri karena masih siang." teriak Aditya membuat Jro dukun yang bersembunyi terpaksa mau menjawab.
"Aku bukan mengorbankan anak buah, mereka sendiri mau mati syahid. Jika kau berani kenapa tidak merubah wujud?"
"Aku tidak setolol anggapanmu. Semoga kau mengerti dan mau menyerah." teriak Aditya mengambil bawang dan melemparkannya ke tubuh macan kumbang itu. Terdengar suara jatuh karena semua ikut menyerang. Lagipula macan itu melanggar pantangan sehingga cepat mati.
"Aku tidak bersalah kenapa harus menyerah, kau tidak akan bisa membawa aku ke lurah atau ke kantor polisi. Atas dasar apa kau menuduh ku. Tidak ada bukti dan saksi."
"Kau memperkosa temanku, mengganggu ketenangan kami. Ada saksi dan vidionya."
"Hahaha...kau lucu, di vidio itu tidak ada wajahku yang memperkosa, itu wajah Leak yang umum. Sangat banyak Leak berwujud Lenda lendi, apakah kau bisa membedakan satu dengan yang lain?"
Aditya terdiam, dia tidak berpikir sampai disitu. Leak dengan rupa yang sama banyak.
"Pulanglah kamu, tidak akan ada yang bisa memenjarakan Leak, kalau bisa sudah penuh penjara. Saat manusia berubah wujud semua akan berubah sampai sidik jari. Aku kasitahu kamu supaya kamu tidak repot mencari polisi dan mencari sidik jariku. Perlu kamu ingat juga, Leak itu bisa nenghilang dan juga bisa mencekik penjaga penjara, apakah ada yang berani menangkap Leak?"
Kalau di pikir memang benar akhirnya Aditya memberi kode untuk mundur. Dia ingin mencari siasat supaya bisa membunuh Jro dukun ini.
"Aku tidak kalah dan kamu tidak menang, aku akan kemari lebih awal lagi. Saat ini sudah mau sore tentu aku tidak mau berubah wujud, aku tidak mau mengotori tangan ku untuk membunuh manusia murtad sepertimu."
"Hahaha...pulang kau, bersyukurlah kalau aku masih menghormati Ratu Leak." kata Jro dukun dengan terkekeh.
*****
__ADS_1