
Mereka duduk melingkar sambil membaca mantra-mantra penolak tenung dan Leak. Pelayan pada mengintip dan bergosip ria. Mayang yang merasa jadi korban menghasut temannya untuk melawan tamunya Aditya, terutama Devaly.
"Aku benci kepada wanita liar itu, ingin aku makan dan mencabik-cabik tubuhnya, menjadi serpihan kecil yang tidak berguna." rutuk Mayang mondar mandir.
"Sabar-Sabar, kalau kamu sampai main fisik dengan tamu pariwisata, sanksi nya sangat berat. Mengapa kamu tidak berpikir bermain cantik untuk membuat antara Aditya dan Devaly saling membenci?" usul Kadek penuh semangat.
"Kalian lihatlah, Aditya sudah membuat penolak balak sebelum aku menyerangnya. Ada air laut yang diisi rempah-rempah, dan banyak benda lain serta mantra-mantra di ucapkan oleh mereka."
"Ilmu mu sudah tinggi kenapa takut melawan seorang bule. Kalau aku ada di posisimu aku bawain makanan dan isi "Cetik" racun gaib yang bisa membuat orang muntah darah dan mati."
"Mungkin aku harus mencoba, masalahnya ada nenek yang pasti marah jika aku berbuat aneh-aneh kepada tamunya Aditya." Mayang menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Tumben dia merasa haus darah dan ingin membunuh orang secepatnya.
"Kalau sudah begitu kenapa kamu nekat ingin menjatuhkan martabat nenek. Kamu kira tidak ada polisi di Bali. Semua kriminal yang akan terjadi dirumah ini, akan membuat nenek berurusan dengan aparat begitu juga Aditya dan kita semua." kata Kadek menatap bola mata Mayang yang memerah.
"Aku tidak peduli." sahut Mayang mengambil Cappucino kocok dan menuangkan kedalam tujuh cangkir antik. Dia sudah nekat ingin membunuh Devaly.
Mayang lalu mengambil "Cetik" menuangkan ke satu cangkir antik, ini dia akan berikan Devaly. Tanpa peduli teman yang lain, dia keluar membawa kudapan dan tujuh cangkir berisi Cappucino. Semua mata temannya melotot memandang gelas perak yang berisi cetik. Mengerikan.
"Selamat sore menjelang malam, Tuan dan nona-nona sekalian. Untuk menghilangkan rasa jenuh kami membuat Cappucino kocok dan kudapan, kue beras asli dari desa kami." kata Mayang tersenyum manis dan menaruh minuman di depan mereka.
Perasaannya sangat kacau melihat Devaly menempel duduknya dengan Aditya, sesekali Devaly mengecup bibir Aditya. Lelaki itu terkesan sangatvmelindungi Devaly. Bertolak belakang dengan sifatnya yang dulu, yang selalu bertengkar dengan Devaly.
"Silahkan minum, untuk dinnernya kami akan menyiapkan masakan Oriental dan minuman dari air beras ketan yang sudah di fermentasi menggunakan ragi."
"Katakan saja "Brem" tidak usah bertele-tele, mereka pasti mengerti." ucap Made pakai bahasa Bali. Mayang melirik mengejek.
__ADS_1
"Yaelah...bacot!!" sahut Mayang kesal. Dia tidak mau menunggu terlalu lama. Dengan hati senang Mayang pergi dari hadapan tamunya.
"Mari kita minum." kata Aditya mengangkat cangkirnya.
"Tunggu!! kita harus hati-hati minum. Tolong di cek dulu, apa isi cetik atau tidak." Made menahan tangan mereka.
"Bos coba cek Cappucino nya satu persatu, aku merasa curiga terhadap kebaikan Mayang. Dia mendadak baik." Made memakai bahasa Bali.
Akhirnya Aditya mengambil cangkir itu dan melihat bayangan wajahnya di Cappucino. Ketika Cappucino yang di cangkir Devaly dilihat, tidak terlihat bayangan wajahnya atau bayangan tangan. Aditya berusaha tenang dan mengulang sambil merapalkan mantra. Setelah itu terlihat Cappucino di cangkir Devaly berbuah.
"Bagaimana bos?" tanya Made cemas. Dia yakin Mayang memberi cetik kepada Devaly.
"Dia menaruh cetik di minuman Devaly, lebih baik kita panggil Mayang. Beraninya menaruh cetik disini, manusia tidak tahu diri." getutu Aditya kesal.
"Aku sudah curiga pasti berisi cetik. Tidak mungkin Mayang melepaskan Devaly."
"Kamu isi apa minuman Devaly?" sinis suara Aditya.
"Tidak ada Tuan, minuman itu dari teko yang sama. Jangan berasumsi yang tidak-tidak. Aku tidak mungkin melakukan pekerjaan hina kepada tamu Tuan."
"Ini buktinya, kau telah menaruh cetik di minuman Devaly. Kalau kamu tidak mengaku, kamu sendiri yang minum cetiknya." kata Aditya kesel.
"Bawa semua minuman ini, dasar tidak tahu malu." perintah Made melotot.
"Sekali lagi kamu atau temanmu yang lain mengisi cetik minuman atau makanan kami, aku tidak segsn-segan akan membunuhmu." ancam Aditya
__ADS_1
Mayang mengambil minuman itu dengan perasaan mangkel. Banyak jalan menuju roma dan itu sangat dia yakini. Masih banyak peluang untuk membunuh Devaly. Mayang menuju dapur dengan langkah panjang. Dia betul-betul kecewa terhadap sikap Aditya dan Made yang cenderung berpihak kepada tamunya.
Kegelapan pasti akan selalu hadir setiap hari begitu pun dengan kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa dihantam suatu masalah, asal kita sabar dan ikhlas menghadapi semua masalah yang menimpa diri kita.
Saat malam merangkak semakin gelap, ada rasa takut menyelimuti hati Aditya. Degup jantung dan kekhawatiran dirinya semakin bertambah. Tamunya yang orang asing tidak setakut dirinya, mereka tidak peduli, malah mereka menganggap ajakan Aditya sangat menantang. Mereka bersemangat.
Ini pertama kalinya dia ingin mencari Leak. Atau melihat langsung orang yang menjadi Leak. Awalnya dia pikir separuh tubuh orang itu akan menghilang seperti siang berubah menjadi malam. Nyatanya bukanlah begitu, hanya pergantian posisi saja, malam menjadi Leak dan menjelang pagi tubuh berubah menjadi manusia.
Bukan suatu masalah meskipun halangan besar siap menghadang mereka. Aditya sudah bertekad mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Saat inilah dia harus tahu dan mengerti tentang perwujudan Leak.
Bintang selalu hadir untuk selalu menghibur jiwa yang lelah. Ketika lolongan anjing sudah mulai menghiasi malam, bulu kuduk Aditya dan Made spontan berdiri.
Mari kita berjalan-jalan di sekitar rumah dulu dan jangan berlari jika menemukan sesuatu. Lebih baik kita menyalakan camera untuk mengambil setiap kemunculan Leak itu." kata Aditya memimpin rombongan.
"Bos apakah boleh membawa pisau?"
"Pisau tidak mempan, lebih baik kamu membawa ekor ikan Pari listrik, jangan takut. Kalau belum takdir kita tidak akan mati. Leak bukan Tuhan."
"Siap bos..aku berusaha melawan takut dengan cara mengoleskan bawang merah ke telapak tangan dan kaki." kata Made sangat antusias. Dia bersemangat karena Basabi ingin sekali melihat Leak. Dia sendiri adalah penganut Vodoo
"Kita akan mulai berjalan mengitari halaman depan, setelah itu baru lanjut kebelakang. Tolong bawa semua peralatan yang tadi kita buat." perintah Aditya sambil membawa ekor ikan Pari listrik sebagai senjata. Rakhes dan Abisheka bertugas membawa senter. Basabi dan Thasy bertugas membawa camera.
"Haii.. para Leak yang ada dirumah ini, keluar kau. Aku akan membunuhmu." panggil Aditya dengan lantang.
"Wakakakak ...Wakakak....humm...hummm.. " suara tertawa keras mengagetkan mereka.
__ADS_1
"Keluar kau ibliss..." Aditya bukannya takut dia malah
*****